SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Sebuah Pertanyaan


Atikah memandang kosong pada sang ibu yang sedang membantu ayahnya mengemas barang dagangan. Sesekali matanya tertuju pada perut Bu Inah, lalu mengingat-ingat kapan ibunya itu mengandung adiknya selama sembilan bulan. Sesuatu yang diingatnya hanya saat Pak Risman pergi memulung, dan tak lama kemudian, ayahnya kembali lagi sambil membawa bayi yang masih merah. Terlintas di benaknya, bahwa Sukma bukanlah adiknya, melainkan anak pungut yang dibawa sang ayah dari tempat pembuangan sampah. Akan tetapi, ia tak mau buru-buru menyimpulkan. Harus ada penjelasan dari kedua orang tua, pikirnya.


Selesai membereskan buku PR, Atikah menghampiri ibunya. Tampak keraguan di wajah gadis kecil itu ketika mulai berhadapan dengan Bu Inah. Kendati demikian, ia tak mau melewatkan momen terbaik untuk menanyakan perihal asal-usul sang adik. Atikah menepuk bahu ibunya yang sedang sibuk membungkus bahan makanan.


"Bu, aku mau nanya sesuatu," ucap Atikah tergugu.


"Mau nanya apa?"


"Bu, apakah Dedek adalah adik kandung aku?" tanya Atikah sembari menatap ibunya dengan ragu.


Bu Inah menoleh sembari mengernyitkan kening. "Kenapa kamu nanya begitu? Apa kamu ragu untuk mengakui kalau Dedek Sukma itu adi kamu di depan teman-teman?"


"Bukan begitu, Bu. Tadi Temen-temen aku lihat Dek Sukma. Kata mereka, muka Dedek beda sama kita. Dedek lebih cantik dari aku, Bu. Hidungnya juga mancung, sedangkan aku?"


"Kalau fisik Dedek beda, itu bukan berarti kamu harus meragukannya sebagai adik kamu juga, Atikah."


Atikah termenung sejenak, kemudian menatap ibunya lagi. "Tapi, aku heran, Bu. Kapan Ibu mengandung dan melahirkan Dedek? Seingat aku, Dedek cuma dibawa pulang sama Bapak. Itu aja."


Bu Inah berusaha tak menghiraukan perkataan Atikah. Ia berpura-pura sibuk mengemas bahan makanan, tanpa menatap putrinya sedikit pun. Tentu saja, Atikah yang masih penasaran, berusaha mencari tahu lebih dalam soal adiknya.


"Bu, apa Dedek itu anak pungut kayak di TV gitu?"


Kali ini Bu Inah terperangah mendengar pertanyaan Atikah. Perlahan-lahan, ia menarik napas, berusaha meredam kekesalan yang akan meledak sesaat lagi. Bagaimanapun juga, Bu Inah perlu bersabar dan berusaha menjelaskan kebenarannya pada Atikah. Tak pantas jika ia harus lari dari kenyataan, saat ditanyai perihal Sukma yang perlu diketahui Atikah.


"Kalau Dedek bukan adik kandung kamu, memangnya kamu mau apa? Kamu nggak akan mengakuinya sebagai adik, begitu?" tanya Bu Inah dengan raut lesu.


"Ih, kok Ibu ngomongnya gitu? Tentu saja aku tetap mau ngakuin Dedek sebagai adik aku. Dia, kan, suka main sama aku dari kecil, terus penyayang juga."


"Kalau begitu, ya sudah. Nggak ada masalah, kan?"


"Tapi, Bu. Kalau orang lain tahu Dedek itu anak pungut, apa Ibu bakal marah?"


"Siapa yang akan mengumbar-umbar kalau Dedek itu anak pungut? Selama kita diam dan enggak ngungkapin kebenaran soal Dedek di hadapan semua orang, semuanya akan baik-baik aja. Lagi pula, kalau Dedek tahu dia itu anak pungut, Dedek bakalan sedih dan mencari orang tua kandungnya. Apa kamu mau kalau sampai itu terjadi?"


Atikah menggeleng. "Enggak, Bu. Aku sayang sama Dedek. Aku nggak mau Dedek sedih. Kalau Dedek sampai tahu dia itu anak pungut, kita mau mencari orang tuanya ke mana?"


