SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Sukma Hilang


Senja tiba. Waktunya keluarga Pak Risman berbuka puasa. Sudah tersedia kolak pisang buatan Bu Inah sebagai takjil, beserta air putih hangat sebagai pembukanya.


Atikah dan Pak Risman duduk di depan hidangan berbuka puasa, tak sabar menunggu azan tiba. Sementara itu, Sukma masih melamun setelah tak diizinkan membantu Hilman dalam mencari Albi. Bu Inah yang baru saja selesai memasak, tak sengaja memergoki si bungsu sedang melamun. Ia menghampiri putrinya, lalu merangkulnya tiba-tiba.


"Udah mau buka puasa, kok Dedek malah melamun? Dedek lapar, ya?" tanya Bu Inah.


Sukma menggeleng lemah. "Dedek kecewa, nggak bisa bantuin Om Hilman buat nolongin A Albi."


"Dedek nggak usah cemas. Mungkin sekarang A Albi udah sama Om Hilman, pulang ke rumahnya," kata Pak Risman.


"Iya. Lagian, nanti Dedek bakalan capek kalau ikut-ikutan Om Hilman nyariin A Albi, terus ngeluh deh kelaparan di jalan," timpal Atikah.


"Enggak, kok. Dedek nggak bakalan ngeluh. Lagipula, Dedek semangat banget, kok, buat nolongin A Albi," sanggah Sukma.


Tak lama kemudian, azan Maghrib berkumandang. Pak Risman beserta anak dan istrinya segera mengambil air hangat untuk berbuka puasa. Sukma yang baru saja meminum air dalam satu teguk, tiba-tiba badannya terasa ringan. Ia mendadak mendapatkan energi ketika berbuka puasa. Selanjutnya, mereka menyantap kolak pisang buatan Bu Inah.


Sukma memakan kolak begitu cepat. Gadis kecil itu tampak kelaparan setelah sehari penuh menahan lapar dan dahaga. Bu Inah tampak khawatir melihat si bungsu makan sangat cepat dan lahap. Ia takut, kalau putrinya akan sakit perut karenanya.


"Eh, Dedek pelan-pelan dong makannya," tegur Bu Inah.


Sukma tak mengacuhkan teguran Bu Inah. Ia terus memakan kolak di mangkuknya hingga tandas. Selesai menyantap takjil, gadis kecil itu menghela napas panjang dan bersendawa. Betapa kenyangnya perut Sukma setelah menyantap makanan.


Seiring dengan energinya yang sudah kembali terkumpul penuh, kemampuannya menerawang masa lalu pun muncul. Matanya melihat sekelebat bayangan yang seharusnya dilihat siang tadi. Lambat laun, penglihatannya menuju sebuah pemukulan yang dialami Hilman, hingga Albi dibawa kabur lagi oleh dua orang berbadan besar dan satu pria berbadan tambun dengan pakaian jas lengkap.


Hati Sukma benar-benar tak tenang. Sosok raksasa yang berdiri di belakang Pak Jumadi, terus berjalan di belakang mereka untuk membuat orang-orang luput dari keberadaan sekelompok penculik itu. Selesai makan takjil, Sukma langsung melaksanakan salat. Meminta bantuan pada Tuhan agar diberikan jalan untuk menyelamatkan Albi.


Selepas salat, Sukma keluar dari kontrakan tanpa mengatakan apa pun pada kedua orang tuanya maupun sang kakak. Sikapnya yang terburu-buru, membuat Bu Inah khawatir akan sesuatu di balik pemikiran si bungsu. Perilaku Sukma yang tak terduga seakan-akan menjadi ancaman bagi wanita paruh baya itu.


"Dedek, mau ke mana?" tanya Bu Inah berteriak menyusul si bungsu.


Rupanya Sukma masih berada di area kontrakan. Kepalanya mendongak ke atap, seperti sedang mencari sesuatu di sana. Di mata Sukma, terlihat Wanar sedang duduk bersila sembari memejamkan mata.


"Wanara! Wanara! Cepat turun! Aku butuh bantuan kamu!" seru Sukma dari bawah.


Tentu saja, panggilan Sukma sangat mengganggu bagi Wanara. Permintaannya untuk membantu, membuat kera itu terasa terpanggil. Ia kira, ketika Ramadhan tiba, pertarungan tak akan terjadi, mengingat ini saat yang tepat untuk berdamai.


