SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Kelawuk


Segenggam kebencian terbungkus rapi di dalam balutan kain. Tatkala satu per satu tali yang mengikat bungkusan berupa kain kafan putih dilepas Sukma, maka tampaklah media penyalur kebencian itu. Gulungan rambut yang diikat karet beserta bubuk tanah merah kuburan dan dilumuri oleh darah anjing yang sudah mengering, membuat semua orang di teras kontrakan Pak Risman terheran-heran sekaligus ngeri.


"Ih, apaan itu, Dek? Buang sana!" ujar Bu Inah bergidik jijik.


"Tunggu! Jangan dibuang!" seru Haji Gufron, lalu mengambil benda aneh itu dari tangan Sukma. "Dedek dapet benda ini dari mana?"


"Dedek tadi lihat bayangan tangan orang lagi nguburin sesuatu di dekat gerbang," tuturnya setelah melihat retrokognisi yang terjadi dua tahun lalu. "Terus Dedek gali aja tanah di dekat gerbang. Dedek nggak peduliin guguknya marah-marah. Terus, Dedek dapet gulungan ini. Guguk di gerbang ngamuk-ngamuk sambil ngegonggong gitu, makanya Dedek lari-lari ke sini," jelas Sukma.


"Terus guguknya ngejar Dedek, nggak?" tanya Fadil penasaran.


Sukma menggeleng. "Guguknya takut sama Bapak Dedek."


Haji Gufron dan Fadil saling bertatapan. Keduanya yakin, benda itu berasal dari seseorang yang membencinya, sehingga orang-orang enggan tinggal di kontrakannya. Cepat-cepat Haji Gufron menggulung kembali bungkusan berisi media kebencian itu.


"Pak Haji, mau dibawa ke mana bungkusan itu?" tanya Sukma.


"Mau Bapak lihat dulu," jawab Haji Gufron singkat.


"Guguknya mau dibawa ke rumah Bapak sekalian? Jangan dong, Pak Haji. Dedek mau main sama guguknya. Tadi Dedek minta ke yang punyanya di warung seberang sini, nggak diizinin," kata Sukma memohon.


"Yang punya warung seberang sini?" tanya Fadil mengerutkan dahi.


"Iya, yang lagi membangun kontrakan baru dan punya warung. Namanya Pak ... Pak ... Pak siapa ya tadi?" Sukma menggaruk-garuk kepalanya. "Oh, ya. Pak Beni!"


Tertegun Haji Gufron mendengar nama itu. Sudah diduganya sejak lama, ada yang tidak beres dengan Pak Beni. Sejak kematian Euis di kontrakannya, pria itu kerap melewati gerbang sambil menaruh kedua tangannya di belakang punggung seperti sedang menggendong seseorang. Memang, dulu Haji Gufron hanya memperhatikannya sekilas. Namun, kini perhatiannya yang sempat luput itu ternyata menguatkan tuduhan pada Pak Beni, bahwa saingannya itu sudah melakukan sesuatu yang keji.


Tak mau berlama-lama, Haji Gufron dan Fadil berpamitan pada keluarga Pak Risman. Pak Risman pun mengantar mereka sampai gerbang, ditemani oleh Sukma. Ketika Haji Gufron dan Fadil melenggang pergi, terlihat makhluk penunggu gerbang itu mengikuti keduanya dari belakang. Sukma yang masih penasaran ingin main dengan makhluk berkepala anjing itu, berusaha untuk menyusul mereka.


"Dedek mau ke mana?" tanya Pak Risman memegang tangan kanan putri bungsunya.


"Dedek mau bawa guguk itu ke sini," kata Sukma geram.


"Nggak ada guguk di sana, Dek. Itu cuma Pak Haji dan anaknya yang pergi," bujuk Pak Risman.


"Tapi guguknya juga ngikut, Pak!"


Melihat Pak Risman tidak mampu membujuk si bungsu, Bu Inah menghampiri keduanya. Ia berjongkok di depan Sukma sambil menatap kedua mata putri bungsunya itu.


"Dedek, kita jajan aja, yuk. Ibu mau beliin es krim buat Dedek," bujuk Bu Inah dengan nada lemah lembut.


"Dedek nggak mau es krim, Bu. Dedek maunya binatang peliharaan yang bisa ngomong. Kayak Wanara sama guguk gede itu. Tapi Dedek lebih suka sama guguk, soalnya badannya gede kayak kontrakan ini."


