
Sudah jadi tradisi umat muslim di negeri ini pulang ke kampung halaman ketika menjelang hari raya Idul Fitri tiba. Setelah sekian lama keluarga Pak Risman tak pulang ke Indramayu, akhirnya hari yang dinanti telah tiba. Keuangan Pak Risman yang berangsur membaik, membuatnya tak lagi beralasan untuk merayakan hari raya di perantauan. Bu Inah pun kini tak perlu repot-repot memikirkan putrinya akan rewel selama di perjalanan. Adapun Sukma dan Atikah, melompat kegirangan saat diajak pergi ke Indramayu oleh kedua orang tuanya.
Kendati demikian, rasa gamang menggelayuti benak Pak Risman setelah beberapa saat memutuskan untuk pulang ke kampung halaman. Memang, kehidupannya saat ini sudah membaik. Namun, di sisi lain hati kecilnya merasa kikuk jika nanti berhadapan dengan saudara-saudaranya yang lebih kaya dan mapan. Bukan hanya dari segi ekonomi saja yang membuat Pak Risman minder, soal kehadiran anak-anaknya pun dipikirkannya. Saudara Pak Risman sudah memiliki anak-anak yang beranjak dewasa, sedangkan dirinya baru memiliki dua anak berusia sembilan dan tujuh tahun ketika usianya sebentar lagi menginjak kepala enam.
Melihat kecemasan di mata Pak Risman, Bu Inah duduk di sebelahnya. Ia paham betul, suaminya masih trauma akan berbagai kejadian buruk yang pernah mereka alami selama tinggal di kampung. Bu Inah menepuk bahu Pak Risman hingga suaminya menoleh.
"Bapak lagi mikirin apa? Ragu-ragu buat pulang ke kampung?" tanya Bu Inah menatap kedua mata Pak Risman.
"Sebenarnya Bapak masih merasa malu pulang ke kampung, Bu. Ibu tahu, kan, sikap kakak dan adik Bapak di sana. Kehidupan mereka memang mapan saat ini, tapi tabiatnya ... ah, Bapak nggak bisa bayangin kalau kita baru pulang ke kampung sekarang," jelas Pak Risman dengan lesu.
Bu Inah tersenyum tipis dan berkata, "Pak, kita ini udah lama banget belum pulang ke kampung. Dari sebelum Atikah lahir sampai sekarang, kita belum pernah menjenguk keluarga di sana. Ibu tahu, kelakuan saudara Bapak kayak gimana. Tapi, apa Bapak nggak kasihan sama Emak yang masih hidup? Ibu yakin, Pak. Emak pasti merindukan Bapak di kampung, apalagi setelah bertahun-tahun nggak pulang."
Termenung Pak Risman memikirkan perkataan istrinya. Teringat wajah sang ibu yang sudah tua renta di rumah, menanti kedatangannya yang sekian lama tak pulang. Begitu juga dengan ayahnya Pak Risman yang sudah tiada. Lama sekali Pak Risman tak menaburi bunga dan menyiram air doa di pembaringan terakhir sang ayah.
"Kalau nanti Bapak merasa canggung buat menginap di rumah Emak, kita bisa menginap di kediaman Abah. Terakhir kali kita meninggalkan Indramayu, abah-nya Ibu cuma tinggal sama Wawan, adik Ibu. Lagipula, keluarga Bapak sama Ibu cuma beda desa, jaraknya juga nggak terlalu jauh," saran Bu Inah.
"Ya, nanti kita lihat saja situasinya di sana. Kalau memungkinkan, kita menginap di rumah Emak. Kita emang udah lama nggak ketemu sama orang tua di kampung. Bapak juga ngerti, Ibu pasti rindu sama Abah dan Wawan di sana," kata Pak Risman.
"Iya, Pak. Selain itu, kita juga perlu ngasih tahu sama Atikah dan Dedek kalau kita ini masih punya kerabat di sana."
Pak Risman mengangguk. "Baiklah. Sekarang Ibu beres-beres dulu. Besok pagi kita akan berangkat ke kampung. Sekarang malam terakhir Bapak jualan."
Bu Inah mengiyakan, lalu beranjak dari sebelah Pak Risman untuk membereskan pakaian yang akan dibawa nanti. Sementara itu, Sukma yang semula gembira, mendadak terdiam ketika berbaring di kasur. Ia seperti merasakan firasat buruk yang akan terjadi. Entah apa itu. Yang jelas, perasaan Sukma benar-benar tidak enak.
