
Tak terasa, saatnya pergi liburan ke Gunung Ciremai sudah tiba. Sukma menyiapkan segalanya untuk bekal perjalanan nanti, dibantu oleh Bu Inah yang tak mau sampai melewatkan satu barang pun untuk dibawa putrinya. Wanara juga bersiap-siap untuk pulang, beretemu lagi dangan para dedemit gunung dan fokus kembali bersemedi.
Setelah semuanya siap, Sukma bergegas pergi ke sekolah, diantar oleh Pak Risman menggunakan motor jadulnya. Sebelum putri bungsunya pergi, Bu Inah menahannya sebentar. Hatinya masih sedikit ragu melepaskan si bungsu untuk pertama kalinya pergi ke gunung.
"Nanti di sana Dedek nggak boleh macam-macam, ya. Jaga ucapan, jaga perilaku. Dedek juga nggak boleh jauh-jauh dari rombongan. Ibu pengin Dedek pulang dengan selamat," ujar Bu Inah menasihati, raut wajahnya yang cemas membuat Sukma sedikit sedih.
"Ibu tenang aja, Dedek nggak bakal ngelakuin yang aneh-aneh kok. Dedek pasti pulang dengan selamat. Ibu doain aja supaya perjalanan menuju Gunung Ciremai lancar, begitu juga sampai pulang nanti," ucap Sukma menatap kedua mata ibunya.
"Iya, pasti Ibu doakan yang terbaik buat perjalanan Dedek. Jangan lupa, banyak-banyak berdoa selama di perjalanan."
Sukma mengangguk dan berpamitan pada Bu Inah. Secepatnya gadis itu menaiki motor ayahnya, kemudian melambaikan tangan pada sang ibu. Tak lupa, Sukma sudah membawa Wanara ke dalam botol yang biasa dipakainya.
Atikah yang baru saja bersiap pergi ke sekolah, mendapati ibunya menatap kosong ke arah Sukma pergi. Semburat kecemasan masih tergambar jelas di wajah Bu Inah, sehingga membuat putri sulungnya itu iba. Segera Atikah menghampiri ibunya.
"Bu ... Ibu nggak apa-apa, kan, kalau Dedek pergi ke gunung sama teman-temannya?" tanya Atikah.
"Sebenarnya Ibu masih cemas, Atikah. Akhir-akhir ini sering mendapat berita tentang pendaki yang hilang tersesat di gunung. Ibu takut, Dedek bernasib malang seperti mereka," jawab Bu Inah menghela napas berat.
"Ibu nggak usah terlalu khawatir. Aku tahu betul, Dedek orangnya kuat dan keras kepala. Dari kecil dia sudah seeing berhadapan dengan makhluk tak kasat mata, bahkan berani bertarung melawan dukun. Apa Ibu lupa, Dedek juga menghabisi keluarga Bapak yang mengguna-guna Bapak?"
"Tapi ini berbeda, Atikah. Dedek datang ke tempat asing, yang belum pernah dia kunjungi."
"Tenang aja, Bu. Yakin aja Dedek nggak kenapa-kenapa. Sebaiknya kita doakan saja Dedek selamat sampai pulang kembali ke sini," ujar Atikah, kemudian mencium tangan ibunya. Ia pun berpamitan pada ibunya dan segera pergi ke sekolah.
Sementara itu di sekolah Sukma, para siswa kelas satu dan dua sudah bersiap-siap di depan bus sewaan. Pak Anwar yang mengajukan pendapat untuk pergi ke Gunung Ciremai tampak linglung dengan keadaan ini. Guru-guru yang ikut ke dalam perjalanan pun begitu kesal melihat sikap aneh Pak Anwar.
Tentu saja perilaku Pak Anwar itu dapat ditangkap dengan baik oleh Wanara. Sukma segera mengeluarkan kera kesayangannya setelah tiba di sekolah. Secepatnya, Wanara merasuk ke tubuh Pak Anwar dan bersikap semestinya, sebagaimana ia mengajukan pendapat untuk pergi ke Gunung Ciremai.
Kepala sekolah mengumpulkan para murid di lapangan. Sebelum pergi, ia berpidato sebentar dan memberi wejangan agar berhati-hati ketika sampai di lokasi nanti. Tak ketinggalan, pria gemuk berkacamata itu memimpin doa supaya perjalanannya lancar dan selamat sampai tujuan.
