SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Acara Perpisahan


Sudah bertahun-tahun Sukma mendapatkan kekuatan baru dari Emak. Sisi positifnya, semakin usianya bertambah, ia mampu mengendalikan emosinya. Wanara yang senantiasa membantu Sukma dalam mengolah diri dan emosi, merasa tenang melihat perubahan temannya yang menjadi lebih baik. Meskipun gadis yang kini mulai beranjak remaja itu hanya berteman dengan Fani dan Andra hingga menjelang lulus SD, setidaknya ia tetap bersyukur masih memiliki orang-orang yang menyayanginya.


Hari ini merupakan pembagian ijazah dan rapot bagi para siswa. Sukma lebih dulu mendapatkan kabar baik ini. Dengan diantar Bu Inah, ia bersemangat untuk menerima ijazahnya, hasil dari mengenyam pendidikan selama enam tahun.


Semua guru, orang tua siswa dan para murid berkumpul di aula sekolah. Sukma yang duduk di salah satu kursi, tiba-tiba kedatangan Andra. Bocah laki-laki itu masih seperti saat Sukma pertama kali masuk SD dulu. Baik dari fisik maupun kepribadiannya.


"Sukma, selamat, ya, kamu udah lulus," ujar Andra.


"Iya. Kamu juga bakalan dapat ijazah, kan? Selama ini kamu juga ikut naik kelas sama aku, meskipun nggak pernah dapat rapot," ucap Sukma, masih dengan keluguan yang sama.


"Enggak, Sukma. Tapi aku bersyukur, berkat kedatangan kamu di sekolah, aku jadi punya teman sampai bisa belajar ke kelas yang lebih tinggi," ucap Andra.


"Hm, begitu, ya. Tapi kamu bakalan masuk SMP juga, kan? Aku juga setelah lulus dari sini bakal masuk SMP. Kata Ibu, nanti di sana dapat teman baru juga," tutur Sukma.


"Enggak, Sukma. Tempat aku sudah di sini. Aku masih ingin melihat Bu Guru," kata Andra tersenyum tipis. "Oya, Sukma. Semoga nanti kamu dapat teman-teman baru yang lebih baik, ya. Selama ini aku kasihan sama kamu, dijauhin sama teman-teman manusia karena dicap buruk dan punya kulit yang warnanya sama kayak aku. Sebenarnya, dari dulu aku ingin sekali belain kamu, aku nggak terima kamu disebut mayat hidup sama orang-orang."


"Udahlah, Andra. Nggak usah dipikirin. Toh, aku ngerasa senang, kok. Selain ada kamu di sekolah, aku juga masih punya Wanara di rumah. Aku juga udah belajar banyak selama ini, kalau kemarahan cuma membawa kita ke dalam hal yang buruk," ucap Sukma.


Di podium, wali kelas mengumumkan nama-nama siswa yang berprestasi. Mulai dari peringkat lima sampai satu. Kebetulan sekali, Sukma mendapatkan kemajuan dalam prestasi akademiknya. Ia menempati ranking dua di kelasnya.


Tatkala Sukma berjalan menuju podium, semua orang menyambutnya dengan tepuk tangan. Tak sedikit di antara para orang tua yang membicarakan gadis itu ketika menerima hadiah dari gurunya. Tentu saja, Sukma dapat mendengar gunjingan orang-orang yang membicarakan hal buruk tentangnya. Bagaimanapun juga, ini merupakan salah satu konsekuensi terburuk dari ilmu yang diberikan Emak padanya. Wanara yang duduk di pinggir panggung, hanya mengisyaratkan Sukma dengan gerakan tangannya agar tetap bersabar dan tak mudah tersulut amarah.


Sementara itu, Bu Inah yang kebetulan duduk di dekat dua ibu-ibu yang sedang membicarakan Sukma, tak sabar untuk menegur. Tanpa berpikir panjang, ia menepuk salah satu pundak wanita yang usianya lebih muda darinya.


"Bu, maaf, Sukma itu anak saya. Wajar dia mendapatkan hadiah berkat kerja keras dan usahanya," tegur Bu Inah.


"Oh, ya, maaf, Bu. Saya kira Anda bukan ibunya. Kalau boleh tahu, Sukma les di mana? Kok bisa, ya, anak kuper kayak dia bisa dapat ranking dua?" tanya salah satu wanita berkacamata.


