
Sepanjang jalan pulang, Sukma tak berhenti bertanya pada ibunya tentang boneka Susan. Namun, rupanya Bu Inah tak mau mengatakan segala hal mengerikan yang terjadi saat Pak Risman membakar boneka itu. Sesekali ia memejamkan mata, merasa ngeri tatkala terbayang jeritan bayi dari dalam pembakaran.
Setibanya di kediaman Hilman, Sukma berlari ke paviliun. Kebetulan, tempat tinggalnya itu tidak dikunci sama sekali. Tanpa melepas sepatu dahulu, gadis kecil itu berlari ke kamar. Dicarinya boneka lusuh bernama Susan itu, tapi tak ia temukan sama sekali. Segera Sukma berlari ke luar, menatap ibunya yang sedang berjalan ke teras paviliun.
"Bu, mana boneka Susan? Katanya sepulang sekolah, aku bisa main boneka Susan lagi," ucap Sukma bernada cemas.
"Begini ... t-tadi Ibu ... I-Ibu ...."
"Ibu ke manain boneka itu?"
Dari taman belakang rumah Hilman, Pak Risman berjalam tergesa-gesa menuju paviliun, mengetahui putri bungsunya pulang. Ia sudah menyiapkan jawaban atas musnahnya boneka Susan. Kendati merasa lega dengan keselamatan Sukma dari ancaman mengerikan boneka itu, Pak Risman tetap sedih jika Sukma menangisi sumber dari kehilangan nyawanya.
"Ada apa, Dek?" tanya Pak Risman menggendong putrinya.
"Boneka Susan, Pak. Di mana boneka itu? Kok aku nggak nemu di kamar? Apa boneka itu sudah Bapak bakar?"
Tercenunglah Pak Risman mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut putrinya itu. Bagaimana Sukma bisa tahu kalau boneka itu dibakar, pikirnya. Pak Risman tiba-tiba teringat pada teman tak kasat mata Sukma selama ini. Pria paruh baya itu menghela napas sejenak, sebelum menjelaskan perbuatannya pada boneka itu.
"Begini, Sukma. Boneka itu sudah lusuh dan jelek, makanya Bapak buang," jelas Pak Risman menatap kedua mata putrinya lekat-lekat.
"Tapi kenapa dibuang, Pak? Bapak nggak sayang sama aku, ya? Padahal aku suka banget sama boneka itu," rajuk gadis kecil itu memonyongkan bibir.
"Nanti Bapak belikan yang baru saja, ya? Yang mirip Susan."
"Nggak mau." Sukma menggeleng, matanya mulai berkaca-kaca. "Aku maunya Susan yang lusuh itu. Berkat dia, aku jadi punya teman baru."
"Kamu pasti bakal dapat teman baru lagi walaupun main dengan boneka yang lebih bagus. Teman-teman kamu pasti suka kalau lihat kamu punya boneka baru."
"Aku tetap nggak mau, Pak. Bapak nakal! Bapak sama aja kayak Teh Atikah!" teriak Sukma, air matanya tumpah membasahi pipi.
Pak Risman menurunkan Sukma, sampai bocah itu berlari ke kamar sambil menangis terisak-isak. Bu Inah menyusul Sukma ke dalam, sementara Pak Risman menatap lurus. Hatinya memang sedih melihat Sukma menangis, seperti tersayat sembilu. Namun, bagaimanapun juga, membakar boneka Susan lebih baik daripada dibiarkan bersama dengan Sukma hingga nyawa putrinya melayang.
Sementara itu, Bu Inah mendekati Sukma dan membelai rambutnya. Ia merasa iba mendapati putrinya begitu sedih mengetahui boneka kesayangannya sudah tiada. Sukma menoleh, kemudian menunduk kembali di dekat kasur.
"Dedek pasti sedih, ya, kehilangan boneka itu?"
"Iya, Bu. Bapak nakal! Bapak udah buang boneka itu nggak bilang-bilang dulu sama aku. Kalau aja tadi aku bolos sekolah dan dengerin omongan Maurin, pasti Susan masih ada di sini."
"Sudahlah, Dek. Kalau Dedek masih mau main boneka, nanti Ibu beliin yang baru."
"Nggak mau, Bu! Pokoknya aku nggak mau!" bentak Sukma membalikkan badannya pada Bu Inah. "Kenapa Ibu nggak larang Bapak pas mau buang Susan? Apa Ibu juga suka kalau Susan dibuang?"
Bu Inah termenung. Menjelaskan hal yang tak masuk akal pada Sukma, belum tentu bisa membuat putrinya mengerti. Akan tetapi, Bu Inah tak mau menyerah begitu saja.
