
Pemilik warung yang buhul-buhulnya sudah dihancurkan oleh Sukma pun mencak-mencak. Ia tak terima, sampai-sampai mulutnya tak bisa dikendalikan. Saking marahnya, ia pun bergosip tanpa terkendali pada para pembeli.
"Eh, tahu, nggak? Anak orang yang baru pindahan itu muja, loh!" kata wanita paruh baya pemilik warung.
"Ah, masa? Tahu dari mana?" tanya pembeli yang sama-sama wanita.
"Tadi dia ngambil bungkusan dari gentengnya warung Ceu Cicih! Gimana nggak curiga coba? Dari mana dia tahu kalau di genteng warungnya Ceu Cicih itu ada bungkusan? Biasanya yang tahu begituan itu dukun atau tukang muja," jelas si pemilik warung.
"Ah, Bi Juju mah ada-ada aja. Yang bisa lihat begituan itu bukan cuma dukun atau tukang muja doang. Sekarang ada istilahnya Anak Indigo. Mungkin anak itu punya kemampuan lewat mata batinnya, makanya bisa nemu yang begituan," bantah si pembeli.
"Saya mah tetep nggak percaya. Pasti orang tua anak itu tukang muja," kata pemilik warung sambil mencebik.
"Haduh ... Bi Juju ini udah dijelasin masih aja ngeyel. Saya jadi mikir, jangan-jangan bukan anak itu yang muja, tapi Bi Juju sendiri," celetuk si pembeli.
"Eh, kenapa jadi saya?!" sungut pemilik warung mulai berang.
"Semua orang di sini udah pada tahu kalau Bi Juju ini tukang muja, tapi dulu saya nggak langsung percaya. Nah, lihat Bi Juju kayak gini, saya jadi percaya kalau kata orang-orang itu bukan cuma bohongan. Ngomong-ngomong, mana tuyul Bi Juju? Katanya ternak tuyul juga, ya, buat jadi kaya," sindir si pembeli.
"Ih! Kamu ini apa-apaan, sih? Diajak ngegosip malah nuduh saya!" bentak pemilik warung.
"Habisnya, masih pagi malah ngajak ngegosip. Mana ngomongin soal muja lagi. Ya iyalah, saya jadi mikir kalau Bi Juju yang muja. Biasanya nih, ya, biasanyaaa ... orang yang nuduh-nuduh orang lain ngelakuin hal nggak bener itu secara nggak langsung udah nuduh dirinya sendiri. Kayak laki-laki tukang selingkuh. Nuduh istri selingkuh, padahal dirinya sendiri yang ngelakuin hal begitu," cerocos si pembeli.
"Idih! Kok jadi ngomongin perselingkuhan, sih? Udah, udah! Sana pulang! Percuma ngajakin kamu ngegosip. Nggak nyambung!" usir si pemilik warung.
Si pembeli pun pulang sambil mencebik. Bersamaan dengan itu pula, Sukma baru saja pulang dari kuburan dan hendak masuk ke dalam gang. Pemilik warung memperhatikannya dari kejauhan. Sukma tersenyum, kemudian memandang warung seberang jalan. Ia tahun betul, ada seseorang yang memperhatikannya dari kejauhan.
Pemilik warung melengos setelah memandang Sukma cukup lama. Ia baru menyadari, bahwa seseorang yang telah dituduhnya itu bukanlah anak sembarangan. Samar-samar, ingatannya melambung menuju enam tahun yang lalu. Di dalam ponselnya tersimpan video ketika Sukma menghabisi Ki Purnomo. Pemilik warung itu bergidik ngeri dan tak berani lagi bercerocos.
Di rumah barunya, Pak Risman beserta para tetangga lain sedang beristirahat, menikmati minuman dingin yang dibeli Atikah. Saat Sukma datang, mereka berhenti sejenak. Bu Inah menghampiri putrinya yang beru pulang.
"Dedek dari mana aja? Bener kata Teteh abis dari kuburan?" tanya Bu Inah.
"Iya, Bu. Habis buangin tanah merah. Emangnya kenapa?" Sukma balik bertanya.
"Tanah merah?!" Para tetangga terkejut mendengar penuturan Sukma.
"Pak, saya harap, Bapak nggak mikir macem-macem, ya. Di sini emang udah ngota, tapi ada aja warga yang suka usil," ucap salah satu pria pada Pak Risman.
"Ah, itu mah udah biasa, Pak. Namanya juga manusia, kadang kalau iri suka ngusilin orang. Padahal rezeki dan maut udah diatur sama Allah," sanggah Pak Risman dengan santai.
