
Ibunya Sere menarik selimut putrinya. Akan tetapi, reaksi yang diberikan Sere sangatlah di luar dugaan. Gadis kecil itu menarik selimut sekuat-kuatnya sambil menjerit ketakutan.
"Pergi! Pergiii! Jangan makan aku! Jangan makan aku!" pekik Sere dengan memejamkan mata.
"Sere, ini Mama, Sayang," kata ibunya sambil menepuk-nepuk badan Sere.
"Bohong! Kamu bukan mama aku!"
Ibunya Sere menarik selimut putrinya. Teriakan Sere semakin memekakkan telinga, matanya masih terpejam. Ibunya menggoyang-goyang tubuh Sere, sampai matanya terbuka.
"Mama? Ini beneran Mama?" tanya Sere dengan mata membesar.
"Ini Mama, Sayang. Kamu pikir Mama ini apa?"
Sere segera memeluk tubuh ibunya, lalu menangis tersedu-sedu. Masih hangat di ingatannya tentang sosok mengerikan berambut panjang dan gimbal yang menundak-nundak tepi kasur sambil menarik selimut. Sere ketakutan setengah mati, sampai-sampai berlari ke pojok kamar. Tak ada yang mendengar suara teriakannya semalam. Sere yang gemetaran, hanya bisa bersembunyi di belakang meja belajar hingga sosok itu benar-benar hilang.
Kini, Sere ingin terus bersama ibunya. Jika tidak, maka ia akan gemetaran lagi gara-gara diganggu makhluk-makhluk yang seharusnya tidak bisa dilihatnya. Kalaupun ada banyak pembantu di rumahnya, mereka tak bisa berbuat banyak. Jarak dari kamarnya ke kamar pembantu sangat jauh.
"Sere, Mama mau pergi kerja dulu, ya. Kalau kamu masih takut, di bawah aja sama bibi pembantu," kata ibunya mengusap kepala Sere.
"Enggak. Aku nggak mau, Ma. Hantu-hantu itu bakalan terus ngeganggu aku. Bibi pembantu juga nggak bisa nolongin aku. Mereka sibuk beresin rumah," rengek Sere memeluk tubuh ibunya semakin erat.
"Sere, Mama harus kerja, Sayang. Nggak akan lama kok. Nanti sore juga Mama udah pulang," bujuk ibunya.
"Nggak mau, Ma. Nggak mau!"
Merasa kesal putrinya tak mau melepaskan pelukannya, wanita itu memanggil salah satu pembantu. Tak lama kemudian, seorang wanita berkerudung seumuran Bu Inah datang dengan terengah-engah. Sambil membungkukkan sedikit punggung, ia menghadap majikannya dengan penuh hormat.
"Ada apa, Nyonya?" tanya wanita yang biasa dipanggil Bi Esih itu.
"Tolong urus Sere baik-baik, ya. Saya nggak bisa ninggalin kerjaan di kantor," kata ibunya Sere.
"Baik, Nyonya."
"Mama! Aku nggak mau! Mama jangan tinggalin aku! Aku takut!" jerit Sere.
Ibunya Sere bergeming. Ia berusaha melepaskan pekukan anaknya, terlebih saat menerima telepon dari klien. Bi Esih menarik tubuh Sere sekuatnya, sampai terlepas dari sang ibu.
Tanpa begitu memedulikan tangisan putrinya, ibunya Sere melenggang keluar kamar, lalu bergegas menuruni tangga. Sere yang masih sedih dan ketakutan, menangis sejadi-jadinya. Bi Esih terus membujuk Sere untuk memahami keadaan kedua orang tuanya yang sibuk bekerja. Gadis kecil itu tak mau mengerti. Dalam pikirannya, kedua orang tuanya hanya sibuk bekerja saja tanpa mau peduli pada keadaan yang sedang dialaminya.
Bi Esih kemudian mengajak Sere turun dari kamarnya. Gadis kecil itu tetap saja menundukkan kepalanya, takut kalau-kalau makhluk menyeramkan bisa mengganggunya lagi. Sembari sesenggukan, ia masuk ke ruang makan dengan Bi Esih. Sembari menunggu Bi Esih membawakan sarapan, Sere perlahan-lahan mengangkat kepalanya dan mengedarkan pandangan ke segala penjuru ruangan. Tak ada apa pun di sana. Hatinya cukup lega, mengingat tak ada lagi yang mengganggunya saat pagi datang. Hanya ada Bi Esih saja yang membawakan sarapan untuknya.
