
Wajah dan penampilan Bu Inah di alam mimpi, masih terbayang jelas di mata Bu Ratmi. Merasa tak terima atas perlakuan kasar dari ibu angkat putrinya, wanita itu merasa sesak. Air mata menetes begitu saja, terasa hangat membasahi pipinya.
"Kamu ... Bukankah kamu yang membesarkan anak saya? Kamu sendiri yang bilang kalau putri saya akan datang kemari," ucap Bu Ratmi sembari menyentuh tangan Bu Inah.
Bu Inah merasa risih sekaligus takut dengan wanita gila yang memegang tangannya. "Apa maksud kamu? Saya nggak ngerti. Pergi dari sini! Jauhi putri saya!"
"Kamu nggak ingat sama saya? Saya ini ibu kandungnya Sukma!" tegas Bu Ratmi mencoba meraih tangan Sukma. "Saya juga yang meminta bantuan Abah agar Sukma bisa keluar dari hutan."
"Ibu, Dedek takut," lirih Sukma gemetar.
Segera Bu Inah menghardik wanita di depannya, hingga tersungkur ke tanah. "Jauhi anak saya!"
Bu Ratmi bersikeras meraih tangan Sukma dan berkata, "Sukma, ikut Mama, yuk! Mama minta maaf sudah membuang kamu beberapa tahun lalu. Mama janji, akan melakukan apa saja yang kamu mau untuk menebus dosa-dosa Mama. Ayo, Nak."
Warga sekitar secepatnya menarik tubuh Bu Ratmi dari hadapan Sukma dan Bu Inah. Tentu saja wanita gila itu meraung-raung, meminta dilepaskan. Ia mengamuk sejadi-jadinya, tak ingin berpisah dari Sukma. Jeritannya begitu memilukan, sampai Bu Inah merasa ikut sedih melihat Bu Ratmi digusur paksa oleh warga.
Sekujur tubuh Sukma gemetar hebat melihat Bu Ratmi memanggil-manggil namanya dari jauh. Bu Inah segera membawa putri bungsunya melipir ke salah satu warung di area parkiran. Diberikannya sebotol air pada si bungsu, lalu mengusap-usap kepala Sukma.
"Dedek nggak kenapa-kenapa, kan? Apa ada yang luka?" tanya Bu Inah, memastikan tubuh putrinya baik-baik saja.
"Enggak, Bu. Dedek cuma kecapekan aja. Dari siang sampe mau sore bolak-balik nyari jalan pulang, nggak ketemu terus," jelas Sukma lesu.
"Siang sampai sore? Dedek udah mau empat hari tersesat di hutan, loh!" ucap Bu Inah tercengang.
Mendengar ucapan Bu Inah, Sukma menyemburkan air yang baru saja diteguknya. Matanya kembali menatap keadaan sekitar. Terlihat ketiga siswa yang ikut tersesat bersamanya tadi, ditandu dan masuk ke dalam ambulans dengan selang infus menempel di tangan mereka. Adapun Sukma yang hanya merasa letih dan pegal, didatangi oleh tim medis untuk mendapatkan perawatan.
"Ayo, Dek! Kamu harus mendapatkan perawatan dulu," ujar salah satu nakes, hendak membawa Sukma menuju ambulans.
"Enggak, Pak. Terima kasih. Aku baik-baik aja, kok. Aku cuma butuh makan sama minum. Dari tadi jalan-jalan terus sampai lapar," tolak Sukma dengan halus.
"Bagaimanapun juga, kamu harus dirawat dulu. Tersesat di hutan selama empat hari itu berat, bikin kondisi badan kamu memburuk. Teman-temanmu udah dibawa ke rumah sakit terdekat karena dehidrasi dan linglung," ajak tenaga kesehatan itu memberikan pengertian. "Beruntung kalian masih diberi umur panjang."
"Empat hari apanya, Pak? Cuma dari siang sampai sore doang nggak bakalan bikin aku kehilangan nyawa," sanggah Sukma.
"Dek, nurut sama kata pak perawatnya, ya. Dedek harus dapet perawatan dulu," bujuk Bu Inah.
"Tapi Dedek nggak mau, Bu. Apaan, sih, cuma keliling gunung doang setengah hari sampai dibawa ke rumah sakit segala? Aku tuh cuma kecapekan, bukan dehidrasi atau apalah itu," gertak Sukma bersikukuh menolak, wajahnya memberengut.
