
Daffa memarkirkan mobilnya dihalaman mansion, menemui kekasihnya dengan setengah berlari. Nadia yang sudah rapi ingin kembali ke apartemennya menyambut suaminya yang sedang menghampirinya di ruang keluarga, padahal ia sudah diminta oleh nyonya Laila untuk tetap tinggal di mansion.
"Sayang maafkan aku membuatmu lama menunggu." ucap Daffa mengecup bibir istrinya dari balik cadar.
"Mas Daffa dari rumah sakit menjenguk kakek?" tanya Nadia yang sedang memperhatikan wajah suaminya yang nampak bahagia bukan sedih.
"Aku hanya menengoknya sebentar, aku ke sana ingin menemui ayahku saja." jawab Daffa apa adanya kepada Nadia.
"Apakah mas masih ingin mengungkit masa lalunya mami?" tebak Nadia dengan pertanyaan langsung ke inti permasalahannya.
"Benar sayang, dan Alhamdulillah aku sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaanku, cerita masa lalu mami tidak sesuai dengan yang dikatakan oleh keluarga besar ayahku selama ini." ucap Daffa yang kini sudah berada dikamar pribadinya bersama Nadia.
"Apakah aku boleh tahu sayang?" tanya Nadia hati-hati.
"Baiklah aku akan menceritakan kepadamu, tapi setelah itu berjanjilah untuk menjelaskan semuanya kepada abi dan ummi kamu, supaya mereka tidak lagi merasa malu memiliki besan seperti mamiku." pinta Daffa kepada istrinya itu.
"Insya Allah aku akan mengklarifikasi secepatnya kepada kedua orangtuaku tentang masalalu mami." janji Nadia dengan mimik serius.
Daffa mulai menceritakan semua apa yang ia dengar dari ayahnya pagi ini, tentang perjalanan kisah cinta orangtuanya. Nadia merasa sangat terharu mendengar penuturan suaminya tentang mami Laila. Ia merasa sangat bersyukur, jika mami Laila terlepas dari fitnah keji, yang selama ini melekat pada dirinya, karena mengalami amnesia sejak ia menikah dengan ayahnya Daffa. Pria tampan ini mengakhiri kisah ibunya lalu mencium lagi bibir sensual istrinya tanpa ada cadar dan jilbab yang sengaja dilepaskan lagi oleh Daffa.
"Mas Daffa aku sudah rapi, kitakan mau kembali apartemen." protes Nadia dengan wajah merenggut.
"Sayang, ada hal yang belum tuntas yang ingin aku dengar dari mami, bagaimana selama tiga bulan ini ia sudah mengingat lagi masa lalunya, tapi berusaha diam untuk tidak meminta pertanggungjawaban dari kakekku dan juga pada mertua ayahku dari istri pertamanya itu.
Jadi ku mohon kita bertahan dulu disini beberapa hari sampai aku benar-benar mendapatkan semua cerita tentang mamiku secara sempurna. Ini seperti puzzle yang belum tersusun rapi kisah mamiku.
Aku harus mengetahui segalanya dan mempersiapkan jalur hukum untuk menjerat kakekku itu dengan sobatnya yang saat ini terus bersembunyi diluar negeri." ucap Daffa dengan mengatupkan bibirnya menahan geram yang amat sangat kepada kakeknya dan juga kakek tirinya.
"Baiklah mas Daffa, kalau itu alasannya aku akan menuruti permintaanmu, cuma masalahnya aku tidak punya baju ganti untuk sehari-hari." tukas Nadia, tanpa mau menolak lagi permintaan suaminya.
"Aku sudah meminta mbok Ina untuk mengirim baju kita, mungkin sebentar lagi akan sampai. Selama kamu di sini, jangan pernah mengerjakan apapun kecuali melayaniku, semuanya biarkan pelayan yang melakukannya." titah Daffa memberi ultimatum kepada istrinya Nadia.
"Sayang, aku sedikit risih dan tidak bisa bebas membuka cadar kecuali ada di kamar kita sendiri." rengek Nadia yang tidak biasa membuka cadar di depan wanita lain.
"Tenang saja nanti aku akan meminta pelayan pria untuk tidak berada di dalam mansion selama istri tercinta aku ini bersamaku di sini." ucap Daffa lalu memagut lagi bibir Nadia.
Tidak lama pintu kamarnya diketuk oleh pelayan, Daffa beranjak dari kasurnya menghampiri pintu.
"Maaf tuan ini koper anda dan nona muda Nadia, mbok Ina sudah mengirimnya." ucap pelayan itu dengan wajah tertunduk.