"Syukurlah kalau Bapak nggak ada masalah dengan itu. Saya sarankan, Bapak sekeluarga jaga-jaga diri aja. Kalau ada apa-apa, setidaknya masih bisa ditangkal," ucap tetangga lainnya.
"Iya, Pak. Akan kami usahakan. Terima kasih, ya, udah perhatian sama keluarga saya. Saya senang punya tetangga yang baik kayak kalian," puji Pak Risman.
"Ah, santai aja, Pak. Kita ini makhluk sosial, udah sewajarnya bantu-bantu warga yang baru pindahan ke sini," ucap tetangga Pak Risman. "Kami pergi dulu, Pak. Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam," sahut Pak Risman.
Setelah para tetangga pulang ke rumah masing-masing dan supir mobil pergi, Pak Risman lanjut membereskan perabotan bersama Bu Inah dan kedua putrinya. Atikah dan Sukma memilih kamar depan untuk tidur dan belajar. Kamarnya cukup luas, bahkan bisa ditaruh beberapa perabotan besar seperti lemari juga meja belajar. Namun, untuk sementara, mereka menggunakan kasur lantai dulu. Pak Risman berjanji., akan membelikan spring bed nanti sore.
Sementara itu, Bu Inah membereskan perabotan dapur. Semuanya ditata dengan rapi sampai benar-benar nyaman saat memasak nanti. Tak lupa, ia juga mengecek air wastafel dan kamar mandi. Airnya sangat jernih, sehingga tak perlu repot-repot membeli galon untuk minum.
...****************...
Setelah beberapa hari tinggal di kediaman baru, akhirnya Bu Inah mendapatkan informasi mengenai penerimaan peserta didik baru. Ia sangat ingin menyekolahkan kedua putrinya di sekolah unggulan, mengingat prestasi keduanya lumayan bagus. Wanita paruh baya itu enggan menyia-nyiakan kemampuan putrinya selama tak memiliki kendala biaya.
Pertama-tama, Bu Inah mendaftarkan sekolah Atikah. Bersyukur, si sulung dapat masuk ke sekolah itu melalui jalur prestasi. Nilai-nilai ujian dan rapotnya yang bagus, membuatnya lolos tanpa kendala.
Selesai Atikah masuk ke SMA favorit, selanjutnya Bu Inah mendaftarkan Sukma di SMP. Terkadang ia merasa khawatir, mengingat si bungsu perlu naik kendaraan umum untuk pergi ke sekolah. Jaraknya yang lumayan jauh, membuatnya perlu berpikir ulang. Akan tetapi, Sukma membujuk ibunya agar tetap tenang. Ia juga mengingatkan sang ibu, bahwa ayahnya masih bisa mengantar dan menjemputnya ke sekolah menggunakan sepeda motor barunya. Hati Bu Inah pun tenang setelah diingatkan oleh putrinya mengenai hal itu. Kergauaan yang menggelayut di benaknya, seketika hilang begitu saja.
Setibanya di sekolah, tanpa sengaja Sukma berpapasan dengan masa taman kanak-kanaknya. Ia tidak lain adalah Giska, gadis berambut pendek yang berubah takut kepadanya gara-gara boneka Susan. Sukma yang merasa senang bisa bertemu dengan teman lamanya, segera menghampiri Giska.
"Giska!" panggil Sukma sembari berjalan cepat.
Gadis berambut pendek itu menoleh, lalu matanya terbelalak. "Sukma?!"
Mata Giska masih melongo menatap Sukma dari atas kepala sampai kaki. "S-Sukma ... ngapain kamu di sini? Bukannya dulu kamu pindah ke Padalarang?"
"Masih nanya aja aku ke sini ngapain. Ya mau sekolah lah, masa mau nongkrong? Eh, tapi kok muka kamu kayak ketakutan gitu? Nggak suka ketemu sama aku, ya?" tanya Sukma.
"Ng ... Enggak, enggak! Cuma ... aku masih trauma," jawab Giska tergagap-gagap. "Kamu masih simpen boneka Susan?"
"Boneka Susan? Mmm ... seingat aku, sih, udah dibakar sama Bapak," kata Sukma sembari mengingat-ingat.
"Ha?! Dibakar?! Emangnya si Susan bisa dibakar?" Giska tercengang.
Sukma mengangguk. "Ya bisalah. Cuma boneka ini, kan, bukan orang."