Melihat kekesalan di wajah putrinya, Bu Inah berusaha untuk mengerti. Diliriknya tenaga kesehatan yang tampak jengkel, lalu berkata, "Sudahlah, Pak. Mungkin anak saya memang tidak membutuhkan perawatan lebih. Biarkan anak saya rehat dulu sejenak, dia hanya butuh makan dan minum."
"Tapi, Bu ... Jika anak Ibu tidak mendapatkan perawatan, kondisinya akan lebih buruk."
Bu Inah menggeleng. "Saya percaya pada putri saya. Sebaiknya urus saja yang lain, biar saya saja merawat putri saya."
"Baiklah. Jika nanti sesuatu yang buruk terjadi sama anak Ibu, jangan salahkan kami."
Bu Inah mengangguk. "Saya janji."
Setelah sorang perawat tadi pergi, Bu Inah memesan mi untuk dimakan Sukma. Memang benar adanya, kondisi fisik Sukma tak seperti ketiga anak laki-laki yang hilang selama empat hari. Sesampainya di area parkir, ketiganya justru tumbang, seperti tak mendapatkan makanan dan minuman sama sekali.
Setelah mi pesanan Bu Inah dihidangkan, Sukma langsung melahapnya. Gadis itu benar-benar kelaparan. Bu Inah tersenyum simpul sembari membelai rambut putrinya.
Kendati demikian, hati Bu Inah tidaklah baik-baik saja setelah melihat seseorang dengan gangguan jiwa mengaku-ngaku sebagai ibu kandung Sukma. Ingatannya akan mimpi buruk beberapa tahun ke belakang, kembali melintasi pikiran wanita itu. Wajah dan penampilan Bu Ratmi sama persis seperti wanita seusianya yang pernah berpesan agar anaknya dijaga Bu Inah baik-baik. Kini Bu Inah mulai ketakutan, si bungsu mengetahui jati dirinya. Akan tetapi, pikirannya kembali beranggapan, bahwa tak akan ada yang percaya pada ucapan orang gangguan jiwa.
Berbeda dengan Bu Inah, Sukma justru memikirkan seseorang yang dimaksud oleh Bu Ratmi untuk membantunya keluar dari hutan. Ia terheran-heran, bagaimana bisa seorang wanita tidak waras mampu bertemu dengan sosok yang biasa menunjukkan jalan pulang, sedangkan dirinya tidak. Selain itu, pria tua bepakaian serbaputih juga bisa membawa mereka kembali ke alam manusia tanpa menunjukkan jurus apa pun. Sukma benar-benar takjub dengan ilmu yang dimiliki orang suci itu.
Selesai makan dan minum, Sukma dan Bu Inah dianjurkan untuk segera pulang. Namun, di tempat yang sama masih dilakukan pencarian. Kepala sekolah belum ditemukan. Menurut petunjuk yang diceritakan si kupluk hitam, Sukma yakin bahwa pria itu telah dibawa oleh makhluk gaib ke dimensi lain. Jika nanti ditemukan dalam keadaan baik, mungkin keberuntungan sedang mengelilingi kepala sekolah. Akan tetapi, jika sampai ditemukan dalam keadaan mengenaskan, bisa jadi itu merupakan balasan karena memiliki niat buruk saat datang ke Gunung Ciremai.
...****************...
Sekitar pukul satu siang, Sukma dan Bu Inah tiba si rumah. Pak Risman dan Atikah menyambut hangat keduanya. Atikah yang khawatir sejak mendapat kabar buruk tentang Sukma, buru-buru memeluk adiknya dengan erat.
"Enggak, Teh. Lagian aku cuma tersesat dari siang sampai sore soang. Nggak lama," jawab Sukma dengan santai, lalu menatap Pak Risman. "Pak, kok Bapak kelihatan lesu? Bapak lagi nggak sehat, ya?"
"Dek, sebaiknya Dedek ganti baju dan istirahat dulu. Nanti biar Teteh ceritain di kamar kalau kondisi Dedek udah nggak capek lagi," bujuk Bu Inah.
"Ibu benar, nanti Teteh ceritain, ya," timpal Atikah, sembari mengajak adiknya ke kamar.
Selepas kakak-beradik itu pergi, Bu Inah dan Pak Risman duduk sejenak di ruang tamu. Melihat wajah istrinya yang lesu bercampur gelisah, membuat Pak Risman penasaran. Ditepuknya pundak sang istri, lalu mulai bertanya.
