SADURAN KITAB CINTAKU

SADURAN KITAB CINTAKU
67. KESEPAKATAN


Nadia, aku harus bagaimana menyikapi kemauan keras ummi yang meminta kita untuk segera bercerai?" Tanya Daffa menatap wajah istrinya.


"Apakah aku boleh meminta satu hal padamu mas?" mungkin ini terdengar mempermainkan sebuah pernikahan, namun inilah jalan satu-satunya yang harus kita pilih walaupun ini sangat menyakitkan bagi kita, terutama putra kita yang sedang butuh kasih sayang kita berdua dalam tumbuh kembangnya." Pinta Nadia.


"Apa Nadia?" jika ini adalah suatu hal yang adil untuk kita, aku siap dan rela melakukan untuk membahagiakan ummi." Daffa berusaha menerima tantangan dari Nadia.


"Ayo kita bercerai lagi, tapi mas harus berjanji agar mas tinggal satu atap dengan Anjani, rebut hatinya dan saat ia sudah terperdaya, tanya dia pelan-pelan apakah kamu yang mendorongnya atau dia yang ceroboh hingga mencelakakan dirinya sendiri." Nadia memberi solusi.


"Tidak.... tidak... tidak!" Aku tidak mau berurusan dengan wanita itu lagi, aku sangat trauma bertemu dengannya apalagi tinggal serumah dengannya, bukankah itu akan membuatku gila bahkan aku akan gila benaran Nadia, justru dia yang harus aku ceraikan bukan kamu sayang." Daffa menangkup wajah istrinya dengan memohon agar Nadia tidak memintanya untuk melakukan ide gilanya itu.


"Hanya ini caranya, agar kita bisa mendapatkan bukti, membersihkan nama baikmu, memulihkan reputasi keluarga kita, cukup abiku yang jadi korban ketidakadilan manusia yang berhati iblis, yang menjadikan kesalahan seseorang untuk menghukum yang lainnya. Apakah kamu ingin melihat satu persatu keluarga kita menjadi korban nyinyiran orang lain hmm? Aku tidak mau kehilangan ummi, sekeras apapun bliau menentang hubungan kita, namun hatiku tidak bisa memungkiri bahwa dia adalah segalanya bagiku mas." Nadia berdalih.


"Lantas bagaimana dengan aku?" apakah aku tidak pantas menjadi seseorang yang menjadi segalanya bagimu hmm?" Daffa memohon agar Nadia membatalkan permohonannya.


"Aku dan kamu menjadi muhrim melalui pernikahan, tapi aku dan ummi adalah hubungan mutlak yang tidak bisa ditentang oleh hukum manapun, cinta ibu tidak tergantikan oleh apapun di dunia ini mas Daffa, dulu aku rela bercerai denganmu karena aku tidak ingin melihatmu menderita jika mamimu dihina oleh kakek Subandrio, nah sekarang mengapa kita tidak berkorban lagi dengan alasan yang sama?" Pinta Nadia.


"Nadia, melewati satu bulan saja tanpamu, duniaku seperti akan berakhir, dan sekarang harus mengulangi lagi dengan cerita yang sama, apakah kamu kira kita bisa melaluinya?" Daffa terus membujuk agar Nadia berubah pikiran.


"Ini demi seorang ibu, untuk orang yang kita cintai, pengorbanan kita tidak ada artinya dengan pengorbanan mereka ketika melahirkan kita, mengandung, menyusui, membesarkan, apakah cukup dengan satu kali saja kita memenuhi permintaan mereka, berkorban demi memenuhi keinginannya. apakah terlalu sulit untukmu hmm?" Nadia memohon lagi pada suaminya.


"Astaghfirullah, ya Allah, Nadiaaa, kenapa serumit ini, mengapa kamu selalu mau ditempatkan di ujung jurang kehancuran?" Apakah sebuah pernikahan harus dikorbankan demi menyenangkan orang lain?" Tanya Daffa kesal.


"Orang lain itu adalah ibuku, hargailah dia jika kamu ingin mendapatkan aku lagi, tanpa dia aku tidak mungkin datang dalam hidupmu, ingat itu mas Daffa!" Kecam Nadia sengit.


"Ko sekarang kita malah jadi bertengkar sih, sayang?" Daffa makin panik juga kesal.


"Makanya mas Daffa jangan egois dong, aku sudah memikirkan ini sebelumnya, mungkin dengan cara mas mendekati Anjani, semua kebohongan Anjani dan tuan Fahri akan terbongkar, kalau kita diam saja terus terima semuanya, apa yang bisa kita selamatkan, orang sabar itu bukan berarti menerima dengan diamnya, tapi menerima dengan terus ikhtiar, itu baru dikatakan sabar. Sedikit kita ikhtiar, insya Allah, Allah akan mempersatukan kita kembali mas Daffa, yakinlah bahwa Allah yang memberi kita ujian, Dia pula yang akan memberikan kita petunjuk." Nadia mengukuhkan pendapatnya.