****************
Saat bubar sekolah, Sukma dibujuk oleh Ami dan Kezia untuk bermain ke rumah Sere. Sukma tak mau buru-buru menyetujuinya, sebab baru sebentar tinggal di Padalarang dan belum mengenal banyak jalan untuk ke rumah temannya maupun arah menuju kontrakan. Kendati demikian, Kezia tak mau menyerah, mengingat Sere pasti tidak baik-baik saja hari ini. Ia yang selalu bermain ke rumah Sere mengetahui, bahwa temannya itu selalu ditinggalkan orang tuanya bekerja dan hanya ditemani para pembantu.
Saat menuju gerbang keluar, Sukma meminta Bu Inah untuk mengantarnya bermain ke rumah Sere. Bu Inah tidak menyetujuinya, sebab sama-sama belum tahu di mana rumahnya dan arah jalan menuju kontrakan. Ibunya Kezia bersedia menunjukkan jalan pada Bu Inah, karena rumahnya tak begitu jauh dari rumah Sere. Selain itu, ia juga berpikir bahwa bukan putrinya saja yang mengalami kejadian aneh, tapi Sere juga. Akibat Sukma membuka mata batinnya, Sere pingsan hingga murung saat siuman.
Cukup lama Bu Inah berpikir, lalu menatap Sukma lekat-lekat. "Kamu beneran mau ke rumahnya Sere?"
"Kenapa Ibu bertanya lagi? Aku emang pengin main ke rumahnya Sere, Bu," kata Sukma menegaskan.
Bu Inah menatap kembali ibunya Kezia, lalu mengangguk. "Baiklah, kalau begitu ayo ke rumahnya Sere."
Ibunya Kezia dengan senang hati mengantar Bu Inah dan Sukma untuk bertemu dengan Sere, sedangkan Ami dan ibunya tidak ikut karena ada urusan. Ibunya Kezia menceritakan, bahwa Sere sering ditinggal orang tuanya bekerja. Kadang-kadang, ibunya sudah pergi sebelum Sere bangun. Sere sering diantar-jemput oleh supir pribadinya. Kalaupun tak mau dijemput oleh si supir, Sere kadang-kadang jalan kaki bersama Kezia dan Ami.
Mendengar penuturan ibunya Kezia, Bu Inah merasa kasihan pada gadis kecil itu. Hatinya terenyuh membayangkan betapa sedihnya Sere saat ditinggal kedua orang tuanya pergi bekerja. Sesekali Bu Inah memandang Sukma sambil sesekali mengusap kepalanya. Dadanya terasa sesak tatkala teringat lagi pada kejadian enam tahun silam. Sukma yang kala itu masih bayi merah, terlihat begitu menyedihkan di gendongan Pak Risman. Maka tak heran jika Bu Inah sangat menyayangi Sukma seperti pada anak kandungnya, Atikah. Sebagai seorang ibu, ia merasa bertanggung jawab untuk mengurus anak-anak.
Setibanya di rumah Sere, Bu Inah dan Sukma terkesima. Kediaman gadis kecil itu begitu besar dan mewah, sama seperti rumahnya Hilman. Seorang satpam yang mengetahui kedatangan ibu-ibu beserta anaknya, segera menghampiri mereka.
"Maaf, kalian siapa, ya?" tanya satpam itu.
"Saya ibunya Kezia, temennya Sere. Sere-nya ada?" kata ibunya Kezia.
"Ada. Mari, silakan masuk!"
Setelah satpam membuka gerbang, mereka memasuki halaman rumah Sere yang begitu luas. Cukup jauh berjalan menuju rumahnya, hingga membuat Sukma sedikit kelelahan. Ketika masuk ke dalam, Bu Inah dan Sukma terkesima melihat dekorasi antik nan mewah rumah gedongan itu.
"Bu, rumahnya Sere lebih gede dari rumahnya Om Hilman, ya," kata Sukma.
"Iya. Pembantunya aja banyak," kata Bu Inah sembari mengedarkan pandangan ke seisi ruangan. Kebetulan, pembantu-pembantu di sana sedang sibuk membersihkan rumah.
Tak lama kemudian, Bi Esih datang menghampiri mereka. Dengan senyum semringah, ia menyambut para tamu sambil menawarkan minuman.
"Nggak usah repot-repot, Bi. Kami datang ke sini cuma sebentar kok, mau ketemu sama Sere aja," kata ibunya Kezia.
