
Makan malam romantis di apartemen dengan di hiasi lilin indah sebagai penerangannya, Nadia tampil memukau menampakkan bentuk tubuh yang teramat seksi dengan lingerie putih yang sangat transparan.
Rambut panjangnya di sanggul ke atas sehingga nampak jelas leher jenjang nan mulus itu begitu menggoda. Keduanya menikmati makan malam mereka. Lidah Daffa hampir kelu karena tidak mampu berkata-kata, pesona Nadia begitu terpancar dari raut wajahnya seakan mengeluarkan sinar tersendiri dalam keremangan malam yang hanya dihiasi lilin yang terdapat di setiap sudut ruangan itu.
"Sayang, aku begitu malu dihadapanmu, merasa nggak pantas memilikimu Nadia." ucapnya yang jujur membuat Nadia tersipu.
"Jangan terlalu memujiku tuan karena aku takut jika suatu saat nanti, hatiku akan mudah patah dan sulit untuk merekatkannya kembali." ucapnya sedih seraya menuangkan air ke gelas suaminya.
"Nadia, apakah kamu mencintaiku?"tanya Daffa yang belum pernah sedikitpun gadis ini mengatakan cinta kepadanya. Sedangkan ia ingin sekali Nadia mengucapkan kalimat itu agar ia merasa diakui oleh pemilik hati itu.
"Jika aku tidak mencintai tuan, bagaimana aku bisa berada di sisimu sampai saat ini." jawab Nadia diselingi senyum manis yang merekah bagaikan kuncup bunga mawar.
"Ucapkan cinta untukku Nadia, karena aku ingin sekali mendengarkannya walaupun itu hanya sekali saja dari bibirmu itu." pinta Daffa lirih.
"Ungkapan itu memang mudah tuan, tapi aku belum siap untuk mengatakannya." ucap Nadia yang tidak ingin terburu-buru menyampaikan perasaannya yang sesungguhnya.
"Apakah sesulit itu, kata yang sedemikian sederhananya membuatmu berat untuk mengucapkannya kepadaku?" tanya Daffa terdengar putus asa.
"Karena itulah yang membuat kesederhanaan itu menjadi tidak berarti lagi untukmu jika terlalu mudah untuk anda mengucapkannya. Kelihatannya tuan terlalu menilainya dengan standar sederhana, membuat kata itu tidak lagi bermakna untuk dirasakan." Jelas Nadia mengenai arti kata "cinta" itu berdasarkan sudut pandangnya.
"Mengapa menjadi serumit itu untukmu, kalau sekali saja kamu ucapkan tidak akan merugikan dirimu bukan?" Tanya Daffa menahan gemas dengan jawaban istrinya yang terlalu berbelit-belit menyimpulkan perasaan cinta yang ia ingin dengar dari bibir istrinya.
"Itulah bedanya aku dengan anda tuan, cara sudut pandang kita berbeda, apa lagi mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari itu juga berbeda. Berilah aku waktu untuk memikirkannya jika suatu saat nanti kata yang bernilai itu akan menolong hatimu." ucapnya tenang tanpa terlihat beban.
"Ya ampun, kamu menjadi lebih istimewa karena begitu banyak misteri yang tersimpan dihatimu, aku suka dengan tantanganmu sayang." Ucap Daffa pasrah dengan matanya yang sedikit terangkat ke atas.
Makan malam itupun berakhir, Daffa menghampiri Nadia yang sedang meletakkan semua piring kotor di tempat cucian piring. Ia begitu tergiur melihat bentuk bok*ng indah istrinya. Tanpa diduga oleh Nadia, ia masuk kedalam lengerie istrinya, wajahnya kini berada diantara kaki jenjang Nadia yang sedang berdiri, ia sedang mencari sesuatu yang tersembunyi di dalam lengerie Nadia yang tidak menggunakan apa-apa lagi.
Nadia mendesah, kakinya lebih ia lebarkan lagi untuk memudahkan suaminya mendapatkan apa yang sedang ia lakukan dibawah sana.
"Aahhkk, sayang!" De*ah Nadia lirih ketika Daffa mendapatkan biji kenyal yang terselip di antara dua bibir bagian bawah perut istrinya.
Daffa melu**t biji kenyal istrinya, membuat Nadia terpekik tertahan sambil memegang kuat pinggiran wastafel cuci piring dengan wajah menengadahkan ke atas sambil mengigit sudut bibirnya.
