
Pak Risman mengajak Arini masuk ke kontrakannya, mengingat akan tidak pantasnya jika sebuah rahasia diceritakan secara terbuka di teras. Arini setuju, lalu masuk ke ruangan utama kontrakan yang sempit itu. Ia sama sekali tidak merasa jijik ataupun enggan menginjakkan kaki di sana.
Untuk menghormati tamunya, Bu Inah menyiapkan dua gelas air putih. Setelah selesai menuangkan air minum, wanita paruh baya itu menyuguhkannya di depan Pak Risman dan Arini. Ia pun duduk di sebelah Pak Risman untuk menyimak rahasia yang akan diungkapkan Arini. Pun dengan Sukma, yang tidak biasanya diam sambil tersenyum-senyum di sebelah kakaknya.
Ketika Arini mulai menceritakan kisah hidupnya, pandangan Sukma berubah menjadi kilas balik peristiwa yang pernah dialami oleh wanita tua itu. Kejadiannya pada tahun '70-an, saat Arini remaja pulang sekolah. Wajah cantik gadis itu berubah muram tatkala mendapati kedua orang tuanya menyiapkan sesajen dalam sebuah wadah besar yang terbuat dari anyaman, biasa disebut nyiru oleh orang Sunda. Di dalamnya terdapat nasi tumpeng berbentuk kerucut dihiasi dengan daun pisang yang sudah dibentuk sedemikian rupa, ditambah dengan daging ayam cemani yang seluruh dagingnya berwarna hitam, serta kembang tujuh rupa dan kemenyan yang akan dibakar saat malam tiba.
"Bah, Mak. Mau sampai kapan Abah sama Emak bikin sesajen kayak begini? Kaya enggak, gila iya," ketus Arini sambil menatap sinis.
"Hus! Kamu ini kalau ngomong dijaga, ya! Kalau kita tidak melakukan perjanjian dengan dedemit, kita nggak bakal bisa makan," kata ibunya sambil memelototi Arini.
"Ayolah! Hal apa lagi yang lebih konyol dari ini? Kalau dedemit itu ngasih makan kita, ngapain kalian buat sesajen segala? Mending tumpeng sama ayamnya aku makan aja," cerocos Arini sembari tersenyum kecut.
Tanpa diduga, ayahnya menampar Arini dengan keras. Tentu saja, Arini dan ibunya dibuat terkejut olehnya. Pria itu memang terkenal jarang bicara, tapi sekalinya marah, maka tanganlah yang bertindak. Entah tamparan yang keberapa kali diterima Arini sekarang. Yang jelas, gadis berusia tujuh belas tahun itu sudah kebal dengan sikap kasar ayahnya.
"Kamu ini, dimandiin kembang tujuh rupa sama Abah dari kecil. Dibacain jampi-jampi tiap mau tidur, tapi udah besar malah melunjak. Apa kamu mau Abah tumbalkan sekalian, hah?" bentak ayahnya memelototi Arini.
Seperti biasa, Arini hanya tertunduk saat sang ayah marah besar. Selanjutnya, ia berlari ke kamar untuk mencurahkan air matanya. Hatinya sangat kesal, ingin memberontak pada kesesatan yang dilakukan keluarganya sejak lama. Gadis itu malu, setiap kali keluar rumah, ia dijuluki si tukang tenung karena kebiasaan keluarganya memuja makhluk gaib. Padahal jauh di dalam batinnya, Arini tak percaya dengan semua itu. Tak logis jika jin disejajarkan dengan Tuhan, pikirnya.
Dalam kesedihannya, Farida datang untuk membujuknya. Wanita yang usianya lima tahun lebih tua dari Arini, selalu berusaha menenangkan sang adik saat bersedih. Ia membelai lembut rambut panjang Arini, lalu tersenyum simpul.
"Sudah, jangan menangis lagi," ujar Farida. "Lain kali, kalau bicara di depan Abah sama Emak, harus penuh sopan santun. Bagaimanapun juga, mereka tetap orang tua kita."
"Aku sudah mencoba menyadarkan mereka, Teh. Bukankah kalau orang tua salah, tugas anak itu meluruskannya?" keluh Arini sesenggukan.
"Iya, Teteh tahu. Mungkin cara kamu menegur Abah dan Emak itu terlalu keras, makanya mereka nggak terima."
"Terus, dengan cara apa lagi? Cara baik-baik, nggak didengar. Cara kasar, malah dihajar. Uh, sebel!"
Dari luar, terdengar sang ibu memanggil Farida. Wanita itu pun keluar dari kamar Arini tanpa pamit untuk memenuhi panggilan ibunya. Arini kembali tenggelam dalam kesedihannya dan membenamkan wajah di bantal. Sungguh, ia tak mau ikut campur dalam urusan gaib yang dilakukan keluarganya.