"Oh, iya. Neng Sere lagi ada di halaman belakang. Akan saya panggilkan," ucap Bi Esih dengan sungkan.
"Nggak usah, Bi. Biar kami aja yang ke sana," ujar ibunya Kezia.
Lain Kezia, lain pula Sukma. Kendati masih canggung berkunjung ke rumah teman yang baru dikenalnya kemarin, ia berusaha mempercepat langkahnya demi menggapai Sere. Sukma menyadari kehadiran makhluk berambut panjang yang sedang berenang di dalam kolam, sedang mendekati Sere. Tangannya sudah mengulur ke depan, seolah-olah ingin menarik Sere ke dalam kolam.
"Sere! Cepat pergi dari situ!" teriak Sukma memperingatkan.
"Ada apa memangnya?" tanya Sere dengan dahi berkerut.
"Itu! Ada ... ada itu! Cepat pergi Sere!" seru Sukma semakin panik.
Belum sempat Sukma menolong Sere, gadis kecil itu tercebur ke dalam kolam. Pun dengan Kezia yang memegang pundaknya sejak tadi. Sukma hanya bisa tertegun melihat makhluk di dalam air itu menyeret Sere lebih dalam. Kalaupun ingin menolong, ia akan ikut tenggelam bersama teman-temannya, mengingat belum bisa berenang sama sekali.
Suasana semakin tegang. Bu Inah dan ibunya Kezia memanggil satpam untuk menolong Sere. Tak butuh waktu lama, satpam pun datang dan segera masuk ke kolam. Ia menyelamatkan Sere dan Kezia, lalu naik dari kolam menggendong kedua anak itu.
Sukma yang masih berdiri di pinggir kolam, memperhatikan sosok makhluk gaib di bawah air. Makhluk itu mendadak hilang tatkala Sere dan Kezia berhasil diselamatkan.
Sementara itu, satpam dan Bu Inah berusaha menyadarkan Sere. Pun dengan ibunya Kezia yang berusaha menyadarkan putrinya. Tak lama kemudian, Kezia terbangun sambil menyebut-nyebut ibunya. Ibunya Kezia merasa lega, putrinya baik-baik saja.
Berbeda dengan Kezia yang cepat sadar setelah ditepuk-tepuk pipinya, Sere masih tak sadarkan diri. Bu Inah menekan dada gadis kecil itu hingga mulutnya mengeluarkan air dan terbatuk-batuk. Sere pun bangkit dengan mata mengerjap.
"Sere, kamu nggak apa-apa, Nak?" tanya Bu Inah mengelus punggung Sere.
"Tante, ada yang narik kaki aku dari kolam!" jawab Sere dengan gigi bergemeletuk. "Aku takut, Tante."
"Sudah, sudah. Kamu jangan takut. Ada kami di sini," bujuk Bu Inah menenangkan Sere.
Sukma duduk di dekat Sere sambil memperhatikannya. Ia merasa kasihan pada temannya, terlebih setelah melihatnya diganggu oleh makhluk jahat. Segera ia menatap Sere lekat-lekat sambil memegang tangannya.
"Kamu nggak apa-apa, Sere? Udah aku bilangin, cepat pergi di sana," ucap Sukma.
"Maafin aku, Sukma. Soalnya aku nggak tahu kalau ada yang bakalan narik kaki aku," sanggah Sere.
"Iya, nggak apa-apa."
"Sukma, kamu bisa bikin hantu-hantu nyeremin itu pergi, nggak? Soalnya aku nggak mau kalau diganggu terus. Udah mukanya nyeremin, suka ngejar-ngejar aku juga. Bahkan, semalam aku dikejar sama hantu yang rambutnya panjang sampai harus sembunyi di deket meja belajar," tutur Sere dengan muka memelas.
"Aku nggak bisa ngusir hantu," kata Sukma.
"Ayolah, Sukma. Tolongin aku. Aku semalam teriak-teriak terus, tapi nggak ada yang denger. Kamu nggak denger suara aku serak kayak gini?"
Melihat Sere yang tampak letih dengan pandangan kosong, Sukma merasa iba. "Aku emang nggak bisa ngusir hantu, tapi kalau kamu nggak mau melihat mereka lagi, aku bakal bantu kamu."
"Beneran, Sukma? Kalau begitu, lakuin sekarang juga. Aku udah capek, semalam nggak bisa tidur."
Sukma mengangguk, lalu menyuruh Sere menutup mata. Sere menuruti perintahnya, berharap upaya yang dilakukan Sukma akan berhasil. Sukma menempelkan tangannya ke kening Sere sambil komat-kamit merapalkan mantra.
