SADURAN KITAB CINTAKU

SADURAN KITAB CINTAKU
86. KESEHARIAN KELUARGA DAFFA


Kehamilan Nadia sudah memasuki usia tujuh bulan. Di saat menanti kelahirannya, ia meminta keluarga besarnya untuk menerapkan hidup ala Rosulullah. Seperti menambah sholat sunnah selain rawatib, yaitu tahajud dan Dhuha, puasa Senin Kamis, selalu menjaga wudhu, bersedekah setiap selepas sholat subuh, berinfak seminggu sekali di tiap panti asuhan, membagi nasi bungkus setiap hari Jum'at dan mengadakan setiap seminggu sekali memberi tauziah kepada penghuni mansion dan itu berlaku untuk semua pelayan mansion yang memang semuanya beragama Islam.


Sebulan sekali mereka mengundang ustadz kondang tanah air untuk mengisi ceramah di kediamannya. Putranya Hafiz yang hampir berusia tiga tahun tidak terlepas dalam pengawasannya. Setiap saat ia melatih putranya dengan memperkenalkan ilmu Allah. Contoh kecilnya makan dan minum selain membaca doa dengan posisi duduk dan menggunakan tangan kanan. Memakai baju dan sepatu di dahului dengan tangan dan kaki kanan dan harus diawali dengan bacaan basmalah.


Penerapan hidup ala Rosulullah ini, membuat keluarga ini makin kokoh mengasah iman mereka. Ketenangan dalam rumah itu makin terasa, Daffa sangat bersyukur memiliki istri seperti Nadia, hidupnya semakin lengkap kini dengan datangnya calon bayi kembar mereka walaupun masih di dalam rahim istrinya.


Kala malam tiba, setelah menidurkan Hafiz, suami istri ini asyik ngobrol di pinggir kolam renang. Daffa menanyakan beberapa hal kepada istrinya, bagaimana Allah menciptakan manusia dalam perut ibunya dan mengapa wanita yang dipilih Allah untuk menanggung beban besar itu dalam hidupnya.


Nadia pun tersenyum lalu menjawab pertanyaan suaminya dengan dalil.


"Sayang Bagaimana Allah menjadikan dari dua tetesan benih yang tumbuh dalam rahim seorang ibu?" Tanya Daffa pada istrinya yang duduk bersandar didadanya.


"Allah menciptakan manusia yang tertuang dalam surah Al-Mu'minun ayat 12-14.


Yang artinya: β€œDan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik,”.


"Dan itu sudah terbukti dalam penelitian para ahli dokter yang berkecimpung sebagai ahli kandungan. Padahal jaman Rosulullah belum ada segala macam teknologi canggih yang menunjang firman Allah tersebut seperti sekarang ini, tapi Rosulullah sudah mengetahuinya." Ucap Nadia menjelaskan bagaimana manusia diciptakan dirahim ibunya.


"Mengapa harus perempuan, mengapa tidak laki-laki?"


"Karena Allah memilih wanita dengan meminjamkan salah satu nama terbaiknya dan memberikannya rahim karena fitrahnya sebagai manusia yang paling lembut, saking lembutnya Allah menitipkan rahmat-Nya itu pada wanita yang disebut dengan alam rahim." Ucap Nadia.


"Apa itu Rahmat Allah sayang?" Tanya Daffa lagi.


"Rahmat adalah batasan makna perhatian yang dalam memancarkan sifat kasih dan kemuliaan tiada batas. Di mana tempat bernaung rahmat adalah rahim karena rahim lah mengalir kasih sayang di dalamnya.


Seorang ibu rela melakukan apapun untuk anaknya dari pertama kali ia mengetahui dirinya mengandung, dari mulai menahan mual terus muntah terus memaksakan dirinya untuk tetap makan walaupun ia enggan, setelah perutnya makin membesar tidur mulai susah, gelisah dan jalan pun juga sudah tidak sebagus lagi saat ia masih normal. Ia menahan semua yang tidak enak itu karena Allah sudah menitipkan rahmat-Nya dalam rahim seorang ibu. Jika tidak ada itu, perempuan sulit membesarkan anak-anaknya dengan penuh kasih sayang." Ujar Nadia.


"Tapi bagaimana dengan seorang anak yang ketika ia dibesarkan dengan kasih sayang seorang ibu bisa berbuat maksiat seumur hidupnya, bahkan ada yang membunuh?" Apakah Allah akan mengampuni semua dosa-dosanya jika suatu saat ia datang untuk bertobat pada Robby-nya?" Tanya Daffa yang ingin mengetahui cinta Allah pada hambaNya.


