
Sukma dan Atikah sudah bersiap untuk pergi sekolah. Keduanya pergi bersamaan dengan Bu Inah dan Pak Risman yang akan melayat. Sukma terheran-heran melihat ibunya yang kemarin bertengkar dengan Bu Lastri, pergi untuk melayat orang menyebalkan itu.
"Bu, ngapain, sih, melayat ke rumahnya Pak Beni segala? Ibu-ibu yang kemarin narik tangan Dedek itu, kan, udah berantem sama Ibu. Orangnya nyebelin pula," ketus Sukma mendengus sebal.
"Kita ini tetangga, Sukma. Sudah sepatutnya kita ikut berbela sungkawa jika ada tetangga yang meninggal.," kata Bu Inah sambil tersenyum.
"Ikut berbela sungkawa atau emang Ibu ngerasa senang karena orang yang akan mencelakai Dedek meninggal?" tanya Sukma.
"Hus! Dedek ini sembarangan kalau bicara. Yang ada Ibu ikut sedih sama Pak Beni. Dia kehilangan istrinya begitu cepat," jawab Bu Inah. "Sudah, sekarang pergi, gih. Sudah mau siang."
"Iya, Bu."
Maka mereka akhirnya berpisah setelah keluar dari gerbang. Arah menuju rumah Pak Beni dan sekolah memang berbeda. Jika Sukma berangkat ke arah utara bersama Atikah, maka Bu Inah dan berjalan ke arah selatan.
Tak butuh waktu lama bagi Bu Inah dan suaminya untuk tiba di kediaman Pak Beni. Banyak sekali orang yang berbondong-bondong, menyaksikan prosesi menjelang dimakamkannya Bu Lastri. Anak-anak Bu Lastri yang tinggal di Jakarta pun datang, melihat wajah sang ibu untuk terakhir kalinya. Pak Beni tampak berurai air mata, terpukul akan kepergian sang istri secara mendadak.
Bersama Pak Risman, Bu Inah menyelusup di antara kerumunan warga, lalu masuk ke rumah kediaman Pak Beni. Kehadirannya disambut pertama kali oleh putra sulung pemilik rumah. Tampak kesedihan di wajah pria itu, meski tak setetes pun air mata jatuh ke pipinya.
"Yang sabar, ya, Nak. Mungkin sudah takdirnya," kata Pak Risman.
"Iya, Pak. Hanya saja saya menyesal, belum sempat menuntun ibu saya ke jalan yang benar," lirih pria itu, merasa malu.
"Tak apa. Mungkin memang sudah jalannya seperti itu. Sekarang doakan saja, semoga Allah menerima amal ibadahnya yang lain."
"Iya, Pak."
Tak lama kemudian, Haji Gufron dan Fadil datang melayat. Bukan hanya itu saja, ia juga dimintai oleh warga lain untuk menyalatkan jenazah Bu Lastri. Haji Gufron tampak bersedih atas kematian Bu Lastri. Bagaimanapun juga, ia sudah mengenal keluarga Pak Beni sejak lama, meski akhir-akhir ini sering terjadi konflik.
Melihat Pak Beni sedang sesenggukan di depan jenazah istrinya yang terbaring kaku, Haji Gufron merasa berempati. Dihampirinya pria berbadan gemuk itu, lalu duduk di sebelahnya. Haji Gufron mengusap punggung Pak Beni dan mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya Bu Lastri.
"Yang sabar, Pak. Mungkin sudah saatnya Allah mengambil nyawa Bu Lastri. Allah lebih sayang sama Bu Lastri, Pak," ujar Haji Gufron.
Pak Beni menyeka air mata, lalu berkata. "Iya, Pak Haji. Sebenarnya saya masih syok. Semalam Ibu kejang-kejang dan nggak bisa dibangunin. Saya sudah berusaha buat ngebangunin dia, tapi takdir rupanya berkata lain."
"Sudah, Pak. Tak perlu diingat lagi. Setidaknya Bapak sudah berusaha."
"Saya juga sangat menyesal, Pak. Selama ini, saya tak bisa mengendalikan istri saya dan mengajaknya berjalan di jalan yang benar. Berulang kali saya mengingatkannya tentang rezeki, seperti yang teman Pak Haji bilang, tapi Ibu tetap saja keras kepala. Ya Allah!"
