
Hari beranjak siang. Farah membatalkan perkumpulan arisannya di rumah. Salah satu temannya menyarankan untuk mengadakan pertemuan di sebuah hotel bintang lima. Akan tetapi, wanita berparas cantik itu tidak buru-buru menyetujuinya, mengingat kehadiran Arini di rumahnya.
"Kalau kamu mau pergi, silakan saja. Lagi pula, Tante juga akan ke Sumedang buat ngelongok vila di sana," ujar Arini.
"Aduh, jadi nggak enak begini sama Tante. Kalau saja anak pembantu itu nggak ngotorin sofanya, mereka pasti mampir ke sini," kata Farah terdengar sungkan. "Oh, ya, mending Tante ikut aja sama aku buat kumpul-kumpul. Gimana? Tante mau, kan?"
"Nggak usah, ah, lain kali aja. Soalnya Tante masih ada urusan juga di Sumedang. Oya, kamu mau berangkat jam berapa?"
"Sebentar lagi, Tante. Jam dua belasan."
"Kalau begitu, kamu siap-siap dulu."
"Baik, Tante. Aku permisi dulu, ya."
Farah bergegas ke kamar untuk menyiapakan pakaian yang akan dikenakannya dalam pertemuan bersama teman-temannya. Sementara itu, Arini beranjak dari tempat duduknya. Ia berjalan menuju halaman belakang rumah.
Dari dekat kolam renang, tampak Pak Risman sedang memotong tumbuhan rambat yang sudah cukup melebat. Ditatanya tanaman itu hingga terlihat rapi dan nyaman dipandang mata. Arini yang sedang memandangi pria paruh baya itu dari jauh, masih merasa terganggu dengan ucapan Bu Inah saat mengantar Sukma sekolah. Ia pun memberanikan diri untuk mencari tahu sesuatu yang dialami putri Pak Risman.
Dengan langkah cepat, wanita tua itu mendekati Pak Risman. Kehadirannya di sana membuat pria paruh baya itu terkejut.
"Eh, Bu Arini. Ada apa Anda ke sini?" tanya Pak Risman tersenyum simpul.
"Saya mau menanyakan sesuatu sama kamu."
Pak Risman mengangguk.
"Soal anakmu itu. Saya heran, kenapa dia bisa tahu kakak saya dan rumah keluarga saya? Kata istrimu, Sukma pernah hilang selama tujuh hari. Apa utu benar?"
"Soal itu memang benar, Bu. Tapi ...."
"Tapi apa, Pak?"
"Tentang Sukma mengetahui kakak dan keluarga Anda, saya tidak tahu secara lengkap."
"Begitu, ya."
"Ah, sebaiknya Anda tak usah memikirkan ucapan anak saya. Dia memang suka begitu. Ngomongnya suka melantur."
Mendengar ucapan dari Pak Risman dan Bu Inah, hati Arini sedikit lega. Setidaknya, kedua orang tua Sukma tidak memercayai kejadian yang dialami putri mereka selama menghilang. Kekhawatiran akan terbongkarnya identitas aslinya, perlahan memudar setelah meyakini bahwa tidak ada seorang pun yang memercayai perkataan Sukma.
"Kalau begitu, saya permisi dulu. Terima kasih atas informasinya, ya," kata Arini berpamitan.
Pak Risman hanya mengangguk, lalu melanjutkan pekerjaannya. Sementara itu, di ruangan keluarga, Arini tidak sengaja berpapasan dengan Farah. Tingkahnya seketika gelagapan, menyadari sang keponakan menatapnya dengan heran.
"Tante habis dari mana?" tanya Farah.
"T-Tante ... Tante habis lihat-lihat rumah kamu. Sekarang banyak yang berubah, ya," jawab Arini sedikit tergagap-gagap.
"Iya, Tante. Kebetulan saya gampang bosan, makanya suka gonta-ganti gaya tata ruangnya."
"Tapi makin bagus, loh."
"Ah, Tante ini bisa saja," ucap Farah terkikih-kikih sambil menepuk pundak Arini. "Tante mau berangkat sekarang bareng aku?"
Arini mengangguk. Keduanya berjalan menuju pekarangan rumah. Sesekali Arini menengok ke belakang. Pikirannya kembali terganggu oleh perkataan Sukma. Ia berharap, gadis kecil itu tidak pernah mengungkapkan lagi tentang cerita masa lalunya, mengingat hal itu sudah dirahasiakannya selama bertahun-tahun.
...****************...