...****************...
Hari yang ditunggu telah tiba. Setelah selesai berkemas, keluarga Pak Risman bergegas pergi. Tak lupa, pintu kontrakan dikunci dengan baik. Atikah tampak bersemangat mengunjungi kampung halaman kedua orang tuanya, terlebih saat naik angkutan umum. Kebahagiaan terpancar jelas di wajah Atikah yang berseri-seri. Sementara itu, Sukma masih tampak murung. Sesekali ia menatap botol kecil bekas minyak angin berisi Wanara yang mengubah ukuran tubuhnya menjadi kecil.
Setibanya di Terminal Cicaheum, keluarga Pak Risman turun dari mobil umum untuk membeli oleh-oleh. Tak lengkap rasanya jika pulang kampung dengan tangan kosong. Setidaknya membawa buah tangan untuk ibu dan saudaranya dapat memulihkan harga diri Pak Risman, meskipun hanya sedikit.
Selanjutnya, Pak Risman membawa anak beserta istrinya bergegas naik bus jurusan Indramayu. Atikah tampak semakin senang. Ini pertama kalinya ia naik bus dan melakukan perjalanan jarak jauh. Sukma yang duduk bersebelahan dengannya, hanya duduk termenung. Atikah yang kebetulan melihat kegelisahan di wajah sang adik, menepuk bahunya.
"Dek, ada apa? Kenapa dari tadi Dedek murung terus? Dedek pusing? Mual?" tanya Atikah menatap cemas.
Sukma menggeleng lemah. "Enggak, Teh. Dedek nggak ngerasa pusing atau mual, kok. Cuma ...."
"Cuma kenapa, Dek?" tanya Atikah semakin penasaran.
"Entah kenapa dari kemarin jantung Dedek deg-degan."
"Ah, mungkin Dedek cuma gugup aja karena mau ketemu sama saudara-saudara kita di kampung, makanya deg-degan."
"Tapi ini deg-degannya beda, Teh. Kira-kira bakal ada apa, ya? Kok Dedek ngerasa takut gini?"
"Hm, mungkin Dedek takut mabok perjalanan. Kan, Dedek baru pertama kalinya jalan ke tempat yang jauh, sama kayak Teteh."
"Enggak, kok, Teh. Dedek nggak takut mabok perjalanan, kok. Dedek, kan, kuat. Waktu naik kereta api dari Bandung ke Padalarang juga Dedek nggak kenapa-kenapa."
"Syukurlah kalau begitu. Mendingan sekarang Dedek bobo aja, biar nggak ngerasa takut lagi."
"Tapi Teteh nggak bakalan ninggalin aku pas lagi bobo, kan?"
"Enggak. Kalau Dedek bobo, nanti digendong sama Bapak."
"Iya, ya."
"Udah, sekarang Dedek bobo dulu, ya."
Sukma memejamkan matanya, lalu menyandarkan kepala di bahu Atikah. Kelelahan akibat perjalanan dari Padalarang ke Bandung, membuat Sukma cepat pulas. Bahkan, gadis kecil itu tak menyadari bahwa bus sudah melaju.
Selama di perjalanan, satu per satu penumpang masuk memenuhi kursi bus. Bukan hanya penumpang saja, sesekali terliha pengamen masuk ke sana dan melantunkan sebuah lagu. Selesai musisi jalanan itu menunjukkan kemampuannya, ia menyusuri kursi penumpang, menyodorkan kaleng susu untuk diisi rupiah seikhlasnya.
Sukma masih terlelap dalam mimpinya, meski keriuhan selama di perjalanan begitu kentara. Dalam mimpinya, ia memasuki sebuah rumah dengan banyak jendela di sekelilingnya. Hampir mirip dengan kediaman Farida, tapi rumah yang dimasukinya telah diisi dengan berbagai perabotan modern. Lantainya juga dipasangi ubin bercorak seperti di paviliun Hilman. Sukma dengan canggung menyusuri setiap sudut rumah itu.
Setelah berjalan cukup jauh di dalam rumah, terdengar suara derit kayu di salah satu kamar paling pojok, tepatnya di dekat dapur. Perlahan-lahan Sukma membuka pintu kamar. Samar-samar, terlihat bayangan kursi goyang yang diduduki oleh seseorang, menghadap ke arah jendela. Dengan canggung, gadis kecil itu melangkah masuk ke kamar, memastikan bahwa orang yang sedang duduk itu adalah manusia.