"Sudah, Pak, sudah. Nggak ada gunanya terus menerus menyesali kesalahan Bapak. Mendingan doakan Bu Lastri agar diterima di sisi-Nya."
Sebelum dimakamkan, jenazah dimasukkan ke dalam keranda dan disalati terlebih dahulu. Kendati sempat bertengkar dengan Bu Lastri, Haji Gufron bersedia menjadi imam salat jenazah. Tak peduli dengan ucapan orang-orang yang menuduhnya manusia munafik, Haji Gufron tetap pada pendiriannya, bahwa salat fardhu kifayah yang ia lakukan, semata-mata karena kasihan pada Bu Lastri.
Selesai disalatkan, keranda pun digotong oleh empat orang, termasuk Fadil dan Pak Risman. Selama perjalanan menuju makam, tak sengaja Fadil mencium bau bangkai dari dalam keranda. Ia tak mau banyak bicara, sekalipun orang di sebelahnya mengeluh karena bau yang mengganggu itu. Fadil yang mengetahui sifat Bu Lastri semasa hidup, hanya bisa berkata dalam hatinya, mungkin ini pelajaran dari Allah.
Setibanya di pemakaman, warga yang mengantar jenazah Bu Lastri menuju liang lahat, tampak terheran-heran. Penggalian liang kubur yang dilakukan para penjaga makam sejak pagi, belumlah selesai. Haji Gufron maju ke depan, merasa penasaran akan pengerjaan para penggali kubur yang terbilang lambat.
"Ada apa ini? Kenapa penggaliannya belum selesai juga?" tanya Haji Gufron mengernyitkan kening.
"Tanahnya keras banget, Pak Haji," jawab salah satu penggali.
"Keras? Udah dicoba dibanjur pakai air?" tanya Haji Gufron lagi.
"Udah, Pak Haji, tapi hasilnya tetap sama."
"Kalau begitu, kenapa nggak coba di area yang lain? Ini pemakaman lumayan luas loh."
"Udah, Pak Haji. Ini yang ketiga kali."
"Astagfirullah."
Haji Gufron menoleh pada warga yang mulai kepanasan karena mentari kian meninggi. Ia mengajak keluarga Bu Lastri dan warga untuk membaca doa agar urusan pemakaman dipermudah oleh Sang Pencipta. Mereka pun setuju, lalu doa dimulai dengan dipimpin oleh Haji Gufron.
Setelah cukup lama meminta kemudahan pada Tuhan, akhirnya liang lahat yang akan menjadi pembaringan terakhir Bu Lastri pun rampung. Beberapa orang termasuk putra sulung Pak Beni turun ke liang lahat, lalu bersama-sama menerima jenazah Bu Lastri. Kendati merasa beban yang akan dibaringkan sangat berat dan terganggu oleh bau bangkai yang menyengat, mereka tetap melakukan tugasnya dengan hati-hati.
Tak terasa, akhirnya pemakaman Bu Lastri rampung. Selesai membaca doa, warga satu per satu pulang ke rumahnya masing-masing. Sementara itu, Pak Beni yang masih bersedih, tinggal sejenak di samping gundukan tanah makam Bu Lastri. Haji Gufron menemaninya, membujuk Pak Beni untuk berusaha tegar menghadapi kenyataan. Ia tahu betul rasanya ditinggal pergi oleh istri tercinta, maka dari itu Haji Gufron sangat berempati pada Pak Beni.
"Kuatkan hati, Pak Beni. Ikhlaskan saja. Mungkin suatu saat nanti di akhirat, Pak Beni kelak akan bertemu dengan istri Bapak," kata Haji Gufron.
"Saya berusaha kuat, Pak Haji, tapi hati ini rasanya susah ikhlas."
Pak Beni memgangguk, berusaha ikhlas melepaskan kepergian sang istri. Selesai dengan urusan mereka, keduanya beranjak dari samping makam Bu Lastri. Akan tetapi, setelah delapan langkah meninggalkan pembaringan terakhir wanita berbadan tambun itu, lagi-lagi Haji Gufron dan Pak Beni mencium aroma menyengat di sekitarnya. Ketika Pak Beni menoleh ke arah makam sang istri, matanya membelalak.
"Pak Haji, Pak Haji! Lihat! Ada darah keluar dari makam istri saya!"
"Allahu Akbar! Apa lagi ini?"
