
"M-maaf, Pak. Saya sangat memohon sama Bapak. Kondisi istri saya sedang buruk. Apa Bapak-bapak bisa menunggu sebentar sampai istri saya siuman?" tanya Pak Risman dengan wajah memelas.
"Kami mohon kerja samanya. Keterangan dari Saudari Sukma sangat kami butuhkan saat ini," jawab polisi itu.
"Aduh, gimana, ya, Pak? Apa tidak akan lama? Soalnya istri saya ...."
"Pak, kami mohon dengan sangat, Bapak dapat bersikap kooperatif dalam kasus ini. Soal istri Bapak, kami pikir tetangga Bapak bisa membantunya sampai siuman," bujuk polisi sedikit mendesak.
"Baiklah, Pak. Saya akan coba bujuk putri saya dulu."
Pak Risman menghampiri Sukma dan Atikah yang masih duduk di depan dapur. Ditatapnya kedua putri kesayangannya itu, lalu memegang tangan Sukma. Bagaimanapun juga, Pak Risman akan berusaha memberi kekuatan pada si bungsu agar mampu memberikan keterangan pada polisi. Sukma pun mengangguk setuju, meski air mata berlinang membasahi pipinya.
"Atikah, tolong jaga Ibu. Minta bantuan sama Teh Citra atau Mang Ujang biar Ibu cepat siuman," kata Pak Risman sebelum pergi membawa Sukma.
"Iya, Pak," ucap Atikah dengan mata berkaca-kaca.
"Satu lagi. Tolong jangan bikin Ibu semakin cemas. Nanti kesehatannya semakin memburuk."
"Akan aku usahakan, Pak."
Maka berangkatlah Pak Risman bersama Sukma yang masih menangis tersedu-sedu menuju kantor kepolisian. Keduanya menaiki mobil polisi yang terparkir di depan kontrakan Haji Gufron, disaksikan oleh para penduduk sekitar. Tak bisa dimingkiri, pandangan mereka langsung tertuju pada Sukma. Bukan hal asing lagi bagi mereka jika gadis kecil itu dipanggil polisi untuk kedua kalinya.
Mobil melaju meninggalkan kediaman Pak Risman. Namun, desas-desus warga tentang Sukma, belumlah pergi dari lingkungan itu. Beberapa di antara mereka bergunjing, bahwa Sukma memang anak nakal tak tahu diri yang sudah berbuat lancang sampai membunuh orang dewasa. Haji Gufron yang tak sengaja mendengar gunjingan mereka, seketika berang.
"Kalian ini nggak usah banyak bicara yang aneh-aneh tentang anaknya Pak Risman. Emangnya kalian tahu kelakuan putri bungsu Pak Risman yang sebenarnya?" tegur Haji Gufron menatap tajam.
"Kami bukan cuma berasumsi, Pak, tapi udah ada buktinya. Waktu itu sempat viral video anak itu ngebunuh bapak-bapak," sanggah seorang wanita berdaster merah.
"Alah, video itu lagi. Itu cuma editan. Coba ibu-ibu pikir pakai akal sehat! Apa mungkin, anak sekecil Sukma bisa membunuh bapak-bapak? Kalian juga punya anak seumuran Sukma, kan?" kata Haji Gufron tak terima.
Kedua ibu-ibu itu tak lagi membalas ucapan Haji Gufron. Mereka kembali ke rumah masing-masing, sambil sesekali memandang sinis pada pria paruh baya itu. Haji Gufron menggeleng, kemudian bergegas menemui Bu Inah dan Atikah.
Setibanya di tempat tinggal Pak Risman, tampak Citra dan Mang Ujang sedang mengusap telapak tangan Bu Inah. Haji Gufron pun ikut panik dan bergegas membantu mereka dengan memencet ibu jari kaki kanan Bu Inah. Tak lupa, ia menyuruh Atikah menyodorkan minyak kayu putih ke hidung wanita paruh baya itu.
