
"Astagfirullah, Bu Arini! Tega sekali Ibu berbuat seperti itu sama keluarga sendiri," kata Bu Inah dengan meta membelalak.
"Saya nggak kuat kalau terus-terusan dihina sebagai anak dukun, Bu. Sebenarnya waktu hari pernikahan akan tiba, saya nggak pernah pulang ke rumah, hanya di kosan saja. Sebab saya yakin, tetangga bakal menuduh saya memakai pelet lah, susuk lah, atau ilmu sihir apa saja yang mereka percayai. Sulit untuk mengatakan kebenaran pada semua orang, bahwa saya tidak lagi melakukan kemusyrikan sama sekali. Keluarga saya sudah dicap buruk, bagaimana bisa saya menghadapinya? Apalagi kalau Mas Hamid sampai tahu, bisa-bisa pernikahan saya gagal sebelum waktunya," jelas Arini dengan beruarai air mata.
"Lalu, sekarang perasaan Ibu bagaimana? Apa Ibu benar-benar menyesal?" tanya Pak Risman.
"Sangat, Pak. Saya saaangat menyesal. Seandainya dulu saya tetap sabar menasihati keluarga untuk berjalan di jalan yang benar, mungkin hati saya akan merasa sedikit lega. Setidaknya, hati kecil Abah dan Emak terketuk untuk kembali kepada Allah. Begitu juga dengan Teh Farida."
"Kalau begitu, apa Ibu bisa mengembalikan harga diri kami? Kami sudah malu, Bu. Kami dituduh muja, padahal kami sendiri tidak pernah menyekutukan Allah sedetik pun. Fitnah Ibu terhadap kami juga lebih buruk dari membuang keluarga sendiri. Ibu sudah menjatuhkan kami di hadapan orang lain," cerocos Bu Inah kesal.
"Akan saya usahakan, Bu. Asalkan Sukma mau menolong Farah, saya akan sekeras mungkin mengembalikan nama baik kalian," kata Arini, berusaha membujuk.
Bu Inah melirik putri bungsunya yang masih duduk sambil tersenyum-senyum di samping kakaknya, lalu menatap Arini dengan tajam. "Bu, bukankah saya sudah bilang? Sukma ini masih kecil. Jangankan menolong Bu Farah, berhitung saja masih perlu diajari."
"Saya tidak bisa menjelaskannya di sini, Bu. Ibu hanya akan mengerti kalau Sukma dibawa kembali ke rumah Farah."
"Oya, kalau boleh tahu, kenapa penyakit Bu Farah malah semakin parah? Padahal air di rumah Pak Hilman bersih, tapi Bu Farah justru penyakitnya malah bertambah," tanya Pak Risman penasaran.
"Sebenarnya ini salah saya sendiri. Selama kalian tinggal di paviliun, penyakit Farah sebenarnya sudah berangsur membaik. Itu semua berkat Sukma, yang mengalihkan perhatian jin kiriman sepupu saya."
"Apa?! Jadi Ibu sendiri yang menumbalkan Bu Farah?!" tanya Bu Inah terperangah.
"Bukan, Bu. Bukan saya yang menumbalkannya. Sepupu saya ditugaskan oleh seorang pelanggan untuk mencelakai Farah. Saya sempat membujuknya untuk mencabut siluman kirimannya. Saya kira dia melaksanakan perjanjiannya setelah kalian pergi, tapi ternyata tidak."
"Siluman kata Ibu? Ah, Ibu ini suka bercanda. Mana mungkin siluman menggerogoti tubuh manusia," ucap Pak Risman seolah-olah menyepelekan.
Bu Inah mendelik pada Pak Risman. Ia benar-benar geram melihat suaminya menampik perkataan Arini secara terang-terangan. Baginya, jika tidak percaya pada hal mistis, setidaknya dengarkan saja, tak perlu menghinanya.
Sementara itu, Hilman yang sudah tidak tahan dengan ucapan Arini, tiba-tiba masuk tanpa persetujuan penghuni kontrakan. Kedatangannya mengejutkan orang di seisi kamar kontrakan, terlebih Arini. Seketika dada wanita tua itu terasa sesak, mengetahui Hilman berada di tempat yang sama.
"Oh, jadi penyebabnya Tante, yang bikin mereka pergi? Tega sekali Tante ini. Tante sama saja sudah membantu orang yang menumbalkan Farah," bentak Hilman berang.