Ketika malam datang, Ki Maja yang merupakan ayah dari Mbah Suro, datang ke kediaman Arini. Ia mengintruksikan pada keluarga penganut ajaran sesat itu untuk mandi kembang tujuh rupa sebelum memuja. Selanjutnya, mereka akan menaruh semua sesajen di kamar sebelah dapur yang minim sekali penerangan.
Aroma kemenyan menguar ke seluruh ruangan rumah. Arini terbatuk-batuk dibuatnya. Beginilah yang terjadi di rumahnya setiap Malam Jum'at Kliwon datang. Sepanjang malam, ayah, ibu, dan kakaknya akan menghabiskan waktu untuk begadang demi mendapatkan wangsit yang selanjutnya akan dijadikan sebagai pedoman hidup.
Tiga tahun gadis itu bertahan dengan semua ritual yang dilakukan keluarganya, sampai Farida menikah dan Arini lulus SMA. Arini melanjutkan kuliah ke Universitas Padjadjaran. Selama menuntut ilmu, Arini merasa hidupnya sangat tenang karena jauh dari segala rutinitas ritual yang dilakukan orang tuanya. Ia menjadi jarang sekali pulang, terlebih setelah mengenal Hamid, putra kedua salah satu pengusaha keturunan Arab yang berkuliah di Fakultas Ekonomi sekaligus paman dari Farah.
Selama mengenal Hamid, Arini diajarkan ilmu agama yang sebenar-benarnya. Mulai dari cara berdoa sampai salat yang benar. Arini merasa, inilah jalan yang didambakannya sejak lama. Jalan yang menunjukkan sosok pencipta dan pemberi rezeki sebenarnya.
Ketika hari wisuda tiba, Arini enggan mengundang kedua orang tuanya ke kampus. Malu ia jika sampai Hamid dan orang-orang mengetahui kalau kedua orang tuanya merupakan tukang tenung. Arini akhirnya mengundang Farida dan suaminya hadir di acara wisuda, sebagai pengganti orang tuanya. Farida tidak mempermasalahkannya, sebab ia berpikir, bahwa Arini mengerti akan keadaan ayah dan ibunya yang sering sakit-sakitan.
Setelah lulus kuliah, Arini beruntung diterima bekerja di perusahaan ayahnya Hamid. Tentu saja, hal ini menguatkan hubungan antara ia dan pemuda keturunan Arab itu. Memang, awalnya keluarga Hamid tak menyetujui hubungan mereka karena Arini bukanlah keturunan Arab. Namun, Hamid yang bersikeras memperjuangkan hubungannya, akhirnya berhasil membujuk keluarga besar agar merestui mereka berdua.
Hari pernikahan Arini tiba. Seperti sebelum-sebelumnya, ia hanya mau kakaknya saja yang hadir dalam acara besar. Tak satu pun orang dari keluarga ayah dan ibunya hadir di pernikahannya. Hanya sang kakak dan suaminya saja yang diizinkan ikut berkecimpung dalam pernikahan mewah Arini dan Hamid.
Tentu saja, hal itu membuat Farida heran. Dari sekian banyak keluarga besar dari pihak Arini, hanya dia dan suaminya saja yang hadir dalam pernikahan adiknya. Merasa ada yang mengganjal di dadanya, Farida mulai menghampiri Arini saat acara telah selesai.
"Rin, Teteh heran deh, kenapa kamu cuma ngundang Teteh aja buat acara pernikahan kamu? Keluarga besar kita juga banyak loh," kata Farida.
"Aku sudah mengaku pada semua orang, bahwa keluargaku hanya Teteh dan Mang Teja saja. Aku juga mengaku sudah yatim piatu," terang Arini.
"Astaga, Arini! Apa yang kamu lakukan? Kalau keluarga kita sampai tahu kamu tidak mau mengakui mereka di hadapan keluarga suamimu, Abah sama Emak bakal sakit hati."
"Aku nggak peduli, Teh. Aku sudah lelah dibentak terus sama Abah. Aku juga udah nggak mau berurusan dengan kepercayaan aneh yang kalian anut. Sekarang hidup aku udah nyaman, aku sudah bersama keluarga kaya."
"Oh, jadi mentang-mentang kamu sudah menikah dengan orang kaya, kamu nggak mau mengakui keluarga kamu, begitu?"
"Sebenarnya, dari dulu aku sudah malu sama keluarga kita, Teh. Aku malu disebut tukang tenung melulu sama teman sekelas. Aku malu dipanggil anak dukun sama tetangga. Seandainya Abah sama Emak nggak pernah ngilmu yang aneh-aneh, buat kekebalan atau kemuliaan, hidupku tenang, Teh."