Selesai mendengarkan pidato kepala sekolah dan berdoa, para siswa pun berhamburan menuju bus yang sudah dipasangi plang kelas masing-masing. Pak Anwar menaiki bus yang sama dengan Sukma. Untuk saat ini, Wanara tak ingin jauh-jauh dulu dari temannya sampai tiba di tempat tinggalnya.
...****************...
Kabut baru saja tersibak sinar mentari di Gunung Ciremai. Di sebuah perkampungan dekat kaki gunung, seorang wanita berusia empat puluhan bersama putrinya yang beranjak remaja, begitu panik dan menggemparkan warga. Namanya Asih, adik kandung Bu Ratmi. Sejak subuh, sang kakak yang tak waras, mendadak hilang dari tempatnya dipasung. Warga kampung pun ikut mencari Bu Ratmi ke setiap penjuru.
"Ceu Ratmi! Ceu Ratmi! Kamu ada di mana? Ayo pulang!" teriak Asih mencari-cari kakaknya yang entah berada di mana.
"Uwa! Ayo pulang!" panggil putrinya Asih, ikut panik.
Adapun Bu Ratmi yang bersembunyi di balik semak-semak, terkekeh-kekeh melihat warga sekitar sedang mencarinya. Penampilannya yang kumal dan berantakan, tak akan mudah ditemukan di sekitar pepohonan. Ia berlari ke tempat yang lebih sepi untuk bebas dari kekangan keluarganya.
"Sekarang anak saya akan datang ke sini. Demi menebus semua kesalahan saya, harus menyambutnya. Saya harus ketemu sama dia," gumam Bu Ratmi sembari tersenyum bahagia, membayangkan pertemuannya kembali dengan sang putri semata wayang.
Dalam mimpi itu, Bu Inah datang dengan wajah sendu dan menatap iba pada Bu Ratmi. Sesekali, Bu Inah mengusap air matanya sembari menghela napas. Kedua tangan wanita berkerudung itu memegang tangan Bu Ratmi dengan tersenyum tipis.
"Putri Ibu akan segera kembali. Dia akan datang menemui Ibu. Ibu tidak perlu bersedih lagi," ucap Bu Inah dengan mata berkaca-kaca.
"Benarkah? Dia akan datang?" Bu Ratmi tersenyum semringah, matanya berbinar-binar. Air mata jatuh begitu saja membasahi pipinya, terharu mendengar kabar baik dari ibu asuh putri semata wayangnya.
Bu Inah mengangguk. "Iya. Namanya Sukma. Ibu harus ingat baik-baik namanya, ya."
Dengan mengangguk pasti, Bu Ratmi mengingat baik nama putri semata wayangnya. Ia tampak begitu senang, sampai terbangun dari mimpinya. Dirapalkan terus menerus nama putrinya itu, hingga akhirnya memiliki kekuatan untuk membuka pasungan di kaki serta tali yang mengikat kedua tangannya. Bu Ratmi pun berhasil kabur setelah bertahun-tahun dikurung oleh keluarganya.
Asih kelabakan mengetahui kakaknya sudah tidak ada di bekas kandang ayam tempat Bu Ratmi dipasung. Selepas salat Subuh, ia bersama putrinya langsung mencari sang kakak ke area dekat rumah, sampai akhirnya menggemparkan warga kampung. Kendati merasa malu dengan kaburnya Bu Ratmi, Asih tetap harus menemukannya agar tidak meresahkan warga dan para pendaki.
Di tengah-tengah kepanikan warga mencari Bu Ratmi, tak sedikit ibu-ibu yang menggunjing. Kelakuan Bu Ratmi dan suaminya di masa silam, kerap menjadi buah bibir orang-orang. Hingga saat ini, perangai buruknya masih diingat baik oleh masyarakat, bahkan tak sedikit yang mengutuknya.
Dulu, Bu Ratmi dan Pak Burhan memiliki satu rumah mewah di sekitar Gunung Ciremai. Keduanya bermurah hati, membagikan baju-baju bekas yang masih layak pakai. Awalnya masyarakat begitu senang mendapatkan baju-baju bagus dan bermerk dari Bu Ratmi. Namun, kejadian malam berdarah yang merenggut salah satu penerima baju bekas darinya, membuat warga mengendus niat buruk di balik kemurahan hati Bu Ratmi. Mereka mulai menyadari, bahwa wanita itu sedang mencari tumbal untuk pesugihan yang dilakukannya bersama sang suami. Terlebih sejak kejadian mengerikan itu, Bu Ratmi dan suaminya pergi ke kota tanpa pamit.
