SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Gosip


Malam berikutnya, Pak Risman berjualan lagi seperti biasanya. Gerobak dan barang dagangannya sudah disiapkan dengan rapi oleh Bu Inah. Namun, ada yang berbeda malam ini. Sampai pukul delapan, belum saja datang pembeli.


Cukup lama Pak Risman dan Bu Inah bersabar menanti kedatangan pembeli, akhirnya ada juga yang berkunjung ke angkringannya. Seorang pria berjaket kulit duduk di bangku, memesan seporsi pecel lele untuk dibawa pulang. Pak Risman merasa lega, mendapat pembeli pertama malam ini.


"Pak, saya mau tanya. Penjual pecel lele yang di seberang jalan itu nggak jualan, ya? Katanya dia mendadak gila setelah dipukul anak Bapak kemarin," kata pembeli itu dengan santai. Ia sama sekali tak merasa canggung, sebab sudah berlangganan dengan pecel lele Pak Risman sejak lama.


"Oh, saya nggak tahu, ya. Bapak tahu kabar itu dari mana?" tanya Pak Risman disertai senyum tipis.


"Loh? Emangnya Bapak nggak tahu, ya, kalau orang-orang sekitar sini lagi gosipin Bapak?" Pembeli itu balik bertanya.


Pak Risman dan Bu Inah saling bertatapan. Akibat kesibukannya menyiapkan semua dagangan, mereka bahkan tak tahu gosip di masyarakat tentang keluarga mereka. Dari mulut pembeli pertama itu, Bu Inah pun mengerti akan penyebab angkringan suaminya sepi hari ini.


"Saya nggak tahu, Pak. Emangnya orang-orang bergosip apa tentang saya? Perasaan, saya nggak ngelakuin hal aneh-aneh. Bahkan anak saya yang memukul penjual pecel lele seberang jalan kemarin, sudah saya hukum," kata Pak Risman mengerutkan kening.


"Baiklah, saya kasih tahu. Tapi Bapak sama Ibu jangan kecewa, ya?" ucap pria itu memastikan.


Pak Risman dan Bu Inah mengangguk cepat.


"Begini, Pak. Tadi saya sempat dengar selewat. Orang-orang sini bilang, kalau Bapak melakukan guna-guna sama tukang pecel lele di seberang jalan karena merasa tersaingi," jelas pembeli itu.


Bu Inah seketika memberengut. "Astaghfirullah, siapa yang bilang begitu?"


"Saya nggak tahu jelas, Bu. Yang pasti, kabar yang saya dengar tuh kayak gitu," kata si pembeli.


"Sebaiknya Bapak jangan hiraukan gosip yang beredar. Kami tidak pernah sampai berpikiran untuk mematikan usaha penjual lain, bahkan merusak hidupnya. Kami percaya, Allah sudah menentukan porsi rezeki setiap orang. Mustahil kami melakukan hal keji pada penjual lain," tegas Pak Risman.


"Lagipula, untuk apa kami rajin salat dan puasa sunat kalau mengirimkan guna-guna? Itu sama saja kami meminta bantuan jin dan menduakan Tuhan yang sudah memberi kami rezeki," timpal Bu Inah meyakinkan, sembari menyerahkan keresek hitam berisi pesanan pembeli.


"Iya, Bu. Saya juga yakin, Bapak sama Ibu nggak mungkin berbuat hal demikian. Maka dari itu, saya tetap mau membeli pecel lele buatan Bapak," ucap si pembeli dengan tersenyum ramah. "Kalau begitu, saya pulang dulu."


Setelah pembeli itu pergi, Pak Risman dan Bu Inah mulai membahas gosip yang beredar saat ini. Tentu saja, mereka tak mau jika sampai angkringannya sepi terus menerus. Satu-satunya mata pencaharian Pak Risman tidak boleh padam juga seperti angkringan milik Pak Jaka.


"Kita kena fitnah lagi, Pak," celetuk Bu Inah dengan wajah lesu.


"Seandainya kemarin Dedek nggak melakukan kekerasan sama penjual pecel lele di seberang jalan, gosip macam ini nggak akan ada," kata Pak Risman.


"Habisnya Bapak terlalu sabar dan naif, jadinya Dedek nggak tahan buat bikin perhitungan sama orang itu. Lagipula, Dedek masih muda, emosinya masih labil," sanggah Bu Inah. "Ibu juga paham betul, tindakan Dedek tidak bisa dibenarkan."