"Itulah yang Ibu pikirkan. Sebaiknya, untuk saat ini kamu jangan banyak bicara soal kebenaran Dedek. Nanti Ibu sama Bapak akan memberitahu Dedek kalau waktunya sudah tepat."


"Baik, Bu."


Sementara itu, Sukma asyik berlari-lari di area kontrakan bersama Wanara. Hatinya sangat senang tatkala mendengar Wanara sudah menghabisi wanita tua yang mengganggu perempuan hamil di kontrakan depan tempat tinggalnya. Wanara melompat-lompat di belakangnya, sambil termenung memikirkan sesuatu.


Menyadari Wanara diam saja, Sukma berhenti berlari, kemudian menoleh. "Ada apa, Wanara? Kok kamu diam aja?" tanya Sukma.


"Ah, tidak. Aku hanya kelelahan," jawab Wanara seraya menyengir.


"Kamu mau pisang? Aku bawain dulu, ya."


Wanara mengangguk. Sukma tersenyum lebar, kemudian menuruni anak tangga satu per satu. Langkahnya kian cepat ketika akan memasuki kontrakan, hingga akhirnya melihat perempuan hamil sedang menyapu lantai di seberang rumah kontrakannya.


"Hai, Tante! Tante lagi nyapu, ya?" sapa Sukma dengan semringah.


"Iya. Adek lagi asyik main sendirian, ya. Kelihatan seneng banget," kata perempuan itu.


"Enggak, Tante. Aku lagi main sama monyet peliharaan aku. Namanya Wanara," jelas Sukma.


"Monyet?! Di mana? Perasaan, Tante nggak lihat apa-apa di sini?" tanya perempuan itu sembari memandang ke segala arah, mencari hewan yang dimaksud.


"Dia lagi di atas, Tante. Lagi gelantungan."


Perempuan itu semakin heran.


"Udah dulu, ya, Tante. Aku mau bawa pisang dulu ke dalam. Dadah!"


Sukma melepaskan sandalnya, lalu masuk ke rumah kontrakannya untuk mencari pisang. Akan tetapi, ketika berada di ambang pintu, Sukma merasa ada yang memperhatikannya dari dalam rumah si perempuan hamil tadi. Sejenak, ia pun menoleh. Tak ada yang aneh di sana. Sukma pun lanjut masuk ke rumahnya, tanpa menghiraukan hal aneh yang ada di kontrakan seberang.


Rupanya, si wanita tua pemakan bayi, luput dari pandangan Sukma. Ia merasa lega, setelah tahu anak iblis itu masuk ke rumah. Masih diingatnya baik-baik pesan dari Wanara, bahwa ia harus tetap bersembunyi di dalam rumah agar tidak diketahui oleh Sukma. Wanita tua itu menurutinya dan berterima kasih banyak atas bantuan yang diberikan Wanara.


Lain si wanita tua, lain pula Wanara. Hatinya terus saja dirundung gelisah setelah memutuskan untuk membantu si wanita tua dalam menjalankan kemauannya. Sesekali ia memandang ke bawah, memastikan bahwa Sukma tak melihat si wanita tua yang sudah dibantunya.


Gelagat aneh Wanara diketahui oleh Sancang, khodam berupa macan putih yang selalu menjaga Mang Ujang. Untuk sesaat, ia meninggalkan Mang Ujang, merasa penasaran pada si kera tengil yang menjahilinya sejak datang ke kontrakan. Bagi Sancang, tak biasanya Wanara gelisah dan murung sekalipun berada di dekat Sukma.


"Keur mikiran naon silaing téh? Ti tadi ku kuring ditingalian, siga nu boga kasieun," kata Sancang menatap Wanara seperti sedang menyelidik. (Sedang memikirkan apa kamu? Dari tadi aku lihat, seperti sedang ketakutan.)


"Henteu," jawab Wanara singkat. (Tidak)


"Ah, tong sok ngawadul. Katingali tina rupa silaing anu hayoh waé cicing ti saprak ngobrol jeung nini-nini nu nuturkeun awéwé keur kakandungan. Sok, bébéja ka kuring. Saleresna aya naon silaing nepi ka sieun kitu?" bujuk Sancang. (Ah, jangan suka berbohong Terlihat dari rupamu yang terus saja diam sejak mengobrol dengan nenek-nenek yang mengikuti wanita sedang hamil. Ayo, bilang sama aku. Sebenarnya ada apa denganmu sampai takut begitu?)


