
Beranjak tengah malam, Ki Purnomo datang lagi untuk menyerang Sukma lewat mimpi. Namun, usahanya kali ini tak akan berjalan mulus seperti sebelumnya. Wanara yang bersiap di depan teras kontrakan, masih memandang waspada ke segala arah. Atas janjinya pada Sukma, kera itu akan berusaha memusnahkan Banaspati menyebalkan malam ini juga.
Sementara itu, dukun suruhan Bu Lastri mulai melancarkan serangan pada target yang dituju. Sebuah boneka kecil bertuliskan Sukma Cakrawati, mulai dimantrai dan dimasukkan paku ke dalamnya. Tentu saja, serangan itu dapat dirasakan oleh Sukma di alam bawah sadarnya. Ia mendapati sosok makhluk gaib berbadan merah dan ceking, sedang memasukkan paku ke dalam tubuhya yang sedang tertidur lelap.
Tanpa segan-segan, gadis kecil itu menjewer makhluk kiriman sang dukun untuk menjauh dari tubuhnya. Makhluk itu menjerit-jerit, hingga memohon ampun agar dilepaskan. Akan tetapi, Sukma tak mau melepaskannya begitu saja.
"Pergi dari tubuh aku! Kalau kamu coba-coba menyakiti aku, maka akan tahu akibatnya. Kamu datang ke sini atas suruhan siapa?" ancam Sukma dalam wujud iblisnya.
"S-saya ... saya disuruh oleh dukun. Dukun itu menjalankan tugas dari wanita gemuk yang tinggal di sekitar sini."
"Baiklah, antarin aku sekarang juga! Aku mau bikin perhitungan sama dia. Ayo!"
Makhluk berbadan ceking itu menurut pada Sukma, lalu menunjukkan arah menuju kediaman sang dukun. Ketika hendak meninggalkan area kontrakan, tampak bola api akan menyerang mereka. Wanara dengan sigap menangkis serangan Ki Purnomo, lalu menoleh pada Sukma.
"Kamu pergi saja. Biar aku urus Ki Purnomo," kata Wanara.
"Baiklah. Aku mau pergi dulu."
Sukma dan makhluk kiriman sang dukun melesat cepat meninggalkan kontrakan. Ki Purnomo yang melihat kepergian mereka, bergegas mengikutinya. Wanara menyadari hal itu. Dengan cepat, ia menahan Ki Purnomo agar tak mengejar Sukma.
Ki Purnomo sangat kesal, kemudian menyemburkan api ke arah Wanara. Lagi-lagi, kera itu dapat menghindar dengan cepat, sehingga tak ada luka satu pun di tubuhnya. Ki Purnomo semakin geram, ingin menuntaskan penghalang antara dirinya dan Sukma secepat mungkin.
"Minggir kamu, Monyet! Jangan ganggu urusanku dengan bocah itu!"
"Sudah aku bilang, kan. Sebelum menyerang temanku, hadapi aku dulu!"
Ki Purnomo menyemburkan api lagi pada Wanara. Ia sangat jengkel tatkala serangannya berkali-kali gagal mengenai kera itu. Wanara berusaha mencari titik paling tepat untuk menyerang balik Ki Purnomo. Secepat mungkin, kera itu memanjat, mencari tempat yang lebih tinggi agar mudah menyemburkan air ke arah Ki Purnomo.
Ki Purnomo tak mau kehilangan jejak Wanara. Wujud Banaspati-nya menyusul Wanara ke atap kontrakan. Saat hendak mencapai lokasi Wanara bercokol, tiba-tiba semburan air datang menyerangnya. Ki Purnomo menghindar dari Wanara.
"Sialan kamu! Kamu berani melawan aku, ya!" bentak Ki Purnomo.
"Ayo, maju sini!"
Bersama dengan semburan api yang keluar dari mulut dan matanya, Ki Purnomo mendekati kera itu. Wanara pun balik menyerang bola api yang mendekat ke arahnya. Kini pertarungan antara api dan air semakin sengit. Semakin lama, kekuatan yang dikeluarkan Ki Purnomo pun melemah, begitu pula dengan semburan api dari mata dan mulutnya.