Selain itu, usia Bu Ratmi yang semakin beranjak tua, tak luput dari perhatian masyarakat sekitar. Ia belum saja dikaruniai momongan. Banyak yang menggunjing, bahwa itu merupakan balasan dari perbuatannya menyekutukan Tuhan.
Kini, keadaan wanita itu semakin memburuk setelah kewarasannya hilang seiring kematian Pak Burhan dan dibuangnya sang putri yang memiliki fisik seperti iblis. Tentu saja hal itu membuat warga sekitar merasa puas. Rupanya balasan dari Tuhan untuk manusia yang berani menyekutukan-Nya memang sangatlah pedih.
Orang tua Bu Ratmi yang sudah kepalang malu dengan perilaku putrinya, tak tahan lagi untuk hidup di dunia. Selain umur mereka yang sudah sepuh dan sering sakit-sakitan, kedatangan Bu Ratmi kembali justru membuat kesehatan semakin memburuk. Diawali dengan kematian ayah Bu Ratmi, lalu disusul ibunya yang tak berselang lama. Sekarang Bu Ratmi hanya memiliki Asih, yang masih sudi mengurusnya. Akan tetapi, sikap keluarga Asih yang keras, malah membuat Bu Ratmi semakin terpuruk.
Bu Ratmi yang sudah berjalan jauh dari rumahnya, menunggu kehadiran putri semata wayangnya di dekat pemberhentian kendaraan pendaki. Dari kejauhan, tampak bus rombongan sekolah Sukma memasuki area parkir Gunung Ciremai. Wajah Bu Ratmi begitu semringah, senyum bahagia mengembang di bibirnya. Matanya berkaca-kaca, terharu menyambut kedatangan putri semata wayangnya.
Satu per satu siswa turun dari bus setelah melalui perjalanan cukup jauh. Mereka tampak antusias berlibur di sekitar Gunung Ciremai, bahkan tak sedikit yang merasa senang melihat pemandangan sekitar. Alam yang asri begitu menyejukkan mata, seperti mengajak orang-orang kota ini untuk bersantai sejenak dari kepenatan sehari-hari.
Sukma turun paling terakhir dari bus yang ditumpanginya. Ia tak memiliki teman di kelasnya. Giska berada di rombongan kelas lain, jadi mereka tak bisa berjalan bersama-sama. Gadis berkulit putih pucat itu hanya berjalan sambil tertunduk lesu, didampingi Pak Anwar yang masih dirasuki oleh Wanara.
Melihat anak perempuan yang baru saja turun dari bus, Bu Ratmi segera berlari menghampirinya. Insting sebagai seorang ibu membuatnya langsung mengenali, bahwa gadis remaja itu merupakan putri semata wayangnya. Tanpa berpikir lagi, Bu Ratmi langsung memeluk Sukma dengan mata berkaca-kaca.
"Sukma ... Putriku ... Akhirnya kamu datang juga, Nak. Mama kangen sekali sama kamu," lirih Bu Ratmi memeluk tubuh Sukma dengan erat. Rasa haru menyelimuti batinnya, hingga tak terasa air mata meluncur begitu saja membasahi pipinya.
Sukma merasa risih dengan kedatangan wanita asing berpenampilan kumal yang tiba-tiba memeluknya. Sekuat mungkin ia berusaha melepaskan pelukan Bu Ratmi dan mengenyahkan wanita itu dari hadapannya. Namun, lagi-lagi Bu Ratmi menghampirinya dan memegang wajah Sukma sambil menangis haru. Sesekali ia menciumi wajah putri semata wayangnya.
"Rupanya kamu sudah besar, Nak. Kamu sangat cantik, mirip sekali kayak Mama masih muda," ucap Bu Ratmi memegangi kedua tangan Sukma sembari tersenyum bangga.
"M-Maaf, Bu. Aku bukan anak Ibu. Mungkin Ibu salah orang," sanggah Sukma mengelak.
"Enggak, Nak. Mama nggak salah orang. Memangnya kamu nggak kenal sama Mama? Mama ini ibu kandung kamu!" ucap Bu Ratmi menegaskan.