SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Melawan Ki Purnomo


Senja menjelang. Waktu kebersamaan Citra dan putrinya telah habis. Sesuai janjinya, Sukma datang ke rumah kontrakan Citra selepas pulang mengaji. Ia khawatir, kalau Citra terlalu lama dibuka mata batinnya, maka yang terjadi adalah ketakutan seperti teman-temannya sewaktu di TK.


Ketika masuk ke rumah Citra, tampak suami wanita itu yang bernama Lukman, sedang geleng-geleng kepala karena tak diacuhkan oleh sang istri. Menurut Lukman, istrinya sudah kehilangan akal sehat setelah mengalami keguguran. Akan tetapi, dugaannya segera terpatahkan oleh kedatangan Sukma.


"Kenapa, Om? Om pusing karena Tante main sama anak kalian?" tanya Sukma dengan santai.


Terhenyak Lukman tatkala mendengar pertanyaan Sukma. Ia menoleh pada gadis kecil itu, lalu berkata, "Anak kami? Om kira istri Om lagi hilang kewarasannya."


"Enggak. Tadi pagi istri Om melamun melulu, jadi aku kasih lihat deh anaknya," jelas Sukma.


"Kalau begitu, bisa nggak Dedek sembuhin Tante Citra? Dari tadi Om minta kopi, tapi nggak dibikinin terus. Katanya anak kami menangis kalau ditinggalin."


"Bisa. Kan Tante Citra udah janji mau menghentikan penglihatannya sore ini."


"Eh, Dek Sukma. Sejak kapan Dek Sukma ada di sini?" tanya Citra, tangannya seperti sedang menggendong seorang bayi.


"Aku dari tadi ada di sini. Tante, ini saatnya penglihatan Tante ditutup," kata Sukma.


"Apa?! Kalau penglihatan Tante ditutup, Tante nggak bisa lihat anak Tante lagi dong," ucap Citra dengan wajah cemberut.


"Biarpun nggak bisa ngelihat anak Tante, setidaknya Tante bisa mendoakannya setiap waktu. Pasti anak Tante akan lebih senang," ucap Sukma.


Citra melirik pada putrinya. Gadis kecil itu tersenyum, lalu mengangguk. Sungguh berat bagi Citra, hanya mengecap rasa memiliki anak dalam setengah hari. Tak terasa, air matanya meleleh begitu saja, membasahi pipi.


Gadis kecil di pangkuannya menyeka air mata Citra. Ia menggeleng lemah, mengisyaratkan pada sang ibu, bahwa dirinya akan baik-baik saja. Citra memeluk erat tubuh putrinya, menikmati detik-detik terakhir perjumpaannya dengan sang buah hati.


Melihat istrinya bersedih, Lukman ikut terenyuh. Ia meminta pada Sukma, agar diperlihatkan sosok gadis kecil yang sedang digendong Citra. Sukma setuju, lalu membuka mata batin Lukman. Setelah selesai memenuhi permintaan Lukman, Sukma menyuruh pria itu membuka mata. Tampak, gadis kecil di pangkuan sang istri sedang tersenyum dan menyeka air mata ibunya.


Lukman berdiri, lalu meminta pada Citra untuk menggendong putri mereka sebentar saja. Citra mengangguk dan menyerahkan putrinya pada Lukman. Betapa terharunya pria itu dapat menggendong anaknya untuk pertama kalinya. Hatinya merasa bahagia bercampur sedih, karena waktunya bertemu putrinya sangatlah singkat. Lukman pun meneteskan air mata, hingga putrinya merasa iba dan menyeka air mata sang ayah.


"Ayah, Ibu. Jangan sedih. Aku akan selalu berada bersama kalian, di hati kalian. Meski kita berbeda alam, sesungguhnya aku hidup," kata gadis kecil itu.


Maka berderailah air mata sepasang suami istri itu. Meski pertemuan dengan sang buah hati tak berlangsung lama, setidaknya mereka dapat merasakan betapa indahnya menjadi orang tua. Cukup lama mereka melepas sang putri dalam keikhlasan, akhirnya Lukman dan Citra meminta Sukma menutup mata batin.


Seperti biasa, Sukma menyuruh keduanya duduk di hadapannya sambil menutup mata. Ditaruhnya telunjuk pada masing-masing kening suami istri itu. Selesai membacakan mantra, akhirnya Citra dan Lukman tidak lagi melihat putri semata wayang mereka. Kini, Citra berusaha untuk tegar dan mendoakan putrinya yang telah tiada, pun dengan Lukman.


