SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Berita Buruk


Satu jam sudah perjalanan ditempuh oleh Sukma dan pria yang mengantarnya. Kendati motornya terasa berat akibat Wanara yang ikut duduk di belakang dan menyandarkan kepala ke bahunya, akhirnya pria itu berhasil mengantar Sukma sampai di depan jalan menuju kontrakan Haji Gufron. Belum sempat pria itu membelokkan motornya menuju jalan ke permukiman warga, Sukma telah menepuk pundaknya lebih dulu.


"Stop, Pak. Stop! Stooop!" ujar Sukma.


"Ada apa, Dek?" tanya pria itu menoleh pada Sukma setelah menghentikan motornya di pinggir jalan.


"Anterinnya sampai sini aja, Pak. Rumah aku deket kok," ucap Sukma.


"Loh, kenapa? Mendingan Bapak anter sampai depan rumah Adek. Nanti kalau ada culik lagi, gimana?"


Sukma menggeleng cepat. "Pokoknya turunin sampai sini aja, Pak. Lagipula, aku ditemenin sama monyet aku, kok. Nanti kalau ada yang nyoba nyulik, bakal ditempelin sama monyet aku."


"Baiklah kalau Adek mau turun di sini aja."


Sukma pun turun dari motor bersama Wanara. Sesekali gadis kecil itu menoleh pada monyet kesayangannya, lalu menepuk-nepuk dada Wanara. Ia khawatir, akibat pertarungan bersama Buta, kera itu malah jatuh sakit.


Di sisi lain, pria yang mengantarnya pulang, masih memperhatikan tingkah gadis kecil itu dengan saksama. Jelas baginya, bahwa Sukma memang bukan anak biasa, bahkan cenderung aneh. Selain itu, selama dalam perjalanan tadi ia kerap merasakan hal ganjil menyeruak dadanya, terlebih saat bulu kuduknya merinding dan bahunya terasa berat.


"Pak, terima kasih, ya, udah nganterin aku pulang. Ini, aku punya sedikit uang buat Bapak," kata Sukma sambil menyodorkan uang lima ribu.


"Enggak usah repot-repot, Dek. Mending uangnya buat Adek jajan aja," tolak pria itu sungkan.


"Oh, ya udah kalau gitu. Makasih banyak, ya, Pak, udah nganterin aku pulang."


"Iya, sama-sama. Hati-hati di jalannya, ya."


Sukma mengangguk, lalu berbalik badan meninggalkan orang yang sudah mengantarnya. Beberapa langkah dari jalan raya, Sukma memapah Wanara yang masih terengah-engah akibat pukulan bertubi-tubi yang dilancarkan oleh Buta. Dari kejauhan, pria yang mengantar Sukma menyadari gerakan janggal dari gadis kecil itu. Hatinya membenarkan, bahwa seseorang yang sudah diantarkannya pulang memanglah aneh.


Setelah cukup jauh berjalan dari jalan raya, akhirnya Sukma dan Wanara tiba di depan pintu gerbang kontrakan Haji Gufron. Ia membuka gerbang dengan perlahan, sembari memapah Wanara yang masih ke sakitan. Dari teras kontrakan, tampak Bu Inah menoleh ke arahnya, lalu bergegas menghampiri si bungsu yang cukup lama menghilang.


"Ya ampun, Dedek!" seru Bu Inah menyentuh wajah dan badan putri bungsunya, kemudian menciuminya. "Dedek habis dari mana aja? Ibu dari tadi khawatir nyariin Dedek."


"Kan udah Dedek bilang, tadi Dedek ke warung dulu," kata Sukma dengan santainya.


"Ke warung mana? Ibu udah cari Dedek ke setiap warung tapi nggak ada. Sebenernya Dedek habis dari mana, sih?"


"Dedek habis dari warung yang jaraknya lumayan agak deket ke sekolahan, Bu. Pas Dedek mau pulang, eh malah muter-muter entah ke mana," kata Sukma beralibi.


