
Merasa tidak ada lagi yang penting di kota Istanbul Turki, tuan Farhan kembali ke negara asalnya dengan membawa luka di hatinya ketika mengetahui jika Nadia sudah mempunyai suami, yaitu lelaki yang berantem dengan dirinya yang memperebutkan Nadia di tempat acara lomba.
Sedangkan di rumah sakit Istambul
Daffa yang masih menemani Nadia, yang saat ini masih dirawat di salah rumah sakit mewah di kota Istanbul Turki. Sudah hampir satu minggu mereka berada di rumah sakit tersebut. Nadia yang merasa tidak enak hati karena Daffa sudah lama meninggalkan perusahaannya dan juga merasa tidak nyaman jika terus-menerus di temani oleh Daffa.
"Mas Daffa, sebaiknya kamu pulang, tidak baik meninggalkan perusahaan yang saat ini, sangat membutuhkan kehadiranmu, yang sangat penting sebagai seorang CEO." ucap Nadia mengingatkan mantan suaminya ini.
" Aku Tidak mungkin akan meninggalkanmu sendirian di negara asing ini Nadia, jika ini Jakarta, mungkin ada keluargamu yang bisa menemanimu di sini, apa lagi kamu sedang hamil muda, itu sangat membuatku kuatir tentang keberadaanmu." ucap Daffa yang tidak tega meninggalkan mantan istrinya ini.
"Kita berdua bukan lagi pasangan yang sah, setiap waktu bisa saja terjadi sesuatu hal yang akan mengundang kemurkaan Allah kepada kita." ujar Nadia seolah ingin mengusir Daffa secara halus.
"Apakah kamu takut aku akan memperkosamu atau kamu tidak percaya kalau aku bisa menahan diriku untuk tidak menyentuh tubuhmu Nadia?" tanya Daffa sedikit protes dengan wajah sendu menatap manik indah milik gadisnya ini.
"Aku sangat percaya padamu, jika kamu tidak akan berani lagi menyentuhku mas Daffa, tapi yang aku kuatirkan dan makin aku tidak percaya, adalah upaya setan yang akan terus menggoda kita untuk melakukan hal-hal tabu, yang seharusnya kita waspadai bukan mendekati pintu zina. Setan itu pintar dan licik, ia memang tidak menyuruh kita untuk berbuat maksiat, tapi ia akan membela dirinya di hadapan Allah, jika tugasnya di dunia ini, hanya menggoda anak keturunan Adam, untuk menjerumuskan manusia bersama dengan dirinya untuk menemaninya di neraka kelak.
Itulah yang aku takutkan, hal yang kita anggap sepele, tapi akan berakhir fatal yang membuat kita menyesalinya setelah kita melakukan dosa itu." jelas Nadia kepada Daffa yang sedang menyimak setiap nasehat bijak dari mantan istrinya ini.
Ketika keduanya sedang terlibat perbincangan hangat, dokter Gulya mendatangi keduanya di kamar inap tempat Nadia dirawat. Dokter itu tersenyum menatap wajah Nadia dan Daffa. Ia sangat merasakan sepasang suami istri ini adalah pasangan yang paling serasi, cantik dan tampan, itulah kesan yang didapatkan oleh dokter Gulya pada Daffa dan Nadia.
"Assalamualaikum, selamat pagi!" sapa dokter Gulya pada pasangan yang sudah bercerai ini.
"Waalaikumuslam dokter!" jawab keduanya kompak membalas salam dokter Gulya.
"Bagaimana perasaanmu nona Nadia?" tanya dokter Gulya seraya memeriksa detak jantung Nadia.
"Alhamdulillah baik dokter, saya sudah merasa sehat sekarang." balas Nadia sambil tersenyum pada dokter Gulya.
"Nah, kalau ingin pulang, coba kita lihat kondisi calon babynya di dalam rahim ibunya." ucap dokter sambil memberi kode kepada kedua suster untuk mempersiapkan alat USG dan menyalakan monitor untuk bisa melihat keadaan bayi Nadia.
Perut Nadia yang masih rata terlihat jelas oleh Daffa ketika suster sedang mempersiapkan perut gadis ini untuk dioleskan jeli pada permukaan perutnya. Daffa yang takut Nadia marah, jika perutnya terlihat olehnya, ingin mengambil langkah seribu keluar dari ruang inap itu, tapi langkahnya di cegah oleh dokter supaya ia juga bisa menyaksikan keadaan bayi Nadia dalam perut istrinya. Daffa menghentikan langkahnya, dan berusaha menatap layar monitor yang sedang diperlihatkan oleh dokter bagaimana perkembangan bayi mereka yang tumbuh di dalam rahim Nadia saat ini.