"Terimakasih bibi, oh ya di mana mamiku?"
"Tadi katanya mau cari sesuatu untuk nona muda, mungkin sebentar lagi akan balik." ucap pelayan itu mengingat pesan dari nyonya besarnya.
"Ok, terimakasih!" jawab Daffa singkat.
Daffa menutup pintu kamarnya lagi, lalu menarik koper bajunya dan milik Nadia. Ia mengambil baju untuk Nadia. Seperti seorang bapak pada putrinya, ia menanggalkan baju Nadia dengan dress sederhana untuk Nadia bisa beraktivitas di dalam rumah. Kesederhanaan dress Nadia di bandrol dengan harga tiga juta hanya baju rumahnya saja.
Tapi Daffa tidak serta merta langsung memakaikan dress itu setelah baju Nadia dicopot, ia malah membuka pengait bh dan cd-nya yang masih melekat di badan Nadia. Tubuh Nadia yang makin hari makin berisi dengan perutnya yang mulai membesar serta dipadukan dengan payu**ra dan juga bok*ng yang montok, membuat daya tarik tersendiri untuk Daffa yang merasa Nadia lebih cantik dengan perubahan fisik yang terus merangsang matanya, untuk mengembara lagi ditubuh istrinya itu, seolah tidak pernah jenuh pada tubuh itu, yang ingin selalu ia jejali dengan berbagai macam posisi hanya untuk memuaskan birahi mereka.
"Sayang... mas Daffa..akkhhh...ssst!" Des**han Nadia seakan tidak ingin berhenti ketika suaminya terus menyiksanya dengan jilatan dan hujaman pada miliknya, hingga akhirnya nafas mereka bergemuruh manahan nikmat yang makin menggelora.
Daffa mengerang kencang ketika miliknya sudah menyiram laharnya ke calon bayinya di dalam sana, setelah itu ia merengkuh tubuh istrinya dan mencium perut buncit itu sambil dibelai lembut.
"Sayang semoga selalu sehat, jangan merepotkan bundamu, dan cepat datang menemui ayahmu ini," ucap Daffa membisikkan kata-kata manis untuk calon babynya.
Sambil berkata seperti itu tangannya tetap saja tidak bisa diam untuk memancing gairah istrinya dan permainan panas itu kembali berlangsung.
🌷🌷🌷🌷
Nyonya Laila yang baru pulang melihat Nadia dan Daffa yang masih ada di mansionnya sangat bahagia.
"Sayang kalian nggak jadi pulang?" tanya nyonya Laila, dengan wajah berseri-seri, iapun meminta pelayan untuk menyiapkan rujak
yang tadi dibelinya untuk Nadia.
"Kami sengaja menunggu mami pulang dan berniat untuk menginap di sini tiga hari." ucap Daffa seraya mencium pipi maminya.
"Tumben cium mami." ucap nyonya Laila meledek putranya.
"Daffa sangat sayang sama mami, terimakasih mami, sudah menjadi ibu terbaik untuk Daffa." ucap Daffa menatap mata ibunya yang selama ini ia rela tersakiti oleh keluarga ayahnya.
"Kita pindah di taman belakang saja, untuk menikmati rujaknya." ajak nyonya Laila kepada putra dan menantunya itu.
Mereka pindah ke taman belakang yang penuh dengan pepohonan yang rindang dan juga taman bunga yang bermekaran di sekeliling taman tersebut. Keasrian taman yang cukup luas itu menambah kesejukan ketika terik mentari siang itu hampir membakar kulit jika tidak terlindungi dengan pepohonan yang ada di taman itu.
Daffa meminta para pelayan meninggalkan mereka bertiga, agar lebih menjauh dari tempat di mana mereka bisa leluasa untuk mengobrol sesuatu yang sangat penting antar keluarga. Para pelayan itu, terlebih dahulu menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh majikannya lalu meninggalkan taman itu menjauhi keluarga itu yang sedang membahas hal yang sangat pribadi.
Mereka bertiga menikmati rujak buah yang dari tadi sudah berada dihadapan mereka. Daffa yang lebih banyak makan buah itu ketimbang istrinya yang saat ini lagi hamil. Nadia sengaja menyuapkan rujak itu untuk suaminya. Setelah dirasanya cukup Daffa mulai membuka pembicaraan yang lebih serius kepada maminya tentang masalah yang sama yang ia bahas dengan ayahnya hari ini.