"Atikah, kenapa ibu kamu bisa sampai pingsan begini?" tanya Haji Gufron.
"Tadi ... tadi Dedek cerita kalau semalem udah nyelametin A Albi, bahkan hampir ditusuk sama penculik," jawab Atikah sembari sesenggukan.
Haji Gufron, Citra, dan Mang ujang terperangah menatap Atikah. Mereka seakan-akan tak percaya Sukma menghilang semalaman untuk menyelamatkan temannya dari penculik.
"Apa? Beneran Dedek pergi buat nyelametin temennya dari penculik?" tanya Mang Ujang.
"Iya, Mang. Pokoknya Ibu syok gitu pas Dedek nyeritain semua kejadian yang dia alamin," kata Atikah menegaskan.
"Ya ampun! Dedek memang selalu melakukan hal di luar dugaan," ucap Citra sambil mengusap telapak tangan Bu Inah.
"Bukan itu aja, Teh. Semalem Ibu nungguin Dedek sampai kurang tidur," jelas Atikah.
Setelah cukup lama mereka berusaha menyadarkan Bu Inah, akhirnya wanita itu siuman. Matanya mengerjap sejenak, hingga kesadarannya terkumpul penuh. Sambil meringis memegangi kepalanya, ia menatap orang-orang yang duduk di sekitarnya satu per satu.
"Syukurlah, Ibu akhirnya sudah sadar," kata Haji Gufron, lalu melirik Atikah. "Atikah, cepat bawakan air buat ibu kamu."
Atikah mengangguk, kemudian mengambil segelas air ke dapur.
"Sejak kapan kalian ada di sini? Mana suami dan anak saya?" tanya Bu Inah dengan nada lesu.
"Sejak Ibu pingsan tadi. Atikah mengetuk pintu kontrakan saya dan Teh Citra buat bikin Ibu siuman," jawab Mang Ujang.
Tak lama kemudian, Atikah datang membawa segelas air dan menyodorkannya pada Bu Inah. "Bu, sebaiknya Ibu minum dulu," ujarnya.
"Nggak usah, Atikah. Ibu masih kuat puasa," ucap Bu Inah.
"Tapi kondisi Ibu sangat lemah. Sebaiknya Ibu berbuka saja," bujuk Haji Gufron.
"Nggak apa-apa, Pak Haji. Saya masih kuat, kok," sanggah Bu Inah, sembari bangun membenarkan posisi duduknya. "Mana Bapak sama Dedek? Kok mereka nggak ada di sini?"
Atikah menatap Haji Gufron. Ia tak sanggup mengatakan semua yang terjadi pada ayah dan adiknya selama sang ibu pingsan. Masih teringat di benaknya, bahwa dirinya tidak boleh membuat kondisi ibunya semakin buruk.
Haji Gufron pun memahami maksud Atikah. Dengan senang hati, ia membantu putri sulung Bu Inah untuk membicarakan perihal Pak Risman dan Sukma.
"Sebaiknya Ibu istirahat dulu. Nanti juga Pak Risman sama Dek Sukma pulang, kok," ucap Haji Gufron dengan santai.
"Tapi Dek Sukma ... dia ...."
"Enggak bakalan ada apa-apa, Bu. Dedek cuma dimintai keterangan aja sama polisi. Sebentar lagi juga mereka pulang. Tenang aja," kata Haji Gufron, berusaha membuat hati Bu Inah tenang.
"Mudah-mudahan aja, Pak Haji. Kasihan Dedek kalau sampai terjerat kasus yang lebih parah."
"Berdoa aja, Bu, supaya Dek Sukma nggak diapa-apain sama polisi. Mereka juga pasti paham, anak sekecil Dek Sukma masih polos."
