SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Kembali ke Raga


Wanara mengerahkan segenap tenaganya untuk menarik dedemit dari tubuh Giska. Ia ingin memastikan, bahwa sebelum dua gadis itu kembali, si perempuan berbaju merah telah dibawa pergi jauh dari raga yang ditempatinya. Ustaz Ramlan terus membacakan ayat ruqyah, meskipun gadis yang ditanganinya masih menjerit-jerit kepanasan.


Namun, seiring berjalannya waktu, usaha mereka tidaklah sia-sia. Lambat laun, Wanara dapat menarik kepala dedemit, hingga mampu mengangkat keseluruhan wujudnya dari badan Giska. Bersamaan dengan itu pula, jasad Giska yang semula mengamuk pun perlahan mulai tenang. Wanara bergegas membawa dedemit sembari mencekik lehernya. Perempuan berbaju merah sudah kehilangan daya untuk melawan.


Sukma dan Giska baru saja tiba di rumah. Giska masih kebingungan tatkala melihat kedua tangan dan kakinya diikat pada keempat sisi ranjang. Ia melirik Sukma, tapi temannya itu justru menariknya untuk masuk ke raga yang telah ditinggalkan dedemit. Gadis berambut pendek itu berbaring di dalam tubuhnya. Pun dengan Sukma yang ikut sadarkan diri setelah melakukan proyek astral.


Di kamar, Giska membuka matanya perlahan-lahan. Ia merasa sangat kelelahan, tenggorokannya sakit. Selanjutnya, gadis berambut pendek itu melirik sang kakak yang baru selesai membaca surah Yasin.


"Kak ... Kakak. Kapan aku pulang ke sini?" tanya Giska dengan suaranya yang serak dan parau.


Rifalbi dan Ustaz Ramlan mengembuskan napas lega. Kakaknya Giska segera melepaskan ikatan di kedua kaki dan tangan adiknya. Rifalbi duduk di samping Giska, lalu membelai rambutnya.


"Syukurlah, akhirnya kamu sudah sadar," ucap Rifalbi terharu.


"Alhamdulillah. Adek siuman juga. Sebaiknya jangan banyak bergerak dulu kalau masih pegal badannya," ujar Ustaz Ramlan. "Rifalbi, tolong ambilkan air putih. Insya Allah, setelah minum, adik kamu bakal ada tenaga buat duduk."


Rifalbi mengangguk, kemudian bergegas keluar kamar. Sukma yang penasaran dengan keadaan Giska, masuk ke kamar temannya. Giska tercengang melihat Sukma ada di rumahnya.


"Sukma ... kapan kamu ke sini? Aku kira kamu nggak datang ke sini," ucap Giska dengan suara melemah.


Sukma memegang tangan Giska dan berkata, "Aku dari tadi sore udah di sini. Aku khawatir kamu kenapa-kenapa."


Ustaz Ramlan memperhatikan wajah Sukma dengan saksama. Semakin dilihat, ia semakin teringat pada seseorang. Untuk mengentaskan rasa penasarannya, pria itu ikut menimbrung.


"Oya, saya sepertinya kenal sama ibu kamu. Kalau nggak salah kamu anaknya Bu ... Bu Ratmi. Iya! Kamu anaknya Bu Ratmi, kan?" tanya Ustaz Ramlan sembari mengingat-ingat kejadian mengerikan pada suatu malam sehabis hujan lebat mengguyur Bandung.


Sukma mengernyitkan kening. "Bu Ratmi? Siapa dia? Aku nggak kenal. Ibu aku namanya Inah, Pak Ustaz, bukan Ratmi," jelasnya.


"Oh, kirain anaknya Bu Ratmi. Dulu saya sempat dengar kalau anaknya hilang, terus dicariin sama adik iparnya, namanya Pak Hilman. Kirain anaknya Bu Ratmi udah ketemu sama adik iparnya. Soalnya muka kamu mirip sama Bu Ratmi," tutur Ustaz Ramlan sembari tersenyum simpul.


Sukma hanya memberi seulas senyum setelah mendengar penuturan Ustaz Ramlan. Ia sama sekali tidak tahu siapa dan seperti apa sosok Bu Ratmi. Gadis itu hanya tahu, bahwa dirinya putri bungsu dari Bu Inah dan Pak Risman. Itu saja.


