SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Masalah Pelik


Kegelapan menyelimuti langit. Remang-remang sinar merah yang membentang di cakrawala, perlahan lenyap. Sehabis mandi, rasa gatal di tubuh Farah menghilang. Kendati demikian, kulitnya masih sedikit perih akibat bekas garukan dan luka-luka di badannya.


Selesai makan malam, Farah duduk di tepi ranjang, memikirkan mimpi aneh tadi siang. Ketika suaminya datang, wajahnya semringah. Ia tampak tak sabar menanyakan hal yang sulit diterima akal sehatnya pada Hilman.


"Pa, aku bisa bicara sebentar nggak?"


"Tentu saja. Mau membicarakan apa?"


Farah mulai menceritakan mimpinya tadi siang, selepas makan makanan pemberian Ratna. Tak lupa, ia menggambarkan seekor kera raksasa yang ingin membawanya ke alam lain dan gadis kecil bertanduk. Hilman tertegun mendengar cerita yang disampaikan istrinya. Saat Farah mengingatkan pada suaminya tentang kera yang selalu disebut-sebut oleh Sukma, Hilman terhenyak.


"Apa mungkin monyet yang selalu dikatakan Sukma itu benar adanya, ya, Pa?" tanya Farah menduga-duga.


"Mungkin saja. Soalnya aku juga menduga-duga, ada yang nggak beres sama penyakit kamu ini. Apalagi setelah dokter bilang nggak ada penyakit yang aneh di kulit kamu. Bisa jadi kulit kamu jadi gatal begitu gara-gara bulu monyet yang rontok."


"Aduh, Pa. Kalau misalkan beneran aku ditumbalin, aku harus gimana? Aku nggak mau mati konyol gara-gara ditumbalin."


"Coba kamu ingat-ingat, siapa orang yang suka kamu sakitin. Biasanya orang yang punya dendam bakal ngelakuin hal itu. Kalau kamu udah ketemu sama orangnya, minta maaflah. Jangan lupa, habis minta maaf, rajin-rajinlah ibadah! Soalnya jin apa pun bakal takut kalau kita beriman sama Allah."


"Tapi aku nggak pernah nyakitin siapa pun. Kalaupun Ratna suka aku sindir-sindir, dia tetep baik, kok. Buktinya pas aku sakit, dia mau jenguk aku dan ngasih makanan."


"Apa? Kamu sering nyindir Ratna? Ah, sepertinya aku tahu siapa pelakunya."


"Siapa, Pa? Ratna?"


"Tadi kamu bilang, kamu sering nyindirin dia, kan? Terus tadi pagi dia datang ke sini bawa makanan. Jadi, kalau bukan dia, siapa lagi coba pelakunya? Alexis?"


"Nggak mungkin, Pa. Ratna nggak mungkin ngelakuin hal itu. Bisa aja, kan, Pak Risman atau Bu Inah yang numbalin aku."


"Astaga! Mau sampai kapan kamu nuduh Pak Risman sama Bu Inah yang enggak-enggak? Kalaupun memang mereka pelakunya, mereka pasti ngelakuinnya udah lama."


"Jadi benar, pelakunya Ratna? Ah, aku tetep nggak percaya."


"Terserah kamu, deh. Aku sering lihat orang yang mau ditumbalin dikasih makanan oleh 'si pemuja' sebelum meninggal."


"Oh, gitu ya, Pa. Serem juga. Kalau aku nanti mati gimana, Pa? Siapa yang bisa nolongin aku?"


"Mendingan kamu belajar salat lagi, jangan lupa berdoa juga. Cuma Allah yang bisa nolongin kita dari hal begituan. Dia Maha Besar dan Maha Kuat dari segalanya."


"Iya, Pa. Bakal aku usahain."


Sementara Hilman dan Farah hendak terlelap, beberapa kilometer dari kediaman mereka, Mbah Suro kesulitan tidur. Setelah didatangi Ratna, matanya masih terbayang-bayang pada gadis kecil bertanduk yang diterawangnya. Selain melihat kejadian buruk di masa mendatang, ia juga menyaksikan sepupunya, Farida, sekarat gara-gara tenaganya diserap oleh Sukma sampai tak tersisa.


Untuk menenangkan pikirannya, Mbah Suro pergi ke gua buatannya di bawah tanah. Ia berharap mendapatkan petunjuk agar kera yang dikirimnya ke rumah Farah tak mematuhi Sukma. Namun, sebelum beranjak dari kamarnya, terdengar bunyi bel dari luar.


Tak mau membuat tamunya menunggu lama, maka bergegaslah pria tua itu membuka pintu masuk ke rumahnya. Betapa terkejutnya ia mendapati adik Farida mengunjungi kediamannya. Mbah Suro mempersilakan masuk Arini, lalu pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman.