Bu Inah menyaksikan tingkah Sukma di hadapannya. Ia semakin yakin, si bungsu memiliki kemampuan yang tak bisa dilakukan oleh anak-anak seusianya. Tentang semua yang pernah diceritakan dan dilihat Sukma, mungkin memang benar-benar ada, pikirnya. Setelah berkali-kali melihat tingkah aneh Sukma yang berpengaruh pada orang lain, mulai hari ini juga, Bu Inah tak mau menyepelekan segala yang diucapkan Sukma.
Selesai menutup mata batin Sere, Sukma menyuruhnya membuka mata lagi. Untuk memastikan upayanya berhasil, Sukma mengajak Sere masuk ke rumahnya. Bu Inah, Kezia dan ibunya, menyusul dari belakang. Sere mengedarkan pandangan ke segala arah. Tak ada makhluk mengerikan di sana. Hanya ada pembantu yang sedang bekerja.
"Sukma, terima kasih, ya." Sere memeluk Sukma dengan hangat, lalu melepasnya. "Kalau kamu nggak bantuin aku, mungkin aku bakal diganggu terus."
"Tenang aja, Sere. Aku nggak akan biarin kamu ketakutan kayak teteh aku, kok. Kezia sama Ami juga tadi di sekolah kayak kamu. Nangis di pojokan sambil teriak-teriak nggak jelas."
"Iya, Sere. Aku juga tadi di sekolah lihat hantu yang nyeremin. Tapi pas Sukma udah masuk ke kelas dan nyuruh aku sama Ami tutup mata, kita nggak bisa lihat hantu lagi," timpal Kezia menegaskan.
Sere tersenyum simpul mendengar penuturan Kezia. "Sukma, sebenarnya ada apa di tangan kamu. Kok bisa gitu?"
"Aku juga nggak tahu," jawab Sukma singkat.
Sere dan Kezia saling berpandangan. Begitu pula dengan Bu Inah dan ibunya Kezia yang mengernyitkan kening mendengar jawaban Sukma. Ibunya Kezia membisikkan pertanyaan tentang keanehan Sukma pada Bu Inah, tapi ibu angkat gadis kecil itu justru mengedikkan bahu. Bu Inah menegaskan, bahwa ia tak tahu menahu soal itu.
"Oya, Sere. Kalau kamu pengin terlindungi dari hantu, harus sering-sering baca doa. Kata Wanara, dedemit nggak suka sama orang yang dekat sama Allah," nasihat Sukma.
"Aku penginnya gitu, Sukma. Tapi, aku nggak pernah tahu doa apa pun. Papa dan mama aku nggak pernah ajarin, mereka sibuk banget kerja."
"Kalau papa sama mama kamu nggak bisa ngajarin, kamu bisa minta tolong sama pembantu di sini," kata Bu Inah.
Tak lama kemudian, Bi Esih datang menghampiri mereka. Sejak tadi ia mendengarkan dengan sakasama percakapan mereka. Sadar ini waktu yang tepat, Bi Inah pun menimbrung.
"Kalau Neng Sere butuh bantuan buat diajarin baca doa, biar Bibi aja yang ajarin," usul Bi Esih.
"Nah, itu Bi Esih mau ngajarin," celetuk Kezia.
Sere merasa senang. Setidaknya dengan belajar berdoa pada Bi Esih, ia merasa aman dari gangguan makhluk halus. Terlebih saat Sukma menjelaskan jika dedemit tidak menyukai orang yang dekat pada Tuhan, Sere menjadi bersemangat untuk belajar ilmu agama.
Setelah selesai dengan urusan di rumah Sere, Sukma berpamitan. Bersama Bu Inah, Kezia dan ibunya, mereka pergi meninggalkan kediaman Sere. Ketika keluar dari gerbang, Kezia dan ibunya berpisah dengan Bu Inah dan Sukma, kemudian berjalan ke arah berbeda.
Sepanjang perjalanan pulang, Bu Inah memperhatikan Sukma. Ia berpikir, si bungsu tak ada bedanya dengan anak lain jika sedang berjalan bersamanya. Senang bersenandung dan berjalan dengan riang gembira, begitulah Sukma di mata Bu Inah setiap kali pulang dari sekolah. Akan tetapi, kejadian demi kejadian aneh yang ditunjukkan Sukma saat ini sangatlah mengganggu batinnya.
"Dedek, Ibu mau tanya sesuatu."