
Sebulan setelah kejadian mengerikan di atap rumah Pak Risman, Wanara kerap berpikir keras untuk berpamitan pada Sukma. Ia tahu betul, watak gadis yang baru saja beranjak remaja itu cukup keras. Pasti akan sangat sulit untuk mengucapkan perpisahan pada perempuan sebaik Sukma. Maka dari itu, si kera yang baru saja mendapat pencerahan tentang Sang Pencipta selalu menyimpan rapat-rapat kisah mengerikan malam itu. Bahkan, ia kerap menghitung waktu, menunggu waktu yang tepat untuk berpamitan sebelum purnama ketujuh tiba.
Adapun Sukma yang merasa janggal dengan sikap Wanara akhir-akhir ini, hanya bisa menyimpan rasa curiga. Ia tak mau menerka-nerka begitu jauh. Walaupun firasatnya selalu mengatakan bahwa si kera kesayangan akan segera pergi, gadis itu terus menepis prasangka buruk jauh-jauh. Sukma berusaha tetap tenang dan mempelajari setiap hal yang diajarkan Wanara tanpa banyak bertanya.
Hingga saat liburan akhir semester hampir tiba, Wanara mulai melancarkan rencananya untuk pulang ke tempat semula ia berasal. Ketika guru-guru memulai rapat, kera itu masuk ke ruangan, mencari salah satu guru yang pikirannya sering kosong dan melamun. Cukup lama ia memperhatikan gerak-gerik semua guru, akhirnya ada satu guru yang melamun. Tanpa berpikir panjang, kera itu merasuk ke tubuh guru olahraga bernama Pak Anwar.
"Maaf, saya mau menyela," kata Wanara di tubuh Pak Anwar. "Bagaimana kalau kita mengajak para siswa pergi ke Gunung Ciremai untuk mengisi kegiatan sebelum libur panjang? Anak-anak juga butuh liburan, kan?"
"Gunung Ciremai? Tidak, Pak. Itu bukan ide yang bagus. Gimana kalau nanti anak-anak kelelahan? Lagi pula, naik gunung itu bukan perjalanan yang mudah. Perlu banyak bekal dan persiapan. Belum lagi kalau sampai ada anak yang hilang. Aduh, aduh ... nanti kita lagi yang repot," sanggah guru matematika tak setuju.
"Lelah itu hal yang wajar, Bu. Kalau sampai ada anak yang hilang, berarti kita harus mengawasi mereka lebih ketat. Apa salahnya, sih, mengajak anak-anak untuk mengenal alam lebih dekat?" kata Pak Anwar meyakinkan.
"Tapi kan nggak harus Gunung Ciremai, Pak Anwar. Masih banyak tempat liburan yang aman buat anak-anak, Gunung Tangkuban Perahu misalnya. Itu lebih dekat dari sini," ucap guru IPA.
"Ah, itu tidak menantang, Pak. Anak-anak pasti lebih suka ke daerah yang jauh, yang belum pernah dikunjungi sebelumnya. Saya yakin, kalau tujuannya ke Gunung Tangkuban Perahu, akan banyak siswa yang tidak ikut," tukas Pak Anwar.
"Sudah, sudah. Menurut saya, daripada mengajak anak-anak liburan ke tempat yang disebutkan oleh Pak Anwar dan Bu Lastri tadi, lebih baik pilih tempat wisata yang lebih aman. Di Bandung ini banyak tempat bagus kok, bisa ke Ciwidey, Ranca Upas, atau daerah Bandung Barat," saran guru IPS.
"Tidak, tidak. Saya yakin, daerah yang disebutkan Bapak tadi tidak sebanding dengan Gunung Ciremai. Ayolah! Sekali-kali ini saja kok pergi ke sana," ketus Pak Anwar bersikukuh pada pendapatnya.
"Kalau Pak Anwar tetap pengin anak-anak ke Gunung Ciremai, Bapak harus tanggung jawab penuh. Mau kelas berapa saja yang ikut? Kalau semuanya, pasti harus sewa bus yang banyak," kata guru BK.
"Kelas satu dan dua saja. Apa itu tidak terlalu banyak?" tanya Pak Anwar, raut mukanya yang semula tegang mulai terlihat santai.
"Apa?" Semua guru tercengang dan saling tatap satu sama lain.
"Pak Anwar, anak-anak kelas satu masih beradaptasi. Belum lagi usia mereka masih sangat dini, tidak mungkin untuk kita mengajak mereka pergi ke gunung. Bagaimana kalau kelas dua saja?" saran guru bahasa Inggris.
"Kalau bisa, anak-anak kelas satu juga ikut. Saya akan bertanggung jawab penuh," ucap Pak Anwar meyakinkan.
