
Fadil galau. Setelah mendengar kabar bahwa gadis yang diinginkannya telah dilamar lelaki lain, hatinya menjadi remuk redam. Ia kapok untuk menjalin hubungan dengan perempuan lagi. Nasibnya yang tak mujur dalam perihal jodoh, membuatnya memutuskan untuk melajang seumur hidup.
"Apa? Kamu mau menjomblo seumur hidup? Ah, kamu ini bikin Bapak kesel aja. Kalau kamu nggak punya keturunan, siapa yang bakal meneruskan usaha pecel lele dan kontrakan Bapak? Kamu ini anak laki-laki satu-satunya," cerocos Haji Gufron muntab.
"Habisnya nggak ada yang mau sama aku, Pak. Apa aku ini jelek, sampai-sampai nggak ada yang mau diajak serius?"
"Kamu bukan jelek, Dil. Cuma belum punya kerja aja. Setiap perempuan punya prinsip ingin mendapatkan lelaki yang serius dan punya pekerjaan tetap."
"Tapi aku juga serius, Pak. Cuma kerjaan aja yang nggak punya."
"Nah, itu. Kerjaan juga nggak kalah penting. Masa pas ditanyain kerjaan sama mertua jawabannya 'cuma rebahan aja maen game online'? Kan nggak masuk akal. Bapak juga kalau punya anak perempuan, nggak bakal nerima kamu sebagai menantu, Dil."
"Idih, Bapak mah gitu! Biarpun aku belum punya kerjaan, nanti juga dapat, Pak. Sekarang juga lagi nyoba-nyoba nyari lowongan kerja. Doain aja supaya aku cepet kerja kayak orang banyak."
"Iya, deh. Soal jodoh, kamu juga jangan putus asa. Mungkin aja jodoh kamu belum lahir."
Di tengah percakapan mereka, terdengar suara ketukan pintu dari luar, disusul dengan suara anak kecil meneriakkan 'assalamualaikum' dengan lantang. Haji Gufron bergegas membukakan pintu, lalu tersenyum lebar mendapati anak-anak manis berkunjung ke rumahnya. Sukma dan Fani merasa lega, pemilik rumah menyambut mereka dengan ramah.
"Pak Haji, Aa Fadil ada?" tanya Sukma.
"Ada. Sebentar, ya."
Haji Gufron kemudian menoleh ke belakang, memanggil Fadil. Pemuda itu masih termenung dengan menopang dagu di ruang tengah. Sementara itu, Sukma dan Fani khawatir kalau-kalau orang yang dipilihnya untuk mengantar ke rumah Ki Purnomo, menolak permintaan mereka.
"Fadiiil! Ini ada dua cewek lagi nyariin kamu!" panggil Haji Gufron meninggikan nada suaranya.
Mendengar panggilan ayahnya mengenai perempuan, Fadil terhenyak. Bergegas ia beranjak dari kursi, lalu berlari menghampiri asal suara itu. Di dalam benaknya, ia membayangkan dua gadis cantik impiannya datang ke rumah. Akan tetapi, setibanya di palang pintu, harapannya seketika buyar tatkala mendapati dua gadis kecil menyambutnya dengan semringah.
Fadil kesal. Ia mendelik pada Haji Gufron dan menyikut pinggangnya. Sebelum ayahnya pergi, Fadil yang dongkol mulai mencak-mencak.
"Bapak ini. Katanya ada dua cewek. Ini mah anak kecil, Pak," gerutu Fadil.
"Biarpun anak kecil, mereka cewek juga, kan?" kata Haji Gufron terkekeh-kekeh melihat kejengkelan Fadil, lali meninggalkan Fadil dengan dua gadis kecil di palang pintu.
Fadil mendengus sebal sembari memonyongkan bibirnya. Selanjutnya, ia melangkah ke luar, mengajak dua anak kecil itu duduk di kursi teras. Sukma dan Fani menurut, lalu duduk dengan penuh harap pada pemuda di hadapan mereka.
"Ada apa kalian nyariin aku?" tanya Fadil mengernyitkan kening.
"A Fadil, bisa bantuin kita nggak?" Sukma balik bertanya.
"Bantuin apa? Kalau bantuin jajan, aku nggak mau. Lagi bokek."
"Ih, bukan bantuin jajan. Aku minta Aa buat nolongin kami nyeberang," tegas Sukma.
"Nolongin nyeberang? Emang kalian mau pada ke mana?" tanya Fadil semakin heran.
"Monyet Sukma diculik. Dia minta bantuan sama Aa buat bawa kembali monyetnya," jelas Fani.
"Iya, A. Aa bisa bantuin kami, nggak?" timpal Sukma.
