SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Silaturahmi


Sukma mulai menempelkan kedua telapak tangannya ke mata sang ayah, tapi Pak Risman telah lebih dulu berdiri dan bergegas ke halaman belakang. Gadis kecil itu meraingin menutup mata batin ayahnya tanpa diketahui. Ia takut dimarahi.


Tak lama kemudian, Pak Risman muncul dari dapur bersama Mang Wawan. Sukma bergegas menghampiri ayahnya.


"Bapak mau ke mana?" tanya Sukma.


"Bapak tadi disuruh Pak Ustaz buat manggil Mang Wawan. Sekarang kami mau ke mesjid dulu," jawab Pak Risman terburu-buru. Entah ada kepentingan apa sampai ia terlihat sibuk.


Sukma mencoba mengejar Pak Risman, tapi langkah ayah dan pamannya sudah terlanjur menjauh. Kesempatan menutup mata batin Pak Risman, pergi begitu saja. Sukma termenung di teras rumah.


Dari ujung kediaman Abah, Wanara datang menghampiri Sukma. Ia penasaran pada usaha yang dilakukan temannya itu. Secepatnya kera itu menemui Sukma sebelum masuk ke rumah.


"Sukma, bagaimana?"


"Bapak lagi terburu-buru, aku nggak bisa tutup mata batinnya," jawab Sukma bernada kecewa.


"Aduh! Kira-kira bapakmu pulang jam berapa, ya?"


"Aku nggak tahu, Wanara. Biasanya aku udah bobo tiap Bapak pulang takbiran. Subuhnya Bapak udah berangkat ke mesjid. Kadang-kadang pas aku berangkat buat salat Ied, Bapak baru pulang dari mesjid buat ganti baju," jelas Sukma.


"Ya ampun. Kalau bisa, kamu cari kesempatan yang tepat malam ini juga," desak Wanara semakin cemas.


"Kenapa harus malam ini juga, Wanara? Emangnya kalau besok Bapak nggak bakal tertolong lagi?"


"Besok sudah tidak ada yang mengumandangkan takbir, puasa sudah berakhir. Biasanya para lelembut muncul, bahkan ilmu sihir pun dapat bekerja dengan cepat."


"Aduh, gawat!"


"Pokoknya, malam ini juga kamu harus tutup mata batinnya. Aku lihat, sekarang bapakmu udah mulai percaya dengan hal gaib. Selagi keimanannya masih utuh, kamu bisa segera mencegah sihirnya."


"Tapi Bapak lagi sibuk."


"Astaga!" Wanara menepuk jidat.


Sukma dan Wanara saling melempar pandangan. Keduanya sama-sama bingung mencari kesempatan yang tepat agar mata batin Pak Risman bisa segera ditutup. Sukma membuka botol kecil, lalu memasukkan kembali Wanara ke dalamnya. Malam ini ia benar-benar tak tenang.


...****************...


Hari berganti, suara takbir masih bergema di seluruh penjuru desa. Sukma pergi ke mesjid bersama ibu dan kakaknya. Seperti perkiraan sebelumnya, ia memang tak bertemu dengan Pak Risman selepas malam itu. Pak Risman pulang saat Sukma sudah terlelap dan pergi ke mesjid sebelum si bungsu terbangun.


Pelaksanaan salat Ied terasa lama bagi Sukma. Selama salat, pikirannya masih terganggu akan keselamatan sang ayah. Sesekali, ia menengok ke syaf pria, memastikan sang ayah baik-baik saja.


Selesai bubaran salat Ied, Sukma beserta ibu dan kakaknya bersalaman dengan warga kampung. Masih belum ditemukan sang ayah di sana. Hingga saat pulang ke rumah, Sukma akhirnya bisa bernapas lega melihat sang ayah sedang melahap ketupat dan opor ayam. Secepatnya gadis kecil itu menghampiri ayahnya, lalu mencium tangannya.


"Bapak, maafin Dedek, ya. Dedek selama ini banyak salah sama Bapak," ucap Sukma dengan rasa lega bercampur haru.


"Iya, Bapak juga minta maaf kalau selama ini suka bikin kesel Dedek," kata Pak Risman sembari mengusap kepala putrinya.


"Bapak tadi ke mana aja? Kok Dedek nggak lihat?" tanya Sukma heran.


"Bapak tadi habis ngobrol dulu sama temen-temen lama Bapak, jadinya lama," jawab Pak Risman.


Dari belakang, Atikah muncul mencium tangan sang ayah. Selanjutnya, Bu Inah ikut meminta maaf pada Pak Risman. Tampak mata mereka berdua berkaca-kaca, menyesali kesalahannya selama satahun belakangan.


