SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Masa Lalu yang Dikubur


"Kamu ini ngomong apaan, sih? Siapa juga Tante Farida? Pergi sana! Jangan ganggu tante saya!" hardik Farah, merasa risih dengan kedatangan Sukma.


"Sudahlah, Farah. Nggak baik memarahi anak kecil," bujuk Arini memegangi tangan keponakannya.


"Wah, Tante baik banget, ya, kayak Tante Farida. Aku senang banget ketemu sama Tante," decak Sukma menghampiri Arini, lalu memeluk tubuh wanita tua itu.


Melihat kelancangan Sukma pada bibinya, Farah semakin jengkel. Dengan kasar, ia melepas pelukan Sukma dari Arini, kemudian mendorong gadis kecil itu hingga tersungkur. Sementara itu, Arini yang terkejut mendapati sikap kasar Farah, segera menahan amarah keponakannya itu.


"Kamu ini apa-apaan, sih? Biarin aja, kenapa?" ujar Arini, memegang kedua bahu Farah.


"Habisnya dia itu bandel banget, Tante. Pagi-pagi sudah cari ribut aja di rumah aku," jelas Farah bersungut-sungut, lalu mengalihkan pandangan pada Bu Inah yang sedang berjalan ke arahnya. "Bu Inaaah ... cepat ambil anak kamu ini!"


Bu Inah mempercepat langkahnya untuk membawa pulang putrinya. Setibanya di hadapan Farah, wanita paruh baya itu segera menggandeng Sukma. Sungguh, raut wajahnya tampak begitu lelah menghadapi kekacauan yang disebabkan putri bungsunya pagi ini.


"Maafkan perilaku putri saya, Bu. Saya janji, akan mengurusnya sebaik mungkin," kata Bu Inah dengan badan setengah membungkuk.


"Saya nggak peduli! Pokoknya cepat bawa anak kamu ke paviliun! Setelah itu bersihkan sofa di ruang tamu sampai noda yang disebabkan anak kamu benar-benar hilang," ucap Farah bernada ketus.


Bu Inah mengangguk, kemudian melenggang pergi bersama Sukma. Sambil mengusap muka, ia memikirkan sikap aneh putrinya hari ini. Sesekali ditengoknya gadis kecil yang digandengnya seraya menghela napas panjang. Rupanya pandangan Sukma masih tertuju pada wanita tua yang merupakan kerabat dari majikannya.


"Dek, kalau jalan lihat ke depan," tegur Bu Inah dengan tegas.


"Ibu, Tante itu siapanya Tante Farah, ya? Kok ada di sini? Padahal Tante Farida kangen sama dia, tapi dia nggak pulang-pulang ke rumahnya," ucap Sukma mendongak, menatap mata ibunya.


"Seingat Ibu, dia bibinya Bu Farah, biasa dipanggil Tante Arini. Dia pernah datang kemari waktu lebaran enam tahun lalu. Kamu masih bayi, jadi nggak akan ingat," jelas Bu Inah.


"Oh." Sukma mengangguk. "Kalau begitu, Dedek boleh ketemu sama dia lagi, ya? Dedek suka banget sama Tante Arini. Soalnya dia baik kayak Tante Farida."


"Dedek jangan ganggu Tante Arini, dia baru sampai. Nanti kalau Bu Farah marah lagi, kita akan diusir dari sini. Kamu mau, Bapak sama Ibu kehilangan pekerjaan dan tinggal di jalanan?"


Sukma menggeleng cepat.


"Kalau begitu, turuti kata-kata Ibu. Jangan ganggu mereka, apalagi loncat-loncat di sofa kayak tadi. Mengerti?"


"Mengerti, Bu."


"Oh, ya, Dek. Sebenarnya siapa Tante Farida itu? Dari tadi kamu menyebut-nyebut namanya terus. Apa kamu pernah ketemu sama dia?"


Sukma mengangguk. "Aku juga pernah nginep di rumahnya, Bu. Dia ngasih aku banyaaak banget makanan enak. Waktu di rumahnya, aku lihat foto keluarga Tante Farida. Ada Tante Arini di sana. Mukanya cantik banget, rambutnya panjang. Kata Tante Farida, Tante Arini nggak pernah pulang ke rumah setelah menikah," jelasnya.


"Terus, apa Tante Farida masih ada? Tinggal di mana dia?"


Sukma tiba-tiba terdiam. Langkahnya terhenti di teras paviliun. Terlintas di ingatannya tentang peristiwa ganjil yang pernah dialaminya saat berada di rumah Farida. Bu Inah memandangi putrinya cukup lama. Sesekali ia menepuk-nepuk pundak putrinya.