Di tengah percakapan mereka, Rifalbi datang membawakan segelas air putih. Diserahkannya air itu pada Ustaz Ramlan, lalu dibacakan doa. Sukma dan Giska memperhatikan sang ustaz, sampai selesai membacakan doa. Selanjutnya, Giska dibantu duduk oleh sang kakak, kemudian meminum air yang diberikan oleh Ustaz Ramlan. Seketika tubuhnya terasa segar, tenggorokannya tak lagi sakit. Ia begitu senang semuanya berangsur baik seperti sediakala.


Dari teras rumah, terdengar suara bel berbunyi. Rifalbi bergegas membukakan pintu. Ternyata Bu Inah dan Atikah yang datang ke rumahnya.


"Ibunya Sukma, ya? Silakan masuk," sapa Rifalbi.


"Di mana Dek Sukma? Dia ada di sini, kan?" tanya Bu Inah cemas.


"Iya, dia ada di sini. Ibu nggak perlu khawatir," ucap Rifalbi. "Sebentar, ya, aku panggilin Sukma dulu."


Bu Inah mengangguk. Rifalbi bergegas mengabarkan Sukma tentang kedatangan ibu dan kakaknya. Sukma yang baru saja akan menjelaskan sesuatu yang terjadi saat jiwa Giska tersesat, terpaksa harus menundanya. Ia tak mau membuat ibunya menunggu dalam kekhawatiran.


Sesampainya di ruang tamu, Sukma menghampiri ibunya, lalu berkata, "Ibu ... Teteh ... kalian ke sini?!"


"Iya, Dek. Kami khawatir kalau Dedek sampai pulang sendiri malam-malam. Makanya kami jemput Dedek ke sini. Lagian, main kok sampai malam begini? Ini sudah jam setengah sembilan loh. Dari abis maghrib kami muter-muter keliling komplek, suasananya udah beda, jadi susah nemu rumahnya Giska," ucap Bu Inah.


"Hehe ... maafin Dedek, Bu. Habisnya, Giska susah bangunnya," kata Sukma sembari menyengir.


"Sebaiknya kita pulang sekarang, udah mau larut malam. Tadi Bapak nggak bisa ke sini soalnya sayang sama dagangannya," jelas Atikah.


"Iya, bentar, Teh. Dedek mau pamit dulu sama Giska," ucap Sukma sembari berlari ke ruang tengah.


Ketika Sukma hendak berlari menuju kamar Giska, tampak gadis berambut pendek itu sedang dipapah oleh kakaknya ke ruang tamu bersama Ustaz Ramlan. Sukma berdiri di depan ruang tengah sembari menunggu Giska berjalan ke arahnya.


"Tapi Sukma, bukannya kamu mau jelasin sesuatu selama aku nggak sadar?"


"Nanti aku jelasin. Hari Senin, kan, kita sekolah."


"Oke, deh. Hati-hati di jalan, ya, Sukma."


Sukma mengangguk, kemudian menghampiri ibu dan kakaknya di ruang tamu. Rifalbi, Giska, dan Ustaz Ramlan ingin bertemu dengan keluarga Sukma sebentar. Tatkala ketiganya sampai di ruang tamu, Bu Inah tertegun melihat Ustaz Ramlan ada di rumah Giska.


Sebelum pamit pulang, Bu Inah menyatakan rasa senangnya bertemu dengan Ustaz Ramlan. Tak lupa, ia juga mengungkapkan kekaguman atas tausyiah Ustaz Ramlan yang kerap diikutinya selama di rumah bedeng dulu. Pria berkopiah itu merasa terharu mendengar Bu Inah yang begitu mengaguminya dan menerapkan setiap nilai-nilai kehidupan yang disampaikannya pada para jamaah. Selesai berbasa-basi, Bu Inah berpamitan pada Rifalbi, lalu meninggalkan rumah itu bersama kedua putrinya.


Sementara itu, Wanara masih sibuk menghabisi perempuan berbaju merah di sekolah. Ia belum puas memberi pelajaran pada dedemit itu. Berkali-kali perempuan berbaju merah itu menghindar, tapi tetap saja berakhir babak belur di tangan Wanara.


Merasa ada kesempatan, dedemit itu mencoba untuk kabur. Akan tetapi, Wanara sudah menarik bajunya lebih dahulu. Perempuan berbaju merah terkapar, tapi enggan meminta ampun. Tekadnya untuk kembali ke raga Giska, lebih besar dari sebelumnya.


"Mau ke mana kamu? Jangan lari!" bentak Wanara, yang belum puas menghabisi dedemit sampai tewas.


"Enyahlah kamu dariku! Seenaknya saja kamu ikut campur," elak si perempuan berbaju merah.


