
"Nah, kan. Udah mati nyusahin pula," gerutu Bi Neneng sambil berjalan ke arah keranda, lalu menendangnya. "Mak, jangan nyusahin orang-orang, dong. Kalau mereka pengin ngangkat keranda, mudahin caranya! Jangan rewel, deh, pakai nungguin si Risman segala. Dia nggak bakalan ke sini!"
Para tetangga Emak terkejut melihat perilaku Bi Neneng. Mereka menegur putri bungsu Emak, lalu menyeretnya untuk duduk di kursi. Alih-alih merasa iba, orang-orang itu geram atas perlakuan Bi Neneng pada jenazah Emak.
"Neng, kamu sadar nggak, sih? Dia itu ibu kamu. Nggak baik kamu kayak begitu!" bentar salah satu ibu-ibu yang melayat.
"Terserah aku dong, dia itu ibu aku. Kalau dia nyusahin orang-orang, tetep aja kami yang malu!" sungut Bi Neneng kesal.
Sementara itu, di kediaman Abah, Pak Risman menyeruput kopi dengan santainya. Sukma merasa tak tega, mengingat Emak yang ingin sekali permohonan terakhirnya terwujud. Dengan canggung, ia menghampiri ayahnya yang sedang duduk di teras rumah.
"Pak, kenapa Bapak nggak mau ke rumah Nenek? Dia, kan, ibunya Bapak. Kalau Nenek udah nggak ada, Bapak nggak punya orang tua lagi," ucap Sukma.
Pak Risman menarik tangan putrinya, lalu menaruh si bungsu di pangkuannya. "Dek, Nenek udah banyak berbuat jahat sama kita. Apa Dedek tetap mau berbuat baik sama orang kayak gitu? Enggak, kan."
"Tapi, Pak. Waktu Dedek bobo, Dedek ketemu sama Nenek. Dia bilang, katanya nggak mau masuk ke liang lahat sebelum dianterin sama Bapak," tutur Sukma menatap kedua mata ayahnya.
Tercenung Pak Risman mendengar ucapan putri bungsunya. Kendati perasaannya terluka dan masih merasa sakit akan perlakuan ibunya, hati kecilnya tetap tak tega mengikuti ego. Bagaimanapun juga, Emak tetaplah ibu yang melahirkannya, yang membesarkannya meski hidupnya tak pernah sejalan.
"Pak, kita ke rumah Nenek, yuk! Kasihan Nenek kalau sampai Bapak nggak datang buat nganterin dia ke liang lahat. Gimana kalau Nenek beneran nggak bisa dianterin sama orang lain?" bujuk Sukma.
Pak Risman yang mulai percaya pada Sukma, mulai terhenyak. "Dek, benar Dedek ketemu sama Nenek di alam mimpi tadi?"
Sukma mengangguk.
"Terus, dia bilang pengen diantar ke liang lahat sama Bapak?"
"Iya, Pak. Dedek minta, Bapak pergi ke rumah Nenek sekarang juga, ya. Tolong turutin permintaan terakhir Nenek," bujuk Sukma.
Pak Risman menurunkan Sukma dari pangkuannya. Ia berdiri, lalu berjalan beberapa langkah ke pekarangan rumah. Sesekali ia menghela napas dalam-dalam, meyakinkan dirinya bahwa semua yang dikatakan si bungsu memanglah benar.
"Dek, Bapak ke rumah Nenek dulu," ucap Pak Risman bergegas pergi.
Sukma tersenyum lebar tatkala ayahnya berangkat ke rumah Emak. Cepat-cepat ia menemui ibu dan kakaknya yang berada di ruang keluarga. Hatinya sudah tidak sabar mengabarkan hal baik ini.
"Ibu, Teteh, Abah! Bapak pergi ke rumah Nenek!" seru Emak dengan wajah berseri-seri.
Bu Inah tercengang. "Wah, yang benar, Dek?"
"Iya," tegas Sukma.
"Syukurlah. Emangnya Dedek bilang apa sama Bapak?" tanya Abah.
"Dedek bilang, waktu Dedek mimpi, Nenek minta buat dianterin ke liang lahat sama Bapak. Bapak percaya, terus pergi deh ke rumah Nenek," jawab Sukma.
"Baguslah Bapak udah percaya sama Dedek," ucap Atikah ikut senang.
Abah menoleh pada Bu Inah yang terkesima dengan keputusan Pak Risman. "Inah, kamu mau nyusul Risman ke sana?"
