SADURAN KITAB CINTAKU

SADURAN KITAB CINTAKU
18. KESEMPATAN BERAKHIR


Memiliki kakek seorang diktator, bukanlah perkara mudah bagi Daffa. Tuan besar Subandrio menggunakan koneksinya untuk memisahkan cucunya Daffa dengan Nadia. Seminggu kemudian dari pertengkarannya dengan cucunya, surat gugatan cerai dari pengadilan agama tiba di apartemennya Daffa untuk Nadia.


Nadia yang lagi sibuk merapikan kembali tempat tidurnya dikejutkan dengan suara bel apartemennya. Ia melihat seseorang yang sedang berdiri menunggunya diluar kamar apartemennya. Ia membuka pintu itu untuk seorang yang bertamu ke apartemennya, ia tidak tahu itu siapa. Tanpa banyak berpikir, ia menanyakan kepentingan orang itu yang mungkin ingin bertemu dengannya atau suaminya.


"Assalamualaikum bu, saya adalah asisten pengacara dari tuan Subandrio Diningrat, ingin menyerahkan surat ini." ucap asisten pengacara itu seraya menyerahkan dua surat untuknya.


"Ini apa??" tanyanya lirih.


"Ini surat cerai dan surat kompensasi untuk ibu setelah ibu menandatangani surat cerai ini."ucap asisten pengacara itu perihal kedua surat itu.


Logikanya menemukan maksud dan tujuan dari kedua surat yang ada di dalam tangannya kini. Tapi hatinya masih berusaha untuk mengingkari kenyataan, yang baru saja diterimanya walaupun ia tahu ini akan terjadi juga dalam waktu dekat.


Dengan mata buram karena desakan bulir bening yang mulai menetes sedih menatap dan membaca setiap kalimat, demi kalimat yang tercantum dengan penjelasan yang sangat detail pada kedua lembar surat tersebut.


Setelah lama ia membacanya dadanya terasa semakin sesak yang teramat sakit sulit tergambarkan perasaannya saat ini. Baginya ini adalah kiamat pernikahannya yang hampir menginjak satu tahun usia perjalanan kisah cinta mereka.


Namun bagi tuan Subandrio pernikahan tanpa ada keturunan adalah sebuah aib, sebuah cela, seperti kuman yang harus segera disingkirkan sebelum menjalar dan menyebar untuk membuat mereka berakhir murka. Ini bukan hanya masalah kehadiran keturunan untuk keluarga besar suaminya, tapi ini lebih ke ancaman kakeknya Daffa untuk ibu mertuanya yang sangat ia sayangi. Jika ia egois mempertahankan pernikahannya, maka keluarga itu akan bertindak kejam pada ibu mertuanya itu.


Dengan berat hati, ia menolak untuk menandatangani surat perceraian dengan satu surat kompensasi yang tidak ingin ditanda tangani juga. Ia buru-buru mengembalikannya kedua surat itu karena merasa belum siap, apa lagi suaminya belum tahu masalah surat perceraian yang datang padanya. Air matanya berderai tanpa henti ketika ia diminta untuk menandatangani surat cerai itu walaupun belum sempat dilakukannya.


"Maaf pak saya akan menghadiri sidang perceraiannya, tapi saya tidak mau menandatangani surat ini sebelum bicara dengan suami saya, jika memang ini perintah dari kakek Subandrio, tolong katakan kepadanya saya akan menandatanganinya di ruang pengadilan agama nanti." ucap Nadia santun lalu menyerahkan surat perceraian itu kepada asisten pengacara tuan Subandrio.


"Baik bu, kalau begitu saya permisi," ucap asisten pengacara itu sembari memasukan kembali dua surat itu kedalam tasnya.


Dengan berlalunya asisten pengacara itu, Nadia menutup pintu kamar apartemennya dengan tubuh gemetar. Hidupnya seakan ikut berakhir dengan perpisahan yang sebentar lagi akan tiba. Jika ia menandatangani surat perceraian itu sekarang, maka haram baginya untuk menyentuh suaminya.


