SADURAN KITAB CINTAKU

SADURAN KITAB CINTAKU
43. KOMA


Team dokter bergegas menghampiri ruang bersalin untuk menangani keadaan Nadia yang tidak sadarkan diri. Segala upaya mereka lakukan tapi hasilnya tetap nihil. Nadia dinyatakan koma oleh dokter Risna, hal ini membuat Daffa menjerit seketika.


"Maaf tuan, nona Nadia dalam keadaan koma, mungkin karena shock dan persalinan yang sangat berat yang dilaluinya hari ini diakibatkan pendarahan dan juga goncangan jiwanya yang disebabkan oleh sesuatu yang membuatnya menolak untuk sadar." Ucap dokter Risna memaparkan keadaan Nadia.


"Tidaaaaakkkk!"


"Nadiaaaaa!" teriak Daffa diikuti tangis bayinya di ruang inkubator.


"Tuan Daffa segera kumandangkan azan untuk putramu!" pinta dokter Risna yang menyadarkan Daffa untuk memikirkan bayinya yang baru hadir ke dunia.


"Mami, aku hanya memberikan Nadia penderitaan, aku tidak berguna mami, aku tidak pantas untuk Nadia.... hiks..hiks!" Ucapnya sambil memeluk tubuh maminya Laila.


"Tahu diri juga kamu anak muda, bahwa kamu tidak pantas bersanding dengan putriku, jika nanti putriku siuman ceraikan dia atau aku yang akan meminta putriku menggugat cerai dirimu." Ucap ummi Kulsum yang masih dendam dengan Daffa.


"Ummi, jika kita hanya sebagai pengganggu di sini, sebaiknya kita pulang dan berdoa untuk keselamatan putri kita!" pinta ustadz Aditya lalu menarik istrinya meninggalkan rumah sakit.


"Abi, Fadil masih mau disini menunggu mbak Nadia." Ucap Fadil yang tidak ingin meninggalkan mbaknya.


"Fadlan juga Abi, karena Fadhlan ingin lihat keponakan Fadlan yang baru datang." Sahut Fadlan yang memilih untuk tetap tinggal di rumah sakit menemani bayi Nadia.


"Lakukan apa yang kalian inginkan, kabarkan Abi jika terjadi sesuatu kepada mbakmu." Ucap ustadz Aditya mengingatkan putra kembarnya.


"Baik Abi, hati-hati di jalan!" Ucap si kembar serentak.


"Temui bayimu Daffa dari tadi bayi itu menangis terus." Titah mami Laila kepada putranya Daffa yang masih menangis karena sang istri yang sedang koma.


"Temani Daffa ke dalam mami." pinta Daffa yang masih bergelayut dalam pelukan maminya.


Ibu dan anak ini masuk ke ruang bayi, Daffa mendekati kotak inkubator lalu mengumandangkan adzan pada telinga kanan babynya. Lantunan suara azan yang indah itu mampu mendiamkan sang bayi yang dari tadi menangis. Seperti hiburan yang menenangkan hatinya, bayi itu diam dan sedikit mengerucutkan bibirnya dengan mengeluarkan lidahnya yang mungil. Sang nenek nampak terharu melihat cucunya yang sedang menikmati suara indah sang ayah. Usai mengumandangkan azan Daffa beralih untuk membaca iqomah di kuping kiri sang bayi. Lama-kelamaan baby malang itu memejamkan matanya.


"Anak pintar!" ucap sang nenek membelai tangan lembut cucunya.


"Mami, kasihan bayiku tidak bisa menyusu pada ibunya." Ucap Daffa sedih.


"Sayang jangan lemah, bayimu tahu apa yang kamu rasakan, dia baru saja tidur kita keluar saja ya." Pinta mami Laila yang tidak ingin menganggu ketenangan cucunya.


"Sebentar mami!" Daffa mau foto si baby dulu."


"Oh iya sampai lupa."


Daffa mengambil gambar putranya dengan ponselnya dan maminya mengambil foto keduanya. Mereka kemudian meninggalkan ruang bayi. Sekarang gantian si kembar yang ingin melihat keponakan mereka lalu tuan Edy yang kembali ditemani istrinya.


