
Bu Inah dan Pak Risman cemas ketika mendengar Atikah yang mengabarkan bahwa si bungsu hilang. Mereka berpamitan pada Abah untuk mencari Sukma, sementara Mang Wawan dan Bi Narti memohon maaf karena tak bisa membantu. Mang Wawan sibuk memotong ayam warga yang akan disiapkan sebagai makanan wajib Lebaran, sedangkan Bi Narti belum selesai membuat kue. Pak Risman dan istrinya memakluminya. Mereka pun bergegas pergi mencari Sukma bersama Atikah.
Cukup lama mereka berjalan ke arah Sukma terakhir kali melihat seorang anak kecil bersimbah darah, hingga akhirnya Pak Risman sadar, bahwa jalan yang dilewatinya merupakan arah menuju rumah Emak. Pun dengan Bu Inah yang mendadak tercenung, menyadari bahwa jalur yang dilewatinya serasa tidak asing. Ia menatap Pak Risman, lalu mengutarakan sesuatu yang mengganjal hatinya.
"Pak, mungkin Dedek ada di rumah Emak. Apa kita langsung ke sana aja, ya, Pak?" tanya Bu Inah.
"Kayaknya begitu. Baiklah, kita langsung ke rumah Emak aja," ucap Pak Risman mengiyakan.
Selanjutnya, mereka bergegas menuju rumah Emak. Tak lupa, Atikah dituntun oleh Bu Inah. Mereka berjalan dengan tergesa-gesa, ingin segera memastikan putri bungsu Pak Risman berada di sana.
Sementara itu, Sukma masih asyik mengobrol dengan kerabat dan neneknya. Gadis kecil itu menceritakan banyak hal, terutama pengalamannya dalam melihat hal-hal gaib. Bi Yati mendengarkan dengan saksama, sembari menggali segala hal yang dapat dimanfaatkan dari Sukma agar bisa mengguna-guna Pak Risman lagi.
"Oya, Dek. Gimana tanggapan bapak dan ibu saat Dedek bisa mengalahkan orang dewasa sama ngelawan hantu?" tanya Bi Yati tersenyum simpul.
"Ibu sama Bapak kayak cuek gitu, Bi. Bapak sering bilang, kalau Dedek ini ngomongnya suka ngelantur. Padahal, Dedek nggak pernah ngelantur apalagi berbohong, Bi. Waktu itu juga Dedek pernah bawa Maurin ke rumah, tapi kata Ibu sama Bapak, dia cuma temen khayalan Dedek," jelas Sukma dengan polosnya.
"Ah, bapak kamu itu dari dulu emang begitu. Dia nggak pernah mau ngerti kalau hantu itu ada," ucap Wa Agus bernada ketus.
"Oh, gitu, ya," kata Sukma menatap Wa Agus dengan mata membesar.
"Bukan itu aja, dia suka berlagak sok suci. Rajin beribadah, tapi nggak percaya sama hantu. Padahal tuhannya aja nggak kelihatan," celetuk Wa Seto.
"Kayaknya sampai kapan pun bapak sama ibu kamu nggak bakal percaya sama omongan kamu soal kehadiran hantu, Dek. Orang tua kayak gitu harus dikasih pelajaran. Kalau perlu, lawan aja sekalian, jangan dibiarin," ujar Bi Neneng, memercikkan api kemarahan di benak Sukma.
"Tapi kata Bu Guru di sekolah, melawan orang tua itu dosa, Bi. Mereka sudah melahirkan Dedek, bahkan ngasih makan dan minum. Jadi, Dedek harus berbakti biar dikasih pahala sama Allah," bantah Sukma dengan tatapan lugunya.
Emak duduk di sebelah Sukma, lalu mengusap rambut cucunya itu. "Dek, nggak semua orang tua berhak dipatuhi. Kalau mereka nggak mau mengerti kemampuan anak dan selalu memaksakan kehendak, sesekali memang harus dilawan. Orang tua yang baik itu yang selalu mengiyakan perkataan anaknya."
"Oh, gitu. Tapi Bapak sama Ibu nggak pernah berbuat jahat kok. Biarpun mereka nggak percaya sama omongan Dedek, mereka tetap ngasih Dedek makan sama minum," ucap Sukma.
"Begini, Dek. Coba Dedek pikir baik-baik! Apa mungkin, seorang bapak yang baik itu sering ngatain Dedek suka ngelantur?" bujuk Bi Yati.
Sukma termangu sejenak, lalu menggeleng pelan.
"Nah, itu berarti bapak kamu udah nggak bener, Dek. Harus dilawan!" ujar Wa Seto dengan penuh semangat.