"Emangnya kamu mau jajan apaan sampai nyarinya ke warung yang jauh? Kalau mau jajan, cari warung yang deket aja. Kalau jajanan yang dicari nggak ada, Dedek bisa pulang dulu, minta anter sama Ibu atau Teh Atikah. Dedek tahu, Ibu benar-benar khawatir sama Dedek," cerocos Bu Inah kesal.


"Iya, Bu. Maafin Dedek," ucap Sukma dengan wajah memelas, lalu tertunduk lesu.


"Lain kali jangan diulangi, ya. Dedek ini bikin Ibu cemas aja. Jangankan sehari, semalam Dedek hilang aja udah bikin Ibu khawatir," kata Bu Inah. "Sekarang ikut Ibu ke dalam, luka di lutut kamu harus cepet diobatin."


Bergegas keduanya masuk ke tempat tinggal Pak Risman. Ketika pintu dibuka, tampak Pak Risman terkejut tatkala mendapati sang istri masuk bersama putri bungsunya. Ia bertanya pada Bu Inah tentang caranya menemukan Sukma. Bu Inah mengatakan bahwa Sukma tersesat setelah mencari warung yang dimaksud.


Tanpa berlama-lama mengobrol, Bu Inah membawa Sukma ke kamar mandi untuk membersihkan lukanya. Setelah itu, Sukma mengganti bajunya yang penuh dengan debu. Sebelum tidur, luka di lutut Sukma diobati dengan hati-hati oleh ibunya. Sesekali gadis kecil itu meringis kesakitan.


"Tahan dulu sakitnya, biar cepat sembuh," kata Bu Inah.


"Iya, Bu."


"Setelah ini Dedek makan dulu, ya. Tadi abis maghrib belum makan."


"Enggak, Bu. Dedek makannya nanti aja barengan kalian sahur. Dedek ngantuk banget."


"Ya sudah, besok Dedek jangan puasa dulu. Soalnya jadwal makan Dedek hari ini berantakan."


Sukma mengangguk, kemudian berbaring di kasur. Saking lelahnya, ia tak sempat mengobati luka dalam yang diderita Wanara. Gadis kecil itu hanya melirik ke arah dapur, memandang monyet kesayangannya yang terkapar memegangi dadanya.


...****************...


Salah satu kebiasaan Pak Risman setelah tak lagi tinggal di paviliun adalah menyalakan TV di pagi hari untuk menonton berita. Menurutnya, setiap peristiwa yang terjadi di dunia ini sangat menarik untuk disimak. Banyak pelajaran berharga serta wawasan yang kerap didapatnya.


Sukma yang kebetulan baru selesai menyembuhkan Wanara di teras kontrakan lantai dua setelah jajan chiki dari warung Pak Beni, duduk di sebelah ayahnya. Ia ikut menonton berita dengan saksama. Pun dengan Atikah yang baru saja selesai mengisi buku Ramadhan. Ia ikut menyaksikan berita utama hari ini.


Layar TV menampilkan sebuah gedung terbengkalai yang ditumbuhi tanaman gulma di sekitarnya. Dari peristiwa yang dituturkan oleh reporter, telah terjadi peristiwa penculikan di gedung itu. Ketiga pelaku telah meninggal dan polisi sedang melakukan olah TKP. Tak lama kemudian, muncul dua orang saksi mata yang merupakan petugas ronda semalam. Tentu saja, Sukma merasa tidak asing dengan kedua pria itu.


Diam-diam, Sukma melipir ke dekat dapur dan membuka chiki yang dibelinya dari warung Pak Beni. Untuk meredam ketegangan yang bergejolak di dadanya, ia melahap chiki satu persatu tanpa melepaskan pandangannya ke arah televisi. Tak lama kemudian, Bu Inah yang baru saja selesai mencuci piring, datang ke arah Sukma.


"Ngapain Dedek duduk di sini? Sana, nonton TV-nya dekat Bapak!"


Di layar TV, seorang pria berjanggut yang mengantar Sukma semalam, mulai menyebut nama korban penculikan. Ia tak mengetahui nama korban utama, yang tidak lain adalah Albi. Berselang beberapa detik, akhirnya nama Sukma pun keluar dari mulutnya.