"Allah sudah mengatur rezeki setiap orang, Teh. Kalau kita mau berusaha dengan bekerja keras, Allah akan memberi kita rezeki dan mencukupi kehidupan kita."
"Sudah cukup! Jangan sebut-sebut nama Tuhan lagi! Kamu tahu, kan, dedemit akan marah kalau kita menyebut nama-Nya."
"Oh, kalau begitu, ya sudah. Aku sudah ada di jalanku dan Teteh silakan saja pada kepercayaan Teteh."
Dengan membawa selaksa kekecewaan, Farida pergi meninggalkan Arini bersama keluarga Hamid. Secara tidak langsung, Farida memahami, bahwa itu merupakan cara Arini untuk memutuskan hubungan dari keluarganya sendiri. Ia tak bisa berbuat apa-apa, selain tak banyak bicara pada kedua orang tuanya tentang apa yang sebenarnya terjadi pada si bungsu.
Namun, usaha Farida menutup kebenaran dari ayah dan ibunya tidaklah berhasil. Kedua orang tuanya bertanya-tanya akan kedatangan Arini dan suaminya ke rumah setelah pesta pernikahan selesai. Dengan berkaca-kaca, Farida menjelaskan bahwa adiknya tak akan pernah datang lagi ke rumah. Arini sudah membuang keluarganya sejak menikah dengan Hamid.
Betapa hancur hati kedua orang tua Arini kala itu. Ayahnya sempat syok, hingga terduduk kaku di kursi ruang tamu. Akan tetapi, sang ayah dan ibu tak mau percaya begitu saja. Mereka tetap berharap, si bungsu datang membawa suami dan menaikkan derajat keluarga.
Farida merasa iba melihat kedua orang tuanya begitu sakit hati akan sikap Arini. Ia berusaha untuk menemui sang adik dan membujuknya untuk pulang. Sayangnya, setiap kali Farida berkunjung ke rumah adiknya yang ada di Bogor, pasangan pengantin baru itu tak berhasil ditemui. Alasannya, Hamid sedang menjalani proyek di luar kota, sehingga Arini pun ikut bersama suaminya.
Bertahun-tahun Arini tak pulang ke rumah orang tuanya, hingga sang ayah terserang penyakit stroke. Cukup lama pria tua itu dirawat di rumah sakit terdekat, bahkan tanah dan sawah miliknya dijual demi kesembuhannya. Akan tetapi, semakin hari berganti, semakin nihil tanda-tanda kesembuhan akan kembali. Sang ayah yang seharusnya sudah pergi ketika penyakitnya kambuh, justru masih bertahan hidup dengan merapal jangjawokan hanya demi memenuhi keinginannya bertemu dengan si bungsu.
Farida yang merawat sang ayah, berkali-kali menitikkan air mata. Ia yakin, kesehatan sang ayah yang kian menurun merupakan gambaran jelas atas rasa rindu sekaligus sakit hati pada kelakuan si bungsu. Sekali lagi, ia mendatangi kediaman Arini. Tak peduli seberapa jauh jarak yang ditempuhnya dari Bandung ke Bogor, Arini harus bisa dibujuk pulang.
"Arini! Arini! Buka gerbangnya, Arini!" teriak Farida dari depan gerbang rumah sang adik. "Abah lagi stroke! Apa kamu nggak mau menjenguk Abah sekali saja?"
Tak lama kemudian, seorang pembantu datang menghampirinya. Ia menyampaikan, bahwa Arini sedang pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis. Farida lagi-lagi kecewa. Kepergiannya ke Bogor untuk menjemput sang adik, gagal lagi.
Kendati demikian, kabar sakitnya sang ayah tetaplah sampai ke telinga Arini. Sebenarnya setiap sang kakak datang ke rumah, ia selalu berpesan pada pembantu-pembantunya bahwa dirinya sedang sibuk mengurus bisnis. Kali ini, Arini benar-benar sedih mengetahui sang ayah jatuh sakit. Namun, di sisi lain ia merasa harus tetap pada pendiriannya untuk tak menemui keluarganya.
Sementara itu, Farida yang menyampaikan bahwa Arini tak ada di rumah pada kedua orang tuanya, justru membuat sang ayah merasa terpukul. Pria tua itu tak sanggup lagi menahan sakit di hati dan tubuhnya. Ketika ajal sudah menjelang, ibu Farida memanggil Ki Maja untuk mencabut semua ilmu yang diturunkan pada suaminya. Ayah Arini pun mengembuskan napas terakhir, nyawanya sudah dibawa iblis untuk dijadikan budak di alam gaib.