"Dedek nggak takut sama guguk, gitu? Nanti guguknya ngegigit Dedek loh," kata Pak Risman.


"Enggak."


"Tapi ngasih makannya susah loh, mahal lagi," timpal Bu Inah.


"Dedek udah dikasih uang sama yang punya warung, Bu. Dedek bisa beli makanan sendiri buat guguknya."


Mendengar penuturan si bungsu, Bu Inah dan Pak Risman saling beradu tatap sejenak. Sambil mengernyitkan kening, Bu Inah menatap lekat-lekat kedua mata Sukma.


"Gimana Dedek bisa nerima uang dari yang punya warung? Dedek minta-minta sama dia?" tanya Bu Inah.


"Dedek nggak minta-minta kok, Bu. Dedek cuma bilang sama yang punya warung, kalau Dedek mau main sama guguknya. Eh, dia malah ngasih uang," jelas Sukma, lalu menunjukkan selembar uang sepuluh ribu dari saku bajunya.


Bu Inah masih terheran-heran dengan semua kejadian yang dialami Sukma hari ini. Tanpa banyak berkata lagi, Bu Inah menggendong putri bungsunya ke kontrakan. Lalu, disusul oleh Pak Rismab yang baru selesai menutup gerbang.


Sementara Pak Risman dan Bu Inah merasa heran dengan Sukma hari ini, Haji Gufron sedang bingung memikirkan bungkusan kecil yang ditemukan Sukma. Sesekali ia menatap putranya, lalu tertunduk lagi. Tak pantas rasanya jika membicarakan hal tak masuk akal di jalan.


Sesampainya di rumah, Haji Gufron membuka kembali bungkusan berisi media kebencian Pak Beni. Ditatapnya benda itu lekat-lekat, sambil sesekali memperhatikan bubuk tanah kuburan yang masih merah. Ia tak habis pikir, saingannya akan berbuat seburuk itu pada kontrakannya. Selain itu, Haji Gufron juga merasa heran pada semua paranormal yang pernah disewanya untuk membersihkan kontrakan.


"Bapak, kenapa sampai kerang-kerung begitu lihatin isi bungkusannya?" tanya Fadil duduk di samping Haji Gufron.


"Bapak cuma heran, Dil. Sudah beberapa kali Bapak minta bantuan orang pinter buat bersihin kontrakan, nggak ada satu pun yang nemuin barang beginian di dekat gerbang. Anehnya malah anak bungsunya Pak Risman yang nemuin benda ini," tutur Haji Gufron, tanpa melepaskan pandangannya dari benda di hadapannya.


"Pak, apa Bapak berpikir kalau Dedek Sukma itu bukan anak biasa?" tanya Fadil mulai serius.


Haji Gufron menoleh, raut wajahnya menegang. "Sejak di kontrakan tadi Bapak memang sudah berpikir begitu. Pas Pak Risman bilang putrinya sudah menolong Euis waktu siuman, Bapak udah merasa, ada sesuatu yang berbeda dari anak itu."


"Apa Dedek Sukma itu anak indigo, ya, Pak?"


Haji Gufron mengangguk. "Bisa jadi. Tapi ... apa anak indigo bisanya cuma ngelihat aja, ya? Dek Sukma, kan, bisa menolong Euis juga."


"Benar juga, Pak."


"Lalu, kalau Pak Risman punya anak kayak Sukma, kenapa dia kayak yang menampik gitu, ya? Kayak yang nggak mau tahu segala sesuatu yang dilihat atau dialami Sukma, gitu."


"Mungkin Pak Risman nggak percaya sama sesuatu yang gaib, Pak."


"Kalau nggak percaya sama hal gaib, kenapa dia salat? Bukankah Allah juga gaib, nggak kelihatan?"


"Maksudku, Pak Risman nggak percaya sama hantu atau guna-guna yang begituan loh, Pak."


"Oh." Haji Gufron mengangguk. "Aneh juga, ya, Pak Risman. Nggak percaya sama hal begituan, tapi kok punya anak kayak Sukma?"


"Mungkin itu cara Allah ngasih petunjuk sama Pak Risman, kalau makhluk ciptaan-Nya bukan manusia dan hal-hal yang tampak saja, melainkan jin juga. Ah, wallahu 'alam, Pak."


Sementara itu di kediaman Pak Risman, Bu Inah lanjut berdebat dengan suaminya. Pak Risman ternyata masih kesal pada sang istri yang ikut-ikutan membujuknya untuk meminta bantuan Pak Suwandi. Ia tak mau kalau sampai ibadahnya tidak diterima oleh Allah selama empat puluh hari empat puluh malam.