"Emangnya Dedek tahu, rumah yang nyulik monyetnya?" tanya Fadil ragu.
"Tahu dong. Tadi pas pulang sekolah dianterin sama Ibu ke rumahnya. Rumahnya deket sekolahan kami," jawab Sukma. "Aa Fadil mau bantuin kita, kan? Pliiis."
"Kalau cuma itu doang, oke. Aku anterin kalian langsung ke rumahnya aja," kata Fadil setuju. "Kalian tunggu dulu. Aku mau bawa kunci motor."
Sementara Fadil masuk ke rumahnya, kedua anak kecil itu melompat kegirangan. Sukma bersyukur, Fadil bersedia membantunya. Tak hanya membantu menyeberang jalan, tapi mengantarnya langsung ke rumah bapak-bapak gondrong yang menculik Wanara.
"Tuh, kan. Apa aku bilang? Aa Fadil pasti mau nolongin kita," kata Sukma.
"Iya. Bukan cuma mau bantuin nyeberang, tapi nganterin sampai ke rumahnya penculik," kata Fani menimpali.
"Nah, sekarang kamu nggak perlu khawatir dijahatin sama penculik monyet aku. Kan ada A Fadil yang bantuin kita."
Tak lama kemudian, Fadil keluar dengan memakai helm dan membawa kunci motor. Ia mengajak dua gadis kecil itu naik ke motornya. Setelah siap, pemuda itu melajukan kendaraannya ke arah sekolah tempat Sukma dan Fani menutut ilmu.
Sukma yang duduk di tengah-tengah, menunjukkan jalan menuju rumah Ki Purnomo. Sedikit saja melaju ke depan, lalu menyeberang masuk ke jalanan yang lebih kecil. Setelah melewati lima rumah, akan tampak kediaman Ki Purnomo yang halamannya ditumbuhi dua pohon sawo. Sukma menyuruh Fadil menghentikan motornya, lalu pemuda itu memutuskan untuk memasukkan kendaraannya ke halaman rumah Ki Purnomo.
Mereka segera turun dari motor. Sukma yang begitu tak sabar menemukan kera kesayangannya, segera berlari masuk ke rumah yang pintunya tak ditutup itu. Satu per satu pintu ruangan di dalamnya dibuka. Mulai dari kamar depan, sampai kamar kedua.
Melangkah lebih jauh ke kediaman pria gondrong itu, bulu kuduk Fadil meremang. Ia merasa, bahwa rumah itu bukanlah rumah biasa. Matanya memandang waspada ke segala arah, merasa ada yang memperhatikan dari beberapa titik dari rumah itu.
Ketika tiba di sebuah kamar paling pojok dari ruang tengah, Sukma berhenti sejenak. Matanya terpejam, menerawang ke dalam isi dari kamar itu. Terlihat botol-botol kecil tertata rapi di dalamnya. Banyak dedemit yang terkurung di setiap botolnya. Namun, tak ada satu pun botol yang terisi Wanara di sana.
"Gimana, Sukma? Udah ketemu monyetnya di mana?" tanya Fani.
Sukma membuka mata, lalu mengeluh, "Nggak ada, Fani. Botolnya nggak ada yang isinya monyet aku."
Fani meringis seraya menggaruk kepalanya. "Emangnya monyetnya dimasukin ke botol segede apa?"
"Botolnya kecil. Kayak botol parfum," jelas Sukma.
"Ha? Botol parfum? Monyet kamu kecil, ya? Atau masih bayi?"
"Enggak. Monyet aku gedeee banget, segede Aa Fadil."
"Wah? Emang monyet gede bisa masuk ke dalam botol parfum, gitu?"
"Udahlah, kamu nggak akan ngerti, Fani."
Di sela-sela obrolan mereka, Fadil menemukan sebuah kamar lain yang tersembunyi oleh tirai. Pemuda itu membuka tirainya perlahan dan menemukan sebuah kamar yang pintunya terbuka. Di lantainya, terlihat sebuah botol kecil tergeletak.
Segera Sukma dan Fani menghampiri pemuda itu. Ketika berdiri di dekat Fadil, Sukma mencari-cari botol kecil yang dimaksud. Ia tak melihatnya sama sekali. Jangankan botol kecil, sesuatu yang dilihatnya hanya sebuah ruangan kosong tanpa perabotan di dalamnya.
"Mana, A? Nggak ada botol di sini," kata Sukma.
"Itu. Di dekat palang pintu," tegas Fadil.
"Mata kamu ke mana aja, Sukma?" tanya Fani, lalu memungut botol kecil di dalam palang pintu. "Ini botolnya."