Sementara Bu Inah tercenung memikirkan nasib putri bungsunya, Pak Risman dan Sukma yang baru saja tiba di kantor polisi, terkejut melihat beberapa wartawan sedang menunggu di teras kepolisian. Ketika turun dari mobi, keduanya berjalan berbarengan bersama polisi dengan tergesa-gesa. Ketika masuk ke kantor, tak sengaja Pak Risman bertemu dengan Hilman. Pria itu tampak cemas, menghampiri mantan pengurus kebun dan putrinya. Sebelum memulai pembicaraan, ia melirik ke kanan dan kiri, memastikan tak ada yang memperhatikannya saat ini.
"Pak, tolong beri pengertian pada Sukma agar tidak menceritakan seluruh kejadian malam tadi," ujar Hilman.
"Loh, kenapa begitu, Pak?" Pak Risman mengerutkan dahi.
"Bapak nggak tahu, ya? Di negara ini, pelaku pembunuhan tetap dikenai hukuman meskipun tujuannya untuk menolong orang lain. Bapak masih ingat, tentang kasus pemuda yang membunuh pelaku pelecehan terhadap ibunya tempo hari? Dia dikenai pasal pembunuhan dan masuk bui!"
Pak Risman tercengang mengingat berita mengenai kasus pemuda itu. "Terus saya harus gimana?"
"Bilang aja sama Sukma, kalau dua orang yang jatuh ke bawah gedung itu terpeleset saat menangkapnya. Albi juga bilang begitu."
Pak Risman tertegun mendengar ucapan Hilman, lalu melirik pada putrinya yang masih sesenggukan menyeka air matanya. Ia khawatir, kalau Sukma menceritakan dirinya yang melempar dua orang berbadan tinggi besar dari atas ketinggian. Pak Risman berjongkok dan menatap kedua mata Sukma.
"Dedek dengar itu, nggak? Dedek jangan ceritain kejadiannya dengan lengkap. Bilang aja, kalau dua orang itu terpeleset saat mau nangkap Dedek," bisik Pak Risman.
"Tapi kata Teteh, berbohong itu bisa bikin hidung Dedek jadi panjang," kata Sukma sambil memegangi hidungnya.
"Kali ini hidung Dedek nggak bakalan panjang. Justru kalau Dedek bicara jujur, nanti polisi bakal pisahin Dedek dari Bapak, Ibu, sama Teh Atikah."
"Dedek nggak mau sampai itu terjadi, kan?"
"Nggak mau. Dedek nggak mau dipisahin dari Bapak, Ibu, sama Teh Atikah," ucap Sukma sembari menggeleng.
Belum sempat Pak Risman melanjutkan pembicaraannya, Sukma dipanggil masuk ke sebuah ruangan. Sukma memegangi tangan ayahnya, meminta diantar masuk ke sana. Jantungnya berdegup kencang, napasnya tak keruan. Baru sekarang ia merasakan kegugupan yang luar biasa, meskipun ini kali kedua berhadapan dengan polisi.
Sukma masuk ke ruangan bersama ayahnya. Tampak dua orang polisi sedang duduk di depan meja. Salah satunya memakai kaus polo, sedangkan yang lainnya memakai seragam polisi. Sukma dan Pak Risman duduk berhadapan dengan mereka. Sesekali, Pak Risman mengusap tangan Sukma, lalu berpesan agar tidak gugup.
"Pak, saya harap Anda tidak mempengaruhi putri Bapak. Biarkan Saudari Sukma berbicara apa adanya," kata polisi berseragam lengkap.
"Baik, Pak."
"Nah, Dek Sukma. Sekarang Adek ceritakan kejadian tentang penculikan Albi secara lengkap," ujar polisi berkaus polo.
Sukma menceritakan awal Albi diculik oleh dua orang berbadan tinggi besar saat bermain petak umpet. Lambat laun, penuturan Sukma beralih pada kejadian malam saat dirinya pergi mencari Albi melalui jalan gaib. Seketika, polisi itu mengerutkan dahi mendengar penuturan Sukma.
"Loh, kok jadi masuk ke jalur gaib? Coba ceritakan dengan sejujur-jujurnya, Dek. Jangan sambil berkhayal," kata polisi berseragam, keheranan.
