
Emak masih mengerahkan segenap tenaganya untuk menyerap energi Sukma. Kendati sudah berusia senja dan tak memiliki banyak tenaga lagi, ia terus berusaha sekuat mungkin untuk menarik seluruh kekuatan dalam diri cucunya. Yang ia pikirkan, jika masih diberi sedikit waktu untuk hidup, maka akan lebih mudah mengobati keempat putra putrinya dan memohon maaf pada Pak Risman atas perlakuannya akhir-akhir ini.
Di sisi lain, Sukma tak memberi kesempatan sama sekali pada Emak. Usianya yang masih sangat muda dan memiliki banyak tenaga, ternyata tak memberikannya kemudahan dalam menyerap energi lawan. Pengalaman Emak mempelajari ilmu menyerap energi lawan selama bertahun-tahun, membuatnya kewalahan menarik seluruh energi dari dalam tubuh wanita renta itu. Berkali-kali gadis kecil itu mengatur napas sembari mengalirkan tenaga yang ditarik dari tangan Emak, tapi yang masuk ke tubuhnya hanya sedikit.
Pertarungan sengit antara dua perempuan berbeda usia itu menjadi tontonan seru bagi warga yang satu per satu datang ke kediaman Emak. Mereka begitu takjub melihat seorang wanita tua melawan anak kecil berusia tujuh tahun. Seorang kepala desa yang kebetulan berada di sana, berusaha untuk menghentikan Emak dan Sukma. Warga pun mencegahnya, tapi Pak Kades enggan mendengar. Ia justru berjalan memasuki pekarangan rumah Emak dengan geram. Alih-alih berhasil melerai keduanya, pria itu terpental ke arah kerumunan warga.
Bu Inah terperangah melihat Pak Kades terkapar lemah sembari mengerang memegangi dadanya. Beberapa warga menggendongnya ke teras rumah tetangga Emak terdekat. Abah melirik pada Bu Inah dan menyikutnya.
"Udah Abah bilang, itulah yang akan terjadi kalau kamu nekat menolong Dedek," tegur Abah.
"Iya, maaf, Bah. Tadi saya benar-benar nggak tahu kalau akhirnya bakal kayak Pak Kades," ucap Bu Inah.
"Yang kita lihat sekarang ini memang pertarungan antara seorang perempuan tua melawan anak kecil, tapi sebenarnya yang terlihat di antara mereka lebih mengerikan lagi. Abah benar-benar nggak nyangka, dari mana putri bungsu kamu dapat kekuatan kayak begitu? Abah pikir, tidak mungkin kamu dan Risman mengajarinya selama tak percaya pada makhluk gaib," kata Abah terheran-heran.
"Saya juga nggak tahu, Bah. Jangankan mengajarinya ilmu kanuragan, menunjukkan cara-cara melihat makhluk gaib saja kami nggak tahu," jelas Bu Inah.
"Apakah ilmu yang dimiliki Dek Sukma itu bakat alamiah? Setahu Abah, perlu pendalaman ilmu selama bertahun-tahun dan bertapa di tempat tertentu untuk bisa menjadi seperti Emak," tutur Abah.
"Saya juga nggak tahu, Bah," ucap Bu Inah. Ia berusaha menyembunyikan rapat-rapat soal ilmu yang diberikan oleh ayah kandungnya Sukma lewat mimpi. Bu Inah berpikir, bahwa Abah tak akan memercayai ceritanya dan akan menganggapnya sebagai karangan belaka.
Sementara itu, Emak dan Sukma masih bertarung dengan sengit. Kekuatan keduanya justru terkuras untuk menyerap energi satu sama lain. Hingga pada satu titik, Emak kehabisan tenaga melawan orang yang memiliki kekuatan sepadan dengannya. Akhirnya, wanita tua itu melepaskan seluruh ajian yang dimilikinya selama bertahun-tahun dari tubuhnya. Ia mulai menyerah. Keinginannya untuk mengobati keempat anaknya, telah pupus. Kesadaran akan kesalahannya pada Pak Risman semakin besar, hingga tak sanggup lagi menarik tenaga dari cucunya.