Abah muncul dari arah dapur. Sukma menyambutnya dengan hangat, lalu mencium tangannya. Semua orang di kediaman Abah saling bermaaf-maafan. Semuanya tampak terharu dan bahagia bisa berkumpul bersama lebaran kali ini. Namun, Mang Wawan dan Bi Narti cukup sedih, mengingat putranya belum mendapatkan libur lebaran dari pihak swalayan.


Satu per satu warga kampung mendatangi rumah Abah. Mereka bersalaman pada para penghuni rumah, menjalin silaturahmi dan saling memaafkan. Beberapa di antaranya mencicipi kue buatan Bi Narti, terlebih kerabat Abah yang kebetulan berkunjung lebaran ini.


Sukma benar-benar kehilangan kesempatan untuk menutup mata batin Pak Risman. Ia sangat kesal, melihat para tamu berdatangan, membuat ayahnya sibuk menyambut mereka. Alih-alih memarahi tamu, Sukma terdiam di ruang tengah sambil terus berpikir untuk menutup mata batin ayahnya tanpa diketahui oleh siapa pun. Ia yakin, Pak Risman dan Bu Inah akan marah besar jika sampai ketahuan sudah membukakan mata batin ayahnya.


Setelah para tamu pergi, Pak Risman memanggil Atikah dan Sukma. Kedua gadis kecil itu menghampiri ayah dan ibunya di ruang tamu, lalu berdiri menghadap kedua orang tuanya. Sukma menghela napas panjang, berusaha mencuri-curi kesempatan saat berhadapan dengan ayahnya.


"Ada apa, Pak?" tanya Atikah.


"Sekarang kita ke rumah Emak, yuk. Sebentar aja. Tujuan kita ke sini, kan, buat silaturahmi," jawab Pak Risman.


Sontak, Abah terkejut mendengar ajakan Pak Risman. "Mau ngapain kalian ke sana, Man? Pengen dihina lagi seperti kemarin?"


"Bukan pengen dihina, Bah. Saya ini anaknya Emak. Bukankah memang sepatutnya kami bersilaturahmi ke rumah orang tua saya?" sanggah Pak Risman.


"Tenang aja, Bah. Kami ke sana cuma buat salam-salaman aja," ucap Pak Risman meyakinkan.


"Sudahlah, Bah. Jangan terlalu cemas. Kami nggak akan berlama-lama silaturahmi sama keluarganya Kang Risman. Lagipula, nggak baik kalau Kang Risman nggak ketemu sama keluarganya sama sekali di hari lebaran," bujuk Bu Inah menenangkan Abah.


"Kalau kalian tetap ingin ke sana, Abah nggak bisa apa-apa lagi. Abah cuma ingin berpesan sama kalian, jangan makan makanan dan minum minuman yang disuguhkan oleh mereka nanti. Abah khawatir, kalian akan kenapa-kenapa pas pulang nanti. Firasat Abah udah nggak enak," tutur Abah memperingatkan.


"Tenang aja, Bah. Kami ke sana cuma sebentar, kok. Kami pergi dulu, ya. Assalamualaikum," pamit Pak Risman pada Abah.


Bergegas Pak Risman beserta keluarga kecilnya pergi menuju rumah Emak. Abah mengantarkan mereka sampai halaman depan rumah. Kekhawatiran mulai menggelayuti benaknya, sampai-sampai pria tua itu berulang kali mengusap dadanya. Tak tenang hatinya melepas kepergian Pak Risman ke rumah Emak.


Selama di perjalanan, Pak Risman kerap melihat makhluk-makhluk aneh berkeliaran di jalan. Sesekali ia terkejut melihat seekor ular melintas di kakinya. Bu Inah yang melihat kelakuan aneh suaminya, mulai terheran-heran.


"Bapak ini kenapa, sih? Dikit-dikit kaget, dikit-dikit kaget. Bapak habis lihat apaan?" tanya Bu Inah mengernyitkan kening.


"Enggak, Bu. Bapak ngerasa heran, kenapa banyak hewan aneh berkeliaran di sini, ya? Tadi Ibu lihat ular di kaki Bapak, nggak?" kata Pak Risman.


Bu Inah mengedikkan bahu. "Ibu nggak lihat ular sama sekali, kok, Pak. Mungkin perasaan Bapak aja."


"Tapi tadi beneran ada loh, Bu. Di bawah kaki Bapak," kata Pak Risman, lalu tiba-tiba tercengang saat melihat ke arah kuburan. "Terus, itu orang-orang yang mukanya pucat kenapa berdiri di atas kuburan? Eh, bukannya Pak Yusman itu udah mati pas kita mau pergi ke Bandung? Kok hidup lagi?"


"Pak, apa mungkin mata batin Bapak terbuka?" tanya Bu Inah tertegun, sembari mengingat kejadian aneh pada suaminya kemarin.


"Apa mungkin begitu, ya, Bu?" Pak Risman balik bertanya pada Bu Inah sambil mengernyitkan kening.