Sekumpulan wanita sedang asyik mengobrol di area restoran dari hotel bintang lima. Salah satu dari mereka memamerkan tas bermerk keluaran terbaru. Tak lupa, ia juga menyebutkan harga dan tempat membelinya. Tentu saja beberapa temannya tampak iri melihat kemampuannya membeli barang mahal limited edition.
Di tengah perbincangan mereka, Farah datang sambil menenteng tas tangan yang baru dibelinya tempo hari. Alexis--teman dekat Farah--berdiri menyambut kehadiran sahabatnya di tengah-tengah kumpulan wanita sosialita. Dipeluknya sang sahabat, lalu tersenyum simpul.
"Kamu ke mana aja, Farah? Kok baru dateng?" tanya Alexis melepas pelukannya.
"Tadi pagi tanteku dateng. Makanya aku agak telat datang ke sini," jelas Farah.
"Tante kamu? Tante Arini, bukan?"
"Iya."
"Kenapa nggak kamu ajak ke sini? Pasti seru bisa ngobrol-ngobrol bareng dia."
"Enggak. Dia langsung ke Sumedang buat ngecek vilanya, makanya nggak bisa ikut ke sini."
Selanjutnya, Farah menyapa teman-teman lainnya, lalu mencium pipi kanan dan kiri mereka satu per satu. Namun, ada satu orang yang enggan Farah sapa. Ia tidak lain adalah wanita yang baru saja memamerkan tas baru, namanya Ratna. Sungguh, sejak Ratna bergabung dalam lingkaran pergaulan wanita sosialita itu, Farah sangat tidak menyukainya. Bagaimana tidak? Kelakuannya yang selalu memamerkan barang mewah, membuat Farah jijik.
Kali ini, Farah hanya mendelik sebentar pada Ratna, lalu melengos. Ia kemudian duduk di samping Alexis, tanpa menatap wanita yang dicap sebagai 'orang kaya baru' olehnya.
"Oya, Farah. Gimana kabar bisnis suami kamu? Masih lancar?" tanya salah satu teman Farah yang duduk di sebelah Alexis.
"Masih. Emangnya kenapa? Suamiku pintar ngurus perusahaan," jawab Farah dengan santai.
"Syukurlah kalau begitu. Soalnya kemaren-kemaren aku denger pabrik tekstil yang dipimpin suami kamu sepi orderan. Bukan itu aja, beberapa karyawan di sana juga ada yang dipecat," jelas teman Farah itu tanpa ragu.
"Ah, kamu ini kebanyakan dengerin hoax. Jangan dengerin berita di luaran yang nggak jelas,ah. Aku lebih tahu daripada orang lain," sangkal Farah, tak mau harga dirinya jatuh di depan teman lainnya, terutama Ratna.
"Apa masalahnya kalau sampai bangkrut? Bukankah setiap usaha pasti ada naik-turunnya?" kata Ratna tiba-tiba menimbrung.
Mendengar ucapan Ratna, sebagian teman Farah mengiyakan. Farah yang tidak terima dengan perkataan Ratna pun mendelik dan menyunggingkan senyum di sudut kiri bibirnya.
"Alah, orang kaya baru mana tahu soal bisnis," celetuknya sambil mengambil buku menu, lalu menyilangkan kedua kakinya. "Mereka cuma asal ngomong aja, tapi nggak tahu seluk-beluk bisnis kayak gimana. Dasar udik!"
Teman-teman Farah tertawa mendengar perkataan pedas wanita itu. Bagi mereka, sindiran yang diucapkan istri Hilman itu merupakan lelucon. Alexis merangkul bahu Farah sambil terkekeh.
"Kamu ini emang suka bercanda, ya," kata Alexis.
"Tentu saja. Aku emang lucu dari dulu juga. Makanya disayang suami."
"Ayo, kita mulai arisannya sekarang!" seru Farah tidak sabar.
Sekumpulan wanita sosialita itu pun mengeluarkan sepuluh lembar uang ratusan ribu rupiah. Mereka memberikannya pada Alexis, si empunya acara. Setelah semua uang terkumpul, wanita blasteran Indo-Amerika itu mengambil toples kecil berisi lembaran nama-nama peserta arisan yang sudah digulung dari tasnya.
Wanita-wanita kaya itu tampak penasaran akan pemenang arisan hari ini. Alexis yang mengocok toples cukup lama, membuat para peserta semakin tidak sabar. Tak lama kemudian, ia mencoba mengeluarkan segulung kertas dari lubang tutup toples.
Akhirnya segulung kertas pun keluar. Perlahan-lahan, Alexis membuka kertas itu, lalu mendekapnya di dada. Perilaku wanita setengah bule itu semakin membuat peserta arisan gemas, terlebih Farah.