Ia tidak mampu lagi berbuat apa-apa selain menangis dibawah shower tanpa menanggalkan bajunya, membiarkan kesedihannya serta pedih dihatinya terbawa air dingin yang mengucur dibawah shower, berusaha memahami semua yang telah terjadi hari ini, berusaha berdamai dengan perasaannya walaupun hati nya telah terluka parah ditambah siraman cuka yang akan menambah perih luka hatinya.


Daffa yang baru pulang kerja, mendapati istrinya tidak ada diruang tamu, di mana kursi sofa putih yang biasa ditempati Nadia sambil membaca buku menunggunya pulang kerja. Iapun berjalan ke kamarnya, di kamar itu tampak sepi nan rapi karena baru saja dirapikan Nadia.


Gemericik air di dalam kamar mandi memberinya tanda bahwa istrinya sedang mandi. Berharap ia bisa mengejutkan istrinya, ia kemudian mengendap masuk ke kamar mandi hanya menggunakan celana boxernya. Betapa terkejutnya Daffa melihat Nadia duduk dibawah pancuran air dari shower menyiram tubuhnya dengan baju yang masih melekat di badan.


"Nadia!" pekiknya memanggil tubuh basah itu yang nampak terkulai setengah tubuh yang tergeletak di kamar mandi.


Daffa melucuti baju istrinya lalu membalut dengan handuk kering yang terdapat di rak yang ada dalam kamar mandi tersebut. Ia kemudian menggendong tubuh istrinya membawanya ke kasur milik mereka. Ia memeluk tubuh dingin Nadia yang kelihatan terguncang atas apa yang sedang dialami gadis ini. Daffa menyelimuti tubuh istrinya dengan selimut tebalnya. Nadia diam seribu bahasa dengan tatapan mata kosong tanpa ekspresi.


"Nadia sadar sayang, jangan membuatku takut," ucapnya dengan memberikan ciuman bertubi-tubi pada wajah istrinya.


"Nadia, Nadia!" sayang," panggilan dan rangkulan pada tubuh kaku itu yang sudah hampir membuatnya gila.


Setelah berapa lama Nadia akhirnya sadar setelah Daffa membaca surah-surah pendek yang dihafalnya pada kuping istrinya. Seketika Nadia sadar, seolah setan bisu sudah keluar dari tubuh istrinya. Nadia kaget karena mendengar seseorang yang sedang memanggilnya dalam kegelapan dan ketika menyadari suaminya tengah memeluk tubuhnya ia menangis sejadi jadinya ke dalam dada bidang suaminya.


"Mas Daffa..hiks..hiks!" tangisnya pecah dalam pelukan suaminya.


"Kenapa sayang, apa yang terjadi padamu." ucap Daffa memaksa istrinya berbicara.


"Kita akan berpisah...hiks..hiks..aahhh!" teriaknya histeris mengagetkan suaminya yang mendengarnya nampak bingung dengan ucapan istrinya.


"Sayang, apa maksudmu kita berpisah?" tanya Daffa menguraikan pelukannya pada tubuh ratunya ini.


Nadia menceritakan apa yang terjadi tadi siang dengan seorang asisten pengacara yang diutus oleh bosnya atas perintah tuan Subandrio Diningrat. Mengetahui penuturan dari istrinya Daffa mengepalkan tangannya dan meninju sandaran tempat tidurnya.


"Apakah kakek tua itu tidak bisa bersabar sedikit saja untuk memberikan kita waktu untuk berusaha. Dan juga Anjani biang kerok dari masalah ini." ucap Daffa dengan umpatnya kepada Anjani.


"Bagaimana denganku Nadia, apakah kamu tidak memikirkan perasaanku juga, bagaimana aku tanpamu, apakah kamu tega meninggalkanku di saat aku sedang-sedangnya mencintaimu, menyayangimu bahkan hampir mati karena takut kehilanganmu ketika kamu marah?" ucap Daffa dengan air mata yang ikut membanjiri wajah tampannya.


"Jika kita bertahan bagaimana dengan mamimu, apakah kamu rela menyakiti ibu kandungmu sayang?" bukankah kamu tidak mendengar bagaimana ancaman tuan Fahri jika kamu tidak buru-buru menikahi putrinya, aib mami akan menjadi makanan para wartawan dan reputasi keluarga ini akan diperlihatkan ke dunia dan kamu yang terutama ku pikirkan jika itu terjadi hidupmu akan lebih gila lagi sayang." ucap Nadia dengan masih sesenggukan.