"Permisi tuan, nona Nadia sudah dipindahkan di ruang inap VVIP sesuai pesanan tuan Edy yang sudah mengurus administrasinya." ucap salah satu suster lalu meninggalkan Daffa.


"Terimakasih suster, saya akan segera menemui istriku." ucap Daffa lalu melangkah ke kamar inap Nadia yang tidak jauh dengan ruang bayi.


Nadia yang terbaring lemah tanpa daya dengan bantuan alat medis melekat ditubuhnya. Asupan makanannya berupa cairan Jika kondisi pasien koma tidak menggunakan ventilator, mereka bisa menerima makanan melalui tabung khusus nasograstik 


yang langsung masuk melalui hidung yang langsung masuk ke tenggorokan dan berakhir ke lambung.


Tabung trakeotomi ini bisa digunakan dalam waktu yang lama karena tidak membutuhkan banyak perawatan dan tidak akan melukai jaringan lunak rongga mulut.


"Nadia sayang, terimakasih telah melahirkan seorang putra yang sangat tampan untukku. Aku bangga padamu sayang, sudah berjuang menyelamatkan putra kita, dia mirip denganmu, tapi mirip denganku juga sih, pokoknya wajahnya kombinasi antara kita berdua. Tapi dia lebih tampan dariku Nadia. Sayang, jangan lama-lama tidurnya, baby kita sangat lapar dia ingin mendapatkan makanan dari dada bundanya. Kasihanilah dia sayang, jangan biarkan kami merindukanmu terlalu lama." Ucap Daffa dengan air mata yang yang berderai tanpa ingin berhenti.


Daffa mengecup bibir istrinya lembut lalu mengucapkan kata-kata indah dan diakhiri dengan bacaan surat alfatihah.


Di ruang bayi, Fadil dan Fadlan berdebat karena keduanya merasa ponakan mereka mirip dengan mereka.


"Fadil dede bayi mirip aku ya."


"Yang jelas dia mirip gue!"


"Huhh, mirip dari Hongkong!"


"Dede bayinya mirip ayah dan ibunya," ujar Ela yang sudah ada di belakang mereka. Keduanya menoleh melihat siapa yang menegur mereka.


"Kamu!" Ujar si kembar serempak.


"Hussstt!" pelankan suara kalian, nanti bayi disini pada nangis berjamaah." Ucap Ela sambil melotot dengan matanya yang jeli.


Gadis cantik yang juga bercadar ini adalah adik kandung Rima. ia datang menjenguk Nadia bersama kakaknya.


"Maaf bisa tinggalkan tempat ini mas dan mbaknya!" pinta salah satu suster yang mengusir halus mereka bertiga.


Ketiganya meninggalkan ruangan itu lalu menuju ke kamar Nadia.


Rima yang baru saja sampai ke lantai kamar Nadia berpapasan dengan Rio, gadis yang berjilbab panjang ini menanyakan nomor kamar yang ditempati Nadia. Bukannya menjawab Rio malah menatap wajah Rima yang sangat cantik dan teduh itu.


"Permisi kamar 201 ke arah mana ya mas?" tanya Rima kepada Rio yang merupakan asistennya Daffa ini.


"Mas, apakah anda mendengarkan saya," ucap Rima sekali lagi sambil melambaikan tangannya ke arah wajah Rio yang masih terpana dengan kecantikan Rima.


"Oh, maaf apakah anda saudaranya nona muda Nadia?" Tanya Rio yang menjadi salah tingkah di depan Rima.


"Saya sahabat dekatnya, apakah anda saudara dari suaminya mbak Nadia?" Tanya Rima yang juga ingin tahu siapa pria tampan yang dihadapannya ini.


"Saya asistennya tuan Daffa, oh ya kalau mau ke kamar nona muda, mari saya antar." Ucap Rio menawarkan diri untuk mengantar Rima padahal memiliki niat tersendiri.


"Silahkan anda berjalan duluan mas, biar saya bisa mengikuti langkah anda.


"Oh sorry saya harus menjadi pria yang terhormat yang harus menjaga seorang gadis cantik di belakangnya.


"Kita bukan muhrim mas, jika aku berjalan di depanmu, setan sedang berada di punggungku untuk menggodamu supaya membuatmu tergoda padaku.


"Tanpa campur tangan setan pun, aku sudah tergoda nona," ucap Rio membatin.


