
Atikah semakin panik ketika kain dari tubuh Wanara menjalar menuju tangan Sukma. Segera ia menarik tangan adiknya dan membiarkan siluman kera itu berteriak kesakitan karena belitan kain di lehernya. Sukma menangis semakin kencang, hingga Atikah berusaha menenangkannya dengan cara memeluknya.
"Sudah, Dek. Biarin aja monyetnya pergi. Mungkin pemiliknya nggak suka kalau kamu dekat sama dia terus," tegur Atikah mengusap-usap kepala Sukma.
"Tapi, Teteh ... monyetnya kasihan sampai kesakitan begitu," kata Sukma sesenggukan.
"Udahlah, biarin aja. Nanti kita cari peliharaan baru buat Dedek, ya," bujuk Atikah.
"Nggak mau. Dedek pengin hewan yang bisa ngomong."
"Iya, iya. Nanti Teteh cariin hewan yang bisa ngomong dan lebih pinter dari monyet itu. Kamu mau, kan?"
Sukma bergeming.
"Sekarang mending kita pergi dari sini. Kasihan, Ibu dan Bapak sedang menunggu kita di depan."
Sukma menyeka air matanya, lalu berbalik badan meninggalkan Wanara yang terjengkang. Sesekali ia menengok ke belakang, tak tega memandang kera kesayangannya diseret dengan kasar oleh sebuah kain di lehernya. Atikah yang menyadari kesedihan di wajah Sukma, segera menuntun adiknya agar tak menoleh ke belakang.
Melihat tingkah kedua putrinya, Bu Inah dan Pak Risman terheran-heran. Ketika keduanya mendekati Bu Inah, wanita paruh baya itu seakan-akan cemas melihat keadaan Sukma. Segera ia menanyakan sikap Sukma pada Atikah.
"Tadi Dedek kenapa, Atikah?" tanya Bu Inah.
Tak mau sikap anehnya terungkap, Atikah berkata, "Dedek cuma sedih ninggalin rumah itu, Bu. Makanya nangis terus."
"Ya sudah, sekarang kita lanjutkan perjalanannya, ya," ujar Pak Risman.
"Tapi kita mau pergi ke mana, Pak?" tanya Sukma, masih sesenggukan.
"Pokoknya ke suatu tempat yang kalian sukai."
Pak Risman tak mau berlama-lama. Ia mengajak seluruh keluarganya untuk segera pergi sejauh mungkin dari rumah seseorang yang pernah menolongnya di masa sulit. Sebenarnya hati Pak Risman cukup berat saat meninggalkan kediaman Hilman. Namun baginya, keputusannya untuk tidak lagi membebani Hilman bukanlah hal yang sangat buruk. Setidaknya suatu saat nanti, ia bisa membalas budi baik Hilma yang sudah sangat membantu perekonomiannya menjadi membaik dikala sulit.
Sementara keluarga Pak Risman semakin menjauh, Wanara kelimpungan melepaskan diri dari jeratan Mbah Suro. Cekikan di lehernya semakin kuat, sampai ia mengetahui bahwa Mbah Suro mengincarnya sejak tadi. Pria tua itu tampak geram mengetahui siluman kesayangannya justru mengikuti Sukma, lalu dengan kekuatannya, ia mengubah ukuran Wanara menjadi kecil dan dapat digenggamnya.
"Sialan kau, Wanara! Bukannya makanin tumbal, tapi malah jadi kacungnya bocah. Di mana harga dirimu?"
Pantang bagi Wanara memohon ampun pada sang dukun. Walau bagaimanapun juga, ia merasa lebih sakti dari Mbah Suro. Buktinya, banyak manusia yang memohon-mohon bantuannya untuk melancarkan dendam pada musuh.
"Sekarang kamu kembali ke rumah si Farah! Habisi sukmanya sampai nyawanya benar-benar melayang."
Wanara bergeming. Mbah Suro langsung melempar siluman kera itu ke dalam kediaman Hilman, lalu menaburkan bubuk kemenyan di sekeliling kediaman orang incarannya. Ketika Mbah Suro berhasil membuat palang gaib untuk mencegah Wanara keluar dari kediaman Hilman, siluman kera itu kembali dalam ukuran semulanya yang cukup besar.
Selesai melakukan tugasnya, Mbah Suro berjalan keluar perkomplekan. Namun sebelum jauh dari kediaman Hilman, ia disusul oleh Arini yang memanggilnya dari belakang. Mbah Suro pun menoleh sebentar dan berhenti.
"Ngapain kamu nyusulin aku, Rin? Tugas kamu sudah selesai," ucap Mbah Suro, sambil celingukan.