"Ya Allah, mengapa kita berdua harus berkorban untuk menyenangkan hati orang lain, ini sangat berat bagiku Nadia, jika bisa memilih, kematian yang lebih ku inginkan saat ini." katanya sambil menutup matanya dengan satu tangannya.


"Ssstt!" jangan berkata seperti itu, jangan pernah putus asa dari rahmat Allah, kita jalani saja bagian dari takdir ini, sambil tetap memohonkan doa kepada Allah, pasrahkan diri kita kepada Allah, karena saat hanya Dia satu-satunya yang kita miliki, tidak ada daya upaya selain kekuatanNya sayang," ucap Nadia menenangkan suaminya yang sedang membenamkan wajahnya di perut istrinya.


Nadia mengangkat tubuh suaminya, menangis yang mereka bisa lakukan saat ini, ciuman dan pelukan hangat yang menjadi penguat hati mereka. Senja yang indah itu berubah sendu yang memilukan. Dua hati insan yang dibaluti cinta yang besar harus dihancurkan dengan perpisahan yang kejam.


Memang menyakitkan, memisahkan hati keduanya yang sedang tumbuh subur cinta mereka diantara gersangnya jiwa terutama hidup Daffa yang baru menemukan jati dirinya bersama sang bidadari. Istana cinta yang baru saja mereka bangun, harus porak poranda akibat na*su dunia yang dipermainkan seseorang, karena memiliki kartu mati milik Daffa yang siap mereka lemparkan ke para pemburu berita. Cinta keduanya harus tercerai berai demi kebahagiaan seorang ibu yang mereka junjung tanpa mau bertoleransi dengan waktu.


Berapa hari ke depan mereka hanya sedikit memiliki kesempatan, yah kesempatan yang akan berakhir menyakitkan walaupun keduanya terus memanfaatkan setiap menitnya untuk merenda kasih tanpa kenal kata lelah, saling memberikan kehangatan, saling mereguk manisnya cinta dan saling menaklukkan hati yang sengsara. Entah apa yang ingin mereka buktikan jika jalan buntu yang mereka akan temukan. Perceraian adalah momok yang menakutkan bagi semua pasangan kecuali yang menginginkannya karena sebuah kepentingan.


Tapi tidak bagi dua manusia ini, mereka ingin mempertahankannya karena ini suatu perkara yang sangat dimurkai Allah walaupun ada jalan halal untuk kata itu. Mereka bisa saja lari dan menyelamatkan nasib pernikahan mereka, tapi bagaimana dengan seorang ibu, bagaimana nasibnya, jika dibuang dari keluarga besar Subandrio Diningrat dengan penuh hinaan. Bukankah selama ini wanita malang itu sudah diperlakukan tidak adil oleh keluarga suaminya. Dia harus bertahan hidup didalam sangkar emasnya karena besarnya rasa cintanya pada sang suami yang telah menyelamatkan harga dirinya dari sarang penyamun.


🌷🌷🌷🌷


Keesokan harinya ditempat yang berbeda, nyonya Laila yang terus diteror oleh bapak mertuanya untuk membujuk putranya supaya menceraikan istrinya Nadia, jika tidak perusahaannya itu akan diambil alih oleh dirinya. Nyonya Laila yang takut akan nasib masa depan putranya merasa terancam lalu menyanggupi permintaan bapak mertuanya itu.


Sekalipun ia sangat malu dengan besannya karena ia yang meminta sendiri Nadia pada keluarga sederhana itu untuk menikahkan putranya dengan Nadia, gadis lugu dengan sejuta pesonanya yang akan mampu menghentikan kegilaan putranya pada tubuh wanita liar yang selalu memuaskan birahinya. Dua ancaman berbeda dari tuan Subandrio berhasil memakan umpannya demi keegoisannya. Nyonya Laila berniat mendatangi kediaman keluarga menantunya dengan perasaan takut kepada keluarga sholeh itu.