"Apa Bapak yakin?" tanya guru matematika ragu.
Pak Anwar mengangguk pasti.
"Kalau begitu, tentukan waktu dan biayanya. Nanti akan kami sampaikan ke kepala sekolah dan para murid," ucap guru BK.
"Pasti kepala sekolah nggak akan setuju," ketus guru matematika. "Lagian Pak Anwar ini kesambet apaan, sih, punya ide kayak gitu?"
Pak Anwar hanya menyunggingkan senyum. Wanara yang ada di dalam tubuhnya merasa senang bukan main. Mempengaruhi manusia bukanlah hal yang asing baginya, terlebih sudah berpengalaman menjadi makhluk penghasut dan pesugihan.
Hasil diskusi para guru pun segera disampaikan pada kepala sekolah. Tak disangka, pendapat Pak Anwar disetujui oleh orang nomor satu di sekolah. Namun, di balik persetujuannya, kepala sekolah menyimpan tujuan lain untuk pergi ke Gunung Ciremai. Rupanya, ia sudah lama ingin mengetahui pesugihan di daerah Kuningan dan berminat untuk melakukannya.
Seiring dengan disetujuinya pendapat Pak Anwar, berita tentang liburan ke Gunung Ciremai cepat menyebar di kalangan siswa. Beragam reaksi yang ditunjukkan oleh mereka. Ada yang menyambutnya dengan antusias, ada pula yang merasa cemas. Sementara itu, Sukma menanggapi dengan dingin berita tentang liburan itu. Bahkan, gadis itu cenderung menyimpan curiga pada Wanara. Baginya, tidak mungkin ada guru yang sekonyong-konyong ingin mengajak para murid pergi ke sana, mengingat pendakian gunung bukanlah hal menyenangkan bagi banyak siswa.
Sepulangnya dari sekolah, Sukma mengajak Wanara berbicara di taman dekat rumahnya. Sesekali gadis itu menatap sinis pada si kera. Wanara tampak canggung dan tergugu melihat sikap temannya yang tampak curiga.
"Wanara, aku mau nanya sesuatu. Apa kamu melakukan hal aneh selama di sekolah sampai ada guru yang tiba-tiba pengin pergi ke Gunung Ciremai?" tanya Sukma menatap tajam.
Wanara terkekeh sembari menggaruk belakang kepalanya.
"Jangan bilang kalau itu perbuatan kamu!"
"Maaf, Sukma."
"Tapi bagaimana kalau orang tua kamu tidak setuju mengantarku? Lagi pula, jika aku pulang, aku tidak akan kembali ke dalam hidupmu. Aku juga khawatir, kamu akan tersesat saat pulang pada keluargamu nanti. Banyak dedemit jahil yang suka menyesatkan pendaki di sana," jelas Wanara.
Seketika Sukma tercenung. Alisnya saling bertaut dan mengerut. "Apa maksudnya nggak bakal kembali ke hidup aku?"
"Ya, aku tidak akan berurusan lagi dengan manusia dan menjadi makhluk pesugihan lagi. Aku akan menetap di Gunung Ciremai."
"Kok gitu, sih? Bukannya kamu bakal ngajarin banyak hal sama aku? Kalau kamu mau menetap di Gunung Ciremai dan nggak balik lagi ke sini, terus siapa yang mau nemenin aku? Aku nggak punya teman lagi selain kamu dan Giska. Aku nggak terlalu kenal deket sama temen-temennya Giska," cerocos Sukma dengan mata berkaca-kaca. "Terus, nanti kalau ada dedemit lain yang gangguin, siapa yang bakal bantuin aku?"
Wanara tertunduk lesu sembari menepuk pundak Sukma. Ditatapnya wajah gadis itu dengan sendu dan berkata, "Sukma, kamu pasti paham betul bahwa setiap ada pertemuan selalu ada saatnya perpisahan. Kemampuanmu melawan dedemit sudah sangat baik, bahkan lebih hebat dariku. Tugasku mengajarimu sudah selesai. Saatnya aku pulang pun hampir tiba. Aku harus pulang sebelum purnama ke tujuh."
"Enggak, Wanara. Kamu nggak boleh pulang ke Gunung Ciremai!" sergah Sukma sembari memeluk kera kesayangannya, dengan air mata yang mulai berderai membasahi pipi. "Kamu sama aku aja. Nanti aku kasih pisang yang banyak."
Wanara melepaskan pelukan Sukma, lalu menyeka air mata gadis itu. "Tidak, Sukma. Jika aku tidak pulang pada purnama ke tujuh, maka kamu tidak akan pernah melihatku lagi. Aku akan mati."