"Benar! Kalau Dedek bisa buka mata batin bapak Dedek, tunjukin aja sekalian kalau semua yang dilihat Dedek itu nyata. Pasti bapak Dedek nggak bakal ngatain Dedek suka ngelantur lagi," bujuk Wa Agus.
"Beneran, Wa, kalau Dedek bukain mata batin Bapak, Bapak bakal percaya sama Dedek?" tanya Sukma ragu.
"Benar!" ucap keempat bersaudara dan Emak secara serempak.
"Baiklah, nanti Dedek bakal bukain mata batin Bapak sama Ibu biar percaya sama omongan Dedek," kata Sukma.
Emak mengelus rambut Sukma dan berkata, "Anak pintar!"
Di tengah percakapan mereka, Pak Risman muncul dari balik pintu sambil mengucap salam. Sontak, keempat bersaudara itu menoleh pada sosok pria yang baru saja datang bersama istri dan anaknya. Wa Seto merasa geram, lalu mengepalkan tangannya sambil beranjak ke dapur. Adapun Bi Yati yang baru bertemu dengan Pak Risman, memasang wajah ramah dan menyambutnya dengan senyuman.
"Eh, Kang Risman, Teh Inah. Apa kabar? Udah lama banget, ya, kita nggak ketemu," sapa Bi Yati menghampiri kakaknya, lalu mencium tangannya.
"Yati ... sejak kapan kamu ke sini?" tanya Pak Risman tercengang.
"Semalam aku baru nyampai sini, Kang," jawab Bi Yati, kemudian beralih menyalami Bu Inah dan memeluk tubuh kakak iparnya itu.
Bu Inah yang masih tertegun dengan sikap Bi Yati, tak bereaksi apa-apa. Ia benar-benar heran, salah satu saudara Pak Risman yang paling jahat itu bisa bersikap sangat ramah dibandingkan anggota keluarga yang lainnya. Saat memperhatikan Bi Yati yang menyapa Atikah, Bu Inah mulai berprasangka buruk. Ia yakin, seseorang yang biasanya berbuat jahat tak akan mungkin berperilaku baik, kecuali jika ada maunya.
"Kalian sudah apakan Dek Sukma?" tanya Bu Inah dengan suara gemetar.
"Kami nggak ngapa-ngapain Dek Sukma, kok, Teh. Tanyain aja sama anaknya," jawab Bi Neneng.
Sukma menghampiri kedua orang tuanya dan berkata, "Dedek nggak diapa-apain, kok, Bu. Dedek cuma ngobrol-ngobrol aja sama Uwa, Bibi, sama Nenek juga."
"Tapi ... kok Dedek bisa ada di sini? Udah ketemu sama anak yang dicari itu?" tanya Atikah mengernyitkan kening.
Sukma menggeleng cepat. "Enggak, Teh. Tadi anak itu tiba-tiba ngilang gitu aja. Pas Dedek mau pulang, eh malah ketemu sama Bi Neneng."
"Gitu, ya." Atikah mengangguk.
"Teh Inah, kita ke dapur, yuk! Rasanya nggak lengkap kalau lebaran nggak ada ketupat sama opor ayam," ajak Bi Yati.
Sementara Bu Inah pergi ke dapur bersama Bi Yati dan Bi Neneng, Pak Risman diajak ngobrol oleh Emak serta Wa Agus. Anak-anak disuruh bermain di luar agar percakapan di antara mereka tidak didengar. Pak Risman duduk dengan rendah diri di hadapan Wa Agus dan Emak.
"Risman, kenapa dari kemarin kamu nggak cerita kalau anak pungut kamu itu bisa lihat hantu? Kalau kamu cerita, pasti bakal kami arahin," ucap Emak.
"Buat apa saya cerita tentang itu, Mak? Nggak penting," kata Pak Risman bernada sinis.
"Nggak penting gimana, Man? Anak kamu itu istimewa. Lain dari yang lain. Kalau kami bisa arahin dia, kamu juga pasti bangga," tegas Wa Agus.
"Diarahin macam apa maksud Kakang? Kakang mau bikin putri saya jadi pemuja siluman kayak kalian?" tanya Pak Risman sewot.
Pak Risman berdiri, lalu menghampiri Wa Agus dan menarik kerah baju kakaknya. "Berhenti ngomong gitu tentang Sukma! Kemarin saya berusaha sabar denger perkataan Kakang, tapi sekarang saya benar-benar nggak terima! Di mata saya, semua anak terlahir suci. Nggak ada yang namanya anak setan."
Wa Agus mendorong Pak Risman hingga terlentang di sofa. "Mau sampai kapan kamu menampik, Man. Sukma itu anak dari hasil perjanjian dengan iblis. Sekeras apa pun usaha kamu nunjukin dia jalan lurus, dia akan tetap sejalan dengan kami."