"Tapi urusanku denganmu belum selesai. Aku tahu, kamu akan kembali ke raga gadis itu. Kamu harus dimusnahkan!"


Wanara menginjak dada perempuan berbaju merah lalu mengentakkan kakinya berkali-kali. Perempuan berbaju merah pun tak mau tinggal diam. Dengan sisa-sisa tenagannya, ia berusaha menyingkirkan kaki Wanara dari dadanya. Setelah mengenyahkan kaki kera itu, perempuan berbaju merah kemudian berguling, menghindari serangan selanjutnya. Akan tetapi, Wanara telah duduk di dekatnya, bersiap menggunakan sikut untuk melenyapkan si dedemit.


Menggunakan kesempatan dan kekuatan yang sedikit, perempuan berbaju merah itu menghilang secara tiba-tiba. Wanara merutuk kesal karena tak bisa langsung melenyapkannya saat itu juga. Ia berusaha mencari dedemit incarannya ke seluruh ruangan kelas, tapi tidak ketemu. Hingga pada satu waktu, terdengar suara perempuan itu menggema di seluruh area sekolah.


"Kamu tidak bisa memusnahkan aku, Monyet! Bagaimanapun juga, aku tetaplah makhluk terkuat di wilayah ini," ucap perempuan itu disusul suara tawanya yang melengking.


"Sialan kau! Cepat tunjukkan di mana dirimu! Jangan jadi pengecut!" bentak Wanara, mengedarkan pandangan ke sekitarnya.


"Kamu tidak akan bisa menemukan aku, Monyet. Lihat saja nanti! Aku akan membalaskan kemarahanku, lebih dari yang sudah kamu lakukan kepadaku. Akan aku buat semua orang tidak berdaya di hadapanku," ancam perempuan berbaju merah. Suara tawanya terdengar kian menjauh seiring waktu.


Wanara terus berusaha mengikuti ke mana suara itu pergi. Namun, langkahnya terhenti di belakang sekolah. Ia benar-benar kesal dengan sikap pengecut dedemit itu.


Terpaksa Wanara pulang dengan rasa kecewa. Setibanya di rumah, ia langsung menjumpai Sukma. Sukma yang tidak sabar mendengar kabar musnahnya dedemit yang merasuk ke tubuh Giska, langsung menarik monyet kesayangannya ke kamar.


"Gimana? Dedemit itu udah mati, kan?" tanya Sukma dengan raut antusias di wajahnya.


Wanara menggeleng lemah. Wajahnya yang terlihat lesu, membuat Sukma khawatir. "Dia malah menghilang saat aku akan menghancurkannya."


"Ya udah, nggak apa-apa. Seenggaknya kamu udah ngebantu aku buat nyingkirin dedemit itu dari badan Giska. Kalau dia belum keluar, Giska bakal susah masuk ke badannya lagi," ucap Sukma mengusap punggung Wanara.


"Tapi aku masih tidak tenang, Sukma. Sebelum aku pulang, aku mendengarnya mengancam akan membuat semua orang tidak berdaya untuk membalaskan kemarahannya," ucap Wanara cemas.


"Udah, nggak usah dipikirin. Nanti biar aku aja yang ngadepin dia. Toh dia nggak akan masuk lagi ke badan temen aku," ujar Sukma tersenyum simpul.


"Bagaimana kalau dia merasuk ke tubuh orang lain? Kamu akan kewalahan jika dia sampai menyesatkan jiwa dari orang yang dirasukinya," ucap Wanara, raut wajahnya berubah cemas.


Sukma termenung sejenak. Perkataan Wanara ada benarnya juga, pikirnya. Namun, kali ini ia memiliki firasat, bahwa perempuan berbaju merah tak akan membawa jiwa orang lain pergi jauh.


"Tenang aja, aku bakal siap ngehadepinnya. Sebaiknya malam ini kamu istirahat dulu. Hari Senin nanti, kamu bakal aku ajak lagi ke sekolah, buat jaga-jaga kalau dedemit itu merasuk ke badan orang lain," ujar Sukma.


"Benarkah? Kamu akan mengajakku melawan dedemit itu lagi?" tanya Wanara dengan raut semringah.


Sukma mengangguk cepat. Kera itu melompat kegirangan setelah mendapatkan kepercayaan dari temannya untuk membantunya memusnahkan dedemit lagi. Sukma tertawa terbahak-bahak melihat Wanara begitu senang. Ia tahu betul, bahwa kera kesayangannya sangat gemar bertarung.