SADURAN KITAB CINTAKU

SADURAN KITAB CINTAKU
49. TERHARU


Daffa dan ayahnya sudah tiba lagi di tanah air, Daffa sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan Nadia istrinya di rumah sakit. Tapi niatnya urung dilakukan karena sang ayah memintanya terlebih dahulu untuk pulang ke mansionnya untuk bertemu dengan ibunya terlebih dahulu.


"Ayah, aku ingin menemui Nadia dirumah sakit." Pinta Daffa yang sudah kangen berat dengan istrinya Nadia.


"Jangan sekarang nak, temuilah dulu mamimu, nanti kita akan sama-sama ke rumah sakit, lagian ini masih jam 2 pagi, kita harus ke mansion dulu untuk makan sahur bersama mamimu, ia pasti sudah menunggu kita pulang." Ujar ayahnya mencegah niat putranya.


"Tapi ayah," ucap Daffa agak kecewa kepada ayahnya.


Sopir pribadi keluarga Tuan Edy mengendarai mobilnya dengan kecepatan rata-rata, agar kedua tuannya ini cepat sampai ke mansion.


"Ramli, apakah semua baik-baik saja selama kami pergi?" Tanya tuan Edy membuka keheningan.


"Alhamdulillah Tuan, semuanya berjalan dengan baik" ucap Ramli menjawab pertanyaan tuannya.


"Apakah istriku sudah sadar?" Tanya Daffa yang sudah tidak sabar ingin mengetahui keadaan Nadia yang dikiranya masih di rumah sakit.


"Itu saya belum tahu tuan." Ucap pak Ramli ragu-ragu.


"Berarti istri saya belum pulang ke rumah?" Ya Allah jadi Nadia belum sadar ayah." ucap Daffa dengan nada kecewa.


"Sabar Daffa, tidak semudah itu juga Nadia bisa secepatnya sadar, semua butuh proses." Ucap tuan Edy menghibur putranya yang kembali galau.


Tidak lama mobil mereka sudah memasuki gerbang mansion. Pelayan sibuk menurunkan barang bawaan majikannya. Nyonya Laila yang mendengar langkah kaki suaminya bergegas menghampiri suami dan putranya Daffa.


"Assalamualaikum mami!" Ucap dua lelaki tampan ini bersamaan.


"Waalaikumuslam sayang, muuah!" ucap Nyonya Laila seraya memeluk suaminya dan berganti memeluk putranya Daffa dengan satu kecupan di pipi dua lelaki yang sangat ia cintai ini.


"Mami apakah Nadia belum sadar?" Tanya Daffa yang sudah tidak sabar ingin mengetahui keadaan istrinya.


"Ayo duduk dulu, istirahat dulu, nanti mami jelaskan keadaan istrimu." Jawab Nyonya Laila yang tidak ingin terburu-buru menyampaikan kabar gembira dan sedih itu secepat mungkin kepada putranya.


"Mami tolonglah, mengapa mami tidak langsung menjawab, apakah ada sesuatu yang terjadi pada Nadia ketika aku umroh mami, apa jangan-jangan?" pikiran buruk Daffa seakan merasa istrinya telah tiada.


"Daffa jika kamu ingin mengetahui keadaan Nadia, mami mohon kesabaranmu setelah mendengarkan penjelasan mami untuk menjawab kegundahan hatimu.


"Tuhkan Nadia sudah meni...?"


"Hussstt!" sembarangan aja berpikir begitu, istrimu malah sudah sadar dan sudah sehat kembali jadi kamu..?" Belum selesai penjelasan maminya, Daffa sudah berlari ke arah tangga menghampiri istrinya yang dikira ada di kamar mereka.


"Nadiaaa!...Nadia..aku pulang sayang..nadi..? ucapnya terhenti setelah melihat kamarnya masih rapi dan di kamar mandi juga tidak ditemukan istrinya yang sudah ia rindukan itu.


Ayah dan ibunya ikut masuk ke kamar itu lalu meminta Daffa untuk berhenti mencari istrinya.


Akhirnya nyonya Laila menceritakan kronologi yang sebenarnya kepada putranya, seperti yang disampaikan oleh suster kepadanya tiga hari yang lalu, saat ia ingin membesuk menantu kesayangan itu di rumah sakit.


Daffa sangat menyesalkan perbuatan mertuanya itu, namun ia juga tidak bisa berbuat apa-apa, jika istrinya saja tidak berusaha berontak untuk menentang orangtuanya, apa lagi dia yang hanya sebagai anak menantu yang bukan menjadi impian mertuanya.