Wanara memandang waspada, memastikan Sukma tak cepat-cepat datang ke sana.


"Sabenerna kieu. Tadi babaturan aing nitah maéhan nini-nini éta. Ngan, ku sabab aing karunya ka manéhanana pédah can dahar ti saprak ngadagoan babaturan aing, jadi wé ku aing diijinan nuturkeun awéwé nu keur kakandungan éta," jelas Wanara. (Sebenarnya begini. Tadi temanku menyuruh untuk membunuh nenek-nenek itu. Tapi, karena aku merasa kasihan padanya karena belum makan sejak menunggui temanku, jadi aku mengizinkannya untuk mengikuti wanita hamil itu.)


"Oh, paingan atuh. Naha laina geura paéhan sakalian? Mun sakirana dedemit eta ngarugikeun batur, paéhan wé ku silaing," kata Sancang. (Oh, begitu. Kenapa bukannya dibunuh saja sekalian? Kalau sekiranya dedemit itu merugikan orang lain, bunuh saja olehmu.)


"Terus, ayeuna aing kudu kumaha atuh?" tanya Wanara kebingungan. (Terus, aku harus gimana dong?)


"Kalian lagi ngomongin apa? Kok serius gitu?" tanya Sukma menyela.


"T-tidak, tidak. Kami tidak sedang membicarakan apa-apa," jawab Wanara tergagap-gagap.


Tanpa berpamitan, Sancang melompat dari lantai atas dan menghampiri tuannya. Sukma tak menghiraukan harimau putih itu. Ia justru tersenyum lebar memberikan pisang pada Wanara.


Kera piaraan Sukma itu dengan senang hati menerima dua buah pisang. Dengan lahap, ia memakan buah kesukaannya sampai tak tersisa. Wanara berusaha menyembunyikan kegelisahannya di balik tingkah lincahnya. Ia berharap, Sukma tidak menyadari bahwa ia sudah mengizinkan wanita tua itu untuk memakan janin di dalam rahim perempuan yang sedang hamil itu.


...****************...


Haji Gufron sedang termenung memikirkan kejadian tadi pagi. Teringat jelas dalam pikirannya, betapa aneh gelagat Pak Beni tatkala berada di depan gerbang kontrakannya. Ia curiga, bahwa pria berbadan gemuk itu memiliki niat jahat agar kontrakannya tidak laku lagi.


Dari kamar, Fadil keluar memperhatikan ayahnya yang sedang termenung di ruang tamu. Terlihat TV masih menyala, sedangkan tatapan mata Haji Gufron justru kosong. Dengan mengerutkan dahi, Fadil duduk di sebelah sang ayah, lalu melambaikan kedua tangannya di depan mata Haji Gufron hingga terhenyak.


"Pak, Bapak lagi mikirin apa?" tanya Fadil.


"Enggak, Bapak lagi mikirin kejadian tadi pagi," jawab Haji Gufron singkat.


"Emangnya tadi pagi ada apa? Ada perempuan cantik yang Bapak taksir, ya?"


Haji Gufron memukul punggung Fadil dan berkata, "Kamu ini kalau ngomong sembarangan aja. Memangnya kamu mau punya ibu tiri?"


"Habisnya Bapak aneh, sih. TV dinyalain, malah ngelamun. Ngomong-ngomong, ini udah dua tahun loh, Pak. Emangnya Bapak nggak mau nyari pengganti Ibu?"


"Bapak udah malas nyari pengganti ibu kamu, Dil. Kebanyakan, sekarang itu perempuan cuma pengin harta doang. Nggak kayak ibu kamu. Dia setia menemani Bapak dari nol, dari mulai merintis usaha pecel lele sampai punya kontrakan. Emangnya kamu mau kalau punya ibu tiri yang galak, terus kamu nggak kebagian warisan?"


"Ya enggak juga lah, pak. Anak satu-satunya mana mau punya ibu yang galak, apalagi sampai nggak kebagian warisan orang tua."


"Makanya, kamu jangan yang aneh-aneh."


"Tapi seenggaknya kalau ada istri baru, Bapak ada yang ngurus. Lauk pauk buat makan juga bisa bermacam-macam. Bukan pecel lele lagi, pecel lele lagi."