"Allah lebih mencintai pelaku maksiat yang senang bertobat dibandingkan orang sholeh yang tidak pernah merasa salah. Itulah narasi yang ditampilkan oleh Al-Qur'an yang menjelaskan setiap diksinya yang paling sempurna untuk disemaikan di dalam hati hambaNya dengan harmoni yang indah. Jika ingin dekat dengan Allah dan ingin mengetahui segalanya tentang hidupnya bacalah Al-Qur'an, temui jawabannya, jika tidak paham hadirilah majelis-majelis taklim, belajarlah dengan ulama-ulama yang syarat akan ilmu, karena setiap penyampaian mereka, mengeluarkan banyak hikmah-hikmah kehidupan yang patut kita amalkan sebagai bekal kita menghadap Allah saat ajal sudah siap menjemput kita." Jelas Nadia kepada suaminya.


Daffa menarik nafasnya lebih dalam, usai mendengarkan tauziah dari sang permaisuri yang sekaligus menjadi guru spiritualnya.


"Sayang, aku memang belum melihat indahnya surga, tapi aku sudah melihat surga yang dibangunkan olehmu didalam jiwa ragaku." Ucapnya lalu menggendong istrinya membawa masuk ke kamar mereka.


Malam makin larut, keduanya berangkat tidur untuk menantikan sepertiga malam untuk bermunajat kepada Tuhannya demi kebahagiaan keluarga mereka.


🌷🌷🌷


Memasuki usia kandungan sembilan bulan bertepatan dengan bulan Ramadhan. Daffa yang tidak ingin mengetahui jenis kelamin calon bayinya sengaja menjadikan ini surprise untuk keluarga besarnya. Ia dan istrinya nampak santai menunggu kedatangan si kembar sambil menjalani ritual ibadah puasa ramadhan bersama dengan keluarga besarnya.


Nadia yang tidak ingin membayar Vidia berusaha mengikuti puasa dalam keadaan hamil besar. Ia sedikitpun tidak mengeluh dengan kehamilannya yang harus membagi makanan dengan dua janinnya. Hanya porsi makannya sekarang ini lebih banyak dari pada biasanya.


Acara yang paling dinantikan mereka adalah saat berbuka puasa. Nadia dan Nyonya Laila sengaja meminta ummi Kulsum ikut buka puasa di rumah mereka. Suasana makin romantis kala keluarga besar itu berkumpul.


Beranekaragam makanan tersedia di atas meja makan yang cukup panjang itu. Azan magrib diperdengarkan, keluarga itu mengucapkan hamdalah dan mulai membaca doa buka puasa di pimpin oleh Tuan Edy. Mereka mulai menyantap makanan apa yang menjadi pilihan mereka.


Usai berbuka puasa, seluruh penghuni mansion sholat jamaah di ruang keluarga karena mushola mereka tidak cukup untuk keluarga besar itu.


Hingga pertengahan bulan Ramadhan, Nadia masih merasa aman dan terus berolahraga dengan jalan pagi selepas sholat subuh.


"Sayang, badan aku jadi lucu begini ya, kamu masih sayang nggak sama aku jika nanti aku melahirkan baby kembar, badan aku pasti tambah melar karena harus banyak makan untuk menyusui baby kembar nanti." Nadia merasa nggak percaya diri lagi dihadapan suaminya dengan keadaan perutnya yang makin membesar.


"Sayang, aku tidak permasalahkan dengan bobot tubuh kamu, jadi jangan berpikir yang tidak-tidak. Kamu dan anak-anak kita adalah prioritas aku sampai kapanpun, aku tetap mencintaimu dalam keadaan apapun. Kamu segalanya untukku sayang" Daffa membujuk istrinya agar tidak berpikir negatif saat ini tentang dirinya yang dulu merupakan mantan playboy.


"Terimakasih sayang, aku percaya dan yakin akan cintamu, aku tidak akan berpikiran konyol lagi karena bisikan setan." Nadia tersenyum senang lalu menggenggam erat tangan suaminya.


Keduanya berjalan menyusuri komplek sampai Nadia merasa lelah dan beristirahat sebentar di taman. Daffa menemani istrinya dan ikut duduk di samping Nadia yang sedang mengatur nafasnya.


"Mas Daffa, pulang yuk!" Aku sudah lelah." Ucap Nadia sembari bangkit dari duduknya.


"Mau pulang pakai mobil atau jalan lagi supaya aku panggil sopir untuk menjemput kita" Tanya Daffa memberi tawaran untuk istrinya.


"Panggil saja pak Ramli minta jemput kita di sini, lumayan juga kembali ke mansion kalau jalan kaki lagi." Ujar Nadia yang sudah tidak sanggup berjalan kaki lagi.


Daffa segera menghubungi pak Ramli agar menjemput mereka di taman komplek.


Tidak lama pak Ramli datang menjemput keduanya, mereka pun segera naik ke mobil dan pulang untuk beristirahat karena mengingat masih dalam suasana Ramadhan.