Sukma melirik pada Fani dan mendapati botol kecil di tangan temannya. Wajahnya yang sejak tadi kebingungan, berubah semringah. Segera Sukma mengambil botol itu dari tangan Fani, lalu menelitinya baik-baik. Benar saja, ada kera di dalamnya.
"Wanara! Asyik! Terima kasih, ya, Fani," kata Sukma gembira.
"Iya, sama-sama."
"Kalau begitu, kita pulang sekarang?" tanya Fadil.
Sukma mengangguk cepat. "Ayo, A. Kita pulang."
Bergegaslah mereka keluar dari kediaman Ki Purnomo. Sukma tampak bahagia setelah mendapatkan Wanara kembali dengan mudahnya. Tak lupa, Fadil menutup pintu rumah Ki Purnomo agar tak ada pencuri yang masuk ke sana.
Namun saat hendak menaiki motor, tiba-tiba Ki Purnomo datang dengan geram. Ia rupanya telah berubah pikiran saat keluar dari Puskesmas dan memutuskan untuk tidak mematuhi gurunya. Fani dan Fadil terkejut melihat pria gondrong itu. Secepatnya, Fadil menaiki motornya, lalu mengajak Sukma dan Fani untuk segera diboncengnya.
"Tunggu dulu! Mau ke mana kalian?" seru Ki Purnomo.
"K-kami ... kami mau pulang. Saya pikir, ini rumah teman saya," dalih Fadil berusaha menghindar dari amukan Ki Purnomo.
"Alasan!" Mata Ki Purnomo tertuju pada Sukma. "Kamu, Bocah Gendeng! Mau apa lagi datang ke rumahku?"
"Sudah aku bilang, aku mau bawa monyet kesayangan aku," jawab Sukma dengan polosnya.
"Enggak semudah itu, Anak Setan! Langkahi dulu mayatku!"
"Ih, aku mah nggak mau berantem," tolak Sukma.
"Aku nggak peduli! Cepat hadapi aku kalau berani."
Sukma menghela napas panjang, kemudian menitipkan botol kecil berisi Wanara pada Fadil. Pemuda itu mengambilnya dan memasukkannya ke dalam saku celana. Sebelum mulai bertarung, Fadil memperingatkan Sukma agar tidak melawan pria berambut gondrong itu. Akan tetapi, Sukma yang keras kepala, enggan mundur sebelum memberi pelajaran pada Ki Purnomo.
Ki Purnomo menyingsingkan lengan bajunya, bersiap untuk menyerang Sukma. Ia tak mau berpikir panjang lagi tentang risiko yang akan dihadapinya nanti. Baginya, menjadikan Wanara sebagai makhluk pesugihan lebih menguntungkan daripada mendengar perkataan Mbah Kasiman.
"Jadi, Bapak beneran mau melawan aku? Oke," kata Sukma.
Ki Purnomo meludah sambil menatap tajam pada Sukma. Di pikirannya, Sukma hanyalah anak kecil yang masih lugu dan tak becus bertarung. Kendati demikian, Ki Purnomo tak mau menganggap enteng lawannya, mengingat Sukma bukanlah anak biasa.
Mulut pria gondrong itu mulai komat-kamit merapal mantra. Tangannya disilangkan di depan dada, kemudian bergerak perlahan seperti hendak mendorong sesuatu. Ketika tenaga dalamnya akan menyerang Sukma, Ki Purnomo mengerahkan seluruh kekuatannya menyerang Sukma.
Rupanya, nasib mujur belum berpihak pada gadis kecil itu. Ia terpelanting cukup jauh ke belakang, hingga membuat Fadil dan Fani berteriak panik. Akan tetapi, Sukma masih bisa bangkit. Gadis kecil itu berdiri tegap, kemudian melangkah ke depan untuk menghadapi lawannya.
Ki Purnomo tak mau tinggal diam. Serangan demi serangan dilancarkannya, tepat ke badan Sukma yang sudah benar-benar siap menerimanya. Bahu gadis kecil itu hanya terdorong sedikit ke belakang, tapi langkahnya masihlah tegap. Tubuhnya secara tidak langsung menyerap semua tenaga dalam yang dilancarkam Ki Purnomo, sehingga Sukma memiliki kekuatan penuh untuk menyerang balik.
Melihat lawannya semakin mendekat, Ki Purnomo membelalakkan mata. Serangan tenaga dalam yang dilancarkannya pada Sukma, ternyata tidak ada apa-apanya. Secara mengejutkan, gadis kecil itu sudah mencengkeram tangannya. Sukma memelintir tangan Ki Purnomo, lalu mendorongnya hingga tertelungkup di tanah. Tanpa segan-segan, ia menginjak punggung pria itu dengan kuat.
