SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Memilih Sendirian


Setelah cukup lama menimbang-nimbang saran dari Sukma, akhirnya Andra mendapatkan suatu keputusan. Dilihatnya lagi Bu Guru yang sedang membereskan buku-buku sembari menyuruh murid-murid untuk beristirahat. Andra tertunduk sejenak, lalu menoleh pada Sukma.


"Gimana, Andra? Kamu mau, kan?"


Andra menggeleng lemah.


"Loh, kok nggak mau? Bukannya kamu bakalan senang kalau Bu Guru dan teman-teman lain bisa lihat kamu?" tanya Sukma terheran-heran.


"Aku minder, Sukma."


"Loh, minder kenapa?"


"Dulu, pernah ada anak yang bisa ngelihat aku, kayak kamu. Tapi dia malah menggigil ketakutan. Mungkin aku ini jelek. Muka aku nggak sebagus dulu. Kata anak itu, wajah aku pucat kayak mayat hidup."


"Oh, gitu, ya. Jadi, kalau anak-anak lain bisa melihat kamu, mereka akan ketakutan, gitu?"


Andra mengangguk.


"Tapi kalau Bu Guru ... kayaknya dia nggak akan takut, deh," kata Sukma.


"Setiap orang yang belum terbiasa melihat hantu, pasti akan kaget saat melihat aku. Bahkan, nggak sedikit di antara mereka yang menjerit-jerit ketakutan," jelas Andra.


"Hm." Sukma mengembuskan napas. "Kenapa, sih, orang-orang itu aneh? Ngelihat orang yang udah meninggal aja malah takut, apalagi kalau melihat Tuhan yang gedeee banget."


"Itulah kenapa, manusia tidak diizinkan melihat hal-hal gaib. Mereka tidak akan kuat jika melihat makhluk gaib yang bentuknya aneh-aneh."


"Tapi ... kenapa aku beda, ya? Aku melihat manusia dan makhluk gaib itu sama saja, loh. Buat aku, mereka sama-sama hidup."


"Mungkin kamu memang berbeda, Sukma. Tidak semua anak indigo diberi kekuatan untuk melihat makhluk tak kasat mata. Ada yang kuat, ada juga yang butuh waktu untuk menjadi kuat."


Sukma mengangguk takzim.


"Sukma, kenapa kamu nggak istirahat? Ayo, keluar sama teman-teman kamu!" ujar Bu Guru dari depan kelas.


"Aku nggak mau ke mana-mana, Bu."


"Loh, kenapa?"


Segera Sukma keluar dari bangkunya, lelu berlari menghampiri Bu Guru. Tekadnya mempertemukan Bu Guru dengan Andra, masih tetap sama. Apalagi saat tak sengaja melihat kesedihan di wajah wanita berkerudung itu, hati Sukma merasa terenyuh.


"Bu Guru, Bu Guru. Ibu mau ketemu Andra, nggak?" tanya Sukma dengan mata berbinar-binar.


"Andra? Siapa Andra?" tanya Bu Guru dengan kening mengernyit.


"Masa Ibu nggak tahu? Dia teman sebangku aku. Dia juga bilang sama aku, kalau Ibu memeluknya saat dia terakhir kali ngerasain sakit di dadanya."


Termenung Bu Guru mendengar penuturan Sukma. Diliriknya gadis kecil itu sebentar, menduga bahwa Sukma memiliki kemampuan berbeda dari anak lain. Menyadari adanya kesempatan untuk melihat Andra yang sudah tiada, Bu Guru merasa ingin sekali bertemu dengan muridnya. Akan tetapi, di sisi lain ia merasa takut, sebab Andra bukanlah manusia biasa seperti murid lainnya.


Cukup lama Sukma menunggu keputusan Bu Guru. Wanita berhijab itu mengangguk, dan Sukma menangkap maksud dari anggukan Bu Guru. Sepertinya Bu Guru setuju, pikirnya. Ketika Bu Guru mulai mengatakan sesuatu, jantung Sukma berdebar-debar.


"Enggak, Sukma. Biarkan saja dia tenang tanpa harus diganggu oleh Ibu. Kami sudah berbeda alam, beda lagi urusannya dengan manusia yang masih hidup," kata Bu Guru sembari tersenyum pahit.


"Tapi, Bu. Andra setiap hari datang ke sini. Katanya, kematian bukanlah halangan bagi Andra buat belajar."