"Suro, apa kamu sudah bawa siluman itu dari rumahnya Farah? Awas kalau sampai keponakanku kenapa-kenapa lagi!"
"Sudahlah, kamu tidak perlu berpikir yang aneh-aneh lagi tentang aku. Urus saja keponakan kamu itu."
"Suro ... kamu ini ...."
"Cepat kembali ke rumah si Farah itu! Atau ada yang lihat kamu lagi ngobrol sama dukun."
Mendengar peringatan Mbah Suro, Arini gemetar. Tanpa berpamitan, wanita tua itu bergegas kembali ke kediaman Hilman. Mbah Suro menyunggingkan senyum di sudut kiri bibirnya. Selanjutnya, tinggal satu rencana lagi yang akan dilancarkan untuk menghabisi Farah dan mendapatkan banyak uang dari Ratna.
...****************...
Ada yang berbeda saat Hilman pulang. Tak ada Pak Risman yang sedang sibuk membereskan peralatan menata kebun di halaman belakang rumah megah itu. Saat Hilman turun dari mobil, ia tak langsung masuk ke rumah, melainkan menuju paviliun yang sepi. Dipanggilnya Pak Risman, tapi tak ada yang menyahut. Ketika pintu paviliun dibuka, Hilman tak mendapati siapa pun di sana.
Sontak, Hilman panik dan segera ke rumahnya. Setibanya di ruang keluarga, terlihat Farah dan Arini sedang bercakap-cakap diselingi tawa ringan. Pria itu langsung duduk di kursi sembari memandangi istri dan bibinya.
"Eh, Hilman, kamu udah pulang ternyata," kata Arini tersenyum simpul.
Sejenak Hilman menghela napas, lalu berkata, "Di mana Pak Risman dan keluarganya? Kenapa mereka nggak ada di paviliun?"
Farah dan Arini saling tatap. Keduanya tampak gugup melihat kemarahan di wajah Hilman.
"Pa, mau aku buatin jus?" tanya Farah mengalihkan pembicaraan.
"Cepat jawab! Di mana keluarga Pak Risman?" tanya Hilman geram.
"Papa ini kenapa, sih? Datang-datang bukannya santai, malah marah-marah nanyain Pak Risman," ketus Farah kesal.
"Kamu ini suka ngeles, ya. Cepat jawab saja, di mana keluarga Pak Risman!"
"Mereka sudah pergi," jawab Arini.
"Pergi? Kenapa mereka pergi? Apa dimarahin lagi sama Farah?" tanya Hilman terheran-heran.
"Mereka sudah menumbalkan aku, Pa! Aku lihat sendiri, ada sesajen di kamarnya!" jelas Farah bersungut-sungut.
Hilman menghela napas berat. "Astaga kamu ini, Farah," katanya menggeleng. "Sebegitu bencinya kamu sama keluarga Pak Risman, sampai-sampai mengusir mereka cuma karena sesajen? Aku tahu betul, Pak Risman itu rajin ibadah. Jangankan salat wajib, salat sunnah pun dia kerjakan. Menggelikan sekali kalau sampai dia mau menumbalkan kamu. Sejengkel-jengkelnya dia, mana mungkin sampai mencelakai kamu, apalagi dengan cara menyekutukan Tuhan."
"Tapi kita nggak tahu sisi lain seseorang, Pa. Bisa aja, kan, dia pura-pura baik di depan kita padahal di belakang ...."
"Cukup, Farah! Kamu ini bikin malu aja. Udah aku bilang, kan, kalau Pak Risman dan Bu Inah berniat mencelakai kamu, mungkin mereka sudah lama menumbalkan kamu? Aku yakin, orang yang menumbalkan kamu itu bukan mereka, tapi temen deket kamu yang ngasih makanan basi."
"Tapi kalau bukan keluarga Pak Risman, bagaimana bisa si Sukma lihat siluman kirimannya?"
Hilman hanya mendelik. Batinnya sudah lelah menjelaskan, bahwa semua keganjilan yang dimiliki Sukma tak ada hubungannya sama sekali dengan ilmu hitam kiriman seseorang. Tanpa berkata-kata, pria itu bergegas pergi dari hadapan mereka. Ia bertekad untuk menemukan keluarga Pak Risman dan membawa pulang mereka kembali.
"Papa mau pergi ke mana? Sudahlah, jangan cari mereka!" ujar Farah.
"Diam kamu, Farah! Nggak usah ikut campur!" bentak Hilman.
"Pa, aku mengusir mereka karena kasihan sama Papa. Usaha Papa sedang menurun, aku cuma berusaha untuk meringankan biaya Papa," jelas Farah.