Setelah selesai dengan urusannya, Sukma berpamitan pada Lukman dan Citra. Dengan tersenyum lebar, ia berjalan menuju rumah kontrakannya yang berada tepat di seberang kediaman Citra. Akan tetapi, sebelum tiba di depan teras rumah kontrakannya, sebuah bola api melintas cepat di hadapannya. Sukma terkesiap, lalu memandang waspada pada bola api itu.


"Sukma, awas!" teriak Wanara memperingatkan.


Sontak, Sukma membantingkan diri ke teras, guna menghindari bola api yang berkelebat dengan cepat. Sementara itu, Wanara segera melompat ke bawah untuk melindungi Sukma. Ia sadar betul, bahwa makhluk yang menyerang temannya itu tidak lain adalah Ki Purnomo dalam wujud Banaspati.


"Kamu tidak apa-apa, Sukma?" tanya Wanara cemas.


Sukma menggeleng. "Apa itu tadi?"


"Ki Purnomo. Dia masih ingin mengincarmu."


"Astaga! Apa dia nggak kapok ngobrak-abrik mimpi aku?"


"Sudahlah, tidak ada gunanya kamu memikirkan itu sekarang. Sebaiknya kamu masuk ke rumah. Aku akan melawannya. Kekuatan para dedemit akan bertambah kalau senja tiba."


Sukma menuruti pertintah Wanara, lalu bergegas masuk ke rumah kontrakannya dan menutup pintu. Wanara kembali bersiap menghadapi Banaspati Ki Purnomo yang melesat begitu cepat. Dari langit, kepala Ki Purnomo muncul menyemburkan api. Wanara dengan cerdik melompat ke sisi area kontrakan lain.


Seketika, perhatian Ki Purnomo teralih pada Wanara. Semburan demi semburan api keluar dari mulutnya. Tentu saja, hal itu menggemparkan bagi penghuni kontrakan lain. Mereka terkesima melihat bola api yang melayang di langit, menyemburkan api berkali-kali. Namun, Sukma masih tetap berlindung di dalam rumahnya, sambil mengintip pergerakan Wanara yang sedang melawan Ki Purnomo.


Kali ini, Wanara memberanikan untuk melompat lebih tinggi, menggapai Ki Purnomo yang terus saja menyerang dari kejauhan. Dengan nyali yang tinggi, Wanara melompat dari genteng lantai atas. Kakinya yang panjang, bersiap untuk menendang bola api itu sejauh mungkin. Ki Purnomo segera melesat turun, menghindari serangan Wanara.


"Sial!" gerutu Wanara kesal.


Kendati demikian, Wanara merasa dirinya masih bisa bergerak lebih cepat dari Ki Purnomo. Bersama dengan terbenamnya matahari di ufuk barat, kera itu menambah kekuatannya dengan berdiam diri sejenak di genteng. Di sisi lain, Ki Purnomo masih penasaran ingin mengalahkan Wanara. Ketika ia menyerang kera itu, kecepatan Wanara semakin bertambah. Ini kesempatan emas bagi Wanara untuk mengusir Ki Purnomo dari area kontrakan.


Sekuat tenaga, Wanara melompat dan menendang Ki Purnomo ketika lawannya itu mendekatinya. Seketika, Ki Purnomo melambung jauh entah ke mana. Setelah yakin bola api itu pergi jauh, Wanara melompat turun ke rumah kontrakan Sukma. Sementara itu, para penghuni kontrakan kembali masuk ke kediamannya masing-masing. Pertunjukan bola api sudah selesai.


Wanara mengetuk pintu kediaman keluarga Pak Risman. Sukma segera membukanya, lalu memegang wajah dan tubuh kera kesayangannya.


"Kamu nggak apa-apa, kan, Wanara? Ada yang kena bakar nggak?"


"Aku baik-baik saja, Sukma."


"Aku tidak yakin, Sukma. Kemarin malam aku sudah menendangnya keluar dari mimpimu, tapi sekarang dia bisa kembali lagi. Aku tidak mengerti. Apa dia bisa dimusnahkan, ya?"


"Tentu saja bisa."


"Bisa? Bagaimana caranya?"


"Ki Purnomo, kan, sekarang bentuknya kayak bola api. Nah, biasanya, api itu bisa dikalahkan pakai air."


"Jadi?"


"Ya kalau dia nyerangnya pakai api, sembur aja pakai air, nanti juga padam sendiri," kata Sukma enteng.