"Astagfirullah ya Allah, mengapa ujian ini masih saja betah dalam hidupku mami, ayah..hiks.. hiks!" ucapnya sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Ayo sayang kita sahur dulu, nanti kita diskusikan lagi bagaimana caranya menjemput Nadia di rumah orangtuanya, kamu harus sabar, mumpung ini bulan puasa lebih baik perbanyak doa dan hidupkan dzikir, sholat adalah bentuk dzikir yang tertinggi diikuti dengan membaca Alquran dan berdzikir dalam doa dengan menyebut nama-nama Allah ( Asmaul Husna) sesuai dengan yang kita pinta dan yang kita butuhkan, tidak perlu menyebutkan semua namanNya." Ujar mami Laila lalu menarik tangan putranya yang masih duduk di sisi tempat tidur.


Ketiganya turun kembali ke lantai bawah, tapi baru beberapa langkah menuju lantai bawah, terdengar tangis baby Hafiz. Daffa kembali ke kamar orangtuanya berlari menemui putranya yang belum sempat ia lihat karena putranya tidur di dalam kamar orang tuanya.


"Ya Allah sayang, kamu tahu kalau ayahmu sudah pulang hmm?" gumamnya sambil mengangkat babynya ke dalam pelukannya.


seakan tahu itu ayahnya, Hafiz sesaat melihat ayahnya dan tersenyum, menghentikan tangisnya dengan wajah bantalnya menatap ayahnya yang kini sudah menggendongnya.


"Kangen ya sayang sama ayah?" apa kabar anak ayah muaacch," Daffa mengecup pipi montok hafiz dengan gemas.


Keduanya sudah bergabung di meja makan bersama oma dan opa tercinta. Sahur bersama dengan orangtuanya membuat Daffa merasakan kehangatan kali ini usai pulang ibadah umroh. Ia lebih santun dan lebih lembut memperlakukan para pelayannya yang jarang ia sapa.


🌷🌷🌷


Dimalam hari ketika semua orang yang ada di mansion sudah siap untuk berangkat sholat tarawih, Daffa pamit ke orang tuanya ingin sholat ke salah satu mesjid yang ingin ia kunjungi. Orangtuanya mengizinkannya, tapi kali ini ia meminta Rio untuk menemaninya, kebetulan Rio yang sengaja di undang untuk buka puasa bersama mereka di kediamannya karena ingin bertemu juga dengan tuannya yang baru menjalani ibadah umroh.


Nadia yang baru pulang sholat tarawih dari mesjid berjalan menyusuri komplek perumahannya yang nampak sepi, tiba-tiba dari belakang tubuhnya di peluk seseorang sambil membekap mulutnya dan dibawa masuk ke mobil. Ia ingin meronta namun tangannya dikunci oleh orang itu dan menggiringnya ke dalam mobil. Saat sudah berada di dalam mobil ia yang ingin berteriak minta tolong membekap mulutnya lagi sambil matanya terbelalak setengah tak percaya siapa yang ia lihat di hadapannya.


"Mas Daffaaaa!" teriaknya langsung menghamburkan tubuhnya memeluk suaminya erat dan menangis haru. Air mata keduanya seperti hujan badai yang sudah bergemuruh karena tidak kuat menahan beban kesedihan yang bercampur kerinduan.


"Nadia sayang, tahukah kau bahwa saat ini aku sangat merindukanmu istriku, aku tidak bisa membendungnya lagi, aku tidak tahu caranya meminta kepada orangtuamu untuk kembalikanmu padaku, aku terpaksa melakukan ini sayang," ucapnya lalu menyuguhi satu kecupan mesra pada bibir gadisnya itu.


Nadia menikmati lum**an bibir suaminya yang sudah lama ia rindukan.


"Ah kemesraan mereka membuat jiwa jombloku meronta" ucap asisten Rio lalu memiringkan kaca spion dalam ke arah lain untuk menjaga privasi kedua insan yang lagi temu kangen ini.


Untuk menumpas kerinduannya, Daffa membawa istrinya ke hotel terdekat dengan komplek istrinya. Nadia yang mengerti bahwa suaminya yang saat ini sangat membutuhkannya, menuruti keinginan suaminya. Sekitar empat bulan


Daffa merindukan momen ini bersama istrinya.


Rio yang sudah merencanakan siasat ini untuk bosnya, sudah memboking kamar hotel untuk pasangan ini agar mereka bisa melepaskan kerinduan mereka tanpa ada orang lain yang menghalangi.


"Selamat ya bos!" Anda sudah menemukan kembali permaisurimu yang telah diculik dan kita harus menculiknya lagi sebelum kita kembalikan kepada pemiliknya." Ucap Rio ketika bosnya itu sudah membawa ratunya ke dalam kamar hotel yang sudah menunggu mereka untuk memadu kasih.


"Siasat yang romantis, penculikan yang menakjubkan, oh...mas Daffa, aku padamulah."