"Habis, mau bagaimana lagi, Pak? Dari dini hari sampai subuh datang, Sukma nggak siuman," kata Bu Inah bernada lesu.


"Ya setidaknya kita bisa melakukan cara lain," bantah Pak Risman.


"Cara lain apa, Pak? Ibu sudah ngasih cium aroma minyak kayu putih ke hidungnya Dedek. Bukan itu saja. Bapak tahu sendiri, kan, Mang Ujang juga memencet jempol kakinya si Dedek keras-keras. Tapi si Dedek susah banget siumannya," balas Bu Inah.


"Tangan Dedek nggak sakit lagi, kok," jawab Sukma memegangi pergelangan tangannya.


"Urusan ibadah mah Allah yang atur. Lagian kita minta bantuan Pak Suwandi buat bangunin Sukma doang, bukan minta diramal," sanggah Bu Inah.


"Tetap saja, Bu. Itu dicatatnya oleh malaikat 'sudah mengunjungi tukang sihir dan tukang ramal', tetap dosa, Bu," cerocos Pak Risman.


"Terserah Bapak, deh. Kalau musyrik, kenapa Bapak ngaku-ngaku sudah menumbalkan Bu Farah? Itu juga dosa, Pak. Dosa berbohong."


"Ah, sudahlah. Bapak mau pergi dulu."


"Ke mana?"


"Beli perabotan."


...****************...


Hujan lebat mengguyur Kabupaten Bandung Barat malam ini. Haji Gufron memanggil seorang paranormal ke rumahnya untuk memastikan bungkusan aneh yang ditemukan oleh Sukma tadi pagi. Paranormal itu melihat bungkusan yang ditunjukkan oleh Haji Gufron dengan saksama. Ia pun mengangguk takzim, laku menatap mata Haji Gufron dengan tajam.


"Gimana? Itu bungkusan aneh, ya?" tanya Haji Gufron tidak sabar.


"Benar, Pak. Ini kiriman dari seseorang yang sangat tidak menyukai Bapak," terang pria paranormal itu. "Bapak menemukan ini dari mana?"


"Sebenarnya bukan saya yang menemukannya, tapi anak dari salah satu penghuni kontrakan saya," jelas Haji Gufron.


"Jadi, yang menemukan benda ini adalah anak kecil?" tanya pria paranormal itu mengernyitkan kening.


"Iya," jawab Haji Gufron mengangguk pasti. "Memangnya ada apa, Pak, kalau boleh tahu?"


Paranormal itu tertegun cukup lama. Ia tahu betul, tidak sembarangan orang pintar yang bisa mendapatkan benda aneh itu dari tempatnya dikubur. Jangankan paranormal, orang biasa saja yang berani menggali dan mendapatkan benda itu akan jatuh sakit berkepanjangan.


"Seperti apa anak itu? Laki-laki atau perempuan?" tanya paranormal itu lagi.


"Perempuan."


"Ah, iya, iya."


"Bisa dijelaskan, kenapa benda ini bisa didapatkan dengan mudah oleh anak itu?"


"Begini, Pak Haji. Saya merasa ada hal yang aneh pada anak itu."


"Hal aneh? Hal aneh apa?"


"Dia sepertinya sudah cukup lama berurusan dengan makhluk halus. Bukan di usianya sekarang saja, melainkan dari lahir. Jadi, dia bisa dengan mudah mendapatkan benda ini," jelas si paranormal.


"Apa bukan karena anak kecil jiwanya masih suci, jadi bisa gampang mendapatkan benda ini dengan mudah?" tanya Haji Gufron.


"Tidak, tidak. Dia sepertinya memang sudah berurusan dengan makhluk gaib dari kecil."


Di tengah percakapan mereka, Fadil datang membawa nampan berisi dua gelas air putih. Pemuda itu kemudian duduk di sebelah ayahnya, lalu menatap si paranormal.


"Oh, ya, Pak. Saya mau nanya, apa benar yang mengirimkan benda ini adalah seseorang dari seberang kontrakan kami, yang sedang membangun kontrakan juga?"


Paranormal itu mengangguk, lalu mengalihkan pembicaraan lagi. "Kalian tahu apa saja soal anak itu? Sejak kapan dia datang kemari?"


