SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Gagal


Setelah selesai bersilaturahmi dari rumah Emak, Pak Risman dan keluarga kecilnya berpamitan. Bu Inah tak mencicipi rujak atau minum sama sekali, begitu juga dengan kedua putrinya. Kendati merasa tak enak karena enggan menerima makanan dari keluarga Emak, setidaknya mereka akan baik-baik saja sampai rumah Abah nanti.


Sepanjang di perjalanan, Pak Risman sesekali merasakan mulas di perutnya. Rasa sakitnya hilang-timbul, hingga pria paruh baya itu tak terlalu menghiraukannya. Namun, pandangan Sukma terhadap rasa sakit yang diderita ayahnya, jelas berbeda. Ketika Pak Risman merasakan sakit di bagian perutnya, terlihat sebuah kilatan cahaya masuk ke tubuhnya, lalu berubah menjadi sesosok makhluk mengerikan berdiam di dalam raga pria itu. Hal itu terjadi secara terus menerus, sampai-sampai Sukma dibuat bergidik ngeri olehnya.


Setibanya di rumah Abah, mendadak Pak Risman merasakan mulas yang teramat sakit. Ia memegangi perut, kemudian bergegas ke kamar mandi. Abah yang menyaksikan tingkah menantunya, langsung menaruh curiga. Untuk memastikan kebenaran dari prasangkanya, segera ia menghampiri Bu Inah yang baru duduk di tikar bersama kedua putrinya.


"Inah, apa Risman tadi makan sesuatu di rumah Emak?" tanya Abah cemas.


"Iya, Bah. Tadi sudah saya peringatkan, tapi dia ngeyel terus," jawab Bu Inah dengan nada lesu.


"Inilah yang Abah khawatirkan. Tapi, kamu sama anak-anak nggak makan atau minum apa pun di sana, kan?"


"Tadi saya sempat ditawari rujak juga, tapi nggak dicicipi sama sekali. Saya yakin, perkataan Abah bukan main-main," jelas Bu Inah.


"Syukurlah kalau begitu. Sekarang Abah justru khawatir sama Risman," ucap Abah sembari melirik ke dapur.


Tak lama kemudian, Pak Risman muncul sambil meringis dan mengelus perut. Rasa sakit di perutnya belum kunjung reda. Ia memanggil Bu Inah, lalu menyerahkan uang untuk membeli obat.


"Kan sudah Abah bilang, jangan makan di rumah Emak," kata Abah bernada kesal.


"Tenang aja, Bah. Saya cuma sakit perut biasa, kok. Diare sedikit. Mungkin karena rujaknya kepedasan," sanggah Pak Risman sambil mengelus-elus perutnya.


"Ah, kamu ini memang susah dibilangin, Man," ketus Abah.


"Habis mau gimana lagi, Bah? Mereka itu keluarga saya. Nggak enak kalau datang ke sana tapi nggak nyicipin makanan sedikit pun," kata Pak Risman sembari meringis.


"Kamu ini memang nggak pernah belajar, Man ... Man," ucap Abah dengan lesu sembari menggeleng lemah. "Abah mau ke rumah orang tuanya Narti dulu. Kamu jaga diri baik-baik."


"Iya, Bah," kata Pak Risman.


Sementara mertuanya pergi ke rumah kerabat dan istrinya ke warung, Pak Risman terkapar di atas tikar. Rasa mulasnya semakin parah, sampai-sampai tubuhnya terasa lemas. Sesekali ia mengerang, sambil menepuk-nepuk perutnya yang sakitnya tak kunjung mereda.


Melihat ayahnya seperti tersiksa, Sukma mengumpulkan keberaniannya. Beberapa makhluk halus yang berdatangan mendiami raga Pak Risman, mulai menunjukkan kesaktiannya. Kebanyakan dari mereka menyerang bagian perut pria paruh baya itu, dan sebagian lagi berada di kepala serta dadanya.


"Bapak, perutnya boleh Dedek pegangin sebentar nggak? Biar Bapak nggak sakit lagi," ujar Sukma.


"Emangnya Dedek bisa nyembuhin Bapak?" tanya Pak Risman ragu.


"Dicoba dulu aja, Pak. Dedek waktu itu pernah nyembuhin monyetnya juga," kata Atikah.


"Baiklah, kalau begitu," ucap Pak Risman.


Sukma menaruh kedua telapak tangannya di perut Pak Risman. Dengan mata terpejam, ia mulai merapalkan mantra. Dari tangannya, muncul sinar merah yang masuk ke dalam perut sang ayah. Para makhluk gaib yang menyerang tubuh Pak Risman mulai bereaksi.