"Emangnya kenapa kalau nggak les? Dia nggak pernah masuk les apa pun. Semuanya bergantung pada pemahaman dan usahanya dalam belajar," jawab Bu Inah.


"Begitu, ya. Cerdas sekali anak Ibu, bisa berprestasi tanpa les. Oh, jangan-jangan Ibu nyogok kepala sekolah buat naikin prestasinya Sukma. Sekarang Ibu, kan, banyak uang, usaha pecel lelenya Pak Risman sekarang udah maju, bahkan laris manis," ucap wanita berhijab di sebelah temannya.


"Ah, benar juga. Suka heran deh sama anak yang kecilnya punya kelakuan kayak preman, sekarang malah naik ke podium buat nerima hadiah ranking dua," celetuk wanita berkacamata.


Bu Inah menghela napas dan tersenyum pahit. "Kalian nggak usah heran. Itu tandanya kedua orang tua sudah mendidik putrinya dengan baik."


Kedua orang tua siswa itu seketika terdiam. Mau tidak mau, mereka harus mengakui, bahwa perubahan pada diri Sukma memang sangat besar. Sejak kasus penculikan Albi, tak terdengar lagi berita tentang seorang gadis kecil yang membunuh orang dewasa. Sukma benar-benar lebih tenang sejak pulang dari kampung halaman kedua orang tuanya beberapa tahun lalu.


Waktu berlalu, acara perpisahan telah rampung. Bu Inah pulang dengan muka menekuk kesal akibat ucapan-ucapan tidak enak dari orang tua siswa lain. Sukma merasa kasihan melihat ibunya cemberut sepanjang jalan.


"Bu, Ibu nggak kenapa-kenapa, kan?" tanya Sukma.


"Ibu masih kesel sama dua ibu-ibu itu. Seenaknya aja bilang Ibu nyogok kepala sekolah buat naikin prestasi Dedek," jawab Bu Inah sembari mendengkus sebal.


"Udahlah, nggak usah dipikirin, Bu. Seenggaknya sekarang Dedek udah lulus. Sebenernya, Dedek juga denger mereka ngomong begitu. Bukan doa orang aja, tapi banyak," ujar Sukma.


"Hah ... seandainya aja Dedek nggak dapat ilmu dari Nenek, Ibu lebih bersyukur. Ibu yakin, Dedek pasti ikut sedih denger mereka semua ngomong," kata Bu Inah, membelai rambut Sukma.


"Ah, Dedek udah biasa denger orang-orang ngomong begitu, Bu. Udahlah, mendingan kita cepetan pulang. Bapak pasti udah nungguin di rumah," ucap Sukma.


Setibanya di rumah, tampak Pak Risman yang dibantu oleh Atikah, baru selesai beres-beres. Mengingat anak-anaknya yang akan menginjak usia remaja, ia harus berpikir agar ruangan di kontrakannya terasa luas. Sukma tampak semringah melihat perubahan pada tempat tinggalnya.


"Iya. Kalian, kan, makin gede. Masa ruangannya segini-gini aja?" kata Pak Risman tersenyum lebar. "Oya, Dedek dapet ranking nggak sekarang? Waktu ujian, Bapak lihat Dedek belajarnya rajin banget."


"Iya, dong. Dedek dapet rangking dua, loh, Pak. Lihat! Dedek juga dapet hadiah!" kata Sukma sembari memperihatkan bungkusan berisi satu pak buku dan pulpen.


"Wah, pinternya anak Bapak!" puji Pak Risman mengelus kepala Sukma.


"Selamat ya, Dek. Teteh juga ikut seneng Dedek dapet ranking. Sama kayak Teteh, dapet ranking dua!" puji Atikah, lalu mencium kening adiknya.


Berbeda dengan suami dan putri sulungnya, Bu Inah masih saja memasang wajah cemberut. Pak Risman yang mengetahui ekspresi jelek istrinya, merasa penasaran. Ia menghampiri istrinya yang baru masuk ke rumah.


"Bu, kenapa mukanya kayak gitu? Ibu nggak senang lihat Dedek dapat ranking? Jangan gitu lah, Bu," ujar Pak Risman.


"Bukan itu masalahnya, Pak. Ibu nggak suka kalau ada yang menghina anak kita. Bapak tahu, apa yang dikatakan orang-orang waktu Dedek naik podium? Mereka bilang, kita udah nyogok kepala sekolah buat naikin prestasinya Dedek," jelas Bu Inah bersungut-sungut.