Akhirnya, Wanara menyadari kekuatan Ki Purnomo yang kian melemah. Disemburkannya lagi air dari mulut sebari menekan perutnya. Air yang keluar dari dalam mulutnya semakin deras hingga memadamkan api di kepala Ki Purnomo. Tak peduli dengan jeritan dari bola api itu, Wanara terus melancarkan semburan airnya, sampai Ki Purnomo benar-benar menjadi abu. Jeritan Ki Purnomo perlahan menghilang, seiring dengan padamnya api. Ia pun menjadi abu dan lenyap tertiup angin.
Dengan terengah-engah, Wanara menyelesaikan tugasnya. Ki Purnomo sudah tiada. Hatinya merasa lega karena bisa membantu Sukma.
"Sekarang giliranmu, Sukma. Habisi pengirim santet itu," gumam Wanara, sembari mengatur napas.
Di tempat lain, dukun yang mengirimi santet pada Sukma sedang terheran-heran melihat paku yang akan dimasukkan ke dalam boneka, berulang kali terlempar begitu saja. Sesajen yang berada di hadapannya, tiba-tiba berserakan ke mana-mana. Lilin yang menyinari kamar khusus ritualnya satu per satu padam. Bulu kuduk dukun itu meremang tatkala semilir angin berembus terasa berbeda.
Makhluk gaib kiriman sang dukun, dilemparkan Sukma ke sesajen yang teronggok di lantai. Dukun itu bergidik ngeri, terlebih saat boneka yang semula dipegangnya tiba-tiba lepas dari tangannya. Bergegas ia beranjak dari tempat duduknya, lalu berusaha membuka pintu. Namun, usahanya sia-sia saja saat Sukma menampakkan diri di hadapannya.
"T-tolong ... a-ampuni saya," pinta dukun itu meronta-ronta, bersimpuh di hadapan Sukma.
Tanpa berpikir lagi, Sukma menusukkan keempat paku yang direbut dari si makhluk kiriman, tepat ke kepala dukun itu. Kepala sang dukun pecah dan mengeluarkan banyak darah, akibat tekanan hebat dari telapak tangan Sukma. Tak hanya itu saja, gadis kecil itu menggoreskan kuku-kukunya yang panjang ke tubuh dukun hingga meninggalkan bekas cakaran.
Makhluk berbadan merah dan ceking itu memandang ngeri ke arah Sukma. Ia seakan-akan tidak percaya, bahwa manusia yang ditujunya bukanlah anak kecil biasa. Saat Sukma menyelesaikan urusannya dengan sang dukun, ia berjalan mendekati makhluk pengirim santet.
"Sekarang, tunjukkin sama aku, di mana wanita yang menyuruh dukun ini tinggal. Ayo!"
Bergegas Sukma masuk ke rumah dengan warung di depannya itu, sedangkan si makhluk berbadan merah pergi entah ke mana. Gadis kecil itu tak menghiraukannya. Ia terus melenggang masuk ke rumah Pak Beni untuk mencari Bu Lastri.
Setibanya di kamar Bu Lastri, Sukma mendekati wanita berbadan tambun yang sedang tertidur sangat nyenyak. Gadia kecil itu memejamkan mata, lalu berubah menjadi gumpalan asap hitam yang masuk ke alam bawah sadar Bu Lastri. Bukan hal yang sulit bagi sukma untuk membuat perhitungan pada wanita itu. Sesuai ajaran yang sering diberikan oleh sang ayah di alam mimpi, Sukma mempraktikannya dengan baik.
Bu Lastri yang sedang bersenang-senang menikmati pemandangan indah dan berbaring di atas tumpukan uang dalam mimpinya, tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan bocah kecil bertanduk. Wanita itu terkesiap, lalu meraup gundukan uang yang menjadi pembaringannya. Matanya membelalak, memandang waspada pada makhluk asing nan mengerikan yng tiba-tiba mengganggu kesenangannya.
"S-siapa kamu? Mau apa kamu ke sini?" tanya Bu Lastri panik.
"Aku anak kecil yang ingin membuat perhitungan dengan kamu!"
"Perhitungan? Perhitungan apa? Apa masalah kamu dengan saya?"
"Tadi siang kamu mencengkeram tangan aku. Sekarang, giliran aku membalaskan dendam sama kamu!"
Terperangah Bu Lastri mendengar ucapan gadis kecil itu. Ingatannya melambung pada kejadian tadi siang, saat ia bertengkar hebat dengan Bu Inah gara-gara berbuat kasar pd Sukma. Bukan itu saja, peringatan dari sang dukun yang didatanginya, kembali berkelebat dalam pikirannya.