"Bu, apa yang sedang Ibu pikirkan? Dedek udah ketemu," ucap Pak Risman.
"Pak, pikiran Ibu masih nggak tenang sejak Dedek ditemukan tadi," keluh Bu Inah dengan wajah sendu. "Sewaktu Ibu mau nyamperin Dedek, ada perempuan gila yang meluk-meluk Dedek kayak anaknya sendiri. Terus dia bilang, dia pernah ketemu sama Ibu juga. Perempuan itu juga ngaku-ngaku sebagai ibu kandungnya Dedek."
"Oh, itu. Mungkin perempuan itu lagi keingetan sama anaknya, makanya tiba-tiba meluk Dedek. Atau mungkin anaknya mirip sama Dedek."
Bu Inah menggeleng cepat. "Enggak, Pak. Bukan itu aja. Dia juga manggil-manggil nama Dedek, terus minta maaf sama Dedek kalau dia udah buang Dedek beberapa tahun lalu."
Pak Risman termenung mendengar penjelasan dari istrinya.
"Pak, apa ini enggak kedengaran terlalu ganjil, ya? Atau Ibu aja yang berlebihan?" tanya Bu Inah. "Kalau benar Dedek anak kamdung dari orang itu, Ibu benar-benar nggak rela."
"Sebaiknya kita ambil sisi positifnya aja. Kalau benar perempuan gangguan jiwa itu ibu kandungnya Dedek, berarti Allah mempercayakan kita agar merawat Dedek dengan baik. Coba ibu pikir baik-baik, gimana kalau Dedek dibesarkan sama perempuan kayak gitu?" jawab Pak Risman dengan tenang.
"Benar juga, ya, Pak. Setidaknya kehidupan anak angkat kita menjadi lebih baik, walaupun awalnya hidup kita pas-pasan."
"Iya, Bu."
Sementara itu di kamar, Atikah menceritakan sesuatu yang terjadi pada Pak Risman selama Sukma hilang empat hari. Tak lupa, ia pun mengungkapkan bahwa ayah mereka sempat muntah darah. Sukma tercengang mendengar penuturan kakaknya. Ia pun melirik ke luar jendela, ada sosok tinggi cungkring sedang mondar-mandir di depan rumah. Mungkin dialah penyebab Pak Risman sakit, pikirnya.
"Dedek, tau nggak pas Teteh, Ibu, sama Bapak pulang dari rumah sakit ketemu sama siapa?" tanya Atikah mulai terlihat semringah.
Sukma menggeleng. "Siapa, Teh?"
"Albiii. Anaknya Om Hilman yang dulu suka main sama kita," jawab Atikah dengan mata berbinar-binar. "Dia itu sekarang cakep loh. Tinggi, putih, idungnya mancung kayak Pangeran Arab."
"Oh." Sukma mengangguk, raut wajahnya datar saja. "Ngapain A Albi datang ke rumah sakit? Om Hilman-nya dirawat juga di sana?"
"Dia ke sana buat ngerawat Tante Arini. Dedek masih ingat dia?"
"Tante Arini?" Sukma menyipitkan kedua matanya, mencoba mengingat-ingat seseorang yang dimaksud oleh sang kakak. "Oh, bibinya Bu Farah bukan?"
Atikah mengangguk.
"Emangnya dia kenapa dirawat di rumah sakit?"
"Katanya, sih, lumpuh. Kadang-kadang koma berhari-hari. Anak sama suaminya nggak ada ngurusin. Jadinya Om Hilman sama A Albi yang merawat Tante Arini."
"Loh, kok cuma Om Hilman sama A Albi? Bu Farah-nya ke mana? Nggak ikutan ngurus?"
"Kata A Albi sih begitu. Bu Farah nggak mau ngurusin karena Tante Arini berasal dari keluarga miskin yang ngelakuin praktek perdukunan. Jadinya ya ... begitulah."
"Tante Farah dari dulu emang nggak berubah, ya."
Atikah mengangguk.
"Makanya, Teteh jangan coba-coba jatuh cinta sama A Albi."
Seketika Atikah terhenyak. Dirinya yang semula dilanda kasmaran, berubah galau. Dengan mengembuskan napas panjang, Atikah pergi ke dapur untuk membawakan Sukma air minum.