Fadil dan Fani terkesima melihat kekuatan luar biasa yang ditunjukkan Sukma. Keduanya segera turun dari motor, ketika mengetahui pria berambut gondrong itu meraung-raung kesakitan akibat injakan Sukma. Berulang kali Fadil berteriak untuk mencegah Sukma, tapi gadis kecil itu tidak menggubrisnya.
"Dedek Sukma, hentikan! Kasihan dia kesakitan!" tegur Fadil memegangi tangan Sukma.
Sukma tak mendengarnya sama sekali, tapi Fadil tak mau menyerah. Pemuda itu menarik kaki kiri yang menginjak punggung Ki Purnomo, meski terasa sangat sulit. Kaki Sukma terasa lebih berat dari sebelumnya, sehingga Fadil harus berusaha keras untuk melepaskan injakannya.
Sementara itu, Fani menarik tubuh Sukma agar segera mundur dari Ki Purnomo. Ia juga membujuk temannya untuk tidak menginjak pria berambut gondrong itu. Namun, Sukma masih enggan melepaskan kakinya dari punggung Ki Purnomo.
Pria berambut gondrong itu tampak tak berdaya melepaskan diri dari Sukma. Rasa sakit yang mendera tubuhnya, tak tertahankan lagi. Cucuran darah keluar dari hidung dan mulutnya, hingga akhirnya Ki Purnomo meregang nyawa.
Mengetahui jantung pria gondrong itu tak lagi berdetak, Sukma melepaskan injakannya. Perlahan kesadarannya kembali, dan tubuhnya terjungkal ke belakang bersama Fani. Gadis kecil itu mengaduh, kemudian cepat-cepat bangkit sambil memegangi tangan temannya.
Sementara Fani dan Sukma menepuk-nepuk pakaiannya yang kotor, Fadil berjongkok untuk membalikkan badan Ki Purnomo. Betapa terkejutnya ia saat melihat darah yang bercucuran dan hidung dan mulut pria berambut gondrong itu. Ketika memegang dada Ki Purnomo, Fadil tak merasakan detak jantung sama sekali. Kedua mata Fadil membelalak, menatap Sukma dengan ngeri. Ia tidak menyangka, bahwa injakan kaki gadis kecil itu dapat menewaskan nyawa pria dewasa.
"Bapak-bapak ini mati. Dek Sukma, bapak-bapak ini sudah mati! Gimana ini?" tanya Fadil panik.
Fani membekap mulutnya dengan kedua tangan, matanya membelalak. Ia menoleh pada Sukma yang bersikap biasa-biasa saja seperti tak berdosa. Sukma balik menatapnya sambil berkedip-kedip.
"Ya sudah, kita pulang aja. Dia udah mati, tinggal dikubur aja," kata Sukma dengan santai.
Sementara itu di kontrakan, Bu Inah melamun memikirkan nasib Sukma. Saking dalamnya melamun, wanita paruh baya itu tak sengaja mengiris jarinya selagi mengupas bawang. Bu Inah terhenyak tatkala merasakan perih di tangannya. Segera ia mengemut jari telunjuknya agar darahnya cepat berhenti.
"Makanya, Bu. Kalau ngupas bawang, jangan sambil melamun," kata Pak Risman menaruh lele yang sudah dicuci.
"Habisnya, Ibu kepikiran sama Dedek, Pak," ucap Bu Inah dengan lesu.
"Memangnya ada apa lagi dengan Dedek? Ngomongnya ngelantur lagi?"
Bu Inah menggeleng. "Tadi Ibu lihat sendiri, Dedek mau membunuh seorang bapak-bapak yang sudah menculik monyetnya. Ngeri banget pokoknya, Pak. Bapak-bapak itu sampai nggak bisa bangkit sama sekali."
"Benarkah, Bu? Aneh banget, Sukma masih kecil. Dapat kekuatan dari mana dia sampai bisa bikin bapak-bapak itu nggak berdaya?"
"Ibu juga nggak ngerti, Pak. Ibu takut, Dedek mencari pria itu lagi dan sampai membuatnya tewas seperti dukun yang menyerang Bu Farah."
"Tenang saja, Bu. Dedek nggak bakalan melakukan hal itu lagi. Bukankah Ibu sudah menasihatinya agar tidak membunuh orang?"
Bu Inah mengembuskan napas berat. Ia memiliki firasat, bahwa Sukma akan mendapat masalah kali ini. Hatinya dirundung gelisah, sampai-sampai pikirannya tak tenang hanya karena memikirkan Sukma.