"Akkh!" mas Daffa," teriakan kenikmatan itu akhirnya lolos juga dari bibir sensualnya, lalu menggema di antara ruangan tersebut.
Merasa istrinya tak kuat lagi berdiri karena menahan nikmat darinya, Daffa kemudian berdiri dan membiarkan istrinya merasakan kenikmatan o***me pertamanya yang telah ia barusan memberikannya. Daffa menggendong Nadia, membawa tubuh gadisnya itu ke dalam kamar mereka. Nadia mengalungkan tangannya ke leher suaminya dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya itu.
Ini pengalaman pertama untuknya, dan pengalaman pertama untuk Daffa mendapatkan seorang gadis perawan pada diri Nadia, yang belum pernah ia dapatkan dari wanita-wanita liar yang menjadi tempat pelampiasannya selama ini. Dibaringkan tubuh itu di atas kasur king size miliknya, dalam sekejap lengerie putih itu sudah raib dari tubuh Nadia dan juga baju miliknya sudah di lempar ke sembarang arah.
Daffa tidak serta-merta menyerang tubuh molek istrinya, namun ia sedang menatap keindahan lekukan tubuh itu, putih dan lembut dengan dua bukit padat menantang, dihiasi bulatan coklat muda di puncak bukit kembar istrinya, seolah sedang memanggilnya untuk mengisap bulatan coklat itu seperti permen alpenliebe. Belum lagi bagian bawah perut istrinya, dengan kedua paha mulus tanpa cela serta kakinya yang jenjang menjuntai indah setengah terbuka, memperlihatkan belahan indah yang menawarkan surga dunia untuknya.
Mata Nadia menatap sendu wajah tampan suaminya yang sedang menikmati indahnya pemandangan pada tubuhnya. Mata yang mendamba sentuhan suaminya yang sudah lama ia nantikan di momen seperti ini. Keangkuhan suaminya yang selama ini, telah takluk karena pesonanya.
"Kamu siap sayang?" Tanya Daffa dan Nadia mengangguk pasrah. Ingin sekali ia berteriak seolah mengatakan cepat sentuh aku suamiku.
Puas menatap tubuh istrinya, Daffa beralih pada bibir yang sudah disentuh dengan lipstik pink. Bibir sensual istrinya menjadi sasaran keduanya. Daffa menjulurkan lidahnya ke dalam rongga mulut Nadia, ingin mengecap rasanya lebih mendalam, permainan yang kurang seimbang itu dimaklumi oleh Daffa karena istrinya kurang memahami permainan lidah. Nadia berusaha mengimbangi bagaimana perlakuan Daffa pada dirinya, ditirunya setiap gerakan dan sentuhan suaminya kepada dirinya, agar permainan itu nampak selaras yang diinginkan oleh suaminya.
Daffa tersenyum dalam hatinya, Nadia cepat mengikuti irama permainannya, usai bersenang-senang dengan bibir dan lidah istrinya, Daffa menuruni leher jenjang itu mengecup disana dan meninggalkan tanda merah yang menjadi kepemilikannya. Satu tangannya menyentuh bukit kembar Nadia meremas dan sesekali mempelitir ujung bulat coklat diatasnya dengan gemas.
Nafas Daffa makin memburu, begitu pula Nadia, jantung keduanya berdebar tak beraturan, kepalanya sudah nampak berat, permainan lembut kemudian berubah sedikit kasar terbawa hasrat yang kian ingin meledak. Daffa mengisap dua bulatan coklat muda itu dengan satu tangan mencari lembah basah yang sudah banyak mengeluarkan cairan hangat. Kedua paha Nadia dilebarkannya, ia kembali melu**t biji kenyal itu sesaat, dan memberikan pelumas pada tempat sempit yang masih tertutup rapat.
Daffa bangkit ingin menyiapkan senjata laras panjangnya, Nadia nampak terkejut karena milik suaminya begitu besar dan panjang dengan urat besar disekitar benda tumpul itu. Nadia gelisah, keringat dingin mulai membanjiri dahi dan pelipisnya, ia menanti benda tumpul itu dengan cemas hati, betapa takutnya ia jika benda itulah yang akan merobek lokasi pertahanannya yang selama ini ia jaga.