"Nggak usah repot-repot, Suro. Aku nggak sudi makan dan minum di rumahmu. Semuanya haram dikonsumsi, airnya pasti sudah dijampi-jampi," ujar Arini dengan nada bicaranya yang datar.


Mbah Suro terkekeh seraya duduk berhadapan dengan Arini, lalu berkata, "Jangan begitu, Arini. Bukankah tamu harus dihormati seperti raja?"


"Tapi kalau tuan rumahnya culas kayak kamu, aku tidak sudi."


"Baiklah, baiklah," ucap Mbah Suro mangut-mangut. "Tumben kamu ke sini, Rin. Bukannya kamu sudah membuang semua keluarga kamu?"


"Aku ke sini karena punya firasat jelek sama kamu, Ro."


"Firasat jelek? Oh, ternyata kamu masih pakai ilmu yang diturunkan emak-bapakmu."


Arini menggeleng lemah. "Musyrik aku kalau ngilmu begituan terus kayak kalian, Ro. Aku sudah tahu mana yang salah dan benar."


"Terserah kamu saja, Rin. Dari dulu kamu memang selalu merasa benar sendiri." Mbah Suro bersandar ke kursi dan bersedekap. "Sekarang masalah kamu apa, sampai mau datang ke sini? Sudah bertahun-tahun nggak ketemu, tahu-tahunya mampir kemari cuma karena punya firasat jelek sama aku."


"Ro, bicara yang jujur sama aku. Kamu nggak coba-coba mencelakai keluargaku, kan?"


Seketika Mbah Suro terbahak-bahak mendengar pertanyaan Arini. "Astaga kamu ini ... Riiin, Rin. Mana mungkin aku mencelakai keluarga kamu. Kalau aku punya dendam kesumat sama kamu, dari dulu sudah aku guna-guna kamu."


"Tapi perasaan aku nggak tenang, Ro. Sejak tiga hari yang lalu, aku selalu kepikiran sama keponakanku."


"Itu urusanmu. Kenapa jadi melibatkan aku segala?"


"Tapi aku tetep curiga sama kamu, Ro. Aku khawatir, ilmu kamu itu malah nyasar atau ada pelangganmu yang punya dendam sama keluargaku."


"Memangnya siapa nama keponakanmu itu, Rin? Jangan suka nuduh aku sembarangan, ah! Bisa saja dukun lain yang melakukannya."


"Namanya Farah Diba. Aku kepikiran terus sama dia. Belum lagi kemarin suaminya ngomong di telepon, katanya Farah kena gatal-gatal."


Sejenak, Mbah Suro tertegun mendengar penuturan sepupunya. Ingatannya melambung pada kejadian tadi siang saat Ratna datang ke rumah. Alih-alih menyembunyikan kebenaran, Mbah Suro justru balik menantang Arini.


"Kalau memang keponakanmu yang kena, kamu mau apa? Lagi pula, aku udah dapat banyak uang dari pelanggan. Belum lagi si Farah juga punya pelindung, kan? Anak perempuan nggak ada etika, yang namanya Sukma."


"J-jadi benar, kamu yang mencelakai keponakanku? Keparat kau, Suro!" maki Arini memelototi sepupunya.


"Sudahlah, kamu jangan bikin aku tambah pusing! Aku begini buat menyambung hidup, nggak kayak kamu. Hidup kamu sudah enak. Cuma nempel sama suami kaya, keluarga sendiri sampai dilupakan."


"Itu ceritanya berbeda, Ro. Aku nggak mau ikut-ikutan kayak kalian," elak Arini. "Sekarang mending kamu panggil kembali jin yang mau bawa nyawa Farah. Cari saja tumbal yang lain."


"Aduh, Rin. Aku sudah sangat pusing sekarang ini. Siluman yang aku kirim pada keponakan kamu, udah tunduk sama si bocah gendeng itu."


"Apa? Bagaimana bisa begitu? Dia cuma anak kecil."


"Kamu nggak tahu siapa anak itu sebenarnya, Rin. Dia itu anak iblis!"


"Ah, yang benar? Kamu jangan mengada-ada!"


"Bukan cuma itu saja, Rin. Dia juga udah bikin Farida sekarat!"


"Bikin Teh Farida sekarat?!" Mata Arini membelalak. "Jadi benar, dia pernah ketemu sama Teh Farida? Astaga!"


"Kenapa kamu, Rin?"


Arini termangu mendengar penuturan Mbah Suro. Jika benar gadis kecil di rumah Hilman penah bertemu dengan Farida, maka rahasia selama bertahun-tahun akan terbongkar, pikirnya. Hati Arini benar-benar tidak tenang.


"Loh, kok kamu malah bengong, Rin? Kamu takut, kalau bocah itu membongkar identitas asli kamu di depan keluarga Farah, ya? Ayo ngaku!"