Melihat Pak Risman semakin panik, Sukma menarik baju ayahnya. Ia menyuruh Pak Risman berjongkok di depannya dan menutup mata. Pria paruh baya itu menurut saja, berpikir bahwa si bungsu ingin bermain-main di tengah kepanikannya.


Selanjutnya, Sukma menaruh telunjuk di dahi Pak Risman. Ia komat-kamit merapal mantra sampai mata batin Pak Risman tertutup penuh. Akan tetapi, gadis kecil itu tak tahu bahwa hati kecil ayahnya sudah mulai terbuka kembali untuk memercayai hal-hal gaib.


Selesai menutup mata batin Pak Risman, keluarga kecil itu melanjutkan kembali perjalanannya menuju rumah Emak. Kali ini, Pak Risman tidak lagi mudah terkejut dan lebih tenang. Tak ada lagi makhluk-makhluk aneh berkeliaran. Bahkan saat menoleh ke arah kuburan, pria paruh baya itu tidak melihat sosok ruh dari orang-orang yang sudah wafat.


Setibanya di rumah Emak, kehadiran mereka disambut sangat ramah oleh kerabat Pak Risman. Wa Agus tak lagi sungkan meminta maaf pada adiknya, begitu juga dengan Wa Seto. Kedua kakak Pak Risman pun tak merasa jijik memeluknya. Mereka justru tersenyum lebar sembari mengucapkan maaf.


Sementara itu, Bu Inah diperlakukan sangat baik oleh kedua istri kakak iparnya juga Bi Yati dan Bi Neneng. Sikap keempat wanita itu tak membuat Bu Inah serta merta luluh. Bu Inah justru curiga, di balik kebaikan mereka, tersimpan niat busuk untuk merusak keluarganya. Seketika, ia langsung teringat pada Abah untuk tidak makan dan minum di rumah Emak.


"Oya, Teh. Kami udah bikin rujak cuka kesukaan kalian. Aku bawain ke sini, ya," ucap Bi Neneng, lalu bergegas ke dapur untuk mengambil sebaskom kecil rujak cuka.


"E-enggak usah, kami ke sini cuma sebentar, kok," tolak Bu Inah dengan canggung.


"Nggak usah sungkan-sungkan. Kami keluarga kalian juga. Tolong, jangan pergi dulu! Hargai kami yang udah berusaha bikin rujak cuka khusus buat kalian," ujar Bi Yati. "Sebentar, ya, aku bawain mangkuk sama sendoknya dulu."


"Tapi, Yati ... kami ...." ucap Bu Inah.


"Udahlah, Bu. Mungkin mereka ingin kita mencicipi rujaknya. Ini rumah Emak, nggak enak kalau pergi gitu aja. Kita bukan tamu," bujuk Pak Risman.


Seketika Bu Inah membelalakkan mata, lalu duduk di samping suaminya. "Pak, apa Bapak nggak inget kalau kata Abah ...."


"Rujak cukanya udah dataaang," ucap Bi Neneng membawakan sebaskom kecil rujak, lalu menaruhnya di meja.


"Ini mangkuk sama sendoknya. Mau aku ambilin sekalian rujaknya?" tawar Bi Yati.


"Nggak usah, kami bisa ambil sendiri," kata Pak Risman, lalu mengambil mangkuk di depannya.


"Pak, jangan!" bisik Bu Inah sembari menggeleng.


"Udahlah, Bu. Nggak enak nolak tawaran keluarga," kata Pak Risman, sembari mengambil rujak cuka ke dalam mangkuknya. Tak lupa, ia juga mengambilkannya untuk Bu Inah.


Sukma hanya menelan ludah tatkala melihat asap berwarna hijau mengepul dari rujak cuka itu. Ia justru mengkhawatirkan sang ayah yang baru saja ditutup mata batinnya. Hati kecilnya waswas, makanan itu akan mempengaruhi tubuh Pak Risman jika dimakan. Sama seperti saat Ratna memberikan makanan pada Farah, Sukma curiga makanan itu sudah dijampi-jampi.


"Atikah, Dek Sukma. Ayo, kalian ikut makan rujaknya juga," ujar Bi Neneng.


"Aku nggak suka rujak, Bi," ucap Atikah.


"Dedek juga," timpal Sukma.


Kedua gadis kecil itu benar-benar menuruti perkataan Abah, berbanding terbalik dengan sang ayah yang sedang makan rujak dengan lahapnya. Sementara itu, Bu Inah memandangi rujak itu dengan ragu. Ia benar-benar enggan memakan makanan itu, terlebih ucapan Abah masih terngiang di telinganya.


Emak dan saudara Pak Risman saling berpandangan, melempar senyum. Langkah mereka mencelakai Pak Risman berjalan dengan mulus. Mereka tinggal menunggu waktu, sambil menatap pria paruh baya itu memakan rujak cuka dengan lahap.