
Sukma masuk ke kelas dengan tertunduk lesu. Hatinya masih sedih mendengar perkataan ibunya Nauval yang menyakitkan. Bahkan, saat hendak duduk di bangkunya, Sukma diusir oleh temannya yang bernama Lulu.
"Loh, kenapa aku nggak boleh duduk di sini? Aku, kan, sama-sama pengin belajar."
"Kamu nggak boleh duduk di sini. Kata mama, kalau aku bergaul sama kamu, nanti aku jadi ikut-ikutan nggak sopan sama orang tua," jawab Lulu dengan entengnya.
"Begitu, ya. Ya udah, aku cari bangku yang lain aja."
Sukma berjalan dengan lesu, mencari-cari bangku kosong sekaligus teman yang sudi duduk bersamanya. Akan tetapi, tak ada seorang pun yang mau sebangku dengannya. Alasannya tetap sama, orang tua mereka tak mengizinkan untuk berteman dengan Sukma.
Setelah cukup lama mencari tempat duduk, akhirnya langkah Sukma terhenti di bangku kelas paling pojok. Jarak antara papan tulis dan dirinya cukup jauh, sehingga kehadiran Sukma luput dari pandangan guru. Selain itu, bangku yang didudukinya cukup kotor dan sudah usang. Ah, benar-benar menyedihkan sekali hari ini bagi Sukma.
Sambil menunggu jam pelajaran pertama tiba, Sukma membuka buku. Namun, ketika hendak mengambil alat tulis, ketenangan Sukma terusik oleh kehadiran Nauval bersama kedua teman lelakinya, Ajun dan Boni. Anak laki-laki itu sekonyong-konyong duduk di sebelah Sukma sambil menatapnya dari atas sampai bawah dengan tatapan terkesima.
"Ada apa kamu ngelihatin aku kayak gitu?" tanya Sukma mengernyitkan kening.
"Kamu hebat, Sukma! Bisa ngalahin bapak-bapak sampai nggak bisa bangun lagi! Kamu dapat kekuatan dari mana? Apa kamu makhluk dari Planet Crypton kayak Superman?" tanya Nauval dengan mata berbinar-binar.
"Planet Crypton? Superman? Emangnya aku kelihatan kayak alien, ya? Aku juga manusia biasa kayak kalian," jawab Sukma menegaskan.
"Kamu bukan kelihatan kayak alien, Sukma, tapi Manusia Super!" decak Ajun terkesima sembari tersenyum lebar.
"Benarkah?" tanya Sukma dengan senyum mengembang.
"Iya! Ngomong-ngomong, kamu dapat kekuatan dari mana? Aku lihat video kamu di hape, bapak-bapak itu sampai menjerit-jerit gitu," tanya Boni heran.
"Aku nggak tahu. Cuma waktu itu aku lagi sebel aja sama bapak-bapak rambut gondrong karena udah nyulik monyet aku," kata Sukma.
"Oh, gitu. Orang jahat memang harus ditumpas, Sukma. Anehnya, mama aku nggak mau ngerti. Katanya kamu itu nggak sopan, padahal apa salahnya buat merebut kembali hak kamu?" tutur Nauval.
"Oya, Sukma. Apa kamu pernah melawan orang jahat yang lain juga?" tanya Ajun penasaran.
"Iya. Aku juga pernah ngelawan om-om botak di stasiun. Dia nyuri koper bapak aku, terus aku banting aja sekalian badannya biar nggak nyuri lagi," jawab Sukma dengan raut wajah antusias.
"Wow!" decak ketiga anak laki-laki itu terkagum-kagum.
"Sukma, lain kali ajarin kita berantem dong," pinta Nauval.
"Berantem? Enggak, ah. Aku nggak suka berantem," tolak Sukma, menggeleng cepat.
"Loh, kok gitu? Padahal kamu itu kuat loh! Masa nggak mau ngajarin kita?" tanya Boni.
"Soalnya, kalau kalian diajari, nanti malah jadi berantem beneran. Anak laki-laki beda sama anak perempuan. Ada yang nyinggung dikit aja langsung berantem. Kayak kakek-kakek di rumahnya Om Hilman."