"Mami bolehkah Daffa mengetahui masalalu mami dari lisan mami sendiri, tanpa Daffa harus mendengarkannya dari orang lain, itupun jika mami bersedia membagi cerita itu dengan kami, supaya masa depan keturunan kami tidak dianggap sebagai keturunan dari hal yang memalukan, yang akan dituduhkan kepada mereka dari nyinyiran orang, itu juga kalau mami mau menyelamatkan reputasi keluarga ini, terutama aku sebagai putra mami." ucap Daffa dengan permohonan tulus kepada maminya.
Nadia membuka cadarnya, ia pun mengangguk dengan wajah berharap kepada ibu mertuanya yang sangat ia sayangi ini.
"Mami kami mohon memberikan klarifikasi masalalu mami semuanya, agar tidak ada lagi berita yang simpang siur yang akan menghukum generasi penerusnya, komentar netizen begitu menyakitkan yang akan melukai hati kami. Daffa hanya takut jika ada orang yang awalnya mereka hormati kita, tapi malah berbalik menggigit kita, ketika tahu orang yang selama ini mereka sanjung ternyata tidak sesuai yang mereka harapkan." timpal Nadia mencoba membujuk Mami Laila yang masih bungkam soal masa lalunya.
Nyonya Laila nampak berpikir sambil terus menerus menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan nafasnya dengan halus, ia juga sangat tidak menyangka jika putranya masih saja penasaran dengan jalan hidupnya usai pertengkaran yang baru terjadi semalam antara ayah dan kakeknya Daffa.
Ia juga bingung dengan keadaan ini, karena penjahat sebenarnya adalah dua orang terdekat yang tidak lain mertuanya dan ayah mertua dari suaminya yaitu ayahnya Maya istri pertama tuan Edy.
Jika ini di bongkar dan ditindaklanjuti maka proses hukum harus ditegakkan, bagaimana dengan nasib perusahaan bagaimana nanti jika dunia luar melihat kekacauan ini, bagaimana sakit yang akan diderita keturunannya, bukan itu sama saja makan buah simalakama. Ini yang saat ini sedang ia pikirkan baik buruknya ketika rahasia ini harus diungkapkan dihadapan publik jika tercium oleh awak media. Iapun kemudian bertanya kepada menantunya Nadia.
"Mami, jika itu terjadi berarti itu sudah menjadi hukuman yang pantas untuk mereka, lagi pula bukan saja hanya keluarga kita yang merasakan bagaimana orang terdekat kitalah yang justru menghancurkan hidup kita. Contohnya paman Rasulullah yang setiap kali menghujat Rasulullah yang mengatakan beliau adalah orang gila.
Bagaimana dengan nabi Ibrahim yang memiliki ayah seorang pembuat patung untuk disembahnya dan juga kaum lain yang mengikuti ajaran yang sama di masa itu, apakah keturunan mereka akan dipermalukan di masa depannya? dan banyak sekali kisah-kisah yang memalukan pada keluarga para nabi dan sahabat di masa itu tetapi mereka tetap mulia namanya sampai saat ini dan Allah melindungi anak keturunan mereka dari orang-orang yang berhati dengki." tutur Nadia dengan penuh hikmah, menjawab pertanyaan ibu mertuanya dengan ilmu, membandingkan orang-orang besar dan hebat yang justru jabatan mereka langsung dari Allah sebagai nabi dan rasul.
"Baiklah sayang jika ini menjadi pertimbangan kalian berdua melihat masalah ini, maka mami akan menuntaskannya dan mami bersedia menceritakan ini kepada kalian dan juga pada hukum sekalipun.
FLASH BACK ON
28 tahun yang lalu, saat itu usia Laila baru menginjak 22 tahun, malam itu kejadiannya sangat cepat, tuan Hermanto dan tuan Subandrio bertamu di rumah tuan Indra Kusuma yang merupakan ayah kandung dari Laila.
"Tuan Indra apakah kamu bersedia menanam sahammu kepada perusahaan kami?" tanya tuan Hermanto.
"Aku akan memikirkannya dulu sebelum memberikan kalian keputusan yang tepat. Tapi tidak apa, aku akan mempelajarinya terlebih dulu kontrak kerjasama kita, apakah saling menguntungkan satu sama lain atau tidak." jawab tuan Indra Kusuma dengan tenang.
"Kami jamin tiga bulan ke depan perusahaan kami akan mengalami progres yang menjanjikan." jawab tuan Subandrio.
"Apa jaminan kalian untukku jika itu tidak sesuai dengan wacana yang yang di interpretasikan oleh kalian."
"Perusahaan kami jadi jaminannya jika proyek kami akan gagal ke depannya." jawab tuan