SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Api Banaspati


"Pak, gimana dengan anak saya? Dia baik-baik saja, kan?" tanya Bu Inah cemas.


"Sepertinya ada yang mengganggu alam bawah sadarnya, Bu. Makanya jadi begini," jawab Pak Suwandi.


"Ya Allah, pantesan badannya keringetan tapi nggak demam. Pak Suwandi, tolong lakukan yang terbaik untuk Dedek Sukma, ya. Saya akan bantu doa."


"Insya Allah, Bu. Saya cuma mengusahakan, selebihnya hanya Allah yang menentukan."


Bu Inah berdoa dalam kegelisahannya, berharap kondisi Sukma cepat membaik. Begitu juga dengan Atikah, yang sangat kasihan pada kondisi sang adik sejak badannya melemah tadi sore. Ia tidak menyangka, bahwa akibatnya akan seburuk ini. Pikirannya kembali berandai-andai, jika saja mata batinnya tak ditutup lagi, mungkin ia akan bertindak lebih cepat agar Sukma tak terkulai lemah seperti sekarang.


Sementara itu, pertarungan antara Ki Purnomo dan Wanara, berlangsung semakin sengit. Api yang disemburkan Ki Purnomo dari mulutnya, dapat segera dipadamkan oleh ludah Wanara. Kera itu tak menyangka, bahwa dirinya masih memiliki kekuatan lain selain menjadikan orang lain kaya dan memakan manusia sebagai tumbal.


"Sialan, kamu, Monyet! Bisa-bisanya mengelak terus dariku. Sini cepat, lawan aku sekarang juga!" geram Ki Purnomo berang.


Sikap Wanara semakin tengil saja. Ia bersembunyi di antara api yang membelenggu Sukma, sambil sesekali berusaha masuk ke dalamnya. Sukma yang menyadari Wanara berada di dekatnya, melambai-lambai meminta pertolongan. Namun sayang, api yang menyala-nyala di depannya, tak membiarkan kera usil itu masuk untuk menyelamatkannya.


Tak disangka, di tengah usaha Wanara menyelamatkan Sukma, tiba-tiba Ki Purnomo muncul dari belakang kera itu. Tanpa berlama-lama, Ki Purnomo menyemburkan api ke arah Wanara, hingga ekor kera itu terbakar. Saking panasnya api yang ditiupkan dukun gondrong itu, Wanara berteriak mencari air di sekitarnya. Ia tidak tahan jika api di ekornya semakin menjalar menuju tubuhnya.


Wanara semakin kalap dan tak terkendali. Sambil menjerit-jerit, ia berlari ke sana kemari sambil meminta tolong. Kendati demikian, kekesalannya pada Ki Purnomo semakin memuncak, sampai-sampai ia berlari ke arah kepala api pria gondrong itu. Begitu kesalnya, ia karena api tak kunjung padam, sekuat tenaga kakinya menendang Ki Purnomo yang belum siap menyemburkan api. Seketika, kepala dukun gondrong itu terlempar sangat jauh, bahkan sosoknya menghilang di atas langit.


Seiring dengan perginya Ki Purnomo dari alam mimpi Sukma, rintik-rintik air berjatuhan memadamkan api. Sukma yang semula terkapar lemah dalam lingkaran api, seketika badannya terasa segar, seperti habis mandi. Kekuatannya berangsur pulih, sampai wujudnya dapat berubah menjadi gadis kecil dengan kulit hitam legam dan bertanduk. Sukma berdiri, lalu melompat-lompat kegirangan. Begitu pula Wanara, yang senang karena ekornya tidak terbakar lagi.


"Wanara, dari mana air hujan ini?" tanya Sukma.


"Kamu harus cepat bangun agar tahu penyebab dari hujan ini," kata Wanara, kemudian menghilang dari pandangan Sukma.


Di alam nyata, Pak Suwandi merasa lega merasakan suhu tubuh Sukma yang semakin menurun. Mata gadis kecil itu terbuka perlahan-lahan, hingga Pak Suwandi berhenti mengusapkan air ke wajah Sukma. Bu Inah yang melihat Sukma berangsur pulih, segera merengkuh putri bungsunya.


"Alhamdulillah, akhirnya Dedek sadar juga," kata Bu Inah terharu.


"Bu, kenapa muka Dedek basah? Dedek habis kehujanan, ya?"


"Tadi badan Dek Sukma panas. Jadi, Bapak usapin air doa ke muka Dek Sukma," jawab Pak Suwandi.


