SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Menutup Mata Batin


Atikah menepuk pundak adiknya. Sukma terhenyak, lalu menoleh pada kakaknya.


"Lagi lihat apa, Dek? Dedek pengin bakso juga?" tanya Atikah.


"Bukan, Teh." Sukma memandang ke angkringan penjual bakso, lalu menunjuk bangku di belakangnya. "Teteh lihat itu nggak?"


Atikah menyipitkan mata. "Apa? Pembelinya? Itu cuma bapak-bapak ojek online lagi maenan hape."


"Bukan, Teh. Itu yang di sebelahnya," jelas Sukma masih menunjuk ke bangku pembeli.


Sekali lagi, Atikah memandang lapak penjual bakso angkringan itu. Hanya ada pembeli yang sedang asyik memainkan ponselnya, tak ada pelanggan lain di sana. Akan tetapi, seketika Atikah teringat, bahwa adiknya bisa melihat sesuatu yang tak kasat mata. Contohnya Wanara, yang sedang berdiri di belakang Atikah.


"Memangnya ada apa di sebelah pembeli itu?" tanya Atikah mulai penasaran.


"Ada pocong, Teh."


Atikah membelalakkan mata. "Pocong?!"


"Iya, Teh."


"Loh, kok? Bukannya pocong adanya di kuburan, ya?" tanya Atikah mengerutkan dahi.


"Enggak, Teh. Pocong ada di bangku pembeli juga. Kata Wanara, dia bisa bikin makanan jadi enak," jawab Sukma dengan menatap serius kedua mata Atikah.


"Wah, emang bisa gitu?"


Sukma tidak lagi memperhatikan kakaknya. Gadis kecil itu kembali memandang ke arah angkringan. Tampak pocong itu sedang duduk di kursi sebelah pelanggan, sama-sama menunggu pesanan datang. Ketika semangkuk bakso disuguhkan di meja, pocong itu membungkuk ke arah mangkuk berisi bakso. Air liurnya menetes ke dalam mangkuk, sedangkan si pembeli menikmati baksonya dengan lahap.


Menyaksikan kejadian itu di hadapannya, Sukma bergidik jijik. Gadis kecil itu berbalik badan dan memperagakan gerakan seperti orang yang ingin muntah. Atikah merasa heran melihat sikap aneh adiknya itu, lalu mengusap punggungnya.


"Dedek kenapa? Masuk angin?" tanya Atikah sembari mengusap-usap punggung adiknya.


"Enggak, Teh. Cuma jijik aja," jawab Sukma singkat.


"Jijik? Jijik kenapa? Dedek tahu, kan, kalau bakso itu rasanya enak."


"Enak, sih, enak. Tapi kalau penjualnya nyimpen pocong buat ngilerin baksonya pembeli, ya tetep aja jijik, Teh."


Atikah meringis membayangkan pocong yang mengeluarkan air liurnya ke dalam mangkuk berisi bakso. Terlintas di pikirannya, betapa menjijikkannya pemandangan itu di mata Sukma. Ia pun mencoba mengalihkan perhatian adiknya dari pemandangan tak menyenangkan itu.


"Dek, sebaiknya kita kembali ke gerobaknya Bapak, yuk! Kasihan Ibu sama Bapak, nanti mereka nyariin kita," ujar Atikah.


Sukma mengangguk, kemudian berbalik badan mengikuti kakaknya ke gerobak pecel lele Pak Risman. Wanara yang mengikuti mereka dari belakang, terus saja menarik-narik baju Sukma. Perhatian gadis kecil itu pun teralihkan pada kera yang mengikutinya.


"Bagaimana? Kamu sudah tahu, kan, caranya pocong itu bikin enak makanan?" tanya Wanara sambil sesekali menaikkan kedua alisnya.


"Apaan, ih? Itu mah bukan bikin enak makanan, tapi jijik," kata Sukma bersungut-sungut.


"Tapi itu cara dia buat bikin enak makanannya. Kamu tahu apa yang bikin makanannya enak?"


"Apa emangnya?"


"Air liurnya."


Sukma semakin meringis dibuatnya.


"Tapi, ada caranya biar makanannya nggak diilerin pocong."


"Caranya? Emangnya bisa, makanan yang dideketin pocong nggak diilerin?"


"Tentu saja. Kami para dedemit tidak suka sama orang yang berlindung pada tuhannya untuk segala sesuatu, kayak bapak sama ibu kamu."