"Oh, ayolah, Alexis! Cepat katakan! Siapa pemenang arisan kali ini?" gerutu Farah gemas.
Alexis mengedarkan pandangannya ke semua wanita yang berada di dekatnya sambil tersenyum simpul. Setelah cukup lama menatap temannya satu per satu, akhirnya mata Alexis tertuju pada Farah. Cukup lama ia memandang sahabat karibnya itu, hingga akhirnya mulai mengungkapkan jawabannya.
"Farah, selamat! Kamu pemenangnya hari ini," kata Alexis sembari memberikan beberapa lembar uang pada Farah.
"Beneran, Alexis? Aku pemenangnya?" tanya Farah tidak percaya.
Alexis mengangguk dan menunjukkan selembar kertas kecil di tangannya. "Iya, Farah. Kamu pemenangnya."
Betapa senangnya Farah ketika melihat namanya keluar sebagai peserta yang mendapatkan arisan. Tanpa ragu lagi, ia menerima uang dari Alexis dengan wajah semringah. Teman-temannya yang lain bertepuk tangan dan mengucapkan selamat pada Farah. Tak terkecuali Ratna, yang ikut senang dengan keberuntungan Farah hari ini.
"Wah, selamat ya, Farah. Akhirnya kamu dapat juga," kata Ratna, tersenyum lebar.
"Terima kasih," jawab Farah bernada ketus. "Semoga bulan depan kamu menang, ya. Orang kaya baru, kan, butuh donasi buat beli barang mewah."
Ratna tersenyum pahit mendengar hinaan Farah yang begitu menusuk hatinya. Sementara itu, peserta arisan yang lain tampak acuh tak acuh akan perkataan tajam yang ditujukan Farah pada Ranta. Mereka tampak santai bersenda gurau, menceritakan bisnis dan pengalaman pribadinya berjalan-jalan ke luar negeri.
Cukup lama para wanita sosialita itu berbincang-bincang. Tak terasa, hari itu berlalu begitu cepat. Farah melihat jam tangannya. Sudah pukul setengah empat rupanya. Ia berpamitan pada teman-temannya, meninggalkan kecupan kecil di pipi kiri dan kanan. Namun tetap saja, ia tak sudi berpamitan pada Ratna.
Selepas Farah pergi, wanita sosialita lain berbincang-bincang kembali. Ratna masih memandang kosong ke arah Farah pergi. Hatinya sudah terlanjur sakit, tapi matanya enggan mencurahkan kesedihan. Alih-alih menangis, ia menyunggingkan senyum di sudut bibir kirinya.
...****************...
Perjalanan Farah dari hotel ke rumahnya tidaklah lama. Sekitar setengah jam saja, ia sudah tiba di pekarangan rumah. Entah kenapa, pundaknya terasa berat sepulang dari hotel. Sambil turun dari mobil, ia memijit-mijit pundaknya.
Dari depan teras rumah Hilman, tampak Atikah sedang berlari kecil menyusul Sukma yang diantarnya pergi mengaji. Farah yang melihat kedatangan mereka berdua, cepat-cepat memasang muka masam dan enggan menyapa kedua putri pembantunya itu. Ia justru berjalan sangat cepat, hingga langkahnya terhenti oleh Sukma yang tiba-tiba memegang tangannya.
"Ish ... kamu ngapain pegang-pegang tangan saya. Pergi sana!" hardik Farah, melepaskan genggaman Sukma dengan kasar.
"Tante, Tante ... Tante bawa moyet dari mana? Monyetnya gedeee banget. Tante habis dari kebun binatang, ya?" tanya Sukma sambil mendongak, menatap Farah.
"Enak aja! Tante habis dari hotel, bukan dari kebun binatang. Sudahlah, cepat pergi sana! Jangan ganggu saya!"
Melihat kemarahan di wajah Farah, Atikah segera memegang tangan Sukma.
"Maafkan adik saya, Tante. Adik saya--"
"Cepat kalian pergi dari sini! Saya nggak mau dengar alasan apa pun dari kalian," bentak Farah kesal.
Tanpa membalas perkataan Farah, Atikah segera membawa Sukma keluar dari kediaman Hilman. Sukma yang masih penasaran, sesekali menengok ke belakang. Demi Tuhan, gadis kecil itu dapat melihat seekor kera besar berbulu hitam lebat yang sedang menggelantung di badan Farah. Bukan hanya itu saja, ia pun menyadari kera di punggung Farah sedang menyengir ke arahnya, menunjukkan gigi taringnya yang panjang dan runcing.