"Oh, gitu," kata Sukma mengangguk pelan. "Terima kasih, ya, Pak."


"Iya, sama-sama Dek," kata Pak Suwandi sembari mengusap kepala Sukma, lalu menatap Bu Inah. "Kalau begitu, saya permisi dulu. Lain kali, kalau Dek Sukma kenapa-kenapa, panggil saya saja. Insya Allah, saya siap membantu."


"Iya, Pak. Silakan. Insya Allah, nanti saya panggil Bapak kalau ada masalah seperti ini lagi."


Pak Suwandi berpamitan pada Bu Inah dan Sukma. Setelah ia keluar dari rumah kontrakan, Bu Inah segera menutup pintu. Sementara itu, Atikah bergegas menggampiri adiknya, memastikan keadaannya sudah membaik. Dengan menyesal, ia menatap adiknya iba.


"Dedek, kalau aja tadi Teteh nggak ngebiarin Dedek jongkok di trotoar, mungkin Dedek baik-baik saja," ucap Atikah penuh penyesalan.


"Nggak apa-apa, Teh. Justru Dedek senang kalau Teteh nggak mencegah Dedek. Tadi Dedek lagi nyembuhin Wanara dari pengaruh mantra bapak-bapak gondrong. Jadi tenaga Dedek cepet habis."


"Begitu, ya. Tapi syukurlah, sekarang Dedek udah mendingan."


"Iya, Teh. Tapi, Dedek masih takut. Kepala bapak-bapak gondrong yang ngelawan Dedek tadi siang, datang ke mimpi Dedek sambil nyemburin api. Sereeem banget pokoknya, Teh," tutur Sukma dengan ekspresi ketakutan.


"Itu artinya, bapak-bapak gondrong masih kesal gara-gara Dedek berbuat nggak sopan sama dia, makanya muncul di dalam mimpi Dedek," kata Bu Inah menyela.


"Benarkah? Dedek kira orang yang udah mati nggak bakalan datang ke alam mimpi dan balas dendam sama Dedek," celetuk Sukma dengan polosnya.


"Apa? Udah mati? Gimana bisa dia mati siang tadi? Apa karena Dedek melawannya?" tanya Atikah dengan mata membelalak.


Mendengar pertanyaan Atikah, hati Bu Inah kembali tidak tenang. Segera ia menjawab pertanyaan Atikah sebelum didahului Sukma. "Bukan. Bapak-bapak itu punya penyakit bawaan, makanya meninggal."


"Oh, kirain gara-gara ngelawan Dedek. Aku masih inget tenaga Dedek yang gede itu. Dedek bisa ngebanting om-om botak di stasiun dengan enteng," kata Atikah.


"Dedek juga nginjek--"


"Dedek nginjek tanah. Tiap hari juga nginjek tanah, kan?" potong Bu Inah terbata-bata. "Sudah, sebaiknya kalian tidur lagi. Besok harus sekolah, kan?"


"Iya, Bu," kata Sukma dan Atikah berbarengan.


Selanjutnya, keduanya berbaring di kasur dan membaca doa. Atikah dan Sukma pun memejamkan mata, berharap mimpinya indah malam ini. Bu Inah menepuk-nepuk paha Sukma, agar cepat lelap dalam tidurnya, dan tak mengingat mimpi buruk yang mengganggunya beberapa saat lalu.


Sementara itu, Wanara yang duduk di samping kasur, menatap waspada ke sekelilingnya. Khawatir kalau-kalau Ki Purnomo datang lagi dan mengganggu Sukma. Jika pria gondrong itu berani mengganggu Sukma, maka Wanaralah yang akan menghadapinya lebih dulu. Ia tak akan mundur sedikit pun, sebab wujud Ki Purnomo yang sekarang, lebih mudah dihabisi daripada dalam bentuk manusia.


Rupanya, Ki Purnomo belum jauh dari Sukma. Ia masih berkeliaran di area kontrakan, menunggu saat yang tepat untuk menghabisi Sukma. Kendati masih kesal sudah dikalahkan oleh seorang anak kecil, Ki Purnomo merasa senang. Dengan terpisahnya roh dan ilmu sihir dari tubuhnya, ia merasa lebih mudah untuk membalas dendam. Dalam wujud Banaspati-nya, Ki Purnomo dapat menghabisi Sukma dari alam mimpi, maupun alam nyata.


...****************...