Sontak, Pak Risman, Bu Inah, dan Atikah terkejut mendengar nama itu. Ketiganya menoleh pada Sukma yang mendadak diam membeku saat memakan chiki. Pelan-pelan gadis kecil itu mengunyah dan menelan makanannya.


"Kenapa kalian lihatin Dedek kayak gitu?" tanya Sukma mengernyitkan kening, lalu berkedip-kedip.


Bu Inah dan Pak Risman menatap tajam pada Sukma.


"Ng ... Bapak, Ibu, nama Dedek, kan, banyak di dunia ini. Bukan Dedek doang," ucap Sukma tergagap-gagap.


Tak lama kemudian, layar TV pun menunjukkan orang tua dari korban yang sudah dimintai keterangan oleh polisi. Tampak wajah Hilman terpampang jelas di hadapan keluarga Pak Risman. Tidak salah lagi, Sukma memang terlibat dalam kasus itu sebagai korban.


Bu Inah yang baru saja selesai membereskan piring, langsung duduk berhadapan dengan Sukma. Gadis kecil itu tampak gugup tatkala sang ibu menatapnya lekat-lekat, seperti hendak mencecarnya dengan berbagai pertanyaan. Pak Risman yang menyadari semburat kekesalan terpancar dari wajah istrinya, segera menghampiri keduanya. Firasatnya mengatakan, bahwa Bu Inah akan bersikap lebih keras pada putri bungsunya.


"Bu, tahan dulu amarah Ibu. Ini sedang puasa," ujar Pak Risman.


Bu Inah menghela napas panjang, berusaha menahan kemarahannya pada si bungsu. Setelah cukup tenang, akhirnya ia bertanya, "Dedek, bilang yang jujur sama Ibu. Semalam Dedek habis dari mana?"


Dengan gemetar dan mata yang berkaca-kaca, Sukma menjawab, "K-kan Dedek ... D-Dedek udah bilang. Dedek pergi ke warung."


"Dek, Ibu mohon, Dedek jawab dengan jujur. Ibu nggak bakal ngapa-ngapain Dedek, kok," bujuk Bu Inah dengan nada lebih lembut.


Air mata Sukma berderai begitu saja. Ditatapnya kedua orang tuanya yang sedang harap-harap cemas menunggu jawaban. Untuk memberanikan dirinya, Sukma menelan ludah dan mengatur napasnya.


Atikah yang merasa iba pada Sukma, segera duduk di sebelahnya. Ia begitu prihatin melihat sang adik begitu terintimidasi. Dirangkulnya Sukma, lalu mengusap-usap pundaknya.


"Dek, ayo bicara yang jujur sama Bapak dan Ibu. Dedek tahu, kan, kalau berbohong itu nggak baik. Kalau Dedek bohong, nanti hidungnya bakal panjang, loh, kayak Pinokio. Dedek nggak mau kayak gitu, kan?" bujuk Atikah menatap kedua mata adiknya lekat-lekat.


Sukma segera menatap hidungnya. Ketika meraba hidung, terbayang di benaknya akan betapa buruknya jika sampai mukanya seperti Pinokio. Sukma menggeleng cepat, lalu menatap kakaknya.


"Dedek nggak mau punya hidung kayak Pinokio," ucap Sukma mengerucutkan bibirnya.


"Nah, sekarang Dedek bicara yang jujur sama Ibu dan Bapak. Dedek nggak bakal diapa-apain, kok. Hidung Dedek juga nggak bakalan panjang kayak Pinokio," bujuk Atikah.


Sukma menatap kedua orang tuanya dan berkata, "Apa salah kalau Dedek nolongin A Albi dari orang jahat?"


Sontak, Pak Risman dan Bu Inah terkejut mendengar pertanyaan Sukma. Mereka saling berpandangan sejenak, seolah-olah sulit memercayai bahwa Sukma yang dimaksud oleh saksi mata penculikan itu adalah putri bungsunya.


"J-jadi benar ... Dedek jadi korban penculikan juga?" tanya Bu Inah dengan mata membelalak.


"Dedek bukan jadi korban, Bu, tapi udah nolongin A Albi," jawab Sukma menegaskan.