Sementara Pak Beni dan Haji Gufron sibuk menangani kejadian aneh di kuburan, Sukma menanyai Andra di kelas. Seperti kemarin, ia tidak keluar kelas, meski disuruh oleh guru agamanya. Gadis kecil itu penasaran, akan seseuatu yang terjadi pada seseorang setelah meninggal pada Andra.
"Andra, apakah orang nyebelin bakal hidup tenang di alam kubur?"
"Kenapa kamu nanya kayak gitu?"
"Soalnya aku punya tetangga. Orangnya nyebeliiin banget. Sebelum dia meninggal, dia pegang tangan aku keras-keras. Tuh, lihat! Masih ada bekasnya!" ucap Sukma sembari menunjukkan pergelangan tangannya yang terdapat bekas cengkeraman berwarna merah.
"Astaga! Kamu dipukulin juga, nggak?" tanya Andra penasaran.
"Enggak. Soalnya ibu aku keburu datang, terus marah-marah sama orang nyebelin itu."
"Syukurlah kalau kamu nggak dipukulin. Oya, tadi pembicaraan kita sampai mana?"
"Apa orang nyebelin bakal tenang di alam kubur?"
Andra termenung sejenak, sambil menatap ke arah langit-langit. Ia berusaha mengingat kembali sesuatu yang diajarkan guru agama di kelas sebelah dan pengalamannya setelah dikubur. Setelah cukup lama berpikir, akhirnya ia mendapatkan jawaban yang tepat.
"Begini, setiap orang yang hidup itu memiliki amal-amalannya sendiri. Seingat aku, nanti di alam kubur bakal ada dua malaikat yang nanya-nanya gitu. Namanya Munkar sama Nakir. Kalau kita nggak bisa ngejawab pertanyaan mereka, kita bakal dipukul."
"Oh, gitu, ya. Berarti orang nyebelin nggak bakalan tenang dong di alam kuburnya."
"Begitulah. Kecuali kalu dia bertaubat dulu sebelum meninggal."
"Bertaubat? Bertaubat itu apa?"
"Bertaubat itu memohon ampunan pada Tuhan dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan dosa lagi. Kalau yang kayak gitu, mungkin nggak bakal dihukum."
"Begitu, ya."
"Oya, Sukma. Sebentar lagi bulan puasa. Kamu suka puasa nggak?"
Sukma mengangguk. "Aku suka ikutan sahur, tapi nggak ikutan buka puasanya."
"Loh, kenapa?"
"Soalnya, kata ibu aku, kalau nggak kuat mah puasanya setengah hari aja. Terakhir kali bulan puasa, aku cuma tamat sampai ashar."
"Wah, kamu hebat, Sukma! Berpuasa dalam waktu yang panjang itu keren, apalagi kalau sampai maghrib."
"Iya, tahun ini aku bakalan nyoba berpuasa sampai maghrib. Mudah-mudahan kuat, ya."
"Kamu pasti kuat, Sukma. Nggak kayak aku. Tiap bulan puasa tiba, aku nggak bisa ikutan puasa sama kedua orang tua aku."
"Kenapa bisa gitu?"
"Kata ibu aku, nanti sakitnya bakalan lebih parah kalau berpuasa. Lagi pula, orang sakit juga nggak dianjurkan puasa, kok."
"Hm, kamu enak, ya, tiap bulan puasa nggak berpuasa kayak orang lain."
"Justru aku ngerasa sedih, Sukma. Nggak ngerasain enaknya sahur dan berbuka bareng orang tua. Pasti rasanya beda kalau aku puasa."
"Hm ... iya, juga, sih. Eh, tapi walaupun kamu nggak puasa, suka dibeliin baju lebaran dong sama bapak-ibu kamu."
"Kalau baju lebaran, sih, suka dibeliin. Aku paling seneng kalau lebaran tiba. Bisa pamer baju baru di depan teman-teman, tapi ...."
"Tapi apa, Andra? Bajunya cepet kotor?"
"Bukan. Temen-temen suka ngatain, kalau aku pengin enaknya aja. Puasa enggak, giliran lebaran ikut-ikutan pamer baju baru."
"Ih, kenapa, sih, di dunia ini ada aja orang yang nyebelin?" celetuk Sukma mendengus sebal. "Mereka, kan, nggak tahu kalau kamu lagi sakit. Allah aja nggak jahat sama orang sakit. Kenapa mereka berani menghakimi?"