Sebuah mimpi buruk datang lagi pada Bu Inah. Setelah sekian lama berusaha melupakan mimpi sebelumnya, Bu Inah tetap saja diteror oleh Raja Iblis lewat alam bawah sadarnya. Kali ini, wanita paruh baya itu tak dapat melihat apa pun di sekitarnya. Hanya terdengar suara tawa pria menggema di sekitarnya.


"Aku ada di mana-mana, Inah. Jangan coba-coba menantangku!" jawab suara pria itu.


Sebuah sentuhan gaib, mendorong Bu Inah hingga tersungkur. Wanita paruh baya itu berusaha bangkit kembali. Akan tetapi, sebuah tangan hitam telah mendorongnya lebih dulu, sampai membuat Bu Inah tak berdaya.


"Bagaimana? Sudah lihat akibatnya jika kamu menantangku?"


"Aku sama sekali tidak takut!"


"Baiklah. Tapi, apa kamu tidak akan takut jika hal itu terjadi?"


"Hal apa? Apa maksud kamu?"


Sebuah pemandangan yang terjadi siang tadi, kembali diperlihatkan pada Bu Inah. Wujud Sukma yang sedang menghabisi Ki Purnomo, berubah menjadi sosok mengerikan di mata Bu Inah. Sukma menjadi gadis kecil bertanduk dengan nyala api di sekujur tubuhnya. Terlihat, Fadil dan Fani berusaha menghentikan Sukma. Akan tetapi, kekuatan Sukma yang luar biasa, membuat keduanya kesulitan.


Dari tubuh Ki Purnomo, muncul aura hitam memancar dari tubuhnya, dan perlahan-lahan berpadu dengan nyala api pada tubuh Sukma. Bu Inah tak mengerti, aura apa yang sudah dikeluarkan dari pria itu dan juga Sukma.


"Itulah yang terjadi jika putriku terbakar amarah. Siapa pun tak akan didengarnya, termasuk kamu, Inah! Bagaimanapun juga, dia tetaplah putriku. Seorang iblis kecil yang siap menghabisi manusia kapan saja."


"T-tidak! Tidak mungkin! Dia putriku, anak manusia. Kamu tidak bisa membelokkan sikapnya menjadi seperti kamu!"


"Aku tidak melakukan apa pun pada putriku sendiri. Justru jiwa iblisnya yang keluar begitu saja saat marah. Bukankah itu sudah menegaskan, bahwa didikanmu itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan sifat bawaan dari ayahnya?"


"Tidak! Sukma tidak mungkin seperti itu. Sekeras apa pun kamu berusaha untuk menyesatkan putriku, kamu tidak akan pernah bisa!"


"Jalan sesat katamu? Justru jalan kamulah yang sesat. Dia anak iblis, sudah seharusnya berjalan di jalanku. Maka, jangan sekali-kali kamu menantangku. Paham?"


"Aku tidak akan menyerah selagi jantungku masih berdetak."


Tangan yang mendorong Bu Inah ke tanah pun seketika mencekik leher wanita paruh baya itu. Bu Inah merasa sesak dan kesulitan bernapas. Nyawanya serasa dicabut paksa oleh tangan hitam yang mencekiknya.


Kendati demikian, keteguhan hati Bu Inah pada Tuhan tidaklah berkurang. Lidahnya tak pernah kelu melafalkan kalimat tiada Tuhan selain Allah dengan jelas. Seketika, suara geraman pria yang menggema di sekitar Bu Inah, berubah menjadi jeritan dahsyat yang memekakkan telinga. Bersamaan dengan itu pula, Bu Inah terjaga dan mendengar suara ketukan pintu dari luar.


Bergegas Bu Inah turun dari kasurnya, kemudian membukakan pintu. Terlihat Pak Risman lesu setelah berjualan pecel lele di pinggir jalan. Bu Inah membantu suaminya membawa barang-barang dagangan ke dalam. Setelah selesai, pintu kembali ditutup rapat dan dikunci.


Sembari menunggu suaminya membasuh tangan dan kaki, Bu Inah termenung memikirkan mimpi buruk sesaat lalu. Sesekali matanya tertuju pada Sukma yang berbaring di sampingnya. Otaknya berpikir keras, berusah mencari solusi terbaik agar Sukma dapat meredam amarahnya. Jika dibiarkan, maka perkataan Raja Iblis itu akan menjadi kenyataan dan kelak Bu Inah tak bisa mengendalikan putrinya lagi.


Selesai mencuci tangan dan kaki, Pak Risman mengganti bajunya yang penuh keringat. Setelah itu, ia berbaring di dekat Atikah sambil memperhatikan Bu Inah yang masih melamun.