"Maafkan Tante, Hilman," pinta Arini dengan bersimpuh di kaki suami dari keponakannya. "Tante nggak berdaya. Tante pikir, jin kirimannya sudah pergi, tapi ternyata malah membuat penyakit Farah semakin parah."
"Sudahlah! Tante ini malah bikin suasana makin runyam saja. Sekarang Tante tanggung jawab! Pokoknya sembuhkan Farah sampai seperti sedia kala," bentak Hilman dengan nada tinggi.
"Tante juga lagi berusaha, Hilman. Makanya Tante ke sini, buat membawa Sukma ke rumah kamu," terang Arini menegaskan.
Hilman tertegun sejenak. Cukup lama ia menatap bibi istrinya, sampai terlintas di benaknya tentang perkataan Farah malam itu. Kera di dalam mimpi istrinya meminta Sukma agar kembali. Menurutnya, mungkin Sukma merupakan jawaban atas kesembuhan sang istri.
"Baiklah. Bawa Sukma ke rumah kita. Nanti kita lihat, apakah anak kecil itu bisa menyembuhkan Farah? Jika tidak, maka aku akan mencari sepupu Tante itu. Akan kulaporkan ke polisi atas tuduhan perdukunan. Paham?"
Arini mengangguk.
"Ya sudah, sekarang aku pulang dulu," kata Hilman, lalu menatap penghuni kontrakan yang masih termangu. "Pak, Bu. Saya permisi dulu."
Pak Risman dan Bu Inah mengangguk, lalu Hilman melenggang menuju mobilnya yang terparkir di luar gerbang. Hati pria itu kesal karena kebodohan yang dilakukan istri dan bibinya itu. Jika saja Pak Risman tak diusir oleh mereka, mungkin kondisi Farah akan berangsur membaik. Terbukti, setelah Sukma berkali-kali bermain ke rumahnya dan mengoceh tentang kera, rasa gatal pada tubuh Farah berkurang.
Sementara itu, Arini yang merasa bertanggung jawab atas semakin buruknya kondisi Farah, masih berdiam di kontrakan Pak Risman. Ia menyatukan kedua tangannya, berharap permohonannya membawa Sukma ke kediaman Hilman bisa dikabulkan.
"Pak, Bu. Saya mohon dengan sangat. Tolong izinkan saya membawa Sukma ke rumahnya Farah," pinta Arini dengan wajah memelas.
"Kalau penyakit Farah hanya bisa diselesaikan dengan ilmu klenik, maka carilah orang pintar lain. Jangan Sukma. Anak bungsu saya ini bisa apa, Bu?" tanya Bu Inah.
"Tante Arini, Tante Arini! Tante mau ngajak aku ketemu Wanara, ya?" tanya Sukma menyela, sambil duduk berhadapan dengan Arini.
Arini mengernyitkan kening. "Wanara? Siapa dia?"
"Itu, monyetnya Tante Farah yang aku ajak main waktu di rumahnya Om Hilman," terang Sukma.
"Oh, iya iya. Tante tahu. Iya, Tante mau ngajakin Adek ketemu sama monyet itu," kata Arini dengan pasti. Ia susah paham, bahwa monyet yang dimaksud oleh Sukma adalah jin kiriman Mbah Suro untuk menghabisi Farah.
Sukma melompat-lompat kegirangan mendengar Arini akan mempertemukannya dengan Wanara. Pak Risman dan Bu Inah justru khawatir jika sampai Arini membujuk Sukma agar mengajak keluarganya kembali ke paviliun Hilman. Mereka tak buru-buru menyetujui, mengingat harga dirinya yang sudah dinodai oleh wanita tua itu belumlah bersih di mata orang lain.
Kendati demikian, Arini tetap bersikukuh ingin membawa Sukma demi kesembuhan keponakannya. Ia kembali memohon pada Pak Risman dan Bu Inah agar Sukma bisa dibawa pergi ke rumah Hilman. Wanita tua itu juga berjanji akan mengembalikan harga diri keluarga Pak Risman jika si bungsu diizinkan pergi bersamanya.
"Baiklah, Sukma boleh ikut asalkan saya bisa mendampinginya," kata Bu Inah. "Saya tidak mau membiarkan anak saya ditahan berlama-lama di sana."
"Tentu saja, Bu. Saya tidak akan melarang Ibu untuk mendampingi Dek Sukma," ucap Arini dengan wajah semringah.
