
Usai menunaikan ritual ibadah suami istri, Daffa dan Nadia membersihkan tubuh mereka yang lengket karena dua jam saling memberi kepuasan. Rona wajah keduanya makin bersinar, ketika sudah menyelesaikan mandi wajibnya. Iapun menggendong kembali tubuh istrinya setelah dibalut dengan baju buthrub dan diletakkan di tempat tidur. Ia juga mengambil hadiah lain yang belum sempat ia berikan untuk Nadia.
"Sayang kenakan ini saja, ini adalah baju abaya yang aku belikan untukmu saat berada di Mekkah." Ucap Daffa seraya memberikan lagi satu kotak yang berisi setengah lusin baju abaya dengan dua warna hitam dan putih.
"Banyak sekali sayang, hadiah darimu malam ini untukku. Apakah aku harus pakai ini sekarang?" Tanya Nadia yang sudah siap mengenakan baju barunya itu dengan wajah berbinar.
"Iya sayang kenakanlah, aku mau lihat apakah pilihanku sesuai dengan seleramu atau tidak."
Nadia mengenakan abaya yang sudah satu set dengan hijab dan cadarnya. Ketika mematut dirinya di depan kaca, keanggunannya terpancar sempurna. Melihat istrinya tampil cantik dengan abaya pemberiannya iapun melingkarkan tangannya dari balik punggung istrinya yang belum mengenakan hijab panjangnya. Sambil melihat ke depan cermin sambil mengatakan hal indah dikuping istrinya.
"Sayang, aku masih kangen. Sambil
berkata begitu, tubuh indah itu dibalik untuk menghadap ke tubuhnya, pagutan bibir kembali terjadi, seakan tidak puas bertukar saliva, Daffa mengecap kembali lidah istrinya, tapi pagutan itu terlepas ketika ponselnya berbunyi dan ternyata dari Fadil. ia buru-buru mengangkat panggilan itu.
"Assalamualaikum mas Daffa, apakah sudah dalam perjalanan pulang?" tanya Fadil yang kelihatan gelisah.
"Waalaikumuslam, maaf Fadil kami masih di hotel." Jawab Daffa dengan grogi sambil menatap wajah istrinya yang juga ikut menegang.
"Cepatan pulangnya, sebentar lagi Abi dan ummi mau nyampe rumah, mereka sudah di daerah Kebayoran lama." Ucap Fadil gugup.
"Aduh gimana ini, waktunya nggak cukup untuk sampai ke rumah." Ujar Daffa yang makin panik.
"Kalau begitu kita janjian saja ketemu di mana, supaya aku punya alasan ke ummi ngajakin mbak Nadia makan di luar." Ucap Fadil memberikan saran terbaiknya kepada kakak iparnya itu.
"Baiklah Fadil kalau begitu kita bertemu dekat komplek perumahanmu saja. Aku akan meminta Rio membelikan makanan kesukaan Abi dan ummi." Ujar Daffa untuk menutupi kesalahannya yang tidak ingin sampai ketahuan kedua mertuanya itu.
"Ok siap bos!" sampai ketemu lagi, nanti aku akan hubungi mas Daffa kalau aku sudah berada di pintu masuk gerbang perumahan." Ucap Fadil dengan perasaan lega.
"Terimakasih Fadil atas pengorbanan kamu, aku tidak akan melupakan kebaikan kamu dan Fadhlan." Ujar Daffa yang sangat terharu atas kebaikan adik iparnya.
"Sama-sama mas Daffa, Fadhlan yang akan hadapi Ummi jika beliau menanyakan mbak Nadia dan aku." Ucap Fadil lalu mengakhiri percakapannya dengan Daffa.
"Cepatan sayang, Abi dan ummi kamu mau hampir tiba, sebaiknya kita berkemas." Ujar Daffa meminta istrinya untuk bersiap-siap untuk diantar pulang olehnya.
Keduanya buru-buru masuk ke dalam lift dan memencet tombol turun ke lantai bawah. Di dalam lift seorang gadis dengan genitnya menggoda Daffa yang sedang berdiri di samping istrinya.
Nadia yang melihat tingkah gadis yang berpakaian minim itu menjadi sangat kesal. Iapun tidak sabar untuk menegur perempuan itu.
"Permisi mbak, apakah kamu sedang menikmati wajah suamiku?" Tanyanya sedikit mencemooh gadis yang dianggapnya terlalu berani menatap wajah suaminya didepan matanya sendiri tanpa ada perasaan segan sedikitpun.
"Oh ini suami mbak?" Kirain saya kalian berdua saudara. Maaf kalau gitu, ku kira selera suamimu berkualitas tinggi menyukai gadis yang berpenampilan sepertiku, ternyata ia lebih parah dengan lelaki yang memiliki wajah pas-pasan tapi dapat seorang wanita yang sangat cantik." Jawabnya acuh dengan lebih mengangkat rok mininya makin ke atas hingga memperlihatkan paha mulusnya pada Daffa.