"Dedek nggak lagi berkhayal, Pak. Bapak mau Dedek lihatin monyet yang udah nganter Dedek ketemu A Albi? Monyetnya ada di sini," ucap Sukma menegaskan.
Bulu kuduk polisi itu meremang tatkala Sukma berkata kera kesayangannya berada di dalam ruangan itu. Pria berseragam itu tidak tahu, bahwa Wanara sedang berdiri tepat di belakangnya.
"Baiklah, kalau begitu lanjutkan keterangan Adek mengenai penculikan Albi. Saya pikir, Adek tidak sedang mengada-ada," ujar pria berkaus polo.
"Bapak Polisi percaya sama Dedek, kan?" tanya Sukma menatap kedua polisi itu, lalu berkedip.
"Iya, Bapak percaya," ucap pria berkaus polo.
Sukma melanjutkan ceritanya, dimuali dari pertarungannya melawan Pak Jumadi dan dua pria suruhannya. Kejadian demi kejadian dituturkannya secara rinci, hingga saat kematian dua orang berbadan tinggi besar itu menemui ajalnya. Sukma tidak mengatakan bahwa dirinya sudah melempar mereka ke bawah, melainkan dua orang suruhan itu terpeleset saat hendak menangkapnya. Hati Pak Risman merasa lega, mengetahui Sukma menuruti nasihatnya. Putri bungsunya itu sadar betul, dirinya tidak mau kalau sampai berpisah dari keluarganya hanya karena pembunuhan yang dilakukannya di gedung terbengkalai.
Akhirnya, cerita Sukma selesai saat dirinya meloloskan diri dari tikaman pisau Pak Jumadi yang mengarah padanya. Kedua polisi di ruangan itu berterima kasih atas keterangan yang diungkapkan oleh Sukma. Mereka juga bersyukur, gadis kecil itu selamat dari pembunuhan yang dilakukan Pak Jumadi.
"Pak, lain kali jaga putri Bapak baik-baik. Jangan biarkan dia berkeliaran sendirian. Tetap awasi putri Bapak," kata polisi berseragam lengkap.
"Baik, Pak. Akan saya usahakan."
"Sekali lagi kami ucapkan terima kasih atas kerjasama Dek Sukma dan Bapak. Silakan, kalian boleh pulang," kata polisi berkaus polo yang mencatat penuturan dari Sukma.
Pak Risman dan Sukma berpamitan, lalu beranjak ke luar ruangan itu. Saat berjalan menuju ke luar kantor kepolisian, lagi-lagi mereka bertemu dengan Hilman. Kali ini, Hilman berjalan bersama istri dan anaknya. Farah tampak ketus melihat Pak Risman berada di sana. Tatapan matanya begitu sinis, sampai-sampai Pak Risman canggung untuk menyapanya.
"Papa lain kali nggak usah bawa-bawa Albi kalau mau mapir ke rumah orang ini. Dari dulu dia emang suka bawa sial," ketus Farah mendelik pada Pak Risman.
"Hus! Kamu itu jangan ngomong kasar sama Pak Risman. Gitu-gitu juga anaknya udah nolongin Albi," tegur Hilman.
"Iya, iya. Aku tahu," kata Farah melipat kedua tangannya.
"Sebaiknya kamu bilang terima kasih sama Dek Sukma. Kalau nggak ada dia, Albi mungkin nggak bakal selamat," ujar Hilman.
Farah mendelik sejenak pada Sukma yang sedang tersenyum menyapa Albi.
"Ngapain ngucapin terima kasih segala? Kalau aja Papa nggak bertindak konyol pakai sok-sokan jadi jagoan segala buat nyelametin Albi, pasti anaknya Pak Risman nggak bakal ikut campur," ketus Farah bernada kesal.
"Kamu ini memang pongah, ya," ucap Hilman bersungut-sungut.
"Pak Hilman, Bu Farah, kami pamit pulang duluan, ya. Kasihan ibunya Sukma, tadi sempat pingsan sewaktu kami ke sini," kata Pak Risman.