Rima menghentikan langkahnya, Rio menuruti permintaan Rima, ia pun berjalan duluan lalu diikuti oleh Rima. Ketika mencapai pintu kamar inapnya Nadia, Rio mengetuk pintu terlebih dahulu dan Daffa membuka pintu kamar itu untuk menemui tamu yang sedang berkunjung.


"Permisi bos, ini ada teman. nona muda ingin menjenguk nona Nadia." ucap Rio lalu melirik wajah Rima yang sedikit tertunduk karena menjaga pandangannya.


"Silahkan masuk mbak!" Ucap Daffa hanya mempersilahkan Rima yang masuk bukan Rio karena Nadia hanya menggunakan hijabnya saja tanpa cadar.


"Aku nggak boleh lihat ya bos?"


"Kamu bukan muhrim istriku." Jawab Daffa acuh.


"Oh gitu bos, tapi gadis sahabatnya nona Nadia sangat cantik bos, mungkin ruang hatinya lagi nganggur bos, pingin aku tempati.


"Tidak usah terlalu banyak berharap siapa tahu gadis itu sudah milik orang lain, kalau tahu itu milik orang sakitnya tuh di sini." Ucap Daffa seraya menunjukkan letak hatinya Rio.


"Ah si bos bukannya mendukung aku dapatin jodoh malah jatuhin hatiku. Selamat ya bos sekarang sudah menjadi ayah. Semoga nona muda cepat sadar dari komanya ya bos. Yang sabar ya bos, mungkin Allah punya rencana lain untuk bos di balik musibah ini." Ucap Rio yang prihatin dengan kondisi tuannya yang tidak pernah usai penderitaannya.


"Maaf tuan, bayi anda dari tadi menangis terus mohon di tengok sebentar." Ucap suster memberi tahu keadaan bayinya Daffa.


Daffa berlari menuju ruang bayi, mendekati putranya lalu berusaha menenangkan putranya. Ia mengambil susu formula yang sudah disiapkan oleh suster untuk bayinya lalu memberikannya pada bayinya itu.


"Sayang, ada ayah di sini jangan menangis, bunda sedang tidur. Bayi itu sesaat diam mencoba menyedot susu botol tersebut, tapi tidak lama, ia kembali menangis. Daffa mulai kewalahan, iapun kemudian mencoba membaca surah-surah pendek dekat kuping putranya, alhasil bayi itu diam seakan menyimak bacaan ayat suci Alquran yang sangat indah untuknya.


"Ya Allah sayang, apakah kamu ingin seperti bundamu yang pintar mengaji, pingin jadi seorang penghafiz Al-Qur'an?" Tanya Daffa kepada babynya yang disambut senyum oleh putranya itu.


"Subhanallah, apakah kamu memahami ucapan ayah?" Ucap Daffa dengan wajah yang berbinar-binar melihat respon bayinya atas ucapannya.


Babynya tersenyum lagi menatap wajah ayahnya. "Matamu seperti mata bundamu. Ayah akan memberi nama panggilan untukmu adalah Hafizh, kelak kamu akan menjadi seorang penghafal Al-Qur'an dan menjadi imam mesjid Istiqlal." ucap Daffa yang mendoakan masa depan bayinya.


Susu formula yang dalam botol itu habis disedotnya lalu bayi itu mulai tidur kembali.


"Ayah ingin menggendongmu sayang, tapi kamu masih di dalam inkubator, jadi kamu harus menunggu sampai kamu siap keluar dari tabung ini. Selamat tidur sayang, jangan rewel ya, kita berdua sendiri di sini. Doakan bundamu supaya cepat sembuh dan kembali kumpul bersama kita, ayah mau nengok bunda dulu ya, assalamualaikum anak ayah yang sholeh, jagalah Allah sayang, semoga Allah akan menjagamu selalu aamiin." Ujar Daffa lalu meninggalkan ruang bayi itu dan kembali ke kamar istrinya.


Di kamar itu sudah ada mami, ayah, dua adik iparnya dan Rima serta Ela yang masih setia menemani Nadia. Rima dan Ela mengecup pipi Nadia lalu pamit kepada keluarga Daffa.