"Tapi saya akan mengizinkan Ibu membawa Sukma besok saja. Hari ini saya sangat lelah. Masih banyak urusan yang belum diselesaikan," kata Bu Inah lagi. "Ibu nggak keberatan, kan?"
"T-tidak ... s-saya tidak keberatan. Besok pagi saya akan menjemput kalian secepatnya," kata Arini.
Selanjutnya, wanita tua itu berpamitan pada keluarga Pak Risman. Tak kupa, ia juga mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya pada Bu Inah karena sudah mengizinkan putri bungsunya untuk datang ke rumah Hilman.
Beberapa kilometer dari kediaman Pak Risman, Mbah Suro mulai merasa gentar. Anak iblis yang ditakutinya akan datang kembali pada Farah untuk bertemu dengan Wanara. Segera ia menghubungi Ratna untuk segera datang ke kediamannya.
Sembari menunggu Ratna yang diperintahkan untuk datang ke rumahnya, Mbah Suro menyiapkan sebotol kecil air yang disimpan di dekat sesajen. Mulutnya komat-kamit merapal mantra yang dipelajarinya sejak lama. Telapak tangannya diletakkan di atas botol itu dengan bergetar-getar. Selesai merapalkan mantra, Mbah Suro mengambil botol kecil itu, kemudian meniupkan mantra yang telah dirapalkannya tadi.
Tak lama berselang, Ratna pun datang. Wajahnya tampak semringah ketika hendak menerima kabar baik yang akan disampaikan oleh Mbah Suro. Akan tetapi, semburat kebahagiaan di wajahnya mendadak pudar tatkala melihat wajah dukun langganannya yang serius.
"Mbah, ada apa Mbah menghubungi saya untuk kemari?" tanya Ratna.
"Saya punya firasat jelek," jawab Mbah Suro sambil bersedekap.
"Anak iblis itu akan kembali ke rumah musuh kamu untuk mengganggu lagi," jelas Mbah Suro sambil memamndang jauh.
"Apa?! Bagaimana bisa? Bukannya anak itu sudah diusir dari rumah Farah bersama keluarganya?"
"Suami Farah mencari mereka sejak diusir dari kediamannya. Bukan itu saja, orang dalam yang aku suruh, justru berkhianat."
"Terus, saya harus bagaimana, Mbah?"
Mbah Suro menyerahkan botol kecil berisi air. "Ambil ini. Kalau bisa, campurkan pada air minum yang akan diminum Farah. Jin yang saya kirimkan tidak akan pergi kalau Farah meminum ini. Bahkan, nyawa musuh kamu akan cepat melayang sebelum anak iblis itu datang."
Ratna mengambil botol kecil itu dari tangan Mbah Suro. "Lalu, kapan saya bisa memberikannya pada Farah?"
"Sebisa mungkin, kamu meneteskan air itu ke gelasnya Farah sebelum anak iblis itu datang. Kalau sampai terlambat, maka mereka akan tahu, siapa yang sudah menumbalkan Farah sebenarnya."
...****************...
Pagi-pagi sekali, Haji Gufron datang ke kontrakannya sambil membawa beberapa orang untuk membersihkan kamar-kamar yang kotor. Keramaian itu membuat Pak Risman penasaran dengan sesuatu yang terjadi di tempat tinggalnya. Tak disangka, Haji Gufron yang ramah, mengajak Pak Risman untuk ikut membersihkan kontrakan.
"Membersihkan kontrakan lain? Oh, boleh, boleh. Kebetulan saya juga belum dapat kerjaan," kata Pak Risman tersenyum lebar.
"Kalau begitu, ayo! Ajak anak dan istri Bapak sekalian," ujar Haji Gufron.
"Aduh, Pak. Maaf, saya nggak bisa ikutan bersih-bersih," kata Bu Inah keluar dari kontrakan sambil menuntun Sukma. "Saya lagi ada keperluan sebentar ke Bandung."
"Begitu, ya. Ya sudah, si bapaknya aja lah yang ikutan bersih-bersih. Ayo, Pak Risman!"
Pak Risman segera membawa sapu dari dalam kontrakan. Sementara itu, Bu Inah dan Sukma bergegas meninggalkan kontrakan ketika suara klakson mobil Arini berbunyi. Mereka tak mau berlama-lama, sebab ingin cepat pulang jika urusan di rumah Farah sudah selesai.