Sukma masih memperhatikan dengan saksama, tanpa berkedip sedikit pun.


"Kalau kamu mau bisa makan tanpa diilerin pocong, kamu harus berdoa dulu sebelum makan."


"Oh, gitu. Aku kira apa. Kalau itu, sih, aku jarang baca doa, soalnya belum bisa. Baca ta'awuz aja aku harus sambil monyong-monyongin mulut."


"Satu lagi. Kalau kamu tidak mau makanannya diilerin pocong, belinya dibawa pulang. Tapi, nanti makanannya nggak bakalan seenak pas dimakan di tempat yang jual."


"Kenapa bisa begitu?" Sukam mengernyitkan kening.


"Sudah aku bilang, makanan yang diilerin itu jadi enak gara-gara iler pocongnya."


Sukma kembali meringis sambil mengedikkan bahu. Baru kali ini ia mendapati penjual makanan yang memakai penglaris berupa pocong yang meneteskan liur di makanan pembeli. Sebelumnya, Sukma hanya melihat makhluk gaib yang bolak-balik di warung, tapi belum pernah melihat hal semenjijikkan di lapak penjual bakso.


Sementara Sukma dan Atikah kembali ke lapak jualan ayahnya, Pak Risman dan Bu Inah masih termenung menunggu datangnya pelanggan pertama. Sembari melihat-lihat mobil yang melintas beberapa meter dari depan gerobaknya, Bu Inah berharap ada kendaraan yang terparkir di samping gerobak, lalu pemiliknya turun untuk membeli makanan buatan suaminya. Namun, sekian lama menunggu, belum juga ada orang yang datang.


"Pak, susah juga, ya, jualan hari pertama. Ibu pikir akan cepat ada pelanggam datang ke sini. Soalnya letak gerobaknya juga strategis, di pinggir jalan raya pula," celetuk Bu Inah sambil menopang dagu.


"Namanya juga masih merintis, Bu. Kalau sudah andal, ya kayak Pak Haji. Dia juga butuh bertahun-tahun untuk membangun bisnisnya sampai punya banyak anak buah dan membiayai sekolahnya Fadil sampai perguruan tinggi."


"Ah, mudah-mudahan ini titik awal dari perubahan hidup kita ya, Pak. Setidaknya kalau Bapak pengalaman jualan, mau ke mana pun kita pergi, kita nggak pusing nyari uang dan pekerjaan. Kalaupun kita harus pergi ke tempat yang jauh, setidaknya masih ada uang dari Bu Arini buat modal usaha. Ibu belum mau pakai uang itu, soalnya akan banyak biaya tak terduga ke depannya."


"Terserah Ibu saja. Pokoknya pakailah uang itu sebijak mungkin. Kita memang belum punya apa-apa, apalagi sekaya Pak Hilman."


"Iya, Pak. Ibu akan simpan baik-baik uang dari Bu Arini dan tabungan sewaktu tinggal di kediaman Pak Hilman. Mudah-mudahan cukup untuk biaya hidup kita ke depannya ya, Pak. Apalagi kalau sampai usaha Bapak ini berkembang dan meraup banyak keuntungan, mungkin ke depannya bisa dipakai beli rumah dan menyekolahkan anak-anak sampai perguruan tinggi. Uh, Ibu bakal senang banget, Pak. Terlebih lagi kalau bisa naik haji kayak Pak Haji Gufron, tenang sekali hati Ibu, sudah melaksanakan rukun Islam yang ke lima."


"Aamiin, Bu. Aamiin. Doakan saja usaha Bapak ini berjalan lancar. Kalau sudah lancar, mudah-mudahan ke depannya akan lebih membaik."


"Ngomong-ngomong, pada ke mana anak-anak?"


Tak lama kemudian, Atikah dan Sukma datang ke lapak Pak Risman, lalu duduk di bangku bersama Bu Inah. Raut wajah Bu Inah semringah melihat keduanya baik-baik saja. Wanita paruh baya itu menatap kedua putrinya cukup lama.


"Kalian dari mana saja?"


"Habis dari dekat tukang bakso, Bu," jawab Atikah.


"Kaliam beli bakso? Uangnya dari mana?" tanya Pak Risman dengan mata membelalak.


"Dih, boro-boro pengin bakso, Pak. Yang ada Dedek pengin muntah lihat baksonya," kata Sukma sambil bergidik jijik.