Berselang beberapa menit setelah kepergian sang suami, ibu Farida pun ikut menyusul kematiannya. Wanita itu terkena serangan jantung, bahkan nyawanya tak bisa tertolong lagi. Farida sangat sedih atas kematian kedua orang tuanya. Hanya ia dan suami yang mengurus pemakaman kedua orang tua Farida.
Ternyata kesedihan Farida belumlah selesai. Tujuh hari selepas kematian kedua orang tuanya, suami Farida juga ikut berpulang ketika dalam perjalanan ke luar kota untuk tugas perusahaan. Mobilnya tabrakan dengan truk, sampai tubuhnya hancur lebur karenanya. Sungguh, Farida tak sanggup menanggung semua penderitaan dan rasa kehilangan semua anggota keluarganya. Adapun sang adik yang masih hidup, mustahil sudi menerimanya. Farida merasa hidup sebatang kara di dunia ini. Menurutnya, meminta pertolongan pada dedemit merupakan satu-satunya jalan untuk kembali bangkit menghadapi kenyataan yang pahit.
Sejak saat itu, Farida melakukan pemujaan terhadap sosok mengerikan yang bersemayam di sebuah bangunan tua. Seperti yang kedua orang tuanya lakukan, ia menyiapkan sesaji yang lengkap untuk melakukan pemujaan. Berbagai puasa di luar syariat agama Islam, dijalaninya demi mendapat sesuatu yang ingin dicapainya. Sepanjang malam, ia tak tidur sama sekali.
Berhari-hari melakukan semua persyaratan memanggil dedemit, akhirnya membuahkan hasil bagi Farida. Sesosok makhluk mengerikan, berambut panjang dengan payudara menjuntai ke lantai muncul di hadapannya. Awalnya, Farida terkejut oleh kehadirannya. Dengan gemetar dan keringat dingin, wanita itu berusaha tetap duduk di tempat pemujaannya.
"Katakan, apa yang kau inginkan dariku?" kata makhluk yang sering disebut Wewe Gombel itu pada Farida.
"A-aku ingin kecantikan yang memikat. Sama seperti Arini, a-aku ingin semua urusan hidupku menjadi mudah karena kecantikanku," jawab Farida terbata-bata.
"Baiklah. Tapi syaratnya, kau tidak boleh menikah dan punya anak. Jika sampai melanggar syaratnya, maka kau akan tahu apa yang akan terjadi."
"Baik, Nyai. Akan saya lakukan."
Sosok makhlu mengerikan itu mengepul menjadi asap hitam yang membumbung tingga hingga lenyap di atap bangunan. Selesai dari pemujaannya, Farida pulang ke rumah dengan hati gembira. Berharap nasibnya berubah saat hari esok tiba.
Hari berganti, harapan Farida terwujud. Berkat parasnya yang cantik, ia dapat memikat para pria, bahkan bisa mendapatkan pekerjaan dengan mudah. Ia serasa lupa dengan semua penderitaannya beberapa bulan lalu.
Saking bahagianya, ia bisa merebut hati seorang juragan kina. Diam-diam, Farida menjalin hubungan gelap di belakang istri pria pujaannya, hingga sebuah hal buruk terjadi. Ia melanggar persyaratan yang diajukan oleh Wewe Gombel. Seorang bayi laki-laki lahir dari rahimnya dan Farida sangat menyayanginya. Namun, kebahagiaan yang direguk atas kehadiran sang putra, tidaklah berlangsung lama. Bayi laki-laki Farida tewas pada suatu malam, setelah makhluk mengerikan itu memakan nyawanya.
Farida kembali terpuruk dalam kesedihan. Kali ini, ia tak bisa bangkit sama sekali. Seiring dengan waktu yang berlalu, penyakit kulit menggerogoti tubuhnya. Wajahnya menjadi mengerikan, sama seperti makhluk yang dulu dipujanya. Kematiannya mengenaskan. Tak ada satu tetangga pun yang sudi mengurus jenazahnya, meski bau busuk tercium sangat menyengat dari rumah Farida.
Pada akhirnya, keluarga Mbah Suro mengurus pemakaman Farida. Arini pun diam-diam mengetahui semua kejadian itu dari istri Mbah Suro, Malini. Wanita itu hanya bisa menyesali perbuatannya meninggalkan keluarga, sebab tak mampu memberikan pencerahan tentang agama sebelum mereka meninggal.
Sukma mengedipkan mata ketika Arini mengakhiri penuturannya tentang rahasia yang disembunyikan dari keluarga Farah selama ini. Bu Inah dan Pak Risman tertegun mendengar kisah menyedihkan keluarga Arini. Pun dengan Hilman yang diam-diam menguping dari luar, hanya bisa mengelus dada mendengar penuturan Arini.