Sukma merasa heran saat merasakan energi yang masuk ke tubuhnya mengalir semakin deras. Seluruh kekuatan Emak masuk begitu saja tanpa perlu ditarik sama sekali. Sukma menatap Emak. Tampak wujud mengerikan di hadapannya berubah menjadi kepulan asap hitam yang pekat. Tak lama kemudian, muncullah sosok wanita tua renta sedang memejamkan mata dan terengah-engah.
"Nenek berikan semua ilmu ini sama kamu, Sukma. Hanya kamu yang pantas menerimanya," kata Emak dengan mata yang masih terpejam.
Sukma tercengang. Tangannya dicengkeram kuat oleh Emak, sampai-sampai tubuhnya terasa berat akibat menerima seluruh kekuatan yang dialirkan oleh wanita tua itu. Ia mulai menyesuaikan diri dengan ilmu yang baru didapatnya dan membantu Emak menarik seluruh energi dari tubuh wanita tua itu. Namun, yang terjadi justru sangat menyakitkan bagi Sukma. Menyerap ilmu kanuragan yang dipelajari selama bertahun-tahun bukanlah hal mudah. Berkali-kali gadis kecil itu berusaha membuat badannya beradaptasi, tapi yang dirasakannya justru semakin berat. Badannya serasa menerima bongkahan batu yang sangat besar.
Tinggal sedikit lagi Emak menyerahkan seluruh ilmunya. Sukma terengah-engah, dan bersikeras untuk tetap berdiri. Setelah seluruh kekuatan Emak tandas, akhirnya tangan Sukma dilepaskan. Gadis kecil itu tiba-tiba tumbang akibat kesulitan beradaptasi dengan kekuatan dari Emak. Sementara itu, sekujur tubuh Emak menjadi hangus dan mengeluarkan kepulan asap putih dari ubun-ubunnya. Kedua perempuan berbeda usia itu akhirnya terkapar di pekarangan rumah.
Memastikan pertarungan di antara keduanya sudah berakhir, menantu dan cucu-cucu Emak yang sejak tadi menyaksikan lewat jendela, bergegas ke luar rumah. Didekatinya Emak dengan perlahan, lalu salah satu cucu menyentuh kepala wanita tua itu. Pemuda itu meringis, tangannya kepanasan.
Sementara itu, Bu Inah dan Abah bergegas menghampiri Sukma. Bu Inah panik melihat putrinya tak sadarkan diri. Ia menarik Sukma ke dalam pangkuannya, lalu menepuk-nepuk pipi gadis kecil itu. Napas putrinya terasa lemah, sampai-sampai membuat air matanya tak bisa terbendung lagi.
"Dedek, bangun, Dek! Ada Ibu di sini," ujar Bu Inah, berlinang air mata.
"Dek, bangun, Dek!" seru Abah menggoyang-goyangkan tangan cucunya.
"Aduh! Gimana ini, Bah? Dedek nggak bisa bangun. Detak jantungnya juga sangat lemah," ucap Bu Inah panik.
"Kita bawa pulang aja dulu ke rumah, sekalian merawat suami kamu. Siapa tahu sehabis pulang dari sini, Dek Sukma bangun," cetus Abah.
Abah memanggil salah satu tetangganya untuk menggendong Sukma. Seorang pria datang, kemudian menggendong Sukma. Sesekali ia meringis, merasa berat badan gadis kecil itu melebihi usianya. Para tetangga dengan senang hati membawa Sukma ke rumah Abah, meski perjalanan yang ditempuh cukup lama.
Bi Yati dan Bi Neneng mengerang kesakitan. Keduanya mengeluh, tulangnya terasa benar-benar remuk. Sementara itu, Wa Agus dan Wa Seto benar-benar tak sadarkan diri. Tak lama kemudian, Wa Agus terbatuk-batuk lalu memuntahkan banyak darah. Namun, beberapa detin kemudian, pria itu kembali tak sadarkan diri.
"Sebenarnya pertengkaran macam apa yang sudah mereka lakukan sampai berdampak parah kayak begini?" tanya salah satu warga keheranan.
"Mungkin mereka habis beradu ilmu dengan anak kecil yang tadi, makanya sampai begini. Maklum, Emak sama anak-anaknya penganut ilmu hitam dan ilmu kanuragan," jawab warga lainnya.