"Waduh! Kalau begitu, saya antar Bapak ke kontrakan, ya," ucap Hilman menawarkan bantuan.
"Idih! Papa ini apa-apaan, sih. Biarin aja mereka pulang sendiri. Toh mereka punya uang, kok," cegah Farah mendorong Hilman.
"Nggak apa-apa kok, Pak. Kami bisa pulang sendiri. Kami pamit dulu," pungkas Pak Risman meninggalkan Hilman sambil menuntun Sukma.
"Pak Risman, tunggu dulu!" ujar Hilman menyusul Pak Risman, lalu menaruh uang lima puluh ribu ke tangan pria paruh baya itu. "Ini buat ongkos Bapak pulang."
"Aduh, nggak usah repot-repot, Pak. Saya juga punya ongkos buat pulang," kata Pak Risman canggung.
"Nggak usah sungkan, Pak. Anggap aja ini rezeki buat Bapak dan rasa terima kasih saya atas pertolongan Dek Sukma."
"Jadi nggak enak, nih. Terima kasih banyak buat kemurahan hati Bapak. Saya senang, Bapak masih bersikap baik sama keluarga saya."
"Iya, Pak. Meskipun Pak Risman tidak bekerja lagi di rumah saya, Bapak sudah saya anggap keluarga sendiri."
Pak Risman menjadi sangat canggung akan perlakuan Hilman yang terlalu baik. Ia pun tak mau berlama-lama di sana dan menerima lebih banyak kebaikan dari Hilman.
"Kalau begitu, saya pamit duluan. Sampai jumpa lain waktu, Pak," pamit Pak Risman.
"Iya."
Selepas Pak Risman meninggalkan kantor kepolisian, Farah menyikut pinggang Hilman. Ia masih tampak kesal dengan sikap suaminya yang terlalu baik pada orang-orang miskin di sekitarnya. Dengan kesal, ia menatap sinis pada Hilman.
"Bagus sekali kelakuan kamu, Pa. Belum cukup ngasih uang sama orang yang nganter Albi pulang semalam, sekarang ngasih lagi ke Pak Risman," ketus Farah.
"Sudahlah, Farah. Sama orang miskin itu jangan pelit-pelit."
"Halah ... aku udah nggak mau dengerin omongan Papa lagi. Pokoknya mulai sekarang Albi nggak boleh ikut-ikutan lagi bepergian sama Papa. Papa punya masalah sama Pak Jumadi, malah Albi yang jadi korban. Papa tahu, kan, Albi ini satu-satunya anak kita."
"Iya, Papa nggak bakal ngajakin Albi lagi. Puas kamu?"
Sementara itu, di kontrakan Haji Gufron, Bu Inah terduduk lemas ditemani oleh Atikah dan Citra. Sudah tiga jam berlalu, tapi putri dan suaminya belum juga pulang. Pikirannya masih saja waswas pada Sukma. Dalam hati ia berdoa, semoga ini terakhir kalinya Sukma berurusan dengan polisi.
Di tengah kegundahan Bu Inah, terlihat Pak Risman datang bersama Sukma. Bergegas Bu Inah beranjak dari tempat tidurnya, menghampiri si bungsu. Betapa lega hatinya melihat putrinya pulang. Air matanya tak bisa dibendung lagi.
Dipeluknya Sukma, lalu menciumi kedua pipinya. "Alhamdulillah, akhirnya Dedek pulang juga."
Sukma yang terbawa oleh suasana, ikut meneteskan air mata tatkala memandang ibunya. "Dedek nggak mau berpisah dari Ibu. Kalau Dedek jauh dari Ibu, nanti Dedek nggak bisa makan, nggak bisa main."
"Iya, Dek. Cukup sampai sini aja Dedek ketemu sama Pak Polisi, ya. Ibu yakin, Dedek bakalan jadi anak baik seterusnya," ucap Bu Inah sambil menyeka air mata Sukma, lalu mengecup kening putrinya.