"Bagaimana dengan permintaan ummi yang lain, memintamu untuk menikah dengan laki-laki lain?" lantas apa hasil ikhtiarku jika akhirnya aku tidak bisa memilikimu, bukankah itu semua akan sia-sia?" Daffa sangat kuatir.


"Aku tidak bisa menjawab masa depan kita, tapi jika kita berpegang teguh pada tali Allah, yakin bahwa Dia akan mengembalikan kebahagiaan kita, insya Allah aku tetap akan menjadi milikmu dan kita akan kembali bersama. Andalanku hanya Allah karena tidak ada sesuatu yang sia-sia disisiNya, asalkan kita ridho dengan ketetapanNya, niscaya Allah akan senantiasa berpihak pada hamba yang meyakini kekuasaanNya." Nadia mencoba meyakinkan Daffa.


Setelah beradu argument, Nadia dan Daffa kembali bungkam, menetralisir kembali ketegangan diantara mereka. Ujian pernikahan mereka harus kembali dipertaruhkan demi untuk mendapatkan kebahagiaan yang tidak akan lagi diujikan setelah keduanya mampu melalui segala rintangan.


🌷🌷🌷


Di rumah sakit, ternyata Anjani sudah sadar dari masa kritisnya. Ia hanya mengeluhkan kakinya yang tidak bisa digerakkan. Hal ini membuat kedua orangtuanya sangat cemas, mereka kembali memanggil dokter agar segera memeriksakan keadaan putri mereka.


"Sebentar sayang, ayah sudah panggilkan dokter," ujar ayahnya.


"Dokter, putriku mengeluhkan bahwa kakinya tidak bisa digerakkan, apakah ia akan lumpuh dokter?" Tanya Tuan Fahri ketika dokter sudah berada di samping pasien.


"Tolong tunggu di luar ya tuan, biarkan kami menangani pasien Anjani." Dokter ahli syaraf itu meminta Tuan Fahri untuk meninggalkan kamar Anjani sesaat.


Setelah melakukan sejumlah tes, dokter kembali membicarakan keadaan Anjani pada kedua orangtuanya.


"Pasien mengalami cedera otak yang mengakibatkan kakinya lumpuh, jika menjalani terapi, pasien bisa kembali berjalan seperti sedia kala." Ujar dokter.


"Apakah pengaruh pendarahan otak yang dialaminya dokter?, karena ia jatuh terjengkang ke belakang?" Tuan Fahri menerangkan ketika posisi putrinya jatuh dari tangga.


"Kami akan melakukan pemeriksaan secara menyeluruh melalui alat medis, dengan begitu kami bisa menyimpulkan diagnosa pasien kami kepada Tuan, untuk saat ini pasien butuh dukungan secara moril agar ia semangat untuk cepat sembuh." Dokter segera pamit setelah menjelaskan perihal keadaan Anjani.


Tuan Fahri dan istrinya kembali menemui putrinya. Anjani menatap wajah sendu kedua orangtuanya. Ia memperhatikan di sekitarnya kamar inapnya dan berharap melihat sosok yang lain, namun sayang harapannya sia-sia.


"Ayah, apakah Daffa tidak pernah mengunjungi aku selama dirawat di sini?" Tanya Anjani.


"Ayah sempat memasukkan ia ke penjara...?


"Ayah!" dia tidak bersalah mengapa mengirimnya ke penjara? justru aku yang salah ayah, mengapa ayah tega melaporkan Daffa pada pihak berwajib?" Anjani menyela perkataan ayahnya.


"Anjani, ayah sengaja melakukan itu untuk kebaikanmu juga nak."


"Kebaikan apa ayah, kalau ayah tega menjebloskan ia ke penjara, aku ingin suamiku kembali di sisiku, tolong bebaskan dia ayah!" Anjani meraung-raung tak terima suaminya dipenjara.


"Dia sudah bebas dan akan segera kamu miliki, jadi kamu tidak perlu kuatir karena ia akan menjadi milikmu selamanya." Tuan Fahri menenangkan putrinya.


"Apa maksud ayah dengan "selamanya" aku tidak mengerti?" Tanya Anjani bingung.


"Karena ayah meminta Nadia menceraikannya, dengan syarat ayah akan bebaskan dia dari tuntutan karena ia berusaha mencelakaimu." Jawab Tuan Fahri meyakinkan putrinya.


"Ayah adalah ayah terbaik yang Anjani miliki, terimakasih ayah sudah melakukan yang terbaik untuk Anjani." Anjani tersenyum puas dengan ide licik ayahnya.