"Om, Tante, kami permisi mau pulang, tolong kabari kami kalau Nadia sudah sadar dari komanya.


"Terimakasih Rima, Ela, mohon doakan untuk kesembuhan menantuku." Ucap mami Laila dengan wajah sendu.


"Doa terbaik untuk Nadia selalu kami panjatkan Tante, insya Allah, Nadia adalah wanita yang tangguh, ia tidak akan mungkin menyerah begitu saja apa lagi, ada bayinya yang sangat membutuhkannya." Ucap Rima memberi support kepada ibu mertua sahabatnya ini.


Keduanya meninggalkan kamar inap Nadia setelah salim kepada kedua mertuanya Nadia. Mami Laila mendekati menantunya yang masih terbaring koma, hatinya sangat trenyuh melihat keadaan Nadia yang biasanya ceria menjadi lemah tak berdaya.


"Sayang, bangunlah nak, bayimu sangat membutuhkanmu juga suamimu, kasihanilah mereka berdua nak, apakah kamu tidak mau melihat putramu yang tampan itu nak?" Ucap mami Laila dengan berlinangan air mata.


Tidak ada respon apapun dari Nadia, Daffa duduk di samping istrinya sambil membaca alfatihah. Sedangkan si kembar hanya tertunduk sedih dengan sesekali mengusap air mata mereka yang menggenang di kelopak mata pemuda 17 tahun itu. Mereka menyesali sikap ummi mereka yang secara tidak langsung hampir membunuh kakaknya dan bayinya.


Karena tidak kuat menahan kesedihan merekapun pamit pulang. Kini yang tersisa tuan Edy yang duduk sambil terus berdzikir. Kejadian pagi tadi seperti mimpi buruk bagi keluarganya.


"Ya Allah kami berserah diri kepadaMu, berilah kami petunjuk untuk bisa keluar dari kemelut ini," ucapnya lirih.


"Mami sampai kapan Nadia koma, aku sangat merindukannya mami." Tangis Daffa kembali pecah.


Rasa putus asa dan kecewa menghinggapi hatinya. Ia memikirkan putranya yang saat ini selalu menangis jika tidak ia temani.


"Daffa sabar nak, kita hanya memiliki doa sebagai senjata kita untuk bisa mengubah takdir. Ketuklah pintu langit ketika jalur bumi tidak lagi mendengar permohonanmu untuk kesembuhan menantuku." Ucap mami Laila menghibur putranya.


Tidak lama dokter datang untuk memeriksa keadaan Nadia diikuti dua orang suster yang membantu dokter tersebut. Daffa dan maminya sedikit menghindar untuk memberi ruang untuk dokter memeriksa keadaan Nadia.


Usai pemeriksaan terhadap Nadia, dokter tidak memberikan komentar apapun kecuali memohon doa yang terbaik untuk pasien. Daffa hanya mengangguk sedih tanpa ingin bertanya apapun lagi.


Di tempat parkir, Rio menghampiri gadis yang sedang ia incar, Rima yang melihat asisten suami temannya ini hampir ngakak karena Rio masih salah tingkah dihadapannya.


"Neng, abang antar pulang ya." Tawar Rio so PD depan Rima dan adiknya.


"Maaf mas, kami bawa mobil sendiri." Ucap Rima memberi penjelasan kepada Rio yang kelihatan banyak berharap padanya.


"Bang tolong antar kami saja ya, kalau abang mau sih!" Pinta si kembar kepada Rio yang sedang merasa kecewa karena niatnya nggak kesampaian mau dapatin Rima.


"Ok, masuklah aku akan mengantarkan kalian berdua.


"Alhamdulillah, rejeki nggak lari ke mana." Ucap Fadil yang berhasil merayu asisten kakak iparnya ini.


Mobil Rima dan Rio meninggalkan rumah sakit tersebut menuju tempat tujuan mereka.


🔥🔥 Selamat datang di tahun 2022, Semoga Allah SWT memberikan kita sisa umur yang bermanfaat, rejeki yang berkah dan kesehatan yang tetap terjaga. Tetap semangat dan optimis menjalani hidup untuk satu tahun ke depan, terimakasih kepada pembaca setiaku yang terus mendukungku dengan memberikan like, hadiah, vote dan paling author tunggu adalah komentar kalian.🔥🔥