Semakin lama, Sukma mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk memusnahkan dedemit kiriman keluarga Emak. Satu per satu di antara mereka lenyap, bahkan tak bisa melarikan diri ke bagian tubuh lain. Pak Risman menjerit sekeras-kerasnya, tak tahan lagi akan rasa sakit dari serangan Sukma yang mengarah pada makhluk jahat di dalam perutnya.


Dari pintu masuk, muncul Bu Inah yang baru saja pulang dari warung. Wanita paruh baya itu tercengang melihat sesuatu yang dilakukan putrinya pada Pak Risman. Secepatnya ia menghampiri Sukma, tapi langkahnya segera dijegal oleh Atikah.


"Jangan ganggu Dedek, Bu!" ujar Atikah memegangi tangan Bu Inah.


"Loh, kenapa? Itu kasihan Bapak sampai jerit-jerit begitu," kata Bu Inah.


"Dedek lagi sembuhin Bapak. Nggak akan lama, kok," jelas Atikah.


"Atikah, ini bukan saatnya main-main. Bapak itu lagi sakit perut beneran, bukan pura-pura," tegur Bu Inah.


Selesai memusnahkan dedemit di dalam perut Pak Risman, Sukma membuka mata dan mengembuskan napas. Seketika, ia terkulai lemas di atas perut Pak Risman. Adapun Pak Risman yang sudah disembuhkan Sukma, kembali memiliki tenaga untuk mengangkat tubuh si bungsu dari perutnya. Rasa sakit di perutnya benar-benar hilang.


Pak Risman menepuk-nepuk pipi Sukma. Ia mulai panik. Secepatnya pria paruh baya itu membopong Sukma ke kamar, lalu menyodorkan minyak kayu putih ke hidungnya. Gadis kecil itu tak sadarkan diri.


"Kenapa bisa gini, Pak? Dedek ... Dedek pingsan!" ucap Bu Inah sembari menggosok tangan putrinya.


"Bapak juga nggak tahu, Bu. Sehabis perut Bapak sembuh, badan Dedek malah lemas," ucap Pak Risman panik.


"Bapak sama Ibu jangan terlalu panik. Dulu Dedek juga begini pas habis nyembuhin monyetnya," ujar Atikah.


"Apa?!" Pak Risman dan Bu Inah tercengang menatap Atikah.


"Dedek nggak apa-apa, kan? Kenapa Dedek jadi lemas begini? Tadi, kan, baik-baik aja," ucap Pak Risman cemas.


"Dedek habis ngehancurin hantu di perut Bapak. Tadi Bapak makan rujaknya nggak baca doa dulu, ya?" tanya Sukma dengan lemah.


"Iya, Dek, tadi Bapak lupa baca doa," jawab Pak Risman.


"Lain kali, kalau makan di rumah Nenek, baca doa dulu. Tadi Dedek lihat rujaknya ngeluarin asap ijo. Dedek pikir, makanannya udah dikasih jampi-jampi, sama kayak makanan yang dikasih Tante Ratna ke Tante Farah. Eh, ternyata bener, rujaknya bikin dedemit gampang masuk ke badan Bapak," jelas Sukma.


Pak Risman tertegun mendengar ucapan si bungsu. Ia tak bisa lagi menampik, bahwa dirinya sudah mulai percaya kembali pada sihir dan makhluk gaib. Terbukti dari guna-guna yang dikirimkan oleh kerabatnya melalui makanan, ia jatuh sakit dengan begitu cepat. Pak Risman pun agak terkejut, keluarganya ternyata masih menggunakan ilmu hitam untuk menyakitinya.


Dari dapur, Bu Inah datang membawa segelas air. Dibantu oleh kedua orang tuanya, Sukma berhasil duduk dan menyandarkan punggungnya ke bantal. Sedikit demi sedikit gadis kecil itu meneguk air hingga tandas. Tenaganya telah pulih, tapi belum bisa digunakan kembali untuk melawan dedemit lain di tubuh Pak Risman.


"Pak, kalau nanti pas salat ngerasa sakit di bagian tubuh lain, Bapak jangan tanggepin. Nanti Bapak jadi nggak bisa ibadah, terus dedemitnya malah nambah," ucap Sukma.


"Baik, Dek, akan Bapak usahakan. Mudah-mudahan Bapak bisa fokus beribadah," kata Pak Risman tersenyum sembari mengusap kepala si bungsu.