"Tapi Susan itu bukan boneka biasa," jelas Giska merasa gemas.
Di tengah pembicaraan mereka, Sukma dipanggil oleh ibunya untuk masuk ke tempat pendaftaran. Sukma bergegas menghampiri ibunya, sedangkan Giska masih penasaran. Ia ingat betul, bahwa boneka Susan dan temannya cukup sulit untuk disingkirkan. Bahkan, kakaknya sampai tidak sadar telah ditolong oleh arwah penasaran demi menyingkirkan boneka itu.
Sementara Sukma dan ibunya sedang berhadapan dengan guru serta staf penerima pendaftaran, Giska masih menunggu di luar kelas. Kakak iparnya mengajak pulang, tapi rasa penasaran gadis itu masih menghantuinya. Ia pun meminta kakak iparnya untuk menunggu sebentar sampai Sukma keluar dari tempat pendaftaran.
Cukup lama menunggu, akhirnya Sukma keluar juga bersama ibunya. Giska buru-buru menghampiri temannya sambil membawa segudang pertanyaan. Ia menepuk punggung Sukma sebelum pergi meninggalkan sekolah.
"Apa?" Sukma menoleh.
"Aku masih penasaran sama cerita kamu, Sukma. Tunggulah sebentar sampai rasa penasaran aku hilang," ujar Giska.
"Baiklah. Kita mau ngobrol di mana? Kita minta izin dulu sama Ibu biar nggak nunggu," saran Sukma.
"Iya. Kamu minta izin dulu sama ibu kamu. Aku tunggu di sini," ucap Giska.
Sukma berlari menghampiri ibunya untuk berbicara dengan Giska sebentar. Bu Inah mengizinkannya, dengan syarat jangan terlalu lama. Sukma pun berjanji tidak akan berlama-lama mengobrol dengan Giska.
Selanjutnya, Giska membawa temannya ke salah satu koridor sekolah. Letaknya tak begitu jauh dari tempat pendaftaran. Keduanya duduk, kemudian mulai membuka pembicaraan kembali.
"Sukma, kamu nggak bohong, kan, kalau Susan udah dibakar? Terus ... Ma ... Maurin gimana? Masih suka nyariin kamu?"
"Aku nggak bohong, Giska. Bapak aku ngebakar Susan pas aku lagi sekolah. Maurin marah terus nggak mau temenan sama aku lagi. Saking kesel sama Bapak, aku kabur dari rumah, deh."
"Kabur?! Emangnya kamu waktu itu kabur ke mana sampai nekat begitu? Aku aja kalau sehari nggak pulang suka kangen sama Ibu dan Ayah."
"Aku waktu ngaji kabur ke deket sekolahan kita, terus ketemu sama Tante Farida. Aku nginep di rumah dia semalem. Kirain Tante Farida itu manusia, ternyata Wewe Gombel!"
Giska terperangah sambil bergidik. "Terus, gimana caranya kamu bisa pulang? Dicariin sama orang tua pake bantuan ustaz atau gimana?"
"Ya aku pulang aja. Pas Tante Farida pegangin kaki aku, eh ... dia malah loyo. Aku pulang deh, terus Ibu nangis-nangis gitu, katanya aku udah seminggu nggak pulang."
"Oh, pantesan waktu itu kamu nggak masuk sekolah selama seminggu. Temen sekelas mikirnya kamu lagi sakit loh."
"Wah, masa? Padahal aku tidur di rumahnya Tante Farida cuma semalem, loh, bukan seminggu!"
"Kok aneh, ya?"
"Oya, kata Wanara, perputaran waktu di dimensi manusia sama alam gaib itu beda. Di alam gaib lebih lama."
"Oh, gitu."
"Kamu mau nyoba ke alam gaib?"
"E ... enggak, deh. Ibu aku takut sama yang begituan."
"Ya udah. Kalau begitu aku pulang dulu, ya. Mudah-mudahan nanti kita sekelas biar bisa cerita hal-hal seru."
"Iya, aku harap juga begitu."
Sukma melenggang pergi menuju ibunya yang sedang menunggu di gerbang. Giska hanya memandang kosong ke arah temannya, sembari mengingat-ingat cerita yang dituturkannya. Lambat laun, hati kecilnya mulai penasaran dengan semua hal gaib yang pernah dialami oleh Sukma. Akan tetapi, keinginannya seketika terkubur saat kakak iparnya datang. Terbayang di matanya, wajah sang ibu yang ketakutan karena hal-hal mistis.