Tak mau membuat Sukma menunggu lama, Wanara membuka mata, kemudian melompat ke bawah. Dihampirinya Sukma yang sedang cemas meminta bantuan, sembari sesekali melirik ke arah rumah kontrakan gadis kecil itu. Kehadiran Bu Inah di antara mereka, menjadikan suasana berubah canggung.


"Sukma, kenapa ibu kamu ada di sini juga?" tanya Wanara.


Sukma melirik ke arah kontrakannya, lalu menghampiri sang ibu. Ia tak mau kalau-kalau Bu Inah tahu niatnya untuk kabur dan menyelamatkan Albi.


"Bu, ngapain Ibu ada di sini? Dedek nggak ke mana-mana, kok," kata Sukma.


"Tapi, Dedek lagi ngapain di luar malam-malam begini?"


"Dedek cuma pengin menghirup udara segar, Bu."


"Oh, gitu. Kirain ngapain. Sebaiknya kamu kalau udah selesai, masuk ke dalam lagi, ya. Sebelum salat tarawih, kita makan dulu."


"Iya, Bu."


Bu Inah melenggang masuk ke kontrakannya. Sukma kembali pada Wanara setelah yakin ibunya tak lagi mengawasi. Keadaan sekitarnya sepi dan aman. Hanya ada dirinya dan Wanara saja di luar.


"Sekarang katakan, apa yang bisa aku bantu?" tanya Wanara tergesa-gesa.


"Wanara, aku ingin menyelamatkan A Albi. Tadi siang dia diculik sama dua orang jahat, terus aku ngelihat ada raksasa gede banget di belakang salah satu penculik," jawab Sukma.


"Terus, kamu tahu di mana loksi penculiknya?"


Sukma menggeleng lemah. "Tapi nanti aku pasti tahu kalau sudah di jalan. Masalahnya, bapak sama ibu aku nggak bakalan ngizinin pergi-pergian jauh kalau malam-malam begini."


"Begitu, ya. Baiklah, aku punya ide."


"Ide? Ide apa?"


"Dulu, aku sering menyesatkan manusia ketika di hutan belantara. Aku menyesatkannya dengan membuka portal alam gaib ke alam nyata. Mungkin itu bisa membantu."


"Tentu saja tidak. Aku hanya akan memindahkan kamu dari alam nyata ke alam gaib, sampai tak ada seorang pun yang akan menemukan kamu."


"Kalau begitu, lakuin aja. Nanti aku mau izin dulu sama Ibu."


"Aduh, jangan minta izin sama ibu kamu dulu! Nanti dia tidak akan setuju."


"Bukan, aku bukan minta izin buat nyelamatin A Albi, tapi minta izin ke warung. Nanti dalam perjalanan, kamu lakuin jurus buat ngilang itu."


"Baiklah."


Bergegas Sukma masuk ke kontrakan. Tampak Bu Inah sedang membereskan mangkuk dan gelas. Tanpa banyak berpikir, gadis kecil itu masuk untuk menjumpai ibunya.


"Bu, Dedek pergi ke warung dulu, ya, mau jajan."


"Iya, jangan yang mahal-mahal jajannya."


"Iya, Bu."


Selanjutnya, Sukma berlari ke luar kontrakan. Ia melambaikan tangan pada Wanara. Kera itu mengerti maksud temannya, lalu berlari mengejar Sukma.


Dengan kekuatan yang dimilikinya, Wanara mulai membuka gerbang alam gaib. Jalanan yang sepi membuat upayanya berjalan mulus. Sukma lenyap begitu saja dari jalanan, bahkan tak ada satu pun orang yang mengetahui bagaimana caranya menghilang.


Sementara itu, Bu Inah yang baru saja menaruh mangkuk kotor di dapur, merasakan ada firasat buruk akan menimpa Sukma. Entah kenapa, tiba-tiba pikirannya gelisah memikirkan si bungsu. Akan tetapi, Bu Inah segera membuang jauh-jauh pikiran buruk itu, mengingat Sukma sudah meminta izin pergi ke warung. Ia yakin, putrinya akan baik-baik saja.


...****************...


Waktu merangkak lebih cepat menuju Isya. Sudah cukup lama Sukma tak kembali. Firasat buruk soal putri bungsunya, terus mengganggu. Sebelum pergi ke masjid, Bu Inah mencari Sukma ke warung Pak Beni.