"Maaf ya mbak, suamiku tidak doyan dengan permen tanpa bungkusan yang tergeletak di atas wadah emas, karena permen itu pasti sudah terkena kuman dan mungkin bekas ******* lelaki hidung belang." Ucap Nadia sarkas, membuat wajah wanita ini marah padam karena tubuhnya dianalogikan dengan satu biji permen tanpa bungkusan.
"Mengapa mas Daffa senyam senyum begitu?" suka ya lihat aku kesal?" Tanya Nadia sambil mencebikkan bibirnya.
"Yah, senang aja sih, lihat istriku yang paling cantik ini sedang cemburu kepadaku, jadi aku merasa kamu sangat mencintaiku." Ucap Daffa saat keduanya sudah berada di dalam mobil.
"Bos aku sudah beli pesanan bos untuk mertua tercinta." Ucap Rio menyela pembicaraan suami istri yang sedang bermanja-manja di jok belakang mobilnya.
"Alhamdulillah terimakasih Rio kamu sangat cekatan untuk mengurusku, tanpa kamu aku tidak bisa apa-apa. Terimakasih selalu merepotkanmu."
"Ini sudah tugas saya melayani anda bos, kapanpun anda membutuhkan saya untuk mengatasi masalah bos, yang penting bos selalu bahagia." Ucapnya sambil menancap gas agar lebih cepat bertemu dengan adik ipar bosnya ini, di tempat yang sudah dijanjikan untuk bertemu di sana.
Tidak lama kemudian mobil mereka sudah sampai di depan komplek. Nadia yang ingin turun di tahan oleh Daffa, pria ini tidak rela cepat berpisah lagi dengan istrinya.
"Sayang aku masih ingin bersamamu." Ujar Daffa dengan rengekan manja pada suaminya.
"Kita bisa bertemu lagi besok, sekarang pulanglah, jika tidak keberatan bawalah babyku, oh ya siapa nama baby kita, aku belum tahu nama putraku sendiri." Ujar Nadia yang belum mengetahui nama bayinya sendiri.
"Namanya M. Hafiz Khairul Ummah. Aku yang memberikan nama itu karena ia senang dengan azan dan juga morottal Alquran yang selalu dinyalakan oleh mami jika ia mulai rewel. Aku ingin putraku suatu saat nanti akan menjadi imam besar masjid Istiqlal Jakarta.
"Aamiin!" sudah dulu ya sayang aku mau pulang, sampai jumpa lagi besok" ucap Nadia lalu turun dari mobil ketika pintu mobil itu, telah di buka oleh Rio.
"Terimakasih tuan Rio, sudah menahan anda selama mungkin." Ucap Nadia santun kepada asisten suaminya ini.
"Tidak apa nona muda, saya senang melakukannya. Tunggu sebentar barang-barang anda akan saya berikan kepada adikmu." Ucap Rio lalu menuju ke bagasi mobil, mengambil hadiah milik Nadia yang diberikan bosnya Daffa.
Kesempatan ini digunakan Nadia untuk kembali ke dalam mobil menemui suaminya. Dengan cekatan ia membuka mobil itu dan membuka cadarnya lalu menangkup wajah suaminya kemudian ia melu**t bibir sek*si itu dengan sangat lembut.
Daffa yang merasa mendapatkan serangan mendadak istrinya pada bibirnya, iapun tidak ketinggalan menyambut ciuman hangat istrinya yang sudah masuk dalam rongga mulutnya. Rio yang sudah memberikan semua barang-barang Nadia, juga makanan yang sudah ia belikan tadi, terpaksa menunggu di luar karena ia tahu di dalam sana masih ada pertemuan penting yang membuatnya iri. Setelah keduanya puas beradu bibir dan lidah, Daffa tersenyum sambil menggeleng memuji istrinya dengan decakan lidahnya.
"Ce..ce...ce!" sayang kamu penuh dengan kejutan untukku malam ini, aku sangat menyukainya." Ucap Daffa dengan menahan gemuruh di dadanya. Walaupun kelihatan sangat menyakitkan membiarkan kembali istrinya meninggalkannya lagi, tapi momen ini sangat mendebarkan dan menantangnya untuk berpetualang dengan istrinya sendiri.
"Salam untuk mami dan ayah. Berikan ciuman terbaikku pada baby Hafiz, aku menunggumu besok di kamar hotel. Aku sudah punya kuncinya, aku akan menanti kedatangan kalian besok malam." Ucap Nadia lalu mencium tangan suaminya.
"Iya sayang, oh ya hampir lupa. Ini ponselmu, aku sengaja membawanya untukmu." Ujar Daffa lalu menyerahkan ponsel Nadia yang ditinggalkan di mobil tadi.
"Alhamdulillah terimakasih sayang, aku hampir gila jika tidak memegang benda ini, setidaknya kita bisa saling berkomunikasi." Sahut Nadia bahagia mendapatkan kembali ponselnya.
"Hati-hati dijalan salam untuk Fadil dan Fadlan." Ujar Daffa yang melepaskan kepergian istrinya untuk pulang kembali ke rumah mertuanya.
Setelah melihat motor adik iparnya membawa istrinya pergi, Daffa kembali merasa hampa, iapun menarik nafas berat lalu di hembusnya dengan kasar. Mereka akhirnya pulang kembali ke mansionnya.