Daffa seolah tak perduli dengan ekspresi wajah cemas istrinya, ia malah ingin memperlihatkan miliknya kepada istrinya dengan bangga, seakan mengatakan aku akan memuaskanmu malam ini sayang. Daffa tersenyum nakal lalu sedikit dorongan ujung miliknya membuat Nadia mengambil bantal yang dekat di sisinya untuk membekap mulutnya. Daffa tidak tidak suka istrinya menutup wajah cantiknya. Daffa menarik bantal itu lalu membuangnya.
"Jangan mengalihkan wajah cantikmu sayang, karena aku ingin melihatnya dan mendengar eranganmu. Jangan ditahan, berteriaklah sayang, sambil bicara seperti itu, Daffa mendorong miliknya membuat Nadia melenguh panjang.
"Aaauhhhkk... sssttt... Dafffa!" sebutnya tanpa malu memperlihatkan ekspresi wajahnya menahan sakit lalu membaur nikmat yang sedang menyerang titik sensitif pada kewanitaannya.
Daffa berhenti sesaat merasakan sempit milik istrinya. Rasanya seluruh miliknya disambut hangat dan terasa ngilu tercampur nikmat, rasa yang tidak pernah ia nikmati seindah ini pada wanita malam yang menjajakan tubuh mereka karena rupiah. Mungkin perbedaan halal dan haram diantara gadis yang telah mempertahankan kehormatannya demi satu tujuan untuk satu pria yang akan ia persembahkan miliknya dimalam pengantin. Beda dengan wanita putus asa yang ada diluar sana, yang sudah terlanjur hancur karena takdir tidak berpihak pada nasib hidup mereka yang menyedihkan.
Awalnya memang sakit tapi setelah itu Nadia mulai merasakan gelombang nikmat yang mulai menghampiri titik sensitifnya seperti banyak kupu-kupu yang menari didalam perutnya, merasakan kewanitaannya makin bergetar hebat yang sudah mengusai jiwanya yang haus akan belaian suaminya memperlakukan tubuhnya. Inilah malam terindah untuknya, merasakan indahnya sebuah pernikahan seutuhnya.
"Augghhttkk" racauannya tak bermakna, luapan kenikmatan itu menciptakan suara-suara erotis yang kini menggema menghiasi malam yang masih terlalu dini. Setelah cukup lama bertahan, akhirnya Daffa menyerah dengan semburan lahar hangat ke dalam rahim Nadia. Ia merasa lelaki yang paling beruntung di seluruh hidupnya, mendapatkan harta yang tak ternilai ditubuh gadisnya. Setelah miliknya terkulai lemas didalam sangkar istrinya.
Ia bangkit melihat bekas dari keperawanan Nadia yang sudah menghiasi seprei putih itu, senyum bangga nan puas terukir indah pada ekspresi wajah tampan miliknya. Ia mencium perut istrinya lalu berbisik lirih
"Cepat tumbuh sayang, ayah menanti kehadiranmu di rahim suci bundamu." Ucapnya penuh harap serta doa tulus sebagai seorang calon ayah yang mengharapkan buah hatinya tumbuh subur di dalam sana.
Nadia tersenyum mendengarnya, air mata haru tak dapat di tahannya, ia kemudian terisak, membuat sang suami seketika panik.
"Apakah sangat sakit sayang?" Tanya Daffa sambil mengusap perut istrinya.
"Sedikit!" Jawabnya singkat ia ucapkan kepada suami tercinta.
"Lantas apa yang membuatmu menangis sayang?" Tanya Daffa yang ingin tahu apa yang dirasakannya saat ini.
"Karena aku sudah menjadi wanita dewasa mulai saat ini." Ucapnya dengan sedikit menahan tangis.
"Nadia, terimakasih Sayang, kamu memberikan milikmu yang berharga hanya untukku." ucap Daffa di sambut haru istrinya.
Keduanya kembali berpelukan, berbincang santai tentang apa saja yang selama ini mereka rasakan saat tinggal seatap tanpa komunikasi hangat, lalu kembali mengulangi percintaan panas sampai tiga sesi melewati malam hingga menyerah karena lelah menyapa. Keduanya tertidur tertutup selimut tanpa mengenakan lagi baju mereka.