"Mati? Memangnya siapa yang akan membunuh kamu? Katakan! Biar aku lawan dia."
"Kamu tidak akan pernah bisa melawannya," kata Wanara dengan nada tinggi dan menatap dalam-dalam kedua mata Sukma. "Sebaiknya sekarang kamu pikirkan baik-baik! Aku tetap di sini dan mati atau membiarkan aku pulang ke Gunung Ciremai dan kamu masih bisa melihatku sesekali? Jika kamu memilih untuk melawannya, maka kita berdua yang akan mati."
Sukma tertegun, kemudian menyeka air matanya. Mau tidak mau, ia harus membiarkan perpisahan mereka tetap terjadi. Wanara harus tetap hidup, pikirnya. Waktunya perpisahan pun akan datang seiring perjalanan liburan sekolah tiba.
...****************...
Menjelang Magrib, seperti biasa Pak Risman dan keluarganya membuka angkringan pecel lele. Peralatan dagang sudah disiapkan, mulai dari kursi dan meja tempat pelanggan menikmati hidangannya, sampai kompor dan wajan untuk menggoreng lele. Usahanya benar-benar mengalami kemajuan seiring usia Sukma bertambah.
Akan tetapi, keberhasilan Pak Risman menjalani usaha pecel lele tak luput dari pandangan iri dan dengki. Seorang pria seusia Pak Risman membuka usaha yang sama di seberang jalan, namanya Pak Jaka. Beberapa bulan lalu ia mulai membuka usaha pecel lele, tapi dagangannya tak selaris angkringan ayah angkat Sukma. Berkali-kali Pak Jaka mencari tahu rahasia kesuksesan saingannya itu, bahkan tak segan mencoba hidangan pecel lele buatan Pak Risman. Ternyata rasanya sama saja dengan pecel lele buatannya.
Saking penasarannya dengan usaha Pak Risman yang laris manis, Pak Jaka pun mencoba mencari tahu hal yang berkaitan dengan metafisik. Ya, dia menanyakan pada dukun langganannya yang pernah memberikan penglaris berupa makhluk pendek mirip kurcaci. Makhluk itu kerap mengencingi makanan pelanggan, yang katanya bisa bikin nikmat dan mengundang banyak pembeli. Namun rupanya, itu tidak sebanding dengan banyaknya pelanggan yang datang ke angkringan Pak Risman.
Malam ini, si dukun langganan Pak Jaka datang memperhatikan angkringan milik Pak Risman. Dari kejauhan, ia memperhatikan gerak-gerik kedua putri saingan Pak Jaka. Ketika melihat Sukma, si dukun mengangguk takzim, lalu bergegas pergi ke angkringan Pak Jaka.
Dari salah satu pohon pinggir jalan, si dukun melambaikan tangan ke arah Pak Jaka. Pria itu segera berlari mendekati dukunnya dengan penasaran.
"Dia juga pakai penglaris," bisik dukun itu.
Pak Jaka terkejut bukan main. Ia tak percaya, bahwa pria yang getol beribadah pun memakai penglaris agar usahanya maju. "Ah, yang bener, Mbah? Dia itu ibadahnya rajin loh. Mana mungkin pakai penglaris."
"Kalau kamu nggak percaya, lihat anaknya yang aneh itu! Yang mukanya pucat kayak mayat. Nah, dia itu penglarisnya," jelas si dukun menunjuk ke arah Sukma.
Pak Jaka mengangguk, lalu menatap dukunnya dengan wajah cemas. "Oh, pantesan. Terus aku harus gimana? Nambah penglaris lagi?"
"Sebaiknya cari tempat lain. Nanti daganganmu akan lebih laris."
"Enggak, Mbah. Ini lokasi strategis. Aku nggak mau pindah, lebih enak di sini," sanggah Pak Jaka. "Emangnya Mbah nggak bisa hancurin usaha saingan saya aja?"
"Aduh, kalau itu saya nggak bisa. Penglaris punya Pak Risman sangat kuat. Kalau usahanya dimatikan, nanti saya juga ikut mati."
"Ah, Mbah ini gimana, sih?"
"Kalau kamu mau mematikan usaha dia, akan saya kenalkan dengan rekan saya. Namanya Mbah Kasiman. Dia lebih sakti dari saya," saran si dukun.
Pak Jaka termenung sejenak memikirkan pendapat dukunnya. Tak pikir panjang, pria itu mengangguk setuju. Bagaimanapun juga, ia harus lebih sukses dari saingannya. Si dukun pun menentukan waktu yang tepat untuk bertemu dengan Mbah Kasiman, mengingat tak sembarang hari rekannya dapat ditemui.