"Begini, Dek. Apa Dedek tahu tentang boneka yang bisa menarik nyawa seseorang?"
Sukma menggeleng.
"Baiklah, akan Ibu ceritakan."
Bocah kecil itu menyeka air matanya, lalu menyimak cerita Bu Inah dengan saksama.
"Suatu ketika, ada seorang gadis kecil yang menemukan sebuah boneka kotor di depan rumahnya. Dia asyik sekali bermain dengan boneka itu sampai lupa waktu. Gadis kecil itu bermain sepanjang hari sampai merasa kelelahan."
"Terus, Bu. Gimana boneka itu bisa menarik nyawa gadis kecil itu?"
Sukma membelalakkan mata. "Boneka itu hidup, Bu?"
Bu Inah mengangguk. "Bukan cuma itu saja, boneka itu menangis sampai tangisannya terdengar oleh kakak gadis kecil itu."
Gadis kecil itu membekap mulutnya dengan kedua tangan. "Terus, kakak gadis kecil itu membuatkannya susu, Bu?"
"Kakak gadis kecil itu ketakutan. Dia tidak bisa membuatkan susu untuk boneka itu. Boneka itu pun marah dan menusuk kakak si gadis kecil menggunakan pisau sampai meninggal dunia."
"Lalu, bagaimana dengan gadis kecil itu? Apa dia juga meninggal dunia?"
"Gadis kecil itu dibuat kelelahan bermain bersama boneka itu. Kesehatannya menurun, dia jadi sering sakit-sakitan. Ayah dan ibunya berupaya membawa dia ke dokter, tapi gadis kecil itu sudah tak bernyawa lagi."
"Jadi, dia meninggal?"
"Iya."
"Tapi Susan bukan boneka seperti itu, Bu. Ibu tahu, aku sakit banget setelah dipotong rambut. Nah, sesudah Maurin ngasih boneka Susan ke aku, aku langsung sembuh."
Mendengar penuturan Sukma, Bu Inah termangu. Ia masih ingat betul, betapa kondisi Sukma berubah drastis setelah mendapatkan boneka itu. Berbeda dengan Giska, yang katanya sering sakit-sakitan setelah boneka Susan masuk ke dalam kehidupannya.
"Bu, pokoknya aku nggak suka Bapak membakar Susan. Aku benci Bapak!"
"Hus! Dedek nggak boleh ngomong kayak gitu. Bapak melakukan itu semua demi kebaikan Dedek."
Raut wajah Sukma semakin memberengut. Ia berlari ke luar, memandang sang ayah yang sedang memotong rumput. Sukma semakin jengkel pada Pak Risman.
Di tengah kemarahannya, Maurin datang dari halaman rumah Hilman. Wajahnya menunjukkan ketidaksukaan pada keluarga Pak Risman. Matanya menatap tajam ke arah Sukma. Dengan membawa amarah, gadis kecil itu menghampiri Sukma yang sedang berdiri di depan teras.
Menyadari kedatangan Maurin, Sukma merasa menyesal. Jika saja Susan dibawa ke sekolah, mungkin boneka itu tidak akan dibuang oleh Pak Risman.
"M-Maurin, maafin aku," kata Sukma memelas.
"Aku benci kamu, Sukma! Kalau tadi kamu dengerin kata-kata aku, Susan nggak mungkin dibakar."
"Bukan dibakar, Maurin, tapi dibuang."
"Dibuang? Sini, ikut aku! Boneka itu sudah dibakar oleh ayah dan ibumu."
Maurin bergegas mengajak Sukma ke halaman belakang paviliun. Tampak abu bekas pembakaran dedaunan dan lelehan plastik di sana. Betapa terkejutnya Sukma mendapati pemandangan itu.
"Jadi, Bapak berbohong sama aku? Tadi katanya boneka itu dibuang."
"Kalau dibuang, aku pasti akan mencarinya dan mengembalikannya. Tapi kalau dibakar, Susan nggak akan bisa kembali. Dia udah nggak ada. Ini semua gara-gara kamu, Sukma!"
"Maafin aku, Maurin. Aku ...."
"Udah ah! Aku benci sama kamu! Aku nggak mau main lagi!"
Maurin melengos, kemudian pergi dari paviliun. Sukma mengejarnya, berusaha keras agar Maurin mau memaafkan. Namun ketika tiba di depan teras paviliun, sosok Maurin yang tiba-tiba menghilang, justru membuat Sukma kebingungan.
"Kamu cari siapa, Dek?" tanya Pak Risman, menghampiri putrinya.
"Aku nggak mau ngomong sama Bapak!"