"Tadi ayahnya bilang, kalau dini hari tadi dia sempat pingsan. Bukan itu saja, dia juga bertemu dengan korban pembunuhan yang pernah tinggal di kamar kontrakannya. Apa itu benar, Pak?"


"Itu memang benar, bahkan dia juga sudah menyembuhkan arwah penasarannya," jawab paranormal itu dengan ringan.


"Jadi, arwah Teh Euis nggak bakal ngeganggu lagi?" tanya Fadil dengan wajah berseri-seri.


Paranormal itu mengangguk. "Hanya saja ... ah, sebaiknya kalian segera bakar benda itu. Saya khawatir, jin-nya justru mengganggu kalian malam ini. Jangan lupa, sambil baca Ayat Kursi sampai benda itu benar-benar jadi abu."


Haji Gufron mengangguk. Paranormal itu berpamitan pada Haji Gufron dan Fadil dikarenakan ada urusan mendadak. Si empunya rumah mengizinkan, lalu mengantar paranormal itu sampai ke gerbang rumah.


Fadil yang memegang benda aneh di tangannya, segera merogoh korek api dari saku celananya. Akan tetapi, Haji Gufron menahannya lebih dulu. Ia berkata, akan membakarnya setelah paranormal benar-benar pergi.


Sementara itu di kediaman Pak Risman, Sukma gelisah. Firasatnya mengenai anjing yang diajaknya main tadi pagi, semakin buruk saja. Ia terus mondar-mandir dari teras lalu masuk ke dalam rumah lagi.


Tentu saja sikap anehnya itu terlihat jelas di mata Bu Inah. Wanita paruh baya itu menangkap Sukma secara tiba-tiba, sampai si bungsu terperanjat dibuatnya.


"Ibu ini apa-apaan, sih?" tanya Sukma gusar.


"Habisnya Dedek mondar-mandir terus kayak setrikaan," kata Bu Inah sambil terkikik geli. "Bilang sama Ibu, sebenarnya Dedek lagi mikirin apaan? Kangen sama teman-teman sekolah, ya? Nggak usah khawatir, nanti Dedek bisa sekolah lagi di sini, terus punya teman-teman baru."


Sukma menggeleng lesu. "Dedek lagi kepikiran sama guguk itu," jawabnya. "Bu, Pak Haji sama Aa Fadil nggak bakal ngapa-ngapain guguknya, kan? Dedek belum sempat main lempar tangkap sama guguknya."


Bu Inah yang sebenarnya tidak memahami maksud dari perkataan putrinya, berusaha untuk berkompromi. "Ibu nggak tahu, Dek. Pak Haji dan Aa Fadil itu orang baik. Coba Dedek pikir, apa mungkin orang baik menyakiti hewan?"


"Enggak, Bu. Kecuali kalau guguknya nakal dan ngegigit orang, itu harus dipukul."


"Nah, kalau misalkan guguknya berbuat jahat sama Pak Haji dan Aa Fadil, gimana?"


"Ya dipukul aja. Nanti juga lari, terus balik lagi ke sini."


"Nah, kalau Dedek yakin guguknya akan kembali ke sini, Dedek nggak usah cemas," ujar Bu Inah mengusap kepala Sukma dengan lembut. "Sekarang mendingan Dedek tidur, sudah jam sembilan. Besok Dedek sama Teh Atikah di sini sama Bapak dulu. Ibu mau ke Bandung, mau ngurus dulu kepindahan sekolah kalian."


"Dedek nggak boleh ikut, Bu?"


"Dedek nggak perlu ikut. Main saja di sini sama Teh Atikah, ya. Ibu nggak akan lama kok."


Beberapa meter dari kontrakan, tepatnya di kediaman Haji Gufron, Fadil mulai melancarkan aksinya membakar benda kiriman Pak Beni. Ketika benda itu mulai dibakar, pemuda itu membaca ta'awuz, disusul dengan basmallah dan Ayat Kursi. Tentu saja, makhluk berkepala anjing yang mengikuti mereka sejak tadi merasa tubuhnya terbakar hebat. Ia menyalak-nyalak, tapi suaranya tak terdengar sama sekali oleh Haji Gufron dan Fadil.


Rupanya, kejadian nyata itu membuat Sukma bersedih. Makhluk gaib penunggu gerbang yang diharapkannya menjadi hewan peliharaan, telah tewas dibakar oleh Fadil. Sukma meneteskan air mata sebelum akhirnya terlelap dalam mimpinya.