"Hus! Bisa nggak, sih, kalian nggak bergunjing di saat begini? Mertua saya sedang sekarat!" bentak salah satu menantu laki-laki Emak, suaminya Bi Neneng.
Di kediaman Abah, Pak Risman terkejut melihat putrinya tak sadarkan diri. Dengan bersusah payah, ia berupaya membantu istrinya membangunkan si bungsu. Atikah menangis tersedu-sedu, menyesal telah mengizinkan adiknya pergi ke rumah Emak. Mang Wawan dan Bi Narti yang semula menginap di rumah kerabatnya, terpaksa harus pulang lebih awal tatkala mendapat kabar buruk dari warga sekitar.
Untuk membantu kakaknya memulihkan Sukma, Mang Wawan sengaja mengajak Ustaz Halim ke rumahnya. Sang ustaz pun mengernyitkan kening, mendapati seorang gadis kecil bernapas sangat lemah. Ia menyuruh Bu Inah mengambilkan segelas air putih. Dibacakannya ayat-ayat suci Al-Qur'an ke dalamnya, sembari meminta pertolongan pada Allah agar Sukma bisa sembuh seperti sedia kala.
Selesai dibacakan doa, Ustaz Halim membantu Bu Inah untuk meminumkan air ke mulut Sukma. Alih-alih menerima air doa, kerongkongan gadis kecil itu seakan-akan menolak untuk diobati. Berkali-kali Bu Inah mencoba memasukkan air doa dengan menggunakan sendok, mulut putrinya justru memuntahkannya kembali.
"Ya Allah, gimana ini Pak Ustaz? Dedek kayak nggak mau minum airnya," ucap Bu Inah cemas.
Ustaz Halim tak kehabisan akal. Ia meletakkan tangannya di dahi Sukma sambil membacakan doa-doa ruqyah. Namun, Sukma masih saja tidak bereaksi. Suhu tubuhnya justru meningkat tatkala dibacakan doa oleh Ustaz Halim. Pria itu menggeleng lemah, seperti kesulitan memahami situasi yang sedang dialami gadis kecil itu.
"Ini ... gimana ceritanya anak Ibu bisa begini? Sekian lama saya me-ruqyah orang, baru kali ini nemu kasus yang susah disembuhkan," tanya Ustaz Halim.
"Tadi Dedek berantem sama neneknya di desa sebelah. Tadinya mau saya lerai, tapi pas lihat Pak Kades yang tiba-tiba terpental, saya jadi takut," jelas Bu Inah.
"Neneknya? Ibunya Pak Risman?" Ustaz Halim terbelalak.
"Iya," jawab Bu Inah dan Pak Risman berbarengan.
Ustaz Halim mengusap muka sambil beristigfar. "Begini saja, besok saya akan menghubungi guru saya dari Cirebon buat datang ke sini. Mudah-mudahan beliau bisa membantu kita untuk membangunkan Dedek."
"Besok? Gimana kalau Dedek nggak bisa tertolong lagi?" tanya Bu Inah panik.
"Tenang saja, Bu. Sebenarnya putri Ibu baik-baik saja, hanya detak jantungnya melemah dan sulit sadarkan diri. Ini harus ditangani oleh karomah yang dimiliki guru saya," jelas Ustaz Halim.
"Begitu, ya. Pak Ustaz, kalau bisa secepatnya panggil guru Bapak. Saya benar-benar khawatir kalau Dedek nggak bisa bangun," ujar Pak Risman.
"Saya usahakan, Pak. Mudah-mudahan guru saya punya waktu senggang, jadi bisa secepatnya ke sini," kata Pak Ustaz.
Pak Risman menangis mendengar ucapan Ustaz Halim. Ia benar-benar menyesal telah menyepelekan nasihat Abah sampai anaknya menjadi korban dari keganasan kakak dan ibunya. Sembail mengusap-usap kepala si bungsu, Pak Risman menyesali semua kebodohannya selama ini. Mulai dari ketidakpercayaannya pada kemampuan Sukma, sampai membuatnya jatuh sakit akibat kenaifannya pada keluarga sendiri.
"Dedek, maafin Bapak, Dek. Gara-gara Bapak terlalu naif, Dedek jadi begini. Bapak benar-benar menyesal, Dek," ucap Pak Risman tersedu-sedu.