Sementara itu, perdebatan sengit terjadi di rumah Emak. Wa Seto tak berhenti menyalahkan Bi Yati. Bi Neneng yang berada di pihak Bi Yati, berusaha membela kakaknya. Ia tak terima kalau ide kakaknya dianggap gagal oleh Wa Seto


"Coba saja dari awal aku nggak setuju sama usulanmu, Yati! Mungkin si Risman nggak bakalan cepat sembuhnya," bentak Wa Seto sembari menunjuk-nunjuk muka Bi Yati.


"Kang, memangnya yang aku lakukan sama si Risman itu seratus persen salah? Kalau dari awal Kang Seto nggak setuju, ya jangan pakai rencana aku dong," sungut Bi Yati tak mau kalah.


"Oh, jadi kamu merasa paling benar, begitu? Aku ini kakakmu!" sergah Wa Seto, lalu mendaratkan tamparan keras ke pipi Bi Yati.


Wa Agus segera menarik tubuh Wa Seto. Emak berusaha melerai keduanya agar pertengkaran tak berlangsung lama. Bi Neneng yang terkejut dengan sikap kasar Wa Seto, hanya bisa mengusap kepala Bi Yati.


"Sudah, sudah! Kalian ini, kok, malah jadi ribut? Ingat! Kalian itu harus saling membantu, bukan berkelahi," teriak Emak.


"Aku benar-benar nggak suka sama Kang Seto, Mak. Beraninya main pukul sama perempuan," ketus Bi Yati mendelik pada Wa Seto, sambil mengelus pipinya.


"Aku juga nggak suka sama kamu Yati. Udah sok pintar, gagal pula. Mendingan dari awal kita pakai rencana Emak. Bikin lemah dulu si Sukma, terus serang si Risman. Kalau begitu, kan, si Risman pasti lama sembuhnya," cerocos Wa Seto geram.


"Cukup!" pekik Emak menutup kedua telinganya, lalu menatap putra putrinya satu per satu. "Kalau rencana Yati gagal, apa salahnya kita lancarkan rencana kedua? Selagi Risman dan anak-istrinya berada di sini, kita masih bisa berbuat banyak."


"Emak benar, kita masih bisa melakukan rencana lain agar si Risman sadar, kalau tuhannya nggak bisa berbuat apa-apa," ucap Bi Neneng mengiyakan.


"Terus, kita mau pakai rencana yang mana? Kembali ke rencana awal?" tanya Wa Agus mengerutkan dahi.


"Tentu saja. Apa salahnya dengan rencana Emak yang satu itu? " kata Wa Seto menegaskan.


"Baiklah. Yati, kamu atur strateginya sampai benar-benar matang," suruh Wa Agus.


"Nggak mau. Suruh aja Kang Seto pikirin strateginya. Aku, sih, males kalau langsung berhadapan dengan bocah itu. Duduk deket-deket dia aja bikin merinding," bantah Bi Yati.


"Terus, kamu mau bagian apanya?" tanya Emak bernada lesu.


"Aku cuma mau ngirim dedemit aja," jawab Bi Yati singkat.


Mereka mulai merencanakan strategi baru. Diskusi yang sangat panjang mereka lakukan. Terjadi pro dan kontra di sana, hingga akhirnya menemukan titik temu. Keputusan Wa Seto menjadi kesimpulan dari rencana mereka mencelakai Pak Risman.


Di kediaman Abah, Pak Risman kembali merasakan sakit menusuk-nusuk kepalanya. Sesekali ia mengurut kepalanya, lalu meminum air hangat. Sukma merasa iba melihat ayahnya kesakitan. Setelah menyembuhkan perut Pak Risman, Sukma tak bisa lagi menggunakan tenaganya. Perlu menunggu hari esok datang agar seluruh kekuatannya terkumpul penuh.


Abah yang baru saja pulang dari rumah keluarga Bi Narti, terheran-heran melihat menantunya sedang memijit-mijit kepala. Dengan menghela napas panjang, Abah duduk di sebelah Pak Risman. Ia menyodorkan sekeresek kue kering yang dibawanya dari rumah kerabatnya.


"Man, mendingan kamu sama keluarga kamu segera pulang ke Bandung. Abah khawatir, penyakit kamu semakin parah," ujar Abah.


"Tapi, Bah, kalau kondisi saya kayak begini, takut kenapa-kenapa di jalan," kata Pak Risman sembari meringis.


"Begini aja, besok Abah minta sama Wawan buat cariin orang yang bisa ruqyah kamu. Setelah sembuh, kamu bisa kembali ke kota," saran Abah.


"Baik, Bah. Terima kasih udah merhatiin saya," ucap Pak Risman sambil mengulas senyum.


"Iya. Abah juga bapakmu, Man."