Sekitar satu jam waktu tempuh dari rumahnya, nyonya Laila sudah bertamu di kediaman besannya. Pertemuan kembali dua keluarga itu disambut baik oleh orang tua Nadia yang belum tahu apa tujuan nyonya Laila datang berkunjung ke rumah mereka. Bagi mereka tamu adalah berkah yang harus diperlakukan dengan baik oleh mereka. Kedua besan itu duduk dan mengobrol hal-hal ringan dengan sesekali tertawa senang dengan candaan yang terasa hambar oleh nyonya Laila. Akhirnya nyonya Laila memberanikan diri menyampaikan maksud dan tujuan bertemu dengan keluarga itu.


"Maaf abi, kedatangan saya kali ini mungkin sangat tidak nyaman bagi keluarga abi, karena saya ingin menyampaikan sesuatu yang mungkin akan membuat kalian kecewa." ucap nyonya Laila hati-hati karena berat baginya memulai sesuatu yang tidak ia inginkan.


"Katakan dengan jelas nyonya, apa yang anda ingin katakan kepada kami!" ucap ustadz Aditya kepada nyonya Laila.


"Ini mengenai nasib pernikahan anak kita yang sampai saat ini mereka belum dikaruniai seorang bayi dalam rumah tangga mereka sedangkan keluarga besar suami saya sudah menuntut ada pewaris yang harus meneruskan bisnis mereka." jelas nyonya Laila kepada keluarga Nadia.


"Lantas apa hubungannya dengan tujuan anda kemari nyonya?" tanya ustadz Aditya sedikit mendesak jawaban dari besannya nyonya Laila, yang terkesan berbelit-belit dalam penyampaiannya.


"Bapak mertua saya ingin mengakhiri pernikahan mereka dengan satu keputusan untuk keduanya bercerai," ucap nyonya Nadia dengan wajah tertunduk malu dan takut kepada besannya ini.


"Astagfirullah, apa keluarga besar nyonya tidak bisa memberikan kesempatan kepada putriku untuk bisa mencari solusi lain untuk bisa memiliki momongan?" tanya umi Kulsum yang ikut membuka suara dalam perbincangan yang terasa mencekam ini.


"Maaf umi, ini bukan kemauan saya, karena saya sendiri juga mendapat tekanan dari bapak mertua yang sangat menginginkan cicitnya lahir sebelum ia meninggal. Saya tidak bisa berbuat apa-apa, apa lagi membantah, saya mohon pengertiannya abinya Nadia," pinta nyonya Laila yang sudah mulai berkaca-kaca.


"Bukankah Daffa memiliki saudara lain ibu?" mengapa bukan dia juga yang harus dituntut?" tanya ustadz Aditya penasaran dengan alasan tidak masuk akal menurut logikanya.


"Saudara tirinya menderita riwayat penyakit jantung yang tidak bisa memberikan keturunan untuk keluarga itu, jadi Daffa satu-satunya kandidat yang harus melanjutkan garis keturunan untuk mereka.


"Degg!"


Kedua orangtua Nadia lemas seketika, karena tidak ada jalan lain bagi mereka selain menerima tuntutan perceraian dari keluarga besar menantu mereka Daffa. Mereka sangat menyayangkan tindakan gegabah yang dilakukan keluarga besan mereka. Ustadz Aditya dan umi Kulsum harus menerima kenyataan pahit bahwa putri mereka akan menjadi seorang janda diusia pernikahan yang masih terlalu dini. Mereka pun tidak bisa apa-apa selain menyetujuinya.


"Baiklah nyonya, tolong kembalikan putri kami dengan cara terhormat jika kalian tidak membutuhkannya lagi," ucap ustadz Aditya lalu meninggalkan tempat duduknya masuk kedalam kamarnya.


Lelaki paruh baya itu ingin menumpahkan kesedihannya di dalam kamarnya. Ia begitu terpukul dengan kabar buruk ini, bagaimana nasib putrinya yang akan menjadi janda diusia muda, akan banyak cibiran pedas dari orang lain terutama lingkungan tempat tinggalnya kepada keluarganya nanti.


Di ruang tamu, nyonya Laila dan umi Kulsum saling berpelukan sebagai sesama wanita yang sedang dilanda kesedihan karena memikirkan nasib pernikahan anak mereka. Setelah lama mereka berkeluh kesah akhirnya nyonya Laila pamit pulang kepada umi Kulsum yang mengantarnya sampai ke pintu pagar rumahnya.