Sebelum berjalan cukup jauh dari kediaman Hilman, Sukma melirik sang kakak. Atikah balik menatap adiknya, lalu mengangkat dagu seperti mengisyaratkan pertanyaan.
"Teteh lihat nggak tadi? Ada monyet gedeee banget di badan Tante Farah, loh!"
Atikah menggeleng sambil mengernyitkan kening. "Enggak tuh. Teteh nggak lihat apa-apa, kok. Teteh cuma lihat Tante Farah aja."
"Beneran Teteh nggak lihat? Padahal tadi monyetnya ngelihat ke kita, loh, Teh! Dia nyengir ke aku!" jelas Sukma meyakinkan.
"Ah, kamu ini kebanyakan melantur! Teteh nggak lihat monyet sama sekali di badan Tante Farah. Udah, deh, sekarang kita cepetan jalannya. Kamu kayaknya udah kesiangan pergi ke mesjid," gerutu Atikah.
"Ih, Teteh mah gitu. Kenapa, sih, setiap aku lihat sesuatu itu, Teteh, Ibu, sama Bapak nggak pernah mau tahu? Padahal aku nggak pernah bohong, loh. Maurin itu beneran ada, tapi kalian nggak lihat. Tante Farida juga bukan bohongan, tapi kalian tetap aja nggak percaya sama aku. Kesel deh," cerocos Sukma sambil memberengut, mengerucutkan bibir mungilnya.
"Habis, mau gimana lagi, Dek? Kami memang nggak pernah tahu apa yang Dedek lihat. Kami tahunya kamu ini tukang melantur. Apalagi sejak hilang selama seminggu, kamu ini makin aneh. Udah rambutnya tiba-tiba panjang, acak-acakan. Kulit kamu juga, kenapa jadi pucat begini, sih? Bikin heran, deh."
"Kok Teteh jadi ngeledek aku, sih? Aku begini gara-gara Tante Farida. Dia narik kaki aku segala, jadi rambut aku cepet panjang, kulit aku jadi putih begini."
"Sudahlah, terserah Dedek aja. Teteh yakin, pasti kamu habis dijadiin bahan uji coba sama seorang profesor."
"Profesor? Apaan tuh profesor?" Sukma mengerutkan dahi sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya.
"Profesor itu kakek-kakek yang suka pake kacamata, yang di ruangannya banyak botol berasapnya gitu."
Mendengar penjelasan Atikah, Sukma semakin tidak mengerti sosok profesor yang dimaksud. Ia hanya paham, bahwa kakinya sudah ditarik wanita menyeramkan hingga penampilannya berubah saat keluar dari rumah kuno itu. Sukma memandang sinis pada Atikah.
"Kenapa kamu ngelihatin Teteh kayak gitu?"
"Nah, sekarang Teteh yang melantur. Dedek nggak pernah ketemu sama kakek-kakek pakai kacamata, apalagi masuk ruangan yang banyak botol berasap. Dedek cuma tahunya Tante Farida. Udah, itu aja."
"Terserah kamu aja, deh."
Keduanya melanjutkan perjalanannya menuju mesjid. Sukma sudah lelah menjelaskan semua yang dialaminya pada Atikah. Kesal ia jika pendapatnya terus saja dibantah oleh sang kakak.
Sementara itu, Atikah yang sejak tadi berusaha menyanggah perkataan Sukma, diam-diam memercayai semua kejadian yang dialami adiknya. Pengalamannya menghadapi Susan yang hendak membunuhnya tengah malam, telah membuktikan bahwa ada hal aneh pada Sukma. Kendati demikian, Atikah mencoba menuruti Bu Inah agar tidak selalu memikirkan keganjilan demi keganjilan yang dialami Sukma. Bagaimanapun juga, menurut ibunya, Atikah tidak akan pernah mengerti dengan semua itu.
Tak terasa, mereka sudah hampir sampai ke mesjid yang dituju. Ketika hendak memasuki area mesjid, tak sengaja Atikah melihat Arini keluar dari mobil di seberang jalan. Sejenak ia tertegun, hingga menepuk pundak adiknya.
"Dek, lihat! Itu kayak nenek-nenek yang tadi siang pergi sama Tante Farah, deh. Bukannya tadi dia mau pergi ke ... ke mana ya tadi? Ah, iya, ke Sumedang," kata Atikah sambil menunjuk wanita tua di seberang jalan.
"Sebenarnya dia bohong, Teh. Tadi dia habis ketemu sama keluarganya, lamaaa banget."
"Oh." Atikah mengangguk. "Emang keluarganya tinggal di mana?"
"Di kuburan."