Pak Risman geram, lalu bangkit memukul wajah sang kakak. Emak yang terkejut dengan sikap kasar Pak Risman, segera melerai pertengkaran di antara mereka. Pak Risman dan Wa Agus, masih saling menatap tajam.
Sukma dan Atikah yang mendengar pertengkaran kedua bersaudara itu, bergegas masuk ke ruang tamu. Tampak Wa Agus memegangi rahangnya, lalu menoleh pada putri bungsu Pak Risman. Menurutnya, ini merupakan kesempatan yang bagus untuk memantik kebencian di hati Sukma pada ayahnya. Segera ia menghampiri dua gadis polos itu sebelum didahului oleh adiknya.
"Lihat, kan, Dek? Bapak kamu udah nonjok Uwa sampai sakit gini. Apa kamu masih yakin kalau bapak kamu itu baik?" ucap Wa Agus sambil sesekali meringis.
Sukma memandang sang ayah yang masih terbakar amarah.
"Sekarang, Dedek pilih antara diem aja atau lawan bapak kamu. Ingat baik-baik! Orang tua yang baik nggak akan nonjok saudaranya," ujar Wa Agus, lalu melengos ke kamar untuk mengobati rasa sakit di wajahnya.
"Dedek, jangan dengerin Wa Agus! Dia berbohong!" ujar Pak Risman.
Sukma hanya terdiam, memandang kosong pada sang ayah. Tak biasanya, ia melihat sosok Pak Risman yang begitu murka pada orang lain, terlebih saudaranya sendiri. Tanpa mempertanyakan sebab ayahnya memukul Wa Agus, Sukma geram pada Pak Risman dan mengomelinya.
Sementara itu, Bu Inah diperlakukan sebagaimana pembantu. Istri Wa Agus dan Wa Seto tak pernah menyentuh peralatan dapur, begitu juga dengan Bi Yati. Mereka biasa menyuruh asisten rumah tangga untuk mengurus tugas rumah. Adapun Bi Neneng yang biasa membantu Emak di rumah menyiapkan makanan, justru hanya ikut duduk-duduk bersama kakak dan kakak iparnya. Ia beralasan sedang malas memasak hari ini.
Kedua bersaudara itu asyik membicarakan harga pakaian bermerk dan prestasi anak-anaknya dengan kakak ipar mereka. Pembicaraannya seolah saling membanggakan diri dan tak mau kalah dari satu sama yang lain. Sesekali, mereka menyindir Bu Inah yang sedang sibuk mengolah ayam untuk dijadikan opor. Bu Inah pura-pura tak mendengar dan membuat dirinya sesibuk mungkin agar terhindar dari pembicaraan tak mengenakkan mereka.
"Inah! Tolong ambilin air putih dong, saya haus, nih," perintah istrinya Wa Seto.
Segera Bu Inah mengambilkan segelas air untuk istrinya Wa Seto. Selang beberapa menit, istri Wa Agus terkikik-kikik melihat kelakuan adik iparnya yang lebih mirip pembantu daripada saudara. Bu Inah menghela napas, lalu memasak bumbu untuk opor ayam.
"Teh Inah ... Teh Inah. Coba aja kalau dari dulu nggak sok-sokan ngelawan Emak, pasti hidup Teteh bakalan enak kayak kita," ucap Bi Neneng sambil menyunggingkan senyum di salah satu sudut bibirnya.
"Iya. Teteh juga nggak bakal diperlakukan kayak pembantu. Aku benar-benar kasihan sama Teteh," timpal Bi Yati.
"Heh, Inah. Di dunia ini yang dihargai orang lain itu cuma uang dan harta. Kalau kamu terus-terusan miskin, kapan bisa dihargainya?" celetuk istri Wa Seto.
"Ayo dong, Inah! Bujuk suami kamu biar nurut sama Emak. Setidaknya kalau kehidupan kamu membaik, kamu nggak bakal lagi diperlakukan kayak babu sama orang-orang," ucap istri Wa Agus.
Bu Inah tak tahan menerima hinaan demi hinaan yang dilontarkan oleh mereka. Dengan kasar, ia membanting spatula ke katel, lalu menatap tajam pada keempat orang yang duduk di dipan.
"Dengarkan aku baik-baik! Hidup di dunia ini nggak lama. Kalian bisa saja dapat kedudukan tinggi di dunia ini oleh pesugihan, tapi ingat! Setelah kehidupan ada kematian. Kalau kalian terus-terusan begini, amal apa yang bakal kalian bawa buat di akhirat nanti?" cerocos Bu Inah, dengan mata berkaca-kaca.