"Kalau kamu nggak suka makan pecel lele, belajar masak aja. Kamu ini laki-laki, tapi nggak bisa masak. Aneh."


"Urusan masak memasak mah bagian buat perempuan atuh, Pak. Laki-laki mah bagian makannya aja."


Haji Gufron menoyor kepala Fadil dan berkata, "Masak mah nggak memandang laki-laki atau perempuan. Kamu tahu Chef Juna? Dia itu laki-laki, bisa masak. Lah, kamu?"


"Iya deh iya. Bapak mah suka bener kalau ngomong téh."


Haji Gufron melipat kedua tangannya sambil sesekali mendelik pada Fadil.


"Jadi, sebenernya Bapak ini lagi mikirin apa? Masih kepikiran sama orang yang naruh gulungan kain kafan itu?" tanya Fadil, raut mukanya mulai serius.


"Iya, Dil. Tadi pagi pas Bapak nganter yang mai nyewa kontrakan, Bapak nggak sengaja lihat Pak Beni lagi jalan ke kontrakan sambil menilik-nilik gitu."


"Terus, sama Bapak ditanya nggak?"


"Ya ditanya lah. Bapak tanya, 'kamu mau ke mana?', tapi dia jawabnya mau ke rumah temen."


"Tapi beneran nggak itu téh dianya mau ke rumah temen?"


Haji Gufron mengedikkan bahu. "Bapak juga nggak tahu. Tapi pas Bapak lihat sekilas, dia malah balik lagi ke rumahnya."


"Oh, jangan-jangan bener, Pak. Dia emang ada apa-apanya sama kontrakan kita. Ngapain juga Pak Beni jalan kaki buat lihat-lihat kontrakan? Kurang kerjaan banget kalau dipikir-pikir mah."


"Iya juga, ya." Haji Gufron mengangguk takzim. "Terus, kita harus ngapain buat mergokin sekaligus nangkap dia? Yang namanya urusan gaib, kan, nggak bisa diselesaikan secara manusiawi."


"Maksud Bapak, nggak bisa diselesaikan secara manusiawi gimana? Kita harus ngehajar Pak Beni kalau beneran kepergok, gitu?"


"Euh ... kamu ini anak kuliahan, tapi otak kayak preman pasar. Bukan itu maksud Bapak!"


"Terus gimana? Katanya nggak bisa diselesaikan secara manusiawi."


"Maksud Bapak, gini loh. Kan yang namanya perdukunan atau ilmu sihir itu nggak kelihatan. Kalaupun minta bantuan polisi, mereka nggak akan nemuin bukti perlengkapan sihir. Bapak pengin, kita minta bantuan paranormal lagi, biar orang yang nyimpen jin atau apalah itu namanya, bisa dihukum."


"Oh, jadi Bapak mau nyantet balik orang yang ngusilin kontrakan kita, gitu? Itu mah sama aja dengan ngehajar orang atuh, Pak. Mending baku hantam aja sekalian, biar dia tahu rasa."


"Nggak gitu juga, Fadil. Kalau Bapak nyantet dia mah sama aja berbuat jahat."


"Terus, Bapak maunya gimana?"


"Pokoknya Bapak pengin orang itu dihukum dengan cara yang gaib juga. Kalau dia dihukum dengan cara manusiawi, takutnya malah nekat lagi pake ilmu hitam dan perdukunan."


"Iya deh, Pak. Fadil ngikut aja. Terus, Bapak mau minta bantuan siapa? Pak Suwandi?"


"Enggak ah. Dia mah bisanya cuma nyembuhin orang kesurupan doang. Kalau sampai nggak berhasil, kasihan dia, ilmunya bakal ngilang, terus sakit-sakitan. Menurut Bapak mah, dukun yang ngirimin jin ke kontrakan kita kayaknya lebih sakti euy."


"Terus, mau minta bantuan siapa dong? Sukma, anak bungsunya Pak Risman?"


Haji Gufron tersenyum lebar mendengar nama Sukma keluar dari mulut Fadil. Ia masih ingat betul, saat gadis kecil itu mengambil bungkusan kain dari dekat gerbangnya. Akan tetapi, pria paruh baya itu berpikir ulang. Jika sampai usaha Sukma gagal, maka masa depan nasib gadis kecil itu akan hancur.