"Pokoknya jijik lah, Bu. Masa mangkok baksonya diilerin pocong? Kan nggak enak," jelas Sukma sambil menjulurkan lidah.


Pak Risman terkikik geli melihat sikap putri bungsunya. "Dedek tahu dari mana kalau mangkoknya diilerin?"


"Dedek lihat sendiri, Pak. Wanara juga lihat."


Mendengar penjelasan putri bungsunya, Bu Inah tertegun sejenak. Terlintas dalam ingatannya akan kejadian mengerikan di kediaman Hilman, saat Sukma menekan dada Mbah Suro sampai tewas. Ia berpikir, bahwa memang si bungsu memiliki kemampuan yang tak bisa dijelaskan akal sehat, termasuk melihat hal-hal tak kasat mata. Lambat laun, Bu Inah mengerti bahwa Sukma bukanlah anak biasa seperti Atikah.


"Ya sudah, kalau Dedek nggak mau bakso, makan pecel lele aja," saran Bu Inah.


"Pecel lelenya, kan, buat dijual sama Bapak, Bu. Kalau nanti pecel lelenya dihabisin sama Dedek, Bapak mau jualan apa?"


Bu Inah, Pak Risman, dan Atikah tertawa mendengar ucapan Sukma. Bu Inah yang merasa gemas melihat tingkah laku si bungsu, langsung mencubit pipi tembamnya.


"Lelenya masih banyak. Emangnya Dedek mau habisin semua pecel lele dagangan Bapak?" kata Bu Inah terkikih-kikih.


"Enggak juga, sih," jawab Sukma sambil menggaruk kepalanya.


"Kalau begitu, Ibu siapin makanannya buat Dedek sama Teh Atikah, ya."


Sukma dan Atikah mengangguk. Sembari menunggu makanannya datang, Sukma menawarkan makanan serupa pada Wanara. Kera itu justru menggeleng, karena tak suka dengan makanan itu.


Tak lama kemudian, Bu Inah membawakan seporsi pecel lele, lengkap dengan nasinya. Sebelum memakannya, Sukma menadahkan kedua tangan dan mulai membaca doa. Meski kesulitan mengucapkan doa mau makan, ia tetap berusaha keras, mengingat makanannya tak mau ditetesi air liur oleh pocong. Selesai membaca doa, ia melahap makanannya bersama Atikah. Sukma sangat menyukai pecel lele buatan ayahnya. Enak, katanya.


Rupanya, hidangan pecel lele pertama yang disuguhkan pada Sukma, membawa keberuntungan. Tak lama setelah Sukma melahap suapan pertamanya, seorang pembeli datang memesan dua porsi pecel lele. Disusul lagi beberapa pembeli lainnya yang memesan lima porsi pecel lele. Pak Risman yang baru saja berjualan, merasa bersemangat melayani pelanggan, walaupun cukup kewalahan pada awalnya. Ia sangat senang, dagangannya laku banyak malam ini.


Selesao Sukma menghabiskan makanannya, pembeli masih saja berdatangan ke gerobaknya Pak Risman. Bu Inah membantu suaminya untuk menyiapkan makanan pada para pembelinya. Sukma tersenyum-senyum melihat para pembeli begitu antusias memesan pecel lele buatan Pak Risman.


...****************...


Pagi datang. Seperti biasa, Sukma diantar oleh ibunya pergi ke sekolah. Gadis kecil itu tampak riang gembira menyambut hari baru. Sepanjang jalan, ia berjalan sambil melompat-lompat dan bersenandung lagu anak-anak.


Setibanya di sekolah, orang tua Kezia dan Ami menghampiri Bu Inah. Mereka tampak kesal karena kemarin anak-anaknya menangis dan sering berteriak histeris seharian. Katanya takut melihat sosok mengerikan di mana-mana.


"Bu, sebenarnya apa yang sudah dilakukan anak Ibu pada anak kami? Mereka awalnya baik-baik saja. Kok sekarang malah jadi parnoan sejak anak Ibu masuk ke sekolah ini?" cecar ibunya Kezia.


"Loh, saya nggak tahu apa-apa Bu," kata Bu Inah terheran-heran, lalu menatap Sukma. "Dek, kemarin Dedek udah ngelakuin apa ke Kezia sama Ami?"


"Dedek nggak ngelakuin apa-apa, Bu. Dedek cuma ngebantu mereka buat lihat Wanara aja. Kalau Dedek nggak ngebantu mereka, mereka bakal manggil Dedek tukang ngibul gara-gara nggak bisa nunjukin Wanara."