"Percuma aja kamu ceramahi kami. Hidup ini cuma sekali, Inah. Nikmatin aja semua yang ada di dunia ini selagi hidup. Urusan mati mah belakangan. Lagipula, kita kan nggak tahu akhirat itu beneran ada atau cuma karangan manusia belaka," sanggah istri Wa Seto.
"Ternyata nggak ada gunanya, ya, bicara sama orang-orang yang hatinya udah tertutup. Saya berdoa sama Allah, semoga Dia ngasih kalian hidayah buat segera taubat. Entah itu dengan cara yang baik atau cara yang buruk," ucap Bu Inah sembari menyeka air matanya.
"Iya, iya, berdoa aja sama Tuhan Teteh itu. Emangnya Dia bakal ngabulin semua doa Teteh? Dia nggak bakal ngasih apa-apa selain kemiskinan dan kesusahan. Beda sama kita, biarpun muja, toh bisa hidup enak ini kok," ucap Bi Neneng.
Tak tahan mendengar perkataan memyakitkan dari saudara-saudara iparnya, Bu Inah mematikan kompor, lalu pergi meninggalkan dapur. Keempat wanita itu tertawa terbahak-bahak melihat kekalahan Bu Inah. Mereka seperti sangat puas melihat Bu Inah pergi dengan berlinang air mata.
Setibanya di ruang tamu, Bu Inah terkejut melihat Sukma memukul badan Pak Risman. Ia memang merasa ada yang tidak beres sejak awal datang kemari. Secepatnya Bu Inah menggendong Sukma tanpa basa-basi. Sukma pun terdiam sambil terheran-heran melihat mata sembap ibunya.
"Pak, sebaiknya kita segera ke rumah Abah. Nggak baik berlama-lama di sini," ujar Bu Inah.
"Iya, Bu. Bapak juga ngerasa nggak nyaman, apalagi Kang Agus kayaknya udah menghasut anak kita. Ayo!" kata Pak Risman setuju.
"Ibu, kita beneran mau ke rumah Abah sekarang?" tanya Sukma tertegun.
"Iya, kita bantuin Bi Narti bikin opor ayam di sana. Udah, Dedek jangan marah-marah lagi," kata Bu Inah.
"Tapi Dedek kesel sama Bapak. Dia udah nonjok Wa Agus," ucap Sukma sembari menunjuk pada ayahnya.
"Apa?!" Bu Inah mengernyitkan kening.
"Nanti Bapak jelaskan kejadiannya di rumah Abah. Sekarang kita harus pergi dulu dari sini," ujar Pak Risman.
Mereka meninggalkan kediaman Emak tanpa pamit. Dari ruang keluarga, Wa Agus dan Emak memandang sinis sembari menyunggingkan senyum. Mereka tampak puas, Sukma akhirnya melawan Pak Risman.
Selama di perjalanan menuju rumah Abah, Sukma tak berhenti mengoceh, membicarakan saudara-saudara Pak Risman yang sama-sama bisa melihat makhluk gaib. Reaksi Bu Inah dan Pak Risman cenderung acuh tak acuh. Mereka menyadari, bahwa kemampuan yang dimiliki saudara Pak Risman itu tidak lain adalah pemberian dari makhluk yang mereka puja. Berbeda dengan Sukma yang sudah memiliki indera keenam sejak lahir, bahkan kemampuannya dari bayi memang selalu aneh.
Setelah cukup lama berjalan, akhirnya mereka tiba di rumah Abah. Kedatangan mereka disambut baik oleh Abah yang baru saja selesai menganyam ketupat. Pria tua itu tampak ikut senang melihat Sukma ditemukan.
"Alhamdulillah, Dedek! Akhirnya Dedek ketemu juga," decak Abah menghampiri Sukma dan menciumi kedua pipinya. "Dedek habis dari mana?"
"Tadi Dedek habis dari rumah Emak, Bah. Aduh ... saya sampai nggak habis pikir," jawab Pak Risman.
"Apa? Gimana caranya Dedek bisa ada di sana?" tanya Abah mengerutkan dahi.
"Tadi Dedek ngikutin anak kecil, badannya banyak darah, terus ngilang deh di rumah Emak. Di sana Dedek disambut baik sama saudara-saudaranya Bapak. Dedek juga ngobrol banyak hal, Abah. Dedek baru tahu, loh, kalau keluarganya Bapak bisa lihat hantu juga," jelas Sukma.
Seketika perasaan Abah menjadi tidak keruan. Kecemasan mulai menggerayangi benaknya. Kesadaran mereka akan kemampuan Sukma, tak bisa dianggap remeh. Abah mulai memutar otak agar pertikaian antara Sukma dan kedua orang tuanya tak pernah terjadi. Ia yakin, bahwa selama Sukma berada di sana, keluarga besar Pak Risman telah mempengaruhi pikiran gadis kecil itu.