Nauval yang bersikukuh, kembali memohon, "Tapi, Sukma, kami janji nggak akan--"
Belum tuntas kata-kata di mulutnya terucap, seorang guru telah masuk ke kelas dan menyuruh semua murid duduk di bangku masing-masing. Nauval dan kedua temannya segera berlari ke bangkunya, meninggalkan Sukma seorang diri di pojok kelas. Murid-murid yang semula gaduh, seketika terdiam saat guru datang.
Setelah mengucapkan salam pada guru dan berdoa, Sukma duduk kembali sambil membuka buku yang diperintahkan oleh sang pengajar. Ketika hendak menulis tugas yang dicontohkan guru di papan tulis, tanpa sengaja Sukma melihat sosok anak laki-laki berjalan dari arah pintu. Kehadirannya seakan-akan luput dari pandangan guru. Anak itu melenggang dengan santainya, hingga duduk di sebelah Sukma.
"Kamu siapa? Kok aku baru lihat kamu di sini? Kamu lagi sakit, ya? Kulit kamu pucat begitu, bibir kamu juga biru," kata Sukma terheran-heran.
"Aku Andra, kamu baru ngelihat aku, ya," kata bocah laki-laki berkulit pucat pasi itu seraya tersenyum lebar.
"Iya, aku baru ngelihat kamu di sini. Kamu baru masuk sekolah hari ini?"
Andra menggeleng cepat. "Aku udah lama sekolah di sini, bahkan sebelum kamu datang."
"Apa?! Jadi, kamu nggak naik kelas?"
Andra tertunduk lesu.
"Ah, baiklah. Sekarang sebaiknya kamu buka bukunya. Bu Guru nyuruh kita nulis itu," ujar Sukma menunjuk papan tulis.
Andra mengangguk, lalu mengambil alat-alat tulis dari tasnya. Sementara itu, Bu Guru menegur Sukma yang berbicara sendiri di bangku pojok kelas. Sukma pun menurut, lalu menuliskan huruf dan angka yang tertulis di papan tulis.
"Andra, kok Bu Guru dari tadi nggak ngelihat ke kamu? Dia malah bilang ke aku, kalau aku ngomong sendiri. Bu Guru aneh, ya," kata Sukma terheran-heran sembari sesekali menatap pada Andra.
"Nanti aku ceritain kenapa Bu Guru nggak bisa ngelihat aku. Kamu nulis aja dulu."
"Oke."
Sukma melanjutkan kegiatannya menulis. Sementara itu, Andra sudah selesai menulis dengan cepat. Akan tetapi, Bu Guru tetap saja tak memperhatikannya, sekalipun Andra menyerahkan buku tulis ke mejanya.
Selesai menulis, Sukma menyerahkan bukunya ke meja guru. Setelah itu, ia duduk kembali ke bangkunya dengan wajah heran. Gadis kecil itu menatap teman sebangkunya dengan heran sambil menopang dagu.
"Aku heran sama kamu. Kenapa dari tadi Bu Guru sama teman-teman yang lain kayak nggak ngelihat ke kamu? Apa kamu ini kayak Maurin?" tanya Sukma tak sabar.
"Maurin? Siapa dia?" Andra balik bertanya dengan kening mengernyit.
"Dia temanku waktu di TK. Orang-orang nggak bisa ngelihat dia, bahkan setiap nginep di rumah aku, orang tua aku sama Teh Atikah nggak bisa ngelihat dia."
"Itu berarti, dia cuma arwah penasaran," kata Andra dengan santai.
"Arwah penasaran? Jadi, kamu sama dia ...."
"Iya, biasanya, arwah penasaran hanya bisa dilihat oleh orang-orang tertentu saja. Urusan kami di dunia ini belum selesai, makanya masih berkeliaran."
"Begitu, ya." Sukma mengangguk, lalu dengan cepat, raut mukanya berubah terkejut. "Jadi, kamu sejenis hantu kayak orang-orang bilang?"
"Aku sudah lepas dari ragaku sejak lama, Sukma. Tapi aku masih pengin belajar. Kata ibuku, aku bisa menggapai cita-cita kalau rajin belajar."