🌷🌷🌷🌷🌷
Pukul 03.00 WIB, Nadia mengerjapkan matanya, sekujur tubuhnya serasa porak-poranda, akibat percintaan mereka semalaman, ia menahan perih bagian intimnya, lalu bangkit berjalan perlahan-lahan menuju kamar mandi. Di dalam kamar mandi Nadia menangis pelan karena tidak kuat menahan perih ketika ia membasuhnya dengan air pada miliknya. Supaya tidak kedengaran Daffa ia menyalakan shower untuk meredam suara tangisannya. Beberapa saat kemudian ia baru melakukan mandi wajib lalu mengambil wudhu untuk melakukan sholat tahajud.
Daffa yang baru sadar karena bunyi alarm mengerjapkan matanya, melihat istrinya yang sedang menunaikan sholat subuh tanpa dirinya. Ia menatap wajah cantik Nadia dengan mukenanya yang putih. Hatinya meringis, masih merasa kotor dihadapan istrinya.
Sesaat ia berdiam masih menanyakan dirinya sendiri.
"Ya Allah, apa tujuanmu mengirim bidadari ini untukku, apakah pantas manusia hina ini mendapatkan istri sebaik dan secantik seperti Nadia?" Apakah Engkau tidak salah menetapkan pilihanmu untukku ya Allah?" Tanya Daffa yang masih merasa Nadia adalah hadiah terindah yang tidak pernah ia miliki selama ini.
Lama Daffa bergumam sambil menatap langit kamarnya dengan meletakkan kedua tangannya di belakang kepalanya.
Setelah ditutup tahajud dengan tiga raka'at witir, Nadia melihat suaminya sedang melamun ia kemudian menghampiri suaminya.
"Sayang apa yang sedang kamu pikirkan?" Ucapkan Nadia lembut.
Daffa menatap istrinya, lalu memeluk lagi tubuh istrinya yang masih mengenakan mukena. Nadia merebahkan kepalanya diatas dada suaminya yang masih polos itu yang ditumbuhi bulu-bulu halus yang menjadikan suaminya makin terlihat sek*i
"Nadia, apakah kamu tidak menyesal menikah denganku?" Daffa setelah keduanya sudah duduk berhadapan langsung.
"Mengapa kamu menanyakan dengan pertanyaan yang sama?" Bukankah barusan kita telah mengakhiri masa lajang kita?" Ucap Nadia balik bertanya kepada suaminya.
"Nadia ini bukan kali pertamaku menyentuh tubuh wanita." Ucapnya untuk merendahkan dirinya dihadapan Nadia.
"Apakah aku wajib mendengarkan masa kelammu suamiku?" Apakah kamu ingin mengisahkan ceritamu untuk aku simpan di memoriku, bukankah itu sama saja kamu sedang menyakitiku?" Imbuh Nadia yang tidak ingin suaminya mengungkit masa kelamnya.
"Maafkan aku sayang, aku tidak akan mengeluh lagi." Janjinya untuk tidak lagi merasa minder di hadapan istrinya.
"Bersihkan dirimu karena sebentar lagi mau azan subuh, maukah kamu jadi imam sholatku."
"Lha, bukankah kamu baru melakukan sholat subuh?"Tanya Daffa heran mendengar penuturan istrinya.
"ini baru jam empat subuh sayang, kamu mengigau ya?" Ucap Nadia terkekeh pada Daffa yang salah memasang alarm.
"Astaga, berarti alarm ponselku yang salah. Baiklah aku mandi dulu ya cantik, kita akan sholat subuh berjamaah." Ucap Daffa sambil melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Nadia mengangguk lalu mengambil Alquran untuk dibacanya. Daffa mendengar suara indah itu dari dalam kamar mandi. Lantunan ayat suci itu yang begitu menyejukkan hatinya. Walaupun Nadia sudah memaafkannya namun Daffa masih saja sedih. Sedih karena gembira sekaligus takut akan kehilangan permata hidupnya itu. Iapun buru-buru membersihkan dirinya takut membuat istrinya lama menunggu karena suara marbot mesjid sudah melantunkan dzikir untuk menunggu waktu azan. Tidak berapa lama ia keluar dari kamar mandi dan melihat Nadia sudah menyiapkan pakaian sholatnya, ia begitu antusias melihat perlakuan romantis istrinya yang sedang melayani kebutuhannya. Mereka akhirnya melaksanakan sholat subuh berjamaah pertama sekali semenjak keduanya hidup sebagai suami istri.