"Dek, ada apa? Apa Dedek sudah ingat di mana Tante Farida tinggal?"


Alih-alih menjawab pertanyaan ibunya, Sukma tertawa terbahak-bahak. Suaranya lebih melengking dari biasanya. Gadis kecil itu berlari ke dalam pavilun, hingga Bu Inah harus menyusulnya dari belakang untuk mendapatkan jawaban.


"Dedek, jawab Ibu dulu!"


Sukma berlari ke kamar, kemudian melompat-lompat kegirangan di spring bed tanpa menghiraukan ibunya. Wajahnya tampak berseri-seri, bibirnya tersenyum lebar.


"Dedek, kamu ini kenapa nggak bisa diem, sih?" tanya Bu Inah kesal.


"Tante Farida sudah mati ... Tante Farida sudah mati ... Tante Farida sudah mati. Aku senang sekali! Tante sudah mati!"


Bu Inah mengerutkan dahi, lalu menghampiri Sukma dan menangkap putrinya hingga terdiam. Ditatapnya kedua mata jernih putri bungsunya itu dan bertanya, "Sudah mati kata Dedek?"


"Iya. Dedek lihat sendiri, dia sampai nggak bisa berdiri sama sekali, lalu mati deh."


"Ah, Dedek ini suka ngelantur."


"Dedek nggak ngelantur, Bu. Dedek lihat sendiri," tegas Sukma meyakinkan, dengan kedua mata membesar. "Tante Farida narik kaki aku, terus lama-lama badannya lemes."


"Narik kaki Dedek? Ngapain dia narik kaki Dedek segala?"


"Dedek pengen kabur dari rumah itu, Bu, soalnya Tante Farida jadi nyeremin. Dedek, kan, takut. Makanya Dedek lari-lari cari jalan keluar, tapi malah ditangkap sama Tante Farida yang nyeremin itu."


"Nyeremin? Bukannya tadi kamu bilang dia itu orangnya baik?" tanya Bu Inah semakin bingung.


"Iya, tadinya dia baik dan cantik. Tapi pas Dedek bangun tidur, badannya berubah. Muka sama kulitnya borokan, terus rambutnya acak-acakan."


Mendengar penjelasan Sukma, Bu Inah teringat pada mimpinya ketika putri bungsunya sempat hilang selama seminggu. Sosok wanita yang dijelaskan oleh Sukma sama persis dengan makhluk mengerikan dalam mimpinya. Hati Bu Inah berubah waswas, bulu kuduknya meremang setelah menyadari bahwa wanita yang dimaksud Sukma bukanlah manusia.


Dipeluknya putri bungsunya itu, dengan napas memburu. Tentu saja, sikap aneh Bu Inah membuat Sukma merasa heran. Kelakuannya yang sejak tadi hiperaktif, berubah menjadi pendiam tatkala memperhatikan kecemasan yang tergambar jelas di wajah sang ibu.


"Ibu ... Ibu kenapa?"


"Dedek jangan cerita apa-apa lagi tentang Tante Farida atau mendekati Tante Arini. Ibu takut, Dedek hilang lagi kayak kemarin-kemarin."


"Tapi Tante Arini baik, Bu. Dia tetap cantik walaupun rambutnya nggak panjang."


"Pokoknya Dedek jangan dekati Tante Arini. Ibu yakin, ada yang nggak beres dengan wanita itu," tegas Bu Inah meyakinkan. "Sekarang Dedek mandi dulu. Nanti Ibu ikat rambut Dedek kalau sudah selesai mandi. Hari ini kamu sekolahnya pakai kerudung."


"Tapi Dedek nggak mau, Bu. Gerah!"


"Kalau sudah mandi, nggak bakal gerah lagi. Coba Dedek perhatikan Nurul, teman sebangku Dedek. Apa dia kegerahan setiap hari sekolah pakai kerudung?"


"Enggak, Bu."


"Nah, makanya Dedek harus mau. Kalau Dedek tadi mau dipotong rambut, Ibu nggak bakal nyuruh Dedek sekolah pakai kerudung."


Sukma tertunduk lesu. Dengan gontai, ia mengambil handuk, lalu berjalan menuju kamar mandi. Sementara itu, Bu Inah menyiapkan seragam sekolah putrinya. Masih banyak kegiatannya hari ini. Bahkan, ia belum sempat membersihkan sofa ruang tamu keluarga Hilman, mengingat waktu Sukma untuk berangkat sekolah terasa lebih cepat.