"Dan sekarang, usaha kita yang kena getahnya. Bapak nggak tahu harus gimana lagi kalau sampai angkringan kita ini sepi."


"Pasti ada jalan keluarnya, Pak. Mungkin memang benar, penjual di seberang jalan itu udah ngirim guna-guna sama Bapak sampai usahanya buat ngehancurin kita, digagalkan sama Dedek. Makanya, guna-guna yang dikirim ke Bapak malah berbalik ke dirinya sendiri. Bapak masih ingat kejadian di Indramayu itu, kan? Emak sama saudara-saudara Bapak kalah telak ngelawan Dedek, sampai kakaknya Bapak ada yang lumpuh," jelas Bu Inah.


"Tapi sekarang keadaannya berbeda, Bu," tukas Pak Risman. "Orang-orang sini belum tentu semuanya percaya sama hal gaib. Kalau kita koar-koar sama pembeli pun nggak akan ada gunanya. Kita nggak punya bukti, bahwa penjual seberang jalan bisa sampai kehilangan kewarasannya bukan karena kita."


"Maka dari itu, kita bisa mematahkan keyakinan orang-orang yang menuduh bahwa kita sudah melakukan pesugihan. Toh, nggak ada bukti juga mereka mau menuduh kita berbuat demikian," ucap Bu Inah.


Sementara itu, Sukma yang dihukum diam di rumah sampai esok tiba, hanya bisa merenung. Pikirannya masih tertuju pada obrolan orang-orang yang lewat di depan rumah Pak Risman. Beberapa di antaranya terdengar sedang membicarakan usaha Pak Risman yang menggunakan pesugihan. Sukma yang berang mendengarnya, tak bisa apa-apa sebab diawasi oleh sang ibu agar tidak keluar rumah saat itu.


Sekarang, Sukma sedang berpikir keras untuk menyudahi gosip yang tak jelas asal-usulnya ini. Pak Jaka yang sudah kehilangan kewarasannya, mustahil diajak bicara baik-baik. Ia dan Atikah perlu mengunjungi kediaman penjual pecel lele itu sekali lagi. Siapa tahu keluarganya tahu Pak Jaka mengirim guna-guna, pikir Sukma.


Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Sukma meninta Atikah mengantarnya lagi ke rumah Pak Jaka. Seperti sebelumnya, Atikah tak mau dengan beralasan masih terlalu pagi dan banyak pekerjaan rumah belum dikerjakan. Namun, ketidaksabaran Sukma lebih kuat daripada penolakan sang kakak. Akhirnya, mereka pun bertolak ke kediaman Pak Jaka.


"Kami ada perlu dulu," ucap Sukma dengan terburu-buru menarik tangan Atikah.


Bergegaslah mereka berdua menuju kediaman Pak Jaka. Hawa dingin masih terasa menusuk tulang, Atikah tak memakai jaket sebelum adiknya mengajak pergi. Sesekali, ia melihat penjual gorengan dan tergoda untuk mengisi perut dulu.


"Dek, beli bala-bala dulu, yuk! Teteh laper," ujar Atikah. "Lagian, santai dikit lah jalannya. Mungkin sekarang si ibu yang sibuk ngurus cucunya lagi nyuci baju atau bersih-bersih rumah. Waktunya nggak tepat banget buat kita berkunjung ke sana."


"Tapi Dedek pengin gosip yang beredar di masyarakat segera berakhir. Cuma dia satu-satunya saksi yang bisa matahin fitnah ke keluarga kita," sanggah Sukma. "Sebenernya Dedek udah males pindah rumah lagi gara-gara difitnah. Dulu sih masih mending, difitnah dapet duit. Sekarang mah dapet apaan coba? Yang ada malah bikin usaha Bapak mati."


"Oke, Teteh paham. Tapi gimana kalau nanti ibu-ibu itu malah ngebela suaminya? Nggak semua orang senaif Bapak, Dek. Bisa jadi, kan, istrinya juga pengin usaha Bapak gagal," ucap Atikah memperingatkan.


Sukma menghentikan langkahnya, lalu menatap sang kakak. "Terus, kita harus gimana, Teh? Masa kita mau diem aja lihat usaha Bapak hancur karena gosip nggak jelas?"


"Kita tanyain aja langsung ke bapak-bapak yang udah jadi orang gila itu. Siapa tau aja, kan, kalau diingetin sama dosanya, dia justru waras lagi," usul Atikah dengan percaya diri.