Namun, belum sempat Sukma menyapa orang di kursi goyang itu, terdengar suara cekikikan wanita tua melengking di seisi ruangan. Sukma terperanjat, hingga mundur beberapa langkah ke belakang dan mengurungkan niatnya. Orang yang duduk di kursi itu turun, lalu berjalan membungkuk mendekati Sukma. Wajahnya yang keriput semakin membuat Sukma gemetaran. Gadis kecil itu panik, lalu berbalik badan sambil berteriak meminta tolong.
Di saat yang bersamaan, Sukma terbangun dari tidurnya. Ditatapnya pemandangan di seisi bus, lalu mengembuskam napas lega. Atikah yang sejak tadi memperhatikan Sukma gelisah, menatap adiknya lekat-lekat. Pun dengan Pak Risman dan Bu Inah, yang beranjak dari tempat duduknya untuk melihat keadaan si bungsu.
"Enggak, Bu. Kami nggak berantem. Dari tadi Dedek bobo, kok," jawab Atikah menoleh pada ibunya.
"Terus ada apa? Kenapa Dedek teriak-teriak minta tolong segala?" tanya Pak Risman penasaran.
"T-tadi ... tadi Dedek mimpi ketemu nenek-nenek, Pak," kata Sukma tergagap-gagap.
"Oh, makanya kalau mau tidur baca doa dulu," ucap Bu Inah.
"Tadi Dedek lupa, Bu," kata Sukma.
"Ya udah, sekarang Dedek bobo lagi aja. Perjalanan kita masih lama," ujar Pak Risman, mengusap kepala Sukma.
"Tapi Dedek nggak mau bobo lagi, Pak. Takut mimpi serem lagi kayak tadi," ucap Sukma.
"Ya udah, terserah Dedek aja. Kalian jangan berantem, ya," kata Bu Inah memperingatkan.
"Kami nggak akan berantem, kok," kata Sukma dan Atikah bersamaan.
Pak Risman dan Bu Inah duduk lagi ke kursinya yang berada di belakang kedua putrinya. Bus sudah melaju melewati Subang. Tinggal beberapa menit lagi perjalanan menuju Indramayu ditempuh.
Cukup lama Sukma melihat-lihat pemandangan lewat jendela, kegelisahannya yang dibawa dari rumah kontrakan, semakin terasa kentara. Berkali-kali ia mengusap dada, berharap ketakutan tak lagi menyelimuti hatinya. Namun, seberapa keras Sukma menyingkirkan rasa takutnya, jantungnya justru semakin berdebar-debar, terlebih saat turun dari bus di Terminal Jatibarang.
Pak Risman selanjutnya membawa istri beserta anaknya naik angkutan umum menuju rumah orang tuanya. Perjalanan yang ditempuh sekitar setengah jam lebih untuk tiba di rumah ibunya Pak Risman. Hamparan pesawahan yang memanjakan mata di sepanjang jalan, tetap saja tak mampu meluruhkan kegelisahan di hati Sukma.
Setibanya di pinggir perkampungan, keluarha Pak Risman turun dari angkutan umum. Suasana kampung itu sangat berbeda di mata Pak Risman dan Bu Inah. Saat terakhir kali meninggalkan Indramayu, perkampungan itu masih tak banyak dihuni penduduk. Kini, banyak rumah-rumah baru yang dibangun. Bahkan, Pak Risman sampai sempat lupa jalan menuju rumah masa kecilnya.
Setelah cukup jauh berjalan, akhirnya mereka tiba di depan halaman rumah bergaya kuno di sudut permukiman penduduk. Pak Risman dan Bu Inah berjalan tergesa-gesa bersama Atikah. Tak sabar ingin bertemu orang tua dan kerabat yang sudah lama ditinggalkan. Adapun Sukma yang sejak tadi gelisah, berjalan dengan ragu memasuki halaman rumah itu.
Dari teras, Pak Risman mengetuk rumah berkali-kali sembari mengucap salam. Setelah lama menunggu, seorang wanita membukakan pintu dari dalam. Ia tampak terkejut dengan kedatangan Pak Risman.
"Eh, Kang Risman?! Akang ... Akang pulang?!" ucap wanita seumuran Bu Lastri itu tercengang.