"Detak jantungnya sangat bagus, organnya sudah tumbuh dengan baik dan besar janinnya masih sebesar lengkeng dan beratnya sekitar 7 gram serta panjang dari kepala sampai kaki sekitar 2,54 cm.
Di usia 10 minggu, tulang bayi di dalam kandungan sudah mulai terbentuk, tulang rawan sudah terbentuk dan lekukan kecil di kaki yang akan menjadi lutut dan pergelangan kaki, sudah mulai tumbuh. Selain itu, lengan bayi sudah lengkap dengan siku bahkan sudah bisa digerakkan dengan lentur." tutur dokter Gulya dengan sangat rinci menjelaskan keadaan calon bayi Nadia kepada pasangan muda ini.
"Alhamdulillah ya Allah, terimakasih atas penjelasannya dokter." ucap Nadia sangat haru.
"Dengan senang hati nona Nadia, tolong jaga kandungannya dengan tidak terlalu memikirkan hal-hal yang bisa memicu anda setress berlebihan, konsumsi makanan yang mengandung serat yang bergizi bagi tumbuh kembang si jabang bayinya dan untuk tuan Daffa, sering-seringlah anda menengok bayinya jika sudah usia kehamilan istrinya sudah mencapai 6 bulan sampai menjelang persalinan." ucap dokter sambil memberi saran kepada pasangan ini.
Degg!"
Daffa menelan salivanya dengan gugup, sedangkan Nadia menarik nafas berat. Keduanya seketika grogi ketika mendengar saran dokter yang terlalu eksklusif, saking hebatnya dokter ini memberi solusi yang membuat Daffa seketika merasa terangsang birahinya, membayangkan tubuh mantan istrinya yang masih tersimpan didalam memori yang terindahnya itu.
"Dokter kapan saya bisa kembali ke negara saya dokter?" tanya Nadia yang sedang mengalihkan perasaannya yang hampir mati beku karena saran dokter yang tidak tahu menahu hubungan mereka.
"Hari ini kalian bisa melakukan perjalanan untuk kembali ke tanah air kalian tuan Daffa, bertemu dengan keluarga besar sangat membantu mental nona Nadia, agar hormon kegembiraannya bisa mempengaruhi pertumbuhan otak bayinya." ucap dokter Gulya lalu iapun segera pamit untuk mengunjungi pasien lain di ruang inap yang berbeda di area rumah sakit tersebut.
Sepeninggalnya dokter Gulya, Daffa terlihat sangat sedih, ia merasa lelaki yang paling tidak berguna. Jika saja mereka mengulur banyak waktu, mungkin kehadiran calon bayi mereka, akan menghentikan langkah kakeknya untuk memisahkan mereka berdua.
Sekarang ini yang makin membuatnya tersiksa adalah ia tidak bisa menyentuh Nadia, apalagi harus menjenguk bayinya dirahim istrinya, yang menjadi impian setiap suami pada istrinya ketika sedang mengandung anak mereka.
Ketika ia sedang merenungi nasibnya, terdengar ponselnya berdering, dengan sedikit malas ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja di kamar inap tersebut dan ternyata dari asistennya Rio. Iapun menerima panggilan itu dan menjawab suara sapaan dari seberang.
"Hallo selamat siang bos!"
"Siang Rio, ada apa?"
"Ini bos, ada bos be..?
Belum saja Rio, menyelesaikan perkataannya, ada suara orang lain yang merebut ponsel milik Rio dan berbicara kepada Daffa.
"Kapan kamu pulang Daffa, dan mengapa kamu menemani mantan istrimu itu?" jika kamu tidak pulang, kakek akan ke rumah mantan mertuamu dan mengatakan siapa kamu dan ibumu sebenarnya kepada mereka, supaya mereka tahu siapa mantan menantu mereka itu!" ancam kakek terdengar sadis di kuping Daffa.
"Tolong kakek jangan katakan itu pada mereka, saya akan segera pulang, tolonglah!" saya mohon kakek." pinta Daffa dengan suara yang terdengar parau menahan geramnya pada kakeknya yang terlalu mencampuri kehidupan pribadinya.
Daffa pun langsung memesan tiket pesawat untuk ia dan Nadia, menumpangi pesawat komersil, karena tidak mungkin ia menunggu jemputan pesawat jet pribadi miliknya yang berada di Jakarta saat ini, mengingat perjalanan yang cukup lama dari Jakarta Indonesia ke Istambul Turki.
🌷🌷🌷
Di Jakarta Indonesia
Tuan Fahri yang sedang mengunjungi perusahaan Daffa, mendengar percakapan kakek dan cucunya itu secara tidak sengaja, dengan langkah cepat ia buru-buru menuju lift dan keluar dari gedung perusahaan milik Daffa. Dalam hatinya, ia sangat gembira, hingga timbul ide liciknya untuk mendatangi rumah mantan mertua dari menantunya Daffa.