"Udahlah, Bu. Nggak usah dipikirin. Seenggaknya sekarang Dedek udah lulus, terus teman-temannya juga bakal ganti, kan," bujuk Pak Risman.


"Ibu heran. Enam tahun udah berlalu, tapi pandangan orang tua siswa masih aja buruk ke Dedek. Emangnya kita ngerugiin mereka, apa?" cerocos Bu Inah.


"Udah, Bu. Lupain aja. Sekarang kita fokus aja mikirin sekolah mana yang cocok buat anak-anak nanti," kata Pak Risman.


"Ah, Ibu bukan mau mikirin sekolah mereka aja, Pak. Ibu juga mikirin mau beli rumah di mana? Masa mau ngontrak terus? Sedangkan anak-anak kita makin gede," ucap Bu Inah.


"Sabar, Bu. Nanti Bapak cariin juga rumah yang bagus buat kita," kata Pak Risman berusaha menenangkan istrinya. "Lagian, Ibu ini kalau dengar yang jelek-jelek dari orang lain itu suka diambil hati. Dulu waktu tinggal di paviliun Pak Hilman, minta pindah gara-gara dihina terus sama Bu Farah. Sekarang kayak gitu lagi."


"Bukan begitu, Pak. Masalahnya anak-anak kita ini makin ke sini makin gede. Kasur kita juga kerasa makin sempit kalau dipakai tidur bareng-bareng. Uang tabungan kita juga udah cukup buat beli rumah. Kalau kurang, kan, masih bisa ditutupin pakai uang dari Bu Arini," jelas Bu Inah.


Mendengar permintaan Bu Inah pada Pak Risman, Sukma dan Atikah menyambutnya dengan baik. Mereka mulai memberanikan diri untuk menimpali pembicaraan kedua orang tuanya. Terutama Atikah, yang dari dulu sangat ingin tidur terpisah dari kedua orang tuanya.


"Benar kata, Ibu, Pak. Kalau tabungannya udah cukup, mending kita pindah rumah aja. Di sini sempit. Mana kalau musim kemarau suka gerah pula," kata Atikah bernada antusias.


"Iya, Pak. Dedek juga pengen pindah ke rumah yang lebih gede. Dedek bosen denger Bapak dengkur melulu. Mana suaranya kenceng lagi," timpal Sukma.


"Oke, oke. Nanti Bapak cari informasi dulu buat pindahan nanti," ucap Pak Risman, berusaha menenangkan kedua putrinya.


"Jangan lama-lama ya, Pak. Nanti malam, kan, orang yang tempo hari nawarin rumah bakalan datang lagi ke angkringan Bapak. Nah, Bapak tanyain aja sekalian sertifikat sama harganya," ujar Sukma dengan wajah berseri-seri.


Mendengar perkataan Sukma, seketika kening Pak Risman berkerut. "Tahu dari mana Dedek kalau orang itu bakalan datang nanti malam?"


"Ada, deh, lihat aja nanti. Pokoknya, kita nanti bakalan beli rumah dari orang itu. Rumahnya juga lumayan bagus, Pak. Cuma masuk ke gang sedikit. Kamarnya ada dua, jadi Dedek bisa sekamar sama Teh Atikah, Bapak sama Ibu di kamar lain," jelas Sukma.


"Ah, Dedek ini ada-ada aja. Emangnya Dedek udah pernah ke rumah yang mau dia jual, gitu?" tanya Bu Inah.


Sukma menggeleng cepat. "Tapi Dede udah tahu rumahnya kayak gimana. Nah, Ibu juga bisa jemur baju di atasnya biar cepet kering."


Pak Risman tertegun mendengar penjelasan Sukma. Dengan banyak pertimbangan, pria paruh baya itu mulai memikirkan segala hal yang akan dibicarakan dengan orang yang pernah menawarkan rumah padanya tempo hari. Pak Risman mengangguk, kemudian mengelus kepala Sukma.


"Iya, Dek. Nanti malam kalau orang itu datang, Bapak bakal ngobrol banyak tentang rumah yang mau dia jual," ucap Pak Risman.


"Terima kasih ya, Pak. Udah percaya sama Dedek," kata Sukma dengan senyum semringah.