"Bu, ayo tidur! Besok kesiangan nyiapin sarapan buat anak-anak," ujar Pak Risman dengan suara lirih.


Bu Inah menggeleng. "Ibu masih kepikiran sama Dedek, Pak."


"Kepikiran? Kepikiran tentang apa, Bu? Masalah dengan polisi sudah Bapak selesaikan. Sekarang Ibu nggak usah khawatir."


"Bukan itu, Pak," kata Bu Inah menoleh pada Pak Risman. "Anak kita, si bungsu, kalau marah nggak bisa dikendalikan. Ibu takut, kejadian tadi siang terulang kembali."


"Aduh, Bu. Namanya juga anak-anak, wajar kalau mengekspresikan diri. Nanti juga ada masanya dia mengendalikan emosinya. Tenang saja."


"Tenang? Ibu benar-benar nggak bisa tenang, Pak. Ibu takut, nanti Dedek berjalan di jalan yang salah."


"Bu, selagi kita masih sabar dalam mendidiknya dan tidak disertai amarah, insya Allah, Dedek nggak bakal salah jalan. Lagi pula, setiap anak ada masanya. Yang harus Ibu khawatirkan itu masa depannya. Usia remaja lagi labil-labilnya. Saat itu, Ibu harus bisa menjadi sahabat buat anak-anak supaya mereka nyaman."


"Baiklah, Pak. Semoga kita bisa mendidik Atikah dan Sukma dengan baik, ya. Lagi pula, mereka tidak pernah kekurangan kasih sayang kita."


"Iya, Bu. Aamiin."


Maka terlelaplah Bu Inah dalam mimpinya. Kekhawatiran akan diri Sukma, perlahan memudar setelah mendengar ucapan suaminya. Setidaknya dengan mengajarkan kebaikan dan mengendalikan emosi pada Sukma yang masih kecil, ia dapat berbangga memiliki anak yang salehah, meskipun nyawanya terancam oleh Raja Iblis setiap waktu.


Keesokan harinya, Sukma yang sudah berpakaian rapi, siap berangkat ke sekolah bersama Atikah. Setelah sang kakak selesai mengikat sepatu, keduanya mencium tangan orang tuanya dan berpamitan. Tak lupa, Bu Inah menitipkan Sukma pada Atikah agar menjaganya baik-baik.


Selepas keluar dari area kontrakan Haji Gufron, pandangan orang-orang yang melintas, tertuju pada Sukma. Sikap aneh mereka diketahui jelas oleh Sukma, hingga gadis kecil itu memandang keheranan. Tak biasanya bagi Sukma, diperhatikan oleh banyak orang, apalagi sampai dipandang sinis.


"Teteh, kenapa orang-orang ngelihatinnya kayak gitu ke Dedek? Emangnya apa salah Dedek sama mereka?"


"Mereka mungkin cuma kebetulan ngelihatin Dedek doang, bukan sengaja ngelihatin Dedek dengan kesal," jawab Atikah dengan ringan.


Ketika menyusuri trotoar jalan raya, Sukma melihat lagi keanehan pada sikap orang-orang sekitarnya. Mereka seakan tidak suka dan cenderung takut melihat sosok anak kecil polos yang berjalan melintasi mereka. Bahkan, ada seorang ibu yang sedang menuntun anaknya untuk menjauh dari dua gadis kecil kakak beradik itu. Ia berbisik pada putranya, agar tidak mencontoh sikap Sukma di kemudian hari.


Suasana semakin parah tatkala Atikah dan Sukma memasuki area sekolah. Siswa-siswa lain memandang Sukma dengan ngeri, lalu berlari ke kelas. Begitu pula dengan ibu-ibu yang mengantar anaknya sekolah, mereka seakan tidak senang melihat Sukma.


Ketika hendak memasuki kelasnya, tanpa sengaja Sukma mendengar ucapan tidak enak seorang ibu pada teman sekelasnya, Nauval. Sambil memandang sinis, ibunya Nauval berkata, "Awas kalau kamu dekat-dekat sama anak itu! Kalau sampai kamu sok jagoan kayak dia, Ibu nggak akan ngasih kamu uang jajan selama seminggu."


Sesak dada Sukma mendengar ucapan wanita seumuran Farah itu. Hatinya sangat sedih, mengetahui orang-orang mendadak tidak menyukainya dalam sehari. Akan tetapi, Sukma berusaha mengingat baik-baik ucapan ibunya. Sabar.