"Assalamualaikum!" apakah benar ini alamat nona Nadia?" tanya tuan Fahri kepada Fadil yang sedang memperhatikan dirinya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Waalaikumuslam!" anda siapa dan apa kepentingan anda mencari kakak saya, dia tidak ada di rumah." ucap Fadil ketus menatap tajam wajah tuan Fahri yang kelihatan angkuh ini.
"Saya ke sini bukan ingin bertemu dengan nona Nadia, tapi saya kesini ingin bertemu dengan orang tuamu, apakah mereka ada di rumah?" tanya tuan Fahri menahan kegusarannya pada Fadil yang terus mengintrogasi dirinya.
"Siapa Fadil!" teriak ummi Kulsum menanyakan putranya yang sedang berbicara dengan seorang pria yang tidak dikenalnya, dari teras rumahnya.
"Ada yang ingin bertemu dengan umi dan abi." ucap Fadil menjelaskan gerangan kedatangan tamu tidak penting ini.
"Suruh masuk Fadil, tamunya." titah umi Kulsum.
"Masuklah, semoga kedatangan anda ke sini tidak membuat ulah!" ujar Fadil yang merasa curiga dengan perangai pria paruh baya ini.
Akhirnya niat tuan Fahri untuk bertandang ke rumah ustadz Aditya kesampaian juga, karena selama ini, ia ingin sekali melabrak keluarga alim itu.
🌷🌷🌷
Di Istanbul Turki, Daffa dan Nadia sedang berada di ruang tunggu keberangkatan pesawat. Wajah Nadia lebih kelihatan segar namun hatinya tidak sesegar wajahnya. Walaupun ia sekarang didampingi oleh lelaki yang pernah menjadi suaminya ini, tapi demi menjaga dirinya dari terpaan fitnah keji yang akan dilayangkan padanya, apabila orang-orang melihat kebersamaannya dengan Daffa. Sikap dingin Nadia membuat Daffa seakan berada di sekitar daerah es kimo, ia baru merasakan dirinya sendiri ketika ia bersikap dingin dengan orang lain.
"Ya Tuhan, apakah seperti ini rasanya dicuekin sama orang yang kita sayangi, tanpa ada kehangatan yang tercipta, yang ada ia hanya menikmati wajah para penumpang yang kelihatan sangat gelisah menanti keberangkatan pesawat mereka." ucapnya membatin.
Nadia hanya membaca Alquran yang ada di ponselnya tanpa melihat Daffa yang dari tadi sedang memperhatikan dirinya.
"Apakah kamu ingin makan sesuatu sayang?" tanya Daffa memecahkan keheningan diantara mereka berdua.
"Baiklah kebetulan aku lapar, lagi pula dua jam lagi pesawat kita berangkat, berarti kita punya kesempatan untuk mencari makan dulu di sekitar area bandara." ucap Nadia yang berterus-terang kepada Daffa yang sedikit mengulas senyumnya.
Daffa hafal betul, Nadia tidak bisa menahan lapar dan selalu merengek jika kelamaan menanti pesanan mereka jika mereka sedang berada di restoran, di masa mereka masih hidup bersama.
Keduanya akhirnya jalan berdua ke restoran siap saji, di sekitar area bandara internasional Istambul Turki. Setelah mendapatkan tempat duduk di restoran tersebut. Nadia yang memilih menu makanan yang tersedia di resto tersebut untuk mereka berdua. Sambil menunggu pesanan mereka datang, Daffa kembali mengajak Nadia bicara.
"Nadia, jika nanti urusanku dengan Anjani berakhir dan terbukti anak yang ia kandung itu bukan anakku, aku akan menceraikannya dan akan kembali rujuk denganmu karena kita masih dalam tahap talak 1." ucap Daffa yang ingin sekali menggenggam tangan mantan istrinya ini.
"Bagaimana dengan kakekmu, apakah dia akan setuju dengan pikiranmu?" tanya Nadia yang juga menginginkan dirinya dan suaminya kembali rujuk.
"Aku tidak perduli dengan ancaman kakekku Nadia, bukankah dia menginginkan aku memiliki keturunannya sebagai pewaris perusahaannya kelak?" dan kehamilan Anjani masih diragukan kebenarannya, karena aku bukan satu-satunya lelaki yang menidurinya Nadia, aku sangat mengenal siapa Anjani, karena ia bisa bercinta dengan dua lelaki bersamaan dalam satu waktu. Itu sangat membuatku jijik.
"Kamu berbicara seperti itu, apakah kamu pernah melihat ia melakukan itu dihadapanmu?" tanya Nadia dengan nada sinis.