Hilman termenung sejenak, lalu menoleh pada istrinya. "Oh, jadi kamu pikir aku nggak bisa membayar semua pegawai di rumah ini, begitu? Kamu meremehkan kemampuan aku, ya? Meskipun usahaku sedang menurun, aku tetap sanggup membayar pegawai kok. Sudahlah! Jangan ikut campur urusanku lagi!"
Dilepasnya genggaman Farah dari tangannya. Hilman segera naik ke mobil, lalu melajukannya sampai meninggalkan halaman rumah. Ia tak habis pikir, Farah akan setega itu pda keluarga Pak Risman yang terkenal jujur dan santun. Kendati Farah berkali-kali meyakinkannya bahwa Pak Risman telah melakukan perbuatan yang keji, Hilman tak akan pernah percaya, sebab ia tahu betul kepribadian pegawai kesayangannya itu.
Sementara Hilman mencari keluarga pegawai kesayangannya, beberapa kilometer dari perkomplekan, Pak Risman beserta anak-istrinya sedang luntang-lantung di Stasiun Bandung. Entah ke mana tujuan mereka sebenarnya. Yang pasti, mereka ingin pergi sejauh mungkin ke tempat asing. Berharap tak ada seorang pun yang mengenali mereka, sehingga aib Pak Risman mustahil terungkap.
Bu Inah menuntun kedua anaknya mengikuti ke mana suaminya pergi. Pak Risman masuk ke stasiun, mereka ikut. Suasana stasiun yang begitu ramai, membuat Bu Inah khawatir kalau anak-anaknya hilang di antara kerumunan orang. Mendapat kursi kosong, ketiganya duduk sejenak sambil memandang Pak Risman yang mengantre, memesan tiket kereta api. Sesekali Sukma mengeluh, perutnya perih karena lapar.
"Tunggu sebentar, ya, Dek. Nanti kalau Bapak udah dapat tiket, Ibu beliin makanan," ujar Bu Inah.
"Nggak apa-apa, Bu. Dedek biar aku tungguin," kata Atikah.
"Baiklah. Kalian jangan ke mana-mana, ya. Di sini banyak orang, nanti kalau kalian hilang, Ibu lagi yang repot."
Atikah mengangguk.
Kendati merasa khawatir, Bu Inah tetap pergi ke luar stasiun untuk mencari makanan. Sukma masih saja memegangi perut, menahan rasa lapar yang menyiksa sejak tadi siang. Atikah yang menemani Sukma, berusaha membujuk adiknya untuk tetap bersabar menunggu sang ibu.
Setelah cukup lama mengantre, akhirnya Pak Risman mendapatkan tiket. Ia memilih untuk pergi ke Padalarang. Setidaknya dengan begitu, keluarganya aman dari aib yang ditorehkannya pada keluarga Hilman.
Ketika kembali ke tempat anak dan istrinya menunggu, Pak Risman terkesiap. Keluarganya tak ada di sana. Dicarinya anak-anak, menembus kerumunan penumpang yang hendak pergi ke tujuannya masing-masing. Seisi stasiun ia telusuri, hingga akhirnya berpapasan dengan Bu Inah.
"Loh, Pak? Bapak sedang cariin siapa?" tanya Bu Inah cemas.
"Ah, syukurlah. Akhirnya ketemu Ibu juga," kata Pak Risman, lega. "Bu, anak-anak ada sama Ibu, kan?"
Bu Inah mengernyitkan kening, kecemasan mulai menyeruak di dadanya. "Enggak, Pak. Ibu kira tadi Bapak udah ketemu sama anak-anak."
"Ya ampun! Bagaimana ini? Bapak udah cari-cari ke sekitar stasiun, tapi nggak ketemu!"
"Astagfirullah!" Bu Inah membekap mulutnya. "Kita harus cari lagi, Pak. Bisa gawat nanti kalau mereka sampai hilang."
Sementara Pak Risman dan Bu Inah panik, Atikah kesal menunggu adiknya tak kunjung keluar dari toilet. Dari luar bilik toilet, ia menggedor-gedor pintu sambil menyuruh adiknya segera keluar. Gadis kecil itu khawatir kalau sampai kedua orang tuanya kebingungan mencari ia dan adiknya.
"Dedek! Dedek cepetan keluar ih! Ini banyak yang ngantri!" teriak Atikah.
Alih-alih menuruti kakaknya, Sukma justru duduk santai di toilet sambil memandangi perempuan berbaju putih yang berdiri di sampingnya. Rambut panjangnya menutupi seluruh wajahnya, sehingga Sukma tak melihat ekspresi perempuan itu sama sekali. Sesekali Sukma menyapa perempuan itu, tapi sapaannya seolah tak dihiraukan.