Di rumah Hilman, Farah mengajak Arini ke ruang tengah. Wajahnya tampak semringah setelah cukup lama menunggu kedatangan bibinya itu. Sudah lima tahun sejak Salman dan Arini pergi ke Jerman untuk mengurus kerjasama bisnis, Farah jarang berkomunikasi dengan bibinya. Baginya, Arini satu-satunya orang yang selalu mendukungnya. Farah tak berhenti menceritakan kehidupannya selama ini bersama Hilman dan Albi.


Namun, rupanya kebahagiaan yang dirasakan Farah justru tak tampak pada Arini. Sejak kedatangannya ke kediaman sang keponakan, hatinya dirundung kecemasan. Otaknya tak berhenti memikirkan sosok gadis kecil yang mengetahui identitasnya, terlebih ketika nama sang kakak disebut. Akibat dari kecemasannya itu, tatapannya menjadi kosong, bahkan perkataan Farah pun tak diperhatikannya.


Arini masih termenung. Farah yang tidak sabar menunggu jawaban, menepuk pundak bibinya hingga terhenyak dari lamunannya. Arini pun terperanjat, lalu menatap Farah dengan bingung.


"I-iya, Farah. Ada apa?" tanya Arini tergagap-gagap.


"Tante mau minum apa?"


"Teh saja. Yang manis, ya."


"Oh, oke." Farah menengok ke arah dapur lalu berteriak, "Reniii! Reniii! Bikinin teh manis buat Tante Arini."


"Baik, Non," sahut Bi Reni dari dapur.


Farah melanjutkan obrolannya dengan Arini. Kali ini, ia tak sabar mencurahkan segala uneg-unegnya selama ini pada bibinya. Arini pun berusaha untuk fokus mendengarkan Farah, berharap kecemasannya tidak berlarut-larut mengendap di benaknya.


"Tante, sejujurnya saat ini usaha Mas Hilman sedang mengalami kemunduran. Sejak kakak iparku meninggal, entah kenapa pesanan pabrik tekstilnya menurun," ucap Farah bernada lesu.


"Kenapa bisa begitu? Bukankah Hilman sangat cekatan dalam mengurus bisnis? Ataukan anak buahnya nggak bisa diandalkan?" tanya Arini mengerutkan dahi.


"Aku juga nggak ngerti, Tante. Padahal usahanya masih berjalan seperti biasanya, tapi semakin ke sini, usahanya semakin menurun. Aku takut, kalau nanti pabrik yang dikelola Mas Hilman sampai bangkrut. Aku nggak tahan kalau harus hidup sengsara kayak orang lain. Tante tahu, kan, kalau aku sudah diberi kehidupan yang layak oleh mama dan papa sejak kecil? Kalau sampai aku jatuh miskin, rasanya aku nggak sanggup."


"Kenapa kamu berpikir begitu, Farah? Namanya juga usaha, pasti ada pasang surutnya. Sudahlah, tak perlu dipikirkan. Selama kamu masih berkarier dan menghasilkan uang, kamu nggak perlu khawatir."


"Tapi, Tante. Kalau sampai usaha Mas Hilman bangkrut, aku harus bilang apa sama teman-teman tentang suamiku?"


"Kamu ini selalu overthinking, ya. Serahkan semuanya pada Tuhan. Bukankah rezeki Dia yang atur? Sebaiknya kamu doakan suamimu agar usahanya tetap berjalan dan menerima banyak pesanan lagi."


"Iya." Farah tertunduk lesu, lalu menatap bibinya kembali. "Tante, apa Tante punya saran untuk menghemat keuangan? Aku nggak mau kalau sampai hal paling buruk terjadi, keluargaku benar-benar tak memiliki apa pun."


"Mudah saja. Kamu di rumah punya berapa pembantu? Kalau sekiranya beberapa di antara mereka tidak berguna dan malas-malasan, sebaiknya pecat saja. Toh, kamu dan suamimu masih bisa mengerjakan pekerjaan rumah, kan?"


"Sebenarnya aku pengin ngelakuin itu, terutama pada Pak Risman dan Bu Inah, yang punya anak kecil bandel tadi. Sudah lama aku mau memecat mereka, tapi Mas Hilman melarang."


"Loh, kok Hilman melarang? Memangnya seistimewa apa mereka?"


"Kata Mas Hilman, mereka itu jujur, terutama Pak Risman. Waktu pertama kali mereka ketemu, Pak Risman cuma pemulung yang kebetulan baik hati mengembalikan uang dalam koper. Tante tahu, kan, Mas Hilman orangnya kayak gimana. Dia itu kelewat baik."


"Lantas, apa masalahnya kalau mereka jujur? Zaman sekarang susah nyari pembantu yang jujur."