"T-tapi ... gimana caranya Dedek bisa menemukan anaknya Pak Hilman dalam semalam?" Pak Risman semakin heran.


Sukma menceritakan kejadian awal kepergiannya mencari Albi dengan detail, meskipun hatinya masih sangat gugup. Mulanya, Pak Risman semakin tak percaya ketika Sukma menuturkan bahwa dirinya pergi mencari Albi hanya dengan berjalan kaki lewat alam gaib. Namun, mau tak mau ia harus memahami, bahwa semua yang dikatakan si bungsu benar adanya, terlebih saat mendengar Sukma sempat bertemu dengan Hilman di sebuah gudang.


Sementara itu, Atikah dan Bu Inah masih mendengarkan dengan saksama. Sukma melanjutkan rangkaian kronologis tentang pencarian Albi di gedung terbengkalai. Bu Inah mulai merasa waswas mengetahui putrinya berhadapan dengan seorang pria paruh baya dan dua orang suruhannya yang berbadan tinggi besar. Akan tetapi, kekhawatirannya akan keselamatan Sukma segera musnah setelah teringat kalau si bungsu memiliki kekuatan luar biasa dalam menghadapi orang dewasa.


"Lalu, Dedek ngebunuh dua orang itu?" tanya Bu Inah, masih dengan nada cemas.


"Awalnya Dedek nggak mau ngebunuh dua orang itu, tapi karena bapak-bapak jahat itu ngancam Dedek terus, ya udah, dua orang itu dijatuhin aja ke bawah," jawab Sukma.


Seketika dada Bu Inah terasa sesak. Ia membekap mulutnya, seakan-akan enggan menerima kenyataan bahwa Sukma telah membunuh dua orang berbadan besar itu.


Tak peduli dengan kesedihan yang bergejolak di dada sang ibu, Sukma melanjutkan ceritanya lagi. Ia sudah berhasil melepaskan Albi, tapi kebebasan keduanya dijegal oleh Pak Jumadi. Sukma menceritakan, ketika hendak keluar dari gedung, dirinya akan dibunuh.


Maka semakin terpukulah Bu Inah mengetahui hal itu. Tubuhnya melemas seiring Sukma menjelaskan caranya membebaskan diri dari hunjaman pisau yang mengancamnya kala itu. Kendati demikian, kekhawatiran Bu Inah harus pudar juga tatkala Sukma menerangkan dirinya berjongkok lebih dulu untuk menghindari pisau yang diarahkan kepadanya. Sampai akhirnya, gadis kecil itu menceritakan telah diantar pulang oleh pria yang diwawancarai di TV tadi.


Selesai Sukma menceritakan dirinya yang berhasil menyelamatkan Albi, suasana menjadi hening. Pak Risman termangu menatap Sukma. Bu Inah terkapar lesu, menyandarkan tubuhnya ke tepi kasur. Sedangkan Atikah hanya bisa melongo dengan semua yang dikatakan oleh sang adik.


Di tengah keheningan itu, terdengar suara pintu diketuk, disusul oleh ucapan salam dari seorang pria. Pak Risman beranjak dari tempat duduknya, lalu dengan perlahan membukakan pintu. Betapa terkejutnya ia melihat tiga orang berseragam polisi lengkap, datang ke rumahnya. Adapun Bu Inah yang masih syok dengan penuturan Sukma, justru pingsan tatkala mengetahui kedatangan polisi.


"Selamat pagi, Pak. Apa benar ini rumahnya Saudari Sukma?" tanya salah satu polisi.


"Ya, b-benar. Ada apa, ya, Pak?" Pak Risman balik bertanya dengan nada gugup.


"Kami dari pihak kepolisian meminta Bapak dan putri Bapak untuk datang ke kantor. Kami membutuhkan keterangan dari putri Bapak mengenai kasus penculikan Saudara Albi."


Kedua mata Pak Risman terbelalak mendengar penjelasan polisi. Diliriknya Sukma yang masih duduk di pojok kontrakan. Ia merasa kasihan melihat ketakutan pada wajah putri bungsunya itu.