"Tuh, kan, bener," tukas ibunya Ami. "Anak Ibu sudah membuka mata batin anak kami. Sekarang Ibu harus tanggung jawab."


"Loh, kenapa harus saya? Saya nggak bisa melakukan hal seperti itu," kata Bu Inah mengelak.


"Soalnya anak Ibu sudah bikin anak-anak kami menderita," kata ibunya Kezia. "Saya nggak mau tahu, pokoknya Ibu dan anak Ibu harus mengembalikan putri kami seperti sedia kala. Kalau tidak, anak Ibu pindahkan saja ke sekolah lain."


"Tante, Kezia sama Ami sekolah?" tanya Sukma memotong pembicaraan.


"Iya, mereka sekolah," jawab ibunya Ami.


Tanpa berkata-kata, Sukma berlari ke kelas. Ketika masuk ke ruangan belajar-mengajar, tampak Kezia dan Ami gemetar ketakutan di sudut ruangan. Sukma yang merasa kasihan pada keduanya, langsung berjalan ke pojok kelas.


"Kalian kenapa?" tanya Sukma.


"I-itu ... ada nenek-nenek lagi ngintip kita di kelas," jawab Kezia dengan suara gemetar.


"Iya. Tuh, lihat! Dia lagi ngelihat kita," timpal Ami.


Sukma menoleh ke belakang, melihat wanita tua yang sedang mengintip di pintu masuk sambil melambai-lambaikan tangan ke arah mereka. Gadis kecil itu tersenyum, kemudian si nenek membalas senyumnya dan pergi begitu saja.


"Dia mah tiap hari juga ada di sana," jelas Sukma.


"Tapi mukanya nyeremin. Aku takut," rengek Ami.


"Oh, ya udah. Kalau kalian takut, sini tutup mata lagi," ujar Sukma.


Keduanya menutup mata. Sukma menaruh telapak tangannya di kening mereka sambil komat-kamit merapalkan mantra yang entah dari mana dipelajarinya. Cukup lama Sukma menutup mata batin keduanya, akhirnya ia pun selesai.


"Sekarang, buka mata kalian!" perintah Sukma.


Saat keduanya membuka mata, tak ada hal aneh lagi yang dilihat. Mereka berlari keluar kelas. Wanita tua yang mengintip mereka sejak tadi, sudah menghilang.


Setelah memastikan tak ada yang aneh dari pandangan, Kezia dan Ami masuk kembali ke kelas dan menghampiri Sukma. Wajah mereka tampak semringah setelah yakin tak ada apa-apa di sekolah. Kini mereka hanya bisaa melihat siswa yang berlarian dan orang tuanya menunggu di luar.


"Wah, Sukma, nggak ada yang nyeremin lagi disekolah!" decak Kezia tertawa riang.


"Iya. Ngomong-ngomong, kamu udah ngelakuin apa ke kita sampai nggak bisa lihat nenek-nenek itu lagi?" tanya Ami.


"Aku cuma nyuruh kalian tutup mata aja, kok. Emangnya kenapa?"


Ami melihat tangan Sukma dengan saksama. "Tangan kamu itu ajaib. Bisa bikin benda yang nggak ada jadi kelihatan sama kita, begitu juga sebaliknya."


Sukma ikut memperhatikan tangannya sendiri. "Wah? Iya gitu?"


Kezia mengangguk. "Jangan-jangan kamu punya tangan peri, yang bisa bikin keajaiban."


"Tapi peri pakai tongkat ajaib," sanggah Ami.


"Oh, iya ya," kata Kezia.


Sukma mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas. Ada yang hilang di sana.


"Oya, di mana Sere?" tanya Sukma.


Rupanya Sere tak masuk sekolah hari ini. Sejak pingsan kemarin, gadis kecil itu sering berteriak histeris dan menangis secara tiba-tiba. Di dalam rumahnya yang sangat luas dan mewah, ia begitu ketakutan. Sepulang sekolah, Sere tak mau keluar kamar. Banyak hantu, katanya.


Sekarang, gadis kecil itu hanya meringkuk di kasurnya sambil bersembunyi di balik selimut. Hatinya masih dipenuhi rasa waswas, sampai-sampai enggan berkutik dari persembunyiannya. Saat ibunya masuk ke kamar, Sere mengeratkan selimutnya agar tidak ditarik lagi oleh sosok mengerikan seperti semalam.