"Tapi kamu ... kamu, kan ...."
"Kematian bukanlah halangan buat aku. Aku masih ingin belajar, Sukma. Masih banyak yang belum aku mengerti di dunia ini. Setidaknya, sekarang aku bisa belajar dengan tenang tanpa merasakan sakit terus menerus di dada aku."
"Memangnya kamu punya penyakit apa sampai sakit terus menerus di dada? Apa kamu sakit hati?"
"Tidak. Kata dokter, jantung aku bocor. Berkali-kali aku dioperasi, sampai sering nggak masuk kelas. Mama aku nyuruh diam di rumah, tapi aku bosen nggak bisa main sama teman-teman. Aku pergi sekolah, deh, tapi ...."
"Tapi kenapa, Andra?"
Belum sempat Andra menjawab, Bu Guru memanggil Sukma agar mengambil bukunya. Segera gadis kecil itu berlari menghampiri meja guru, lalu mengambil bukunya. Sebelum berbalik badan dan kembali menuju bangkunya, Bu Guru mencegahnya lebih dulu.
"Ada apa, Bu?" tanya Sukma.
"Dari tadi Ibu perhatikan, semenjak kamu pindah ke bangku pojok, kamu kayak lagi ngobrol sendiri. Coba cerita sama Ibu, apa kamu sedih gara-gara dijauhi teman-teman kamu?"
"Enggak, Bu. Aku nggak sedih."
"Terus kenapa?"
"Aku lagi ngobrol sama Andra, Bu. Memangnya dari tadi Ibu nggak ngelihat Andra, ya?"
Merinding bulu kuduk Bu Guru tatkala mendengar nama bocah laki-laki itu. Masih tegambar jelas dalam ingatannya, saat-saat Andra mengembuskan napas terakhir di bangku paling pojok yang kini ditempati oleh Sukma. Takut bercampur sedih, itulah yang dirasakan oleh Bu Guru saat ini.
"Bu, apa aku boleh kembali ke bangku aku?" tanya Sukma.
Bu Guru terhenyak, dan berkata, "Iya, silakan."
Ketika Sukma duduk kembali di bangkunya, Andra memandang kosong ke arah guru yang mengajar hari ini. Bibirnya tersenyum pahit, mengingat sang guru tak bisa melihatnya lagi berada di sana. Sukma merasa prihatin melihat Andra yang termenung di sebelahnya.
"Andra, kamu kenapa?"
"Aku nggak apa-apa, Sukma. Cuma teringat masa lalu aja."
"Memangnya masa lalu kamu kayak gimana?"
"Kamu tahu? Saat hari terakhir aku merasakan sakit di dada, Bu Guru-lah yang pertama kali memeluk aku. Dia kelihatan ketakutan dan panik sampai aku dibawa ke dalam ambulans," tutur Andra dengan wajah sedih.
"Ya ampun." Sukma membekap mulutnya. "Andra, kalau kamu pengin nangis, nangis aja. Nggak apa-apa, kok, aku nggak akan ngeledekin kamu," ujarnya.
Andra menggeleng lemah. "Aku udah nggak bisa nangis lagi, Sukma. Setiap kali aku ngerasa sedih, aku udah nggak bisa mengeluarkan air mata lagi."
"Begitu, ya." Sukma mengangguk. "Kalau Bu Guru bisa ngelihat kamu dan meluk kamu lagi, terus semua murid di sini bisa ngelihat kamu, gimana?"
"Itu nggak mungkin, Sukma. Manusia hidup nggak mungkin bisa lihat arwah penasaran kayak aku. Biarin aja Bu Guru nggak meduliin aku, aku udah terbiasa kesepian duduk di sini, kok."
"Tapi aku bisa melakukannya. Beberapa teman aku juga pernah dibikin bisa ngelihat hantu. Bahkan, Ami sama Kezia pernah sampai jerit-jerit gitu gara-gara ngelihat hantu."
Andra termenung, memikirkan keputusannya antara menyetujui atau menolak saran teman barunya itu.
"Gimana? Kamu mau, kan? Aku yakin, selama ini kamu pengin banget diperhatikan lagi sama Bu Guru seperti dulu."