Bu Inah mengangguk. "Iya, Bah."
Sementara itu, Pak Risman berjalan dengan tergesa-gesa. Hatinya sudah tak sabar lagi memberikan bakti Emak untuk terakhir kalinya, meskipun kerap disakiti fisiknya berkali-kali. Di belakangnya, tampak Bu Inah bersama kedua putrinya berlari menyusul Pak Risman. Mereka pun ingin ikut mengantar Emak ke pembaringan terakhirnya.
Setibanya di rumah Emak, Pak Risman terkejut melihat orang-orang kesulitan mengangkat keranda ibunya. Pak Risman menghela napas panjang, berusaha menahan air matanya agar tak segera tumpah. Akan tetapi, saat teringat kembali perkataan si bungsu, perasaan Pak Risman kembali terenyuh. Sebegitu besarnya penyesalan dan permohonan maaf Emak pada putra ketiganya, sampai jenazahnya tak bisa diangkat oleh siapa pun.
Sukma yang menyaksikan kesulitan warga kampung dalam mengangkut keranda, hanya mengangguk takzim. Dari pandangannya, ia melihat Emak sedang berdiri di dekat keranda, tersenyum pada Pak Risman yang baru datang untuk mengantarnya ke liang lahat. Tak terasa, air mata jatuh ke pipi gadis kecil itu, melihat wajah berseri Emak yang begitu tulus pada Pak Risman.
"Kalian kesusahan mengangkat kerandanya, ya? Udah dicek di dalam kerandanya nggak ada batu atau apa pun?" tanya Pak Risman.
"Udah, Pak. Nggak ada benda apa pun selain jenazah Emak. Padahal badan Emak pendek, tapi kok kerandanya berat," jelas salah satu tetangga Emak yang mengeluh sejak tadi.
Pak Risman mengangguk, kemudian duduk di depan keranda. Keempat saudaranya hanya menatap sinis, merasa iri bahwa Pak Risman dijadikan sebagai anak kesayangan Emak di saat-saat terakhir. Tak ada yang bisa mereka lakukan selain menggerutu, mencela saudara dan ibunya.
Di depan keranda, Pak Risman mendekatkan kepalanya dan berbisik, "Mak, semua kesalahan Emak udah Risman maafin. Sekarang Emak istirahat dengan tenang, ya. Mudahin orang-orang yang mau membantu Risman mengantar Emak ke liang lahat. Emak nggak perlu khawatir lagi, anakmu sekarang ada di sini."
Setelah itu, Pak Risman mengajak tiga tetangganya untuk mengangkat keranda. Benar saja, selepas pria paruh baya itu mengucapkan kalimat terakhir untuk ibunya, keranda itu menjadi mudah diangkat. Selanjutnya, Pak Risman beserta orang-orang pergi menuju pemakaman terdekat.
Sukma yang sejak tadi melihat arwah Emak, mendadak menangis dengan keras. Tentu saja, Bu Inah dan Atikah dibuat panik oleh kelakuan aneh gadis kecil itu. Mereka membatalkan rencana untuk mengantar jenazah Emak ke pemakaman karena si bungsu tak berhenti menangis.
"Dedek, kenapa Dedek nangisnya sampai begini, sih? Malu dilihat orang," ujar Bu Inah, duduk di teras rumah sembari memeluk Sukma di pangkuannya.
"Iya, perasaan dari tadi Dedek nggak kenapa-kenapa. Kok sekarang malah nangis?" tanya Atikah.
"Dedek lihat Nenek, Bu. Dia pengen nangis lihat Bapak, tapi air matanya nggak keluar. Tadi dia sempet nyentuh kepala Bapak, terus bilang terima kasih udah maafin Nenek," jelas Sukma sembari sesenggukan, lalu melanjutkan tangisannya yang kian nyaring.
"Oh, jadi Dedek baper, gitu? Ciyeee Dedek baperan," ledek Atikah.
Dengan geram, Sukma memukul-mukul tubuh kakaknya. "Teteh mah, Dedek lagi sedih malah diledekin!"
Mendengar penjelasan si bungsu, hati Bu Inah ikut terenyuh. Ia tidak menyangka, betapa besar penyesalan Emak sampai kepergiannya menuju pembaringan terakhir terganggu karena menunggu Pak Risman memaafkan kesalahannya. Bu Inah pun terisak-isak, menyadari perkataan Sukma tentang amanat terakhir mertuanya. Entah bagaimana jadinya jika amanat itu tak dilaksanakan oleh Pak Risman.