"Bukan itu aja masalahnya, Tante. Anak mereka memberi pengaruh buruk juga pada Albi. Aku nggak tahu harus gimana lagi. Tante mau, kan, bantuin aku buat mengusir mereka dari sini?"


Mendengar pertanyaan Farah, Arini teringat pada gadis kecil yang menyebut nama Farida. Baginya, mengusir keluarga Pak Risman merupakan salah satu cara agar identitas aslinya tertutup rapat. Akan tetapi, ia juga tak mau mengambil keputusan secara terburu-buru, mengingat perlu mencari tahu dari mana Sukma mengetahui tentang keluarganya.


"Gimana, Tante? Tante mau membantuku, kan?" tanya Farah tak sabar.


"Kita nggak bisa buru-buru mengusir mereka. Perlu alasan kuat agar mereka bisa diusir dari sini," kata Arini memandang jauh.


Farah mengembuskan napas berat. Tak lama kemudian, ponsel di saku celananya berdering. Wanita itu membuka layar ponselnya. Ternyata dari salah satu teman arisannya.


"Sebentar, Tante. Aku mau angkat telepon dulu. Teman-temanku datang ke sini hari ini."


"Ya, silakan."


Sementara Farah pergi ke ruangan lain untuk mengangkat telepon, Arini berjalan ke ruang tamu. Tak disangka, ia mendapati Bu Inah yang sedang menuntun Sukma pergi sekolah. Ketika mereka melintas di depan rumah Hilman, Arini bergegas keluar.


Dihampirinya Bu Inah dan Sukma sambil sesekali menengok ke belakang, memastikan Farah tak keluar menyusulnya. Sementara itu, Bu Inah berjalan semakin cepat demi menghindari Arini. Namun, rupanya Arini tak mau mereka lekas berlalu dari sana.


"Bu ... Bu Inah! Tunggu!" panggil Arini berlari kecil.


Bu Inah berhenti sejenak, lalu membalikkan badan. Pun dengan Sukma yang tampak semringah melihat Arini menghampirinya.


"Bu Inah, Ibu nggak lagi sibuk, kan?" tanya Arini.


Bu Inah menggeleng, lalu berkata, "Saya cuma mau mengantar anak saya ke sekolah."


"Begini, Bu. Sejak saya ke sini, sebenarnya saya merasa ada yang mengganjal. Bolehkah saya bicara dengan anak Ibu? Sebentar saja."


"Baiklah."


Arini tersenyum lebar, pandangannya tertuju pada Sukma. Agar lebih akrab, ia membungkukkan badannya hingga dapat saling tatap dengan gadis kecil yang mengenalnya sejak tiba di kediaman Hilman.


"Adek namanya siapa?" tanya Arini berbasa-basi.


"Sukma Cakrawati. Panggil saja Sukma."


"Sukma? Nama yang bagus."


"Terima kasih, Tante Arini."


"Oh, ya. Tante mau tanya, Dek Sukma tahu Tante dari mana, ya? Apa kita pernah ketemu sebelumnya?"


"Aku tahu muka Tante dari rumahnya Tante Farida. Kata Tante Farida, Tante nggak pernah pulang ke rumahnya setelah menikah."


Tertegun Arini mendengar penjelasan Sukma. Baginya, tak mungkin Farida menemui dan mengajak gadis kecil itu ke rumahnya. Ia ingat betul, Farida sudah lama meninggal. Rumah yang ia tempati sewaktu kecil pun sudah dibongkar dan tanahnya dibeli oleh orang lain. Mustahil jika Sukma mengalami kejadian itu.


"Maafkan saya sebelumnya. Bolehkah saya bertanya, kenapa Bu Arini menanyakan hal itu pada Dek Sukma?" tanya Bu Inah penasaran.


Arini menghela napas sejenak, lalu berdiri tegap menatap Bu Inah. Diambilnya dompet dari saku roknya, lalu memberikan beberapa lembar uang seratus ribu pada Bu Inah.


"Tolong, jangan biarkan anak kamu banyak bicara tentang kehidupan saya. Saya nggak suka kalau ada orang yang mengobok-obok masa lalu saya," ucap Arini sambil sesekali melirik pada Sukma.


"Bu Arini, tolong jangan diambil hati," kata Bu Inah mengembalikan uang pemberian Arini. "Kami nggak pernah ikut campur urusan orang lain. Saya mohon, harap maklumi perilaku putri saya. Dia sering melantur sejak hilang selama seminggu."


Kedua mata Arini membelalak saat mendengar ucapan Bu Inah. Bayang-bayang masa lalu mengenai Farida berkelebat di pelupuk matanya, hingga membuatnya gemetar.