Belum sempat Daffa menjelaskan pertanyaan Nadia, pelayan restoran itu datang membawa pesanan untuk mereka. Tanpa memperdulikan Daffa, Nadia langsung menyantap makanannya karena ia sangat lapar hari ini. Tapi apa yang terjadi, Nadia merasa sangat mual luar biasa setelah menyantap makanannya, sehingga ia harus menahan dirinya untuk tidak sampai muntah di hadapan Daffa dan mencari toilet yang terdekat untuk memuntahkan kembali makanan yang baru saja ia makan.
Beruntunglah, mereka membawa obat oles penghilang rasa mual dari rumah sakit tempat Nadia di rawat. Nadia yang sudah keluar dari kamar mandi dengan langkah sempoyongan, karena sangat lemas setelah habis mengeluarkan makanannya hingga cairan pahit yang masih lengket di tenggorokannya. Daffa memapah lengan Nadia untuk mencari tempat duduk agar Nadia bisa menyandarkan tubuhnya.
"Sayang, apakah kamu kuat pulang ke Jakarta?" tanya Daffa cemas seraya memberikan obat oles pada Nadia agar Nadia bisa mencium aroma terapi yang terdapat dalam obat oles tersebut.
"Tidak apa mas Daffa, kita harus pulang hari ini juga, aku tidak betah berada lama di negara ini." ucap Nadia lirih.
"Baiklah sayang, tunggu sebentar ya, aku mau minta tolong kepada petugas bandara untuk mengambil kursi roda untukmu karena kamu sangat lemah." ucap Daffa sangat lembut kepada Nadia.
Nadia hanya mengangguk lemah kepada Daffa. Pria yang berwajah blasteran indo itu, mencari bantuan kepada petugas bandara untuk meminjamkannya kursi roda. Tidak lama kursi roda itu datang di antar oleh petugas bandara. Daffa menggendong tubuh Nadia dan meletakkan tubuh yang sangat ia rindukan itu, diatas kursi roda. Mereka kembali menuju ruang tunggu keberangkatan, menunggu pesawat mereka yang sebentar lagi akan berangkat.
Di dalam pesawat, Daffa mencoba merangkul tubuh Nadia, namun gadis bercadar ini menolak dengan tegas.
"Sayang!" izinkan aku merebahkan tubuhmu di dadaku, supaya kamu merasa nyaman." pinta Daffa tulus.
"Tidak usah mas Daffa, jangan mencoba bersekutu dengan setan untuk menentang perintah Allah kepada kita yang bukan lagi muhrim." tolak Nadia tegas membuat Daffa sangat frustasi.
"Nadia, apakah kamu tidak mencintaiku lagi, apakah perceraian kita juga menghentikan juga perasaan cinta kita sayang?" tanya Daffa dengan tangis yang tertahan.
"Apakah kamu mampu menghentikan ombak dilautan agar tidak boleh mencium bibir pantai?" Entah berapa banyak waktu kita bersama dan tidak perduli waktu kita yang tersisa, sampai kapanpun cintaku tidak akan pernah mati untukmu, mas Daffa. Walaupun begitu, kita harus utamakan perintah Allah, jika kamu ingin kita bersatu kembali, maka Allah akan menyatukan kita kembali." ucap Nadia menenangkan Daffa yang begitu mengharapkan dirinya untuk ia bisa lindungi.
"Nadia, kesempatan kita tidak banyak, setelah pesawat ini sampai di tanah air, kita akan berpisah lagi dan kembali ke tempat tinggal kita yang berbeda, raga kita kembali terpisah, rindu kita kembali menggebu, tangis kesepian kita kembali menyiksa, bukankah itu tidak cukup membunuh hati kita yang sedang lara." ucap Daffa yang ingin mengusap perut Nadia yang saat ini sedang mengandung calon bayi mereka.
"Aku merelakan perasaanku itu semua, demi rasa takut kepada Allah yang maha segalanya, yang telah memelihara kesucianku sampai aku disentuh olehmu, dan aku kembali memelihara kesucian tubuhku darimu, sekalipun kamu telah menorehkan cerita cintamu di hatiku sebagai istrimu saat itu, tapi bukan sebagai partnerku di dalam pesawat ini.
Berhentilah mengikuti hawa na*sumu karena kamu akan terus diserang oleh bisikan maut iblis untuk membidik hatimu agar kamu tersesat dalam kemaksiatan. Jika kamu sangat menginginkan diriku, maka dapatkan lagi tubuhku dengan cara yang terhormat, sebagai mana, kamu mendapatkan pertama kali kesucianku, dengan cara yang dihalalkan oleh Allah Tuhan yang menciptakan kita.
“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(QS. Al Baqarah: 216)