"Kamu sombong amat, sih. Kenapa nggak jawab aku?" gerutu Sukma.
Perempuan itu tetap bergeming.
"Oya, kamu punya hewan peliharaan yang bisa ngomong nggak? Kalau punya, kasih aku satu. Soalnya monyet aku malah ditarik sama pemilik aslinya, jadi aku sedih nggak punya hewan peliharaan yang bisa ngomong lagi."
Perempuan itu tertawa dengan suaranya yang melengking.
"Ih, kok malah ketawa, sih? Aku cuma mau minta hewan peliharaan yang bisa ngomong. Kamu ngeledekin aku, ya? Ketawanya sampai keras-keras begitu," cerocos Sukma sambil memberengut.
Tak lama kemudian, terdengar suara bilik pintu digedor-gedor lagi. Ternyata Atikah meminta bantuan orang dewasa untuk mendobrak pintu. Dua orang wanita berusaha mendorong pintu dengan sekuat tenaga. Akhirnya pintu bilik toilet yang ditempati Sukma terbuka.
Sukma menoleh ke arah pintu, lalu tercengang melihat wajah orang-orang yang memandanginya dengan panik. Segera Atikah menarik adiknya keluar dari bilik toilet dan berterima kasih pada dua orang wanita yang telah membantunya mendobrak pintu. Selanjutnya, Atikah membawa Sukma pergi dari toilet dengan kesal.
"Dedek ini habis ngapain aja di toilet? Dedek bobo, ya?" tanya Atikah bersungut-sungut.
"Dedek lagi minta hewan yang bisa ngomong sama perempuan yang nungguin Dedek di toilet."
"Ah, Dedek ini suka banget, sih, ngobrol sama orang asing," kata Atikah, "sebaiknya sekarang kita kembali ke tempat tunggu. Nanti Ibu sama Bapak nyariin kita."
"Oh, iya."
Setelah keluar dari area toilet, mereka bertemu dengan kedua orang tuanya yang panik. Pak Risman bersyukur melihat kedua putrinya baik-baik saja, sedangkan Bu Inah langsung memeluk Atikah dan Sukma dengan rasa lega. Bu Inah menanyakan tentang keberadaan mereka selama ini. Atikah yang masih kesal pada Sukma pun langsung mencak-mencak, bahwa adiknya senang berlama-lama di toilet.
Sekembalinya mereka ke tempat tunggu penumpang, Pak Risman justru panik. Koper berisi uang pemberian Arini hilang entah ke mana. Jika sampai diambil orang, nasib mereka akan lebih buruk dari sebelumnya.
"Terus kita harus mencarinya ke mana, Pak? Baru juga selesai ketemu anak-anak, sekarang kopernya hilang," keluh Bu Inah, suaranya terdengar letih.
"Bapak nggak tahu harus nyari ke mana. Di sini banyak orang," kata Pak Risman kebingungan, menggaruk-garuk kepala belakangnya.
Sukma menebarkan pandangan ke sekelilingnya. Matanya menerawang akan kejadian yang pernah terjadi sebelumnya di tempat barang-barang Pak Risman disimpan. Sekilas, terlihat sebuah tangan kekar mengambil koper hitam itu. Pandangan Sukma secara tidak langsung tertuju pada pria botak berbadan tinggi tegap dan memakai kaus hijau yang menenteng koper berisi uang, sedang mengantre di dekat gerbang menuju area kereta api datang.
Tanpa banyak bicara, gadis kecil itu langsung menyelusup di antara penumpang lain yang sedang mengantre. Digenggamnya tangan pria itu, lalu mendongak. Tentu saja, pria itu risih dengan kedatangan Sukma.
"Kamu ini lagi ngapain, sih? Lepasin tangan saya!" hardik pria itu.
"Kembaliin kopernya atau ...."
"Atau apa? Ini koper saya," bentak pria itu berang.
"Oh. Jadi Om mau aku kasih pelajaran, ya?"
Pria itu semakin gusar dengan tingkah aneh Sukma. Ia berusaha melepaskan genggaman Sukma dari tangannya, tapi sulit. Sukma yang semakin geram pada kebohongannya, justru semakin mencengkeram lengan si pria, lalu membanting tubuhnya hingga terkapar di lantai.
Sontak, semua calon penumpang tercengang melihat kejadian aneh itu. Bagi mereka, mustahil seorang anak kecil mampu membanting tubuh besar pria yang kekar. Pun dengan keluarga Pak Risman, yang tidak percaya akan perlakuan kasar si bungsu pada pria itu.