Terenyuh hati Bu Guru mendengar penuturan Sukma. "Syukurlah kalau dia masih ingin belajar. Tapi untuk urusan melihat Andra kembali, biarlah kamu saja yang menjadi penghubung komunikasi antara Andra dan Ibu. Iya, Nak?"


"Baiklah, Bu. Kalau Ibu nggak mau, aku nggak akan maksa, kok."


"Sudah, sekarang kamu keluar dan main sama teman-teman yang lain. Mereka pasti nungguin kamu," ujar Bu Guru.


Sukma menggeleng. "Enggak, Bu."


"Loh, kenapa?"


"Mereka nggak ada yang nungguin aku, kok. Buktinya nggak ada yang mau sebangku sama aku. Pasti mereka juga nggak bakalan mau main bareng aku juga. Apa salah aku, Bu, sampai-sampai ibu mereka melarang mereka buat main sama aku? Aku, kan, nggak jahat."


Bu Guru mengangguk. "Mungkin ibu mereka khawatir karena tahu, kalau kamu pernah berbuat nggak sopan sama orang yang lebih tua?"


"Nggak sopan, Bu? Apanya yang nggak sopan? Setiap hari aku suka cium tangan orang yang lebih tua, sekalipun aku nggak kenal. Terus, aku juga nggak pernah melawan mereka, apalagi sama Pak Haji dan Aa Fadil. Kalau aku berbuat nggak sopan sama orang yang lebih tua, ibu aku langsung marah dan negur. Bahkan, kemarin aku disurih nulis 'Dedek minta maaf' seratus baris sama bapak aku," tutur Sukma dengan lugunya.


Bu Guru tersenyum pahit mendengar penuturan Sukma. Diperhatikan dari ucapannya, Bu Guru yakin, bahwa Sukma bukanlah anak nakal seperti yang orang tua siswa lain pikirkan. Terlebih saat Sukma mengatakan selalu mencium tangan orang yang lebih tua, sekalipun tidak mengenalnya. Kini, Bu Guru mulai berpikir akan cara yang harus diambil agar orang tua siswa mengerti, bahwa karakter Sukma tidak sesuai dengan dugaan mereka.


Sementara itu, di kelasnya Atikah, Dian sesekali menengok ke luar jendela kelas. Teman sebangku Atikah itu menggaruk bagian belakang kepalanya sembari mengernyitkan kening. Sesekali ia melirik ke arah teman sebangkunya, yang masih menuliskan tugas dari papan tulis.


"Hei, Atikah! Kok adik kamu nggak kelihatan, ya? Apa dia nggak istirahat?" tanya Dian terheran-heran.


"Mungkin dia lagi ke warung," jawab Atikah dengan enteng.


"Ah, masa? Dari tadi aku nggak ngelihat dia keluar kelas, loh. Apa dia nggak dikasih uang jajan sama ibu kamu?"


"Oh, gitu. Terus, kenapa nggak kelihatan, ya? Apa jangan-jangan dia lagi dijauhin teman-temannya gara-gara video itu?"


Seketika Atikah terhenyak, lalu memelotot pada Dian. "Video? Video apa?"


"Memangnya kamu nggak tahu, ya? Itu, video Sukma lagi nginjek bapak-bapak. Sekarang video itu lagi viral banget, loh. Bahkan, anak laki-laki di kelas kita punya videonya. Mereka katanya suka sama kekuatan Sukma."


"Hm, adik aku itu memang istimewa. Kamu tahu apa yang lebih mengejutkan lagi?"


"Apa?"


"Dia pernah membanting om-om botak waktu di stasiun."


"Astaga!"


"Tapi, kenapa sekarang adik aku jadi kena masalah, ya? Padahal kemarin baik-baik aja." Atikah menopang dagu sembari menatap langit-langit.


"Mungkin ibu orang tua siswa nggak suka, karena Sukma berbuat tidak sopan sama orang yang lebih tua," kata Dian.


"Gitu, ya. Pantesan dari tadi pagi orang-orang ngelihatin dia dengan sinis, belum lagi kemarin bapak sama ibu aku ngasih hukuman sama Dek Sukma. Ternyata itu penyebabnya."


"Loh, memangnya kamu nggak tahu?"


"Aku tahu, tapi aku belum paham sebabnya apa sampai Dedek Sukma dihukum."


"Begitu, ya."


Atikah lanjut menulis tugas dari papan tulis. Dalam diamnya, pikirannya terus berputar. Ia memikirkan cara melindungi Sukma dari kebencian orang-orang, jika suatu saat nanti kejadian terburuk menimpa sang adik. Atikah tahu betul, bahwa Sukma tidak mungkin berbuat senakal itu jika tak ada sebabnya.