"S-Sukma?!"
Tanpa basa-basi, Sukma mencekik leher Bu Lastri, hingga tubuh tambunnya terangkat ke langit. Dilemparkannya wanita itu ke laut, dan langit pun berubah menjadi merah darah. Angin bertiup kencang tatkala Bu Lastri keluar dari air.
Rupanya, Sukma tak membiarkan Bu Lastri menghirup napas sejenak. Ia menjambak rambut wanita itu, lalu menenggelamkannya kembali ke dalam air. Bu Lastri kesulitan bernapas. Berkali-kali ia meminta ampunan pada Sukma, tapi perkataannya tidak digubris sama sekali. Wujud Sukma dalam bentuk iblis, memang tak bisa diajak kompromi.
Sementara itu di dunia nyata, Pak Beni terbangun tatkala mendengar istrinya terengah-engah dalam tidurnya. Pria itu menggoyang-goyang tubuh istrinya agar lekas bangun, tapi usahanya urung membuahkan hasil. Kendati demikian, Pak Beni tak kehabisan akal untuk membangunkan Bu Lastri. Bergegas ia mengambil segayung air ke kamar mandi, lalu mencipratkannya ke wajah sang istri.
"Bu, bangun, Bu! Ayo, bangun!" seru Pak Beni sembari mencipratkan air ke wajah Bu Lastri.
Tak ada reaksi yang berubah dari wanita berbadan tambun itu. Ia masih saja kejang-kejang dan terengah-engah. Sukma menjambak rambut wanita tambun itu di alam mimpinya, lalu melemparkannya lagi ke tempat lain. Tak ada ruang untuk Bu Lastri sadarkan diri. Alam mimpinya sudah dikunci rapat oleh Sukma sebelum dihabisi.
"Ampuni, Ibu, Sukma. Ibu tidak akan mengulangi perbuatan jahat lagi sama kamu. Ibu janji," pinta Bu Lastri terengah-engah.
Sukma enggan bicara. Tangannya meraih leher Bu Lastri, lalu mencekiknya sekuat mungkin. Kuku-kukunya yang panjang dan tajam, menusuk kulit Bu Lastri hingga mengeluarkan darah. Wanita berbadan tambun itu merasa sesak dan terbatuk-batuk.
"Kalau aja kamu nggak nekat mengirimkan santet sama aku, aku nggak akan berbuat seperti ini. Kamu ini benar-benar merugikan banyak orang. Pertama Haji Gufron, kedua ibu aku, sekarang aku. Entah berapa banyak orang yang sudah kamu sakiti semasa hidup. Kamu memang manusia paling menyebalkan di alam nyata," cerocos Sukma menatap tajam korbannya.
Bu Lastri tak bisa menjawab perkataan Sukma. Jangankan berkata-kata, bernapas saja ia sangat kepayahan.
"Sekarang waktunya pembalasan!" Sukma membanting tubuh Bu Lastri secara brutal.
Di alam nyata, Pak Beni tak mau menyerah membangunkan istrinya. Kali ini, ia mengguyurkan semua air dalam gayung untuk membangunkan istrinya. Namun tetap saja, kesadaran Bu Lastri tak kunjung pulih, meski matanya terbuka. Wanita itu masih terjebak dalam mimpinya sendiri.
Pak Beni mulai hilang akal. Kendati demikian, ia masih enggan menyerah untuk membangunkan sang istri. Bergegas ia menuju rumah Pak Suwandi, berniat meminta pertolongan darinya. Menurutnya, hanya Pak Suwandi paranormal terdekat yang dapat dimintai pertolongan.
Beruntung, Pak Suwandi ada di rumah. Begitu Pak Suwandi membuka pintu, Pak Beni segera memegang tangannya dan membawanya ke rumah. Tak ada waktu untuk menjelaskan. Bu Lastri harus diselamatkan secepatnya.
Setibanya di kamar, tampak Bu Lastri sudah berhenti kejang-kejang dan terengah-engah. Ia berbaring dengan mata terbuka dan mulut menganga. Secepatnya Pak Suwandi mengecek keadaan Bu Lastri, lalu menggeleng lemah.
"Ada apa, Pak?"
"Bu Lastri sudah meninggal."