"Nggak usah mengelak, Rin. Kelihatan dari muka kamu. Anak kecil susah dikendalikan, mereka suka bicara jujur."


"Walaupun dia bicara jujur, toh orang tuanya nggak percaya sama yang dia omongin. Aku ini pernah ketemu sama orang tuanya. Mereka bilang, si anak suka melantur."


"Orang tuanya bisa saja nggak percaya, Rin. Tapi suami Farah? Dia itu adik dari pemuja iblis. Tidak menutup kemungkinan kalau dia percaya sama omongan bocah itu."


Arini menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. Sesekali ia mengurut dahi demi menghilangkan kecemasan yang berkumpul penuh di dalam kepalanya.


"Begini saja, Rin. Kamu usir keluarga si bocah dari kediaman keponakan kamu. Kalau dia pergi, aku bisa ngambil kembali siluman monyet itu dengan mudah."


"Tidak, tidak. Bagaimana kalau nanti kamu malah pakai siluman itu buat mencelakai Farah lagi? Kamu, kan, licik."


"Ya sudah, kalau kamu tidak mau menyingkirkan bocah itu, rahasia kamu akan terbongkar."


Arini mendelik. Pikirannya masih semrawut dengan semua kejadian yang dialami oleh dirinya dan Farah. Memang, kehadiran bocah itu telah membuat siluman kiriman Mbah Suro tunduk, sehingga si dukun kelimpungan untuk mencelakai sasarannya. Akan tetapi, jika Sukma tetap berada di sana dan berjumpa lagi dengan Arini, maka rahasia besar yang disembunyikan wanita tua itu lambat laun pasti terbongkar.


Cukup lama bergelut dengan pikirannya, Arini akhirnya mengambil keputusan. Setelah urusannya dengan Mbah Suro selesai, ia undur diri dari hadapan sepupunya, lalu pergi meninggalkan rumah dengan penerangan temaram itu. Sepanjang perjalanan menuju hotel, ia terus meyakinkan diri bahwa keputusan yang diambilnya sudah benar.


...****************...


Hari berganti, kondisi Farah berangsur membaik. Ia dapat beraktivitas seperti biasanya, walaupun perih masih terasa di beberapa bagian tubuhnya. Setidaknya, hari ini wanita itu bisa melayani Hilman dengan membuatkan secangkir kopi dan roti panggang.


"Wajah kamu kelihatan seger hari ini. Udah mendingan?" tanya Hilman sambil tersenyum lebar.


"Iya, Pa. Entah kenapa, sejak anak bungsunya Bu Inah lari-lari ke kamar pas aku lagi tidur, rasa gatalnya berkurang. Punggung aku juga terasa ringan."


"Syukurlah."


"Pa, apa mungkin monyet yang ngincar aku udah dibawa sama Sukma, ya?"


"Mana aku tahu. Kenapa kamu jadi nanya yang begituan sama aku?"


"Enggak. Maksudnya gini loh, Pa. Waktu Sukma keluar dari kamar kita, aku ngejar dia sampai halaman belakang rumah. Kalau nggak salah, aku sempat denger dia bilang begini, 'Belum aku mandiin, malah mau makan kepalanya Tante Farah. Kamu itu makannya pisang, bukan orang.' Kurang lebih begitu, Pa."


Hilman termenung, membayangkan tingkah Sukma kala itu. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia juga merasakan ada hal aneh dalam diri putri bungsu Pak Risman itu sejak ditemukan kembali setelah seminggu menghilang. Mengingat rambut Sukma yang cepat memanjang dan warna kulitnya berubah, Hilman pun yakin, Sukma bukanlah anak biasa.


"Sebenarnya anak macam apa dia? Apa dia juga bisa melihat makhluk-makhluk gaib?" gumam Hilman mengerutkan dahi.


"Pa, apa mungkin Sukma itu anak indigo, ya?" tanya Farah menepuk pundak Hilman.


Hilman terhenyak, lalu mengedikkan kedua bahunya. Ia kemudian melihat jam tangannya, ternyata sudah pukul enam lebih tiga puluh menit. Albi yang baru selesai makan, menghampiri Hilman dan mengajak ayahnya itu untuk segera berangkat. Mereka pun berpamitan pada Farah. Tak lupa, Hilman meminta pada istrinya untuk menjaga diri.


Seiring mentari kian meninggi, Sukma diantar ibunya pergi ke sekolah. Gadis kecil itu tampak bahagia sekali setelah memberi makan pisang pada Wanara. Namun, kali ini ia meninggalkan hewan peliharaannya itu di rumah. Khawatir kalau sampai membuat keributan di sekolah.


Ketika hendak melewati kuburan menuju taman kanak-kanak, gadis kecil itu melihat mobil Arini melintas. Sukma berhenti sebentar sambil bertepuk tangan. Tentu saja, tingkahnya itu membuat Bu Inah bertanya-tanya.