Seketika Sukma tertawa terbahak-bahak mendengar saran kakaknya. "Kalau gitu, Teteh jadi orang gila aja dulu. Terus tanyain sama bapak-bapak itu, apa bener udah ngirim guna-guna ke bapak kita?"


"Ish ... Teteh serius, tahu! Teteh percaya sama kemampuan Dedek, bisa bikin ODGJ ngomong jujur juga," kata Atikah dengan muka memberengut.


"Teh, Dedek bukan psikater. Kalau pengin bapak-bapak itu waras dulu dan berani ngomong jujur, kita bawa aja ke RSJ, terus obatin. Itu baru bener," sanggah Sukma sambil terkekeh.


"Idih, males banget kalau harus bawa orang itu ke RSJ mah. Lagian, kita ini siapanya dia, sampai-sampai mau masukin ke RSJ segala? Uang buat pengobatannya aja kita nggak punya."


"Nah, kalau gitu, sebaiknya kita dateng ke rumah bapak-bapak itu, terus ngobrol sama istrinya. Mudah-mudahan si ibu ngertiin keluhan kita," ujar Sukma, melanjutkan perjalanannya.


Tak butuh waktu lama untuk mereka tiba di rumah Pak Jaka. Sesampainya di sana, mereka disambut oleh wajah cemas istri Pak Jaka. Dipersilakannya kedua kakak beradik itu ke dalam rumah, lalu disuguhkan segelas air putih. Sebelum mengutarakan maksud kedatangannya, Atikah memperingatkan Sukma untuk berbasa-basi dulu sampai menemukan titik yang tepat untuk menanyakan perihal Pak Jaka.


"Sudah dua kali adek-adek ini datang kemari nyariin Bapak. Sebenarnya, kalian ada urusan apa, ya, sama beliau?" tanya istri Pak Jaka penasaran.


"Begini, Bu. Kami ke sini cuma mau tanya, sejak kapan ya Bapak jualan pecel lele?" tanya Atikah, menahan sejenak ucapan Sukma sebelum keluar dari mulutnya.


"Sebenarnya udah lama, sih, cuma sering pindah-pindah aja," jawab istri Pak Jaka dengan santai.


"Oh, begitu, ya. Omong-omong, kenapa suka pindah-pindah, ya? Apa Bapak belum menemukan tempat yang cocok?" tanya Atikah lagi.


"Saya juga nggak ngerti. Beliau suka nanya-nanya sama orang pinter gitu soal usaha yang dijalani. Soal tempat, sampai waktu untuk membuka usaha juga suka nanya-nanya dulu," terang istri Pak Jaka dengan santai. "Mungkin sekarang beliau lagi apes, makanya gelisah terus."


"Oh, ya. Sekarang Bapak-nya ke mana, ya, Bu? Kok nggak kelihatan?" tanya Sukma, mulai gemas ingin mengutarakan maksud kedatangannya.


"Saya kurung Bapak di kamar. Dari kemarin teriak-teriak nggak jelas terus. Ngomongnya ngelantur," jawab wanita itu dengan wajah sendu.


"Bu, apa Ibu nggak curiga kalau Bapak sempat melakukan pesugihan atau ngirim guna-guna ke saingannya?" tanya Sukma mulai membuka maksud kedatangannya.


"Ah, kalau itu saya ... saya nggak yakin. Saya tahu, Bapak jarang ibadah. Tapi soal itu, saya nggak pernah tanya-tanya. Cuma ... beberapa waktu lalu, saya nggak sengaja lihat beliau naburin bubuk kemenyan yang dibawa dari orang pinter di lapak usaha saingannya," terang istri Pak Jaka.


Sukma mengangguk takzim. "Ibu tahu? Itu jadi penyebab bapak kami sakit-sakitan belakangan ini, bahkan sempat dirawat di rumah sakit loh!" katanya.


Istri Pak Jaka tercengang mendengar pernyataan dari Sukma. Matanya terbelalak, seolah tak mempercayai ucapan gadis muda di hadapannya. Sesekali wanita itu menggeleng pelan, berusaha menahan diri agar tidak gegabah dalam membela suaminya.


Sementara itu, di luar rumah Pak Jaka tampak seorang pria berpakaian serbahitam sedang memperhatikan Sukma. Ia merupakan suruhan Mbah Kasiman, yang menyebarkan gosip tak jelas itu pada masyarakat. Rupanya Mbah Kasiman ingin melihat sejauh mana gadis muda yang akan menjadi sumber kematiannya itu menyelesaikan masalah.