"Iya, Neneng. Ini Kang Risman. Lihat, Akang ke sini sama siapa!" kata Pak Risman menegaskan.
Adik bungsu Pak Risman yang bernama Neneng itu terbelalak melihat sang kakak datang bersama istri dan kedua putrinya. Untuk meyakinkan dirinya, ia mencubit tangan sebelah kanan. Benar saja, sesuatu yang dilihatnya bukanlah mimpi.
"Ayo masuk, Kang! Udah lama banget Akang nggak pulang. Emak suka nanyain melulu, kapan Akang pulang," ucap Bi Neneng.
Pak Risman sekeluarga memasuki rumah itu. Sukma melihat-lihat ke sekelilongnya, merasa tidak asing dengan rumah yang dikunjunginya saat ini. Pak Risman duduk di kursi sofa ruang tamu, yang beberapa sisinya sudah bolong.
Tak lama kemudian, Neneng datang dari dapur membawa empat gelas teh tawar dan menaruhnya di meja. Sekilas, wajahnya tak menunjukkan kesenangan pada keluarga Pak Risman. Namun, ia tetap menyembunyikannya dengan seulas senyum di bibirnya.
"Atikah, Dedek, ayo salam dulu sama bibi kalian. Ini namanya Bi Neneng, adik bungsu Bapak," ujar Pak Risman.
Atikah dengan senang hati mencium tangan Bi Neneng. Wanita itu tampak tersenyum simpul, mengetahui dirinya dihormati oleh putrinya Pak Risman. Selanjutnya, ia berjalan mendekati Sukma, tapi reaksi putri bungsu Pak Risman itu jelas berbeda. Sukma menggeleng cepat, lalu memegang tangan Bu Inah dengan erat. Tentu saja, kedua orang tuanya heran melihat sikap aneh Sukma.
"Loh, Dek? Ayo cepat, sun tangan sama Bi Neneng. Dia itu bibi Dedek juga," ujar Bu Inah.
"Nggak mau." Sukma menggeleng, lalu melihat seekor buaya muncul dari belakang Bi Neneng. "Usir dulu buayanya, nanti Dedek bakal nyalamin Bibi."
Tak lama kemudian, seorang wanita tua renta memakai ciput, berjalan bungkuk dengan dibantu sebatang kayu. Ketika ia memasuki ruang tamu, Pak Risman dan Bu Inah beranjak dari tempat duduknya. Tak lupa, ia juga mengajak kedua putrinya untuk menjumpai sang ibu.
"Emak, pripun kabare? Ngapunten, Mak, Risman baru bisa balik sakien," ucap Pak Risman mencium tangan ibunya, lalu memeluk tubuh ringkih wanita tua itu sambil meneteskan air mata. (Emak, gimana kabarnya? Maafkan aku, Mak, Risman baru bisa pulang sekarang.)
"Risman, Emak bingah ningal sira karo Inah balik maning. Saka sira lunga meng kota, Emak rumangsa sepi," kata wanita tua itu melepas pelukannya dan menyeka air mata Pak Risman. (Risman, Emak senang melihat kamu dan Inah pulang lagi. Sejak kalian pergi ke kota, Emak merasa kesepian.)
"Aja ngomong mengkonon, Mak. Ana Neneng sing ngurus Emak," kata Pak Risman. (Jangan bicara begitu, Mak. Kan ada Neneng yang mengurus Emak.)
Selanjutnya, Bu Inah menyalami wanita tua itu, lalu mencium kedua pipinya. Emak merasa terharu melihat istri Pak Risman bersikap sopan, meski sudah bertahun-tahun berlalu. Adapun saat Atikah mencium tangannya, Emak ikut senang karena Pak Risman akhirnya sudah diberi keturunan.
Berbeda dengan sambutan hangat Pak Risman pada ibunya, Sukma justru bergegas menyembunyikan diri di balik sofa. Ia benar-benar tak mau menemui wanita tua itu, terlebih saat teringat kembali pada mimpi buruknya selama di bus. Wajah Emak sangat mirip dengan nenek-nenek mengerikan itu. Bahkan, seluruh tubuhnya terlihat diliputi oleh aura hitam pekat yang membuat bulu kuduk Sukma berdiri.
"Dedek, sini sun tangan dulu sama nenek!" seru Pak Risman.
"Nggak mau! Nenek itu jahat! Dedek nggak mau salaman sama Nenek itu!" teriak Sukma, menolak perintah sang ayah.