"Ada apa, Dek? Kok kamu seneng banget gitu?"


"Tante Arini datang, Bu!"


"Kalau Tante Arini datang, Dedek mau ngapain? Jangan ganggu dia lagi, ah."


"Ih, Ibu mah ... Dedek mau main sama Tante Arini."


"Sudah, ah. Katanya Dedek nggak mau Ibu dan Bapak kehilangan pekerjaan terus diusir dari sana. Mending Dedek main sama temen yang sepantaran aja, kayak Giska sama Nurul."


"Tapi Giska nggak mau main sama Dedek, Bu. Sejak Dedek bawa boneka Susan, dia takut melulu. Padahal boneka Susan-nya udah nggak ada."


"Kalau Giska nggak mau main sama Dedek, main sama temen yang lain aja. Temen Dedek, kan, banyak."


Sukma berjalan lebih cepat dari ibunya. Wajahnya memberengut, kesal pada Bu Inah yang melarangnya bermain dengan adik Farida. Bu Inah mengembuskan napas panjang, kemudian menyusul putrinya dari belakang.


Sementara itu, Arini baru saja tiba di kediaman Hilman. Tanpa menjumpai sang keponakan, ia bergegas menjumpai Pak Risman. Beruntung, orang yang dicarinya sedang berada di teras paviliun. Tak mau berlama-lama, Arini berjalan secepat mungkin menemui Pak Risman yang sedang mengasah gunting pemotong rumput di depan paviliun.


Menyadari kedatangan Arini, Pak Risman berhenti sejenak. Disimpannya gunting pemotong rumput di ubin teras, lalu berdiri menyambut ramunya. Ia sempat terheran-heran, tak biasanya kerabat majikan datang ke paviliunnya, apalagi sambil menenteng koper dancelingukan seperti maling.


"Selamat pagi, Bu Arini. Ada perlu apa Anda datang kemari?" sapa Pak Risman dengan ramah.


"Pak, saya mau tanya, Bapak mau hidup mapan nggak?" tanya Arini dengan suara berbisik.


"Siapa pun ingin hidup mapan, Bu. Jika Allah berkehendak, pasti Dia akan memberi saya rezeki lebih."


"Kalau begitu, anggap saja ini rezeki buat Bapak," ujar Arini menyerahkan koper dari tangannya.


Tentu saja Pak Risman tak mau menerima koper itu begitu saja. "Loh, apa ini, Bu?"


"Itu uang buat Bapak," jelas Arini.


"Tapi, Bu, saya nggak enak kalau terima uang sebanyak kalau tanpa sebab."


"Aduh, Bapak ini. Saya juga memberikan uang itu bukan tanpa syarat, Pak."


"Terus, Ibu mau suruh saya ngapain? Pokonya saya nggak mau menerima uang sebanyak ini secara cuma-cuma."


"Baiklah. Begini, Pak. Saya mau Bapak mengaku di depan Farah dan Hilman, kalau Bapak sudah menumbalkan Farah."


Terkejut Pak Risman mendengar permintaan Arini. "Astaghfirullah, Bu! Ibu mau menjatuhkan citra saya di depan majikan saya? Kalau begitu caranya, saya akan kehilangan pekerjaan."


"Bapak ini gimana, sih? Coba Bapak pikirkan! Kalau Bapak dan istri Bapak terus-terusan kerja sama Hilman, kapan Bapak akan mapan? Yang ada kehidupan Bapak bakal gini-gini terus. Mending Bapak pergi dari rumah ini, bawa uangnya, lalu buka usaha. Siapa tahu rezeki Bapak lebih besar di luar sana."


"Saya memang mau seperti itu, Bu. Tapi tidak dengan cara menjatuhkan diri sendiri di depan majikan."


"Ayolah, Pak! Saya sudah berbaik hati sama Bapak. Apa Bapak mau, saya fitnah di depan Farah, lalu pergi dari sini tanpa membawa apa pun?"


"Loh, kok gitu, Bu? Sebenarnya tujuan Ibu apa sampai mau memfitnah saya segala?"


"Saya kasihan sama Hilman, sekarang usahanya sedang menurun. Kalau usahanya menurun, bagaimana dia bisa membiayai keluarga dan membayar karyawannya? Kalau keluarga Bapak pergi dari sini, setidaknya beban Hilman berkurang."


Mengetahui kenyataan tentang kesulitan yang sedang dialami majikannya, Pak Risman mengelus dada. Sungguh, ia tidak tahu menahu kalau usaha majikannya sedang limbung. Diliriknya kembali koper yang tergeletak di teras paviliun. Terlintas ingatan tentang si sulung yang rewel dan istrinya yang tidak tahan menerima hinaan dari Farah.