Di pemakaman, jenazah Emak mulai dikeluarkan dari keranda. Pak Risman menatap kosong jenazah sang ibu tatkala dimasukkan ke liang lahat. Sesekali air matanya menetes, menyaksikan kepulangan Emak ke haribaan Ilahi. Selain merasa kehilangan, ia juga sedih karena tak sempat menuntun ibunya ke jalan yang benar sebelum ajal menjemput.
Seorang ustaz mulai memimpin doa tatkala jenazah sudah ditutup oleh tanah merah dan ditaburi bunga serta disirami air. Doa-doa dipanjatkan untuk Emak, demi ketenangannya di alam baka. Selesai mendoakan jenazah, satu per satu orang meninggalkan makam.
Kini hanya tersisa Pak Risman yang terpekur memandangi pembaringan terakhir sang ibu. Ia pun menumpahkan semua air matanya. Atas kasih sayang yang diberikan sang ibu dari kecil, ia sangat berterima kasih. Pak Risman pun menyatakan kasih sayangnya pada Emak, meskipun selama ini jalan yang ditempuhnya berbeda.
Selesai mencurahkan semua yang ada di dalam hatinya, pria paruh baya itu meninggalkan makam sang ibu. Langkahnya beralih menuju area pemakaman lain. Dengan membawa bunga dan botol berisi sedikit air, Pak Risman berziarah menuju pemakaman ayahnya.
"Pak, Risman pulang, Pak. Bapak nggak usah khawatir lagi seperti dulu. Saya sudah dikaruniai dua putri yang solehah dan usaha yang membaik. Saya juga mengucapkan banyak terima kasih sama Bapak karena sudah mengajarkan ilmu yang benar dan lurus," ucap Pak Risman, lalu membacakan doa-doa untuk arwah sang ayah.
Sementara itu di kediaman Emak, Atikah tak berhenti mengernyitkan kening. Beberapa saat setelah jenazah Emak dibawa pergi, tak sengaja gadis kecil itu masuk ke dalam rumah, menyaksikan kondisi uwa dan bibinya yang menyedihkan. Selain itu, ia juga mendengar ucapan tak menyenangkan mengenai sang ayah. Ketika mereka menoleh ke arahnya, Atikah justru merasa tidak enak. Pandangan sinis mereka yang terarah padanya, membuatnya tak mau berlama-lama berada di sana.
"Bu, kita pulang, yuk! Di sini orang-orangnya nggak nyenengin," ujar Atikah.
"Loh, kenapa kamu ngajakin buru-buru pulang? Tunggulah dulu sampai Bapak datang," bujuk Bu Inah.
"Nggak mau, Bu. Tadi aku nggak sengaja denger kata-kata Wa Agus sama Bi Yati. Katanya mereka nggak suka sama Bapak dan pengen ngebunuh Bapak aja sekalian. Terus, mereka juga jelek-jeleking Nenek gara-gara nggak kebagian ilmu ... ilmu apa, ya? Ah, iya. Ilmu kanuragan!" jelas Atikah.
"Udahlah, nggak usah dipikirin. Mending kalian main aja, gih. Ibu nggak mau kalau sampai kalian denger kata-kata nggak jelas dari saudara Bapak," ujar Bu Inah, berusaha menampik.
"Tapi, Bu. Kata-kata Teteh ada benarnya. Buktinya Dedek pernah berantem sama mereka. Mereka emang pengin bikin Bapak sakit, makanya Dedek datang ke sini pas Bapak muntah-muntah," kata Sukma membenarkan Atikah.
"Hus! Kalian ini. Sudah main dulu sana! Nanti Ibu panggil kalian lagi kalau mau pulang, ya," ucap Bu Inah.
Kedua putrinya berlari ke halaman depan rumah Emak. Bu Inah menengok ke dalam, ragu-ragu menemui saudara-saudara iparnya. Tak lama kemudian, Pak Risman pun baru pulang dari kuburan sendirian. Sukma dan Atikah pun merasa senang melihat kedatangan ayahnya.
"Pak, ayo kita pulang ke rumah Abah, Pak! Aku nggak betah di sini. Uwa sama Bibi pada jahat," ajak Atikah.
"Iya, Pak. Kita pulang, yuk!" timpal Sukma.