Pak Risman mengajak Atikah untuk bersih-bersih kontrakan. Satu per satu pintu kamar kontrakan dibuka. Haji Gufron membiarkan orang-orang suruhannya untuk membersihkan seluruh ruangan sampai benar-benar bersih.
Sembari menyapu lantai di salah satu kamar kontrakan, Pak Risman mengobrol dengan Haji Gufron.
"Pak Haji, tumben semua kamarnya dibersihkan. Ada yang mau ngontrak, ya?" tanya Pak Risman.
"Ah, tidak. Hanya saja, saya ingin kontrakan saya kelihatan bersih dan seperti baru lagi. Sudah dua tahun nggak ada yang mau ngontrak di sini, bangunannya malah kelihatan kayak rumah angker kalau dibiarkan kotor."
"Oh, begitu." Pak Risman mengangguk. "Ngomong-ngomong, kenapa nggak ada yang mau ngontrak di sini? Padahal kontrakan ini cukup strategis, loh. Dekat jalan industri juga."
"Biasa lah. Beberapa orang yang mau ngontrak di sini pada ngeluh, suka diganggu makhluk halus katanya. Jangankan sebulan, satu hari saja mereka nggak betah."
"Tapi, Mang Ujang buktinya bisa tinggal lumayan lama."
"Mang Ujang bawa khodam dari kampungnya, makanya jarang ada yang ganggu."
"Khodam? Khodam itu apa, ya?"
"Serupa pendampingan dari alam gaib, biar nggak diganggu sama makhluk gaib lainnya."
"Di sini orang-orang masih percaya sama yang begituan, ya, Pak Haji."
"Ya ... namanya juga ikhtiar, Pak Risman. Cara orang melindungi diri dari serangan makhluk gaib, kan, beda-beda."
"Padahal Allah sudah cukup untuk melindungi kita, kenapa harus minta bantuan dari sesama makhluk lain? Gaib pula."
"Buat kita, sih, begitu. Tapi buat Mang Ujang mah lain lagi. Kita cukup berzikir dan salat malam minta perlindungan aja, Allah sudah kabulkan."
Pak Risman mengangguk takzim.
"Oya, Pak Risman. Saya lihat, anak bungsu Bapak itu agak beda. Dari sekian banyak paranormal yang saya tugaskan untuk membersihkan kontrakan, nggak ada satu pun yang bisa menemukan bungkusan aneh itu. Kalaupun digali sama orang awam, orang itu bakal sakit berkepanjangan."
"Kalau itu, saya kurang tahu, Pak. Dia memang agak aneh dari kecil. Waktu di tempat tinggal yang dulu juga begitu, katanya suka lihat ini itu, tapi saya nggak percaya."
"Wah, jangan-jangan si bungsu punya kelebihan lihat makhluk gaib, Pak."
"Ah, nggak mungkin, Pak Haji. Anak-anak suka berimajinasi, makanya ngomongnya suka melantur."
"Pak Risman ini. Memangnya Pak Risman nggak percaya sama makhluk gaib?"
"Sejujurnya, saya nggak terlalu percaya sama yang begituan, Pak Haji."
"Loh? Kenapa nggak percaya? Allah juga gaib, Pak Risman."
Pak Risman tertegun sejenak. Ia kesulitan menyanggah perkataan Haji Gufron saat menjelaskan bahwa Allah juga gaib.
"Pak Risman, sebenarnya saya sudah lama bergelut dengan hal-hal gaib. Selama merintis bisnis, dulu banyak orang yang nggak suka sama saya, bahkan ada yang sampai menyantet saya. Dari situ, saya percaya bahwa kekuatan sihir yang gaib itu ada, makhluk gaib juga. Makanya, saya nggak bisa menampik, kalau dari kedengkian seseorang itu bisa melancarkan sihir pada saya," jelas Haji Gufron.
"Tapi nggak semua orang yang dengki itu akan melancarkan sihir sama Pak Haji, kan. Namanya juga bisnis, Pak. Wajar kalau ada yang dengki sama keberhasilan Pak Haji."
"Memang, tapi itu bukan berarti harus menampik segala sesuatu yang gaib, kan?"
Pak Risman termenung sejenak, kemudian tersenyum kecut pada Haji Gufron. Ia melanjutkan membersihkan kamar mandi, tanpa menghiraukan pengertian yang disampaikan si pemilik kontrakan. Bagaimanapun juga, Pak Risman tetap bersikukuh pada pendiriannya untuk tidak memercayai segala ilmu dan makhluk gaib yang menurutnya tidak logis.