Setibanya di warung yang jaraknya tak terlalu jauh dari kontrakan, Bu Inah menjumpai Pak Beni. Ditanyakannya perihal keberadaan Sukma. Namun, Pak Beni mengatakan bahwa gadis kecil itu tak datang ke warungnya sama sekali. Hati Bu Inah makin gelisah.


Pencariannya berlanjut ke warung lain. Berharap Sukma datang ke sana dan menemukan petunjuk akan keberadaan sang putri. Akan tetapi, usahanya sekali lagi tak membuahkan hasil. Dalam keadaan gelisah, Bu Inah terus melanjutkan pencarian Sukma. Pokoknya Sukma harus ketemu sebelum Isya, pikirnya.


Sementara itu, di suatu tempat yang sangat jauh dari kediamannya, Sukma menelusuri area perkebunan terbengkalai. Tanaman gulma disingkirkannya. Jarak pandangnya tidak begitu jauh. Kendati demikian, penglihatannya akan peristiwa demi peristiwa yang terjadi pada Albi, terus berjalan sesuai arah kakinya melangkah.


Setelah cukup jauh berjalan, tampak sebuah bangunan tua bekas gudang. Sukma dan Wanara berlari ke sana, memastikan bahwa Albi berada di sana. Tanpa banyak berpikir, keduanya berlari menuju lokasi yang diduga sebagai tempat Albi disekap.


Setibanya di sana, suasana begitu sepi. Ruangan yang lumayan luas hanya diterangi satu lampu bohlam yang cahayanya termaram. Bau apek menguar, bahkan Sukma terbatuk-batuk dibuatnya.


Diselusurinya setiap sudut gedung, hingga akhirnya menemukan seseorang terkapar di salah satu sudut gedung. Wanara segera membuka portal alam gaib dan mengembalikan Sukma ke alam nyata. Gadis kecil itu berjongkok, lalu membalikkan badan pria asing yang terkapar.


Bersusah payah Sukma mengangkat bahu pria yang badannya lebih besar darinya. Ketika pria itu berhasil dibalikkan tubuhnya, Sukma tercengang. Ternyata pria itu tidak lain adalah Hilman. Wajahnya lebam, sekujur tubuhnya dipenuhi luka memar.


Sukma menepuk-nepuk pipi Hilman, tapi pria itu tetap saja tak sadarkan diri. Usaha gadis kecil itu tak behenti begitu saja. Ia menggoyang-goyang tubuh Hilman sambil memanggil-manggil namanya. Suaranya yang terdengar panik dan melengking, akhirnya membuat pria itu sadarkan diri.


"S-Sukma?!" lirih Hilman dengan suara parau.


"Om Hilman, jangan bergerak dulu. Pasti Om masih sakit," ujar Sukma, sembari menahan tubuh Hilman yang hendak bangkit.


"Kenapa Dedek bisa ada di sini? Bukannya tadi Om udah antar kamu pulang?"


"Tadi Dedek ke sini bareng Wanara, mau nyelamatin A Albi, tapi A Albi-nya nggak ada."


"Astaga! Pak Jumadi memang licik," gumam Hilman kesal.


"Pak Jumadi? Siapa dia?"


"Dedek nggak bakalan tahu," jawab Hilman. "Sebaiknya Dedek bantu Om ke mobil, ya. Biar nanti Om antar Dedek ke rumah."


"Enggak, Om. Dedek mau nyariin A Albi lagi."


"Mau nyari ke mana? Penculik Albi itu badannya gede-gede, loh. Om aja sampai nggak kuat ngelawannya. Mending Dedek pulang, ya."


Sukma menggeleng cepat, dengan wajah cemberut. Tanpa mengiyakan perkataan Hilman, ia berbalik badan dan keluar dari gudang. Sambil berlari, Sukma bergegas pergi meninggalkan Hilman yang berusaha mengejarnya sambil memegangi perutnya. Pria itu kepayahan mengejar Sukma yang berlari sangat cepat meninggalkan gudang.


Sesampainya di luar gudang, Hilman kehilangan jejak Sukma. Gadis kecil itu menghilang entah ke mana. Sembari memegangi kepala, Hilman berpikir bahwa gadis kecil yang dilihatnya beberapa saat lalu, hanya halusinasi. Dengan tertatih-tatih, Hilman berjalan menuju mobilnya untuk mencari Albi ke tempat lain.