"Lalu, bagaimana caranya agar aku bisa menyerangnya pakai air?"


"Banyak minum."


Sementara itu, di tempat lain, Bu Lastri berjalan tergesa-gesa menuju kediaman dukun yang menurutnya bisa membantu menghabisi Sukma. Tak peduli seberapa jauh jarak yang ditempuh, wanita berbadan tambun dengan dandanan tebal itu akan tetap menjumpainya. Demi harga diri dan dendam, ia rela berbuat apa saja. Pemikirannya akan uang dan penghormatan orang lain, masih tak berubah. Menurutnya, memiliki banyak uang lebih dihargai banyak orang, sekalipun kerap berbuat salah.


Setibanya di kediaman sang dukun, Bu Lastri masih tetap bersikap angkuh. Ia memberikan secarik kertas dengan nama lengkap Sukma yang diketahuinya dari ibunya Fani pada dukun itu.


Dengan teliti, dukun itu memperhatikan nama calon target. Penerawangannya pada Sukma pun dimulai. Tampak sosok gadis kecil berkulit hitam legam dengan tanduk di kepalanya, muncul dalam penglihatan dukun itu. Seketika, tubuhnya bergidik ngeri sambil meringis.


"Ada apa, Ki?" tanya Bu Lastri terheran-heran.


"Ibu mau mencelakakan saya, ya?"


"Mencelakakan? Saya tidak berniat mencelakakan Anda. Saya hanya mau, anak kecil itu disantet sampai nyawanya melayang."


"Ibu tahu, anak yang menjadi target Ibu itu siapa?"


Bu Lastri mengangguk cepat. "Dia anak umur tujuh tahun, anaknya tukang pecel lele."


"Hanya itu?"


"Iya."


Dukun itu menggeleng sembari mengurut kepalanya. "Bu Lastri ... Bu Lastri. Sebelum menyuruh saya menyantet anak ini, apa Ibu pernah mencari penyebab kematian dukun Ibu sebelumnya?"


"Saya hanya tahu Sukma membunuhnya. Itu saja."


"Aduh, Ibu ini!" dengus dukun itu kembali menggeleng. "Sebelum bertindak, seharusnya Ibu berpikir dulu. Logikanya begini, apakah ada anak kecil mampu melakukan pembunuhan pada orang dewasa? Memangnya sebesar apa, sih, kekuatan anak berusia tujuh tahun itu? Ibu tahu, bagaimana orang itu tewas?"


"Yang saya tahu, dia tewas dengan satu injakan kaki saja."


"Nah, coba Ibu pikir, apa ada anak kecil mampu menghabisi orang dewasa dengan satu kaki saja?"


Bu Lastri termenung sejenak. Hati kecilnya berkata, bahwa mustahil anak seusia Sukma dapat menghabisi Ki Purnomo dengan satu injakan kaki. Akan tetapi, di sisi lain ia bersikukuh ingin membalaskan dendam pada Sukma. Tak peduli pada sesuatu yang akan terjadi selanjutnya.


"Saya tidak mau tahu, Ki. Pokoknya, saya mau anak itu dihabisi."


"Apa Ibu yakin? Dia ini bukan anak sembarangan loh. Kalau usaha saya gagal, bukan saya saja yang akan kena batunya, tapi Ibu juga."


"Maksudnya?"


"Saya takut, nanti santet yang saya kirim justru berbalik dan mencelakakan kita."


"Astaga! Memangnya sesakti apa anak kecil itu sampai santetnya bisa berbalik begitu? Dia cuma anak kecil!"


"Tapi dia bukan anak kecil biasa, Bu. Dia anak iblis!"


"Saya nggak peduli, dia mau anak iblis kek, mau anak genderuwo kek. Pokoknya dendam saya harus terbalaskan. Anda mau minta berapa banyak uang untuk menghabisi anak itu, ha? Ayo, bilang sekarang juga! Saya nggak keberatan soal biaya," cerocos Bu Lastri geram.


"Ini bukan soal biaya, Bu, tapi keselamatan Ibu."


"Alah! Itu semua masih bisa dibeli dengan uang. Buktinya rumah sakit lebih cepat menangani pasien yang banyak uang."


Dukun itu menggeleng lagi, setelah menyerah menjelaskan segalanya pada Bu Lastri. Memang, uang bisa memudahkan seseorang dalam mengobati luka dalam dirinya. Namun, uang tidak akan pernah bisa dipakai untuk membeli nyawa dan keselamatan.