...****************...


Sepulang sekolah, Sukma menghampiri Citra yang sedang termenung di teras kontrakan. Bu Inah yang menjemput Sukma, berusaha membujuk putri bungsunya itu untuk pulang dan ganti baju. Namun, gadis kecil itu bersikukuh tak mau mengikuti sang ibu. Katanya, nanti setelah selesai mengobrol dengan tetangganya, ia akan ke rumah kontrakannya.


Melihat sikap aneh Sukma, Bu Inah menggeleng sambil meninggalkan si bungsu dengan tetangganya. Tak lupa, sebelum pulang, Bu Inah memperingatkan Sukma untuk segera ganti baju. Sukma pun mengangguk cepat dan menegaskan, bahwa obrolannya dengan Citra tidak akan lama.


"Dedek Sukma, kenapa kamu mau duduk di sini sama Tante?" tanya Citra dengan lesu.


"Aku cuma pengin nemenin Tante aja."


"Sudah, mendingan kamu pulang dan ganti baju dulu."


"Nggak mau. Aku lagi kasihan sama Tante."


Citra tersenyum sambil membelai rambut Sukma. "Dedek, Tante nggak perlu dikasihani, kok. Kan Tante udah gede."


"Jangan bilang begitu, Tante. Biarpun Tante udah gede, Tante pasti lagi ngerasa sedih dan kesepian, kan, karena kehilangan bayi Tante?"


Citra memalingkan muka, lalu menyeka air mata yang menetes ke pipinya.


"Tante nggak usah malu. Nangis aja, nggak apa-apa kok. Aku nggak bakal ngatain Tante," ujar Sukma mengusap punggung Citra.


Citra akhirnya luluh pada ujaran Sukma, lalu tangisnya pecah. Bu Inah yang memperhatikan sikap Sukma, merasa khawatir kalau si bungsu telah mengatakan hal menyakitkan pada wanita itu. Ketika hendak bergegas menghampiri Sukma, tiba-tiba langkah Bu Inah tertahan oleh Pak Risman. Suaminya itu menyarankan padanya untuk tetap diam dan memperhatikan si bungsu saja, sebab sesuatu yang dilihat belum tentu sama dengan kebenarannya.


Sementara itu, Sukma berusaha untuk menenangkan Citra. Berselang beberapa menit, seorang gadis kecil yang tubuhnya lebih pendek dari Sukma, keluar dari rumah kontrakan Citra. Sukma melambaikan tangan padanya, dan menyuruh duduk di pangkuannya. Gadis kecil itu menurut, lalu duduk di paha Sukma.


"Sudah, Tante nggak perlu bersedih lagi. Anak Tante ada di sini, kok," ujar Sukma.


"Nggak mungkin, Dek Sukma. Anak Tante udah meninggal, dia nggak mungkin ada di sini," bantah Citra.


"Mungkin badannya nggak ada di sini, Tante, tapi jiwanya masih ada."


Tercengang Citra mendengar ucapan Sukma. Ia seolah-olah tidak percaya, bahwa jiwa anak yang dikandungnya masih hidup.


"Kalau Tante pengin lihat, aku bisa bantu Tante. Biar Tante nggak sedih lagi," saran Sukma.


"Beneran, kamu bisa bantuin Tante?"


Sukma mengangguk, "Kalau Tante mau, sini! Aku bakal bikin Tante bisa lihat anak Tante."


Citra pun beringsut mendekati Sukma. Selanjutnya, gadis kecil itu menaruh putri Citra di sebelahnya, lalu meletakkan kedua telapak tangannya ke depan mata tetangganya. Mulutnya komat-kamit, kemudian melepaskan kembali tangannya dari mata Citra.


"Sekarang Tante boleh buka mata," ujar Sukma.


Perlahan-lahan, Citra membuka mata. Sukma menyuruhnya berbalik badan ke arahnya. Terlihat gadis kecil yang berdiri di sebelah Sukma, sedang tersenyum pada Citra. Pada awalnya, wanita itu terhera-heran pada sosok gadis kecil yang baru dilihatnya kali ini.


"Ibu," kata gadis kecil itu dengan senyum semringah.


Betapa terharunya Citra mendengar kata itu keluar dari mulut si gadis kecil. Air matanya meleleh, hatinya merasa bahagia. Ia sangat senang telah melihat putrinya untuk pertama kali. Sukma pun ikut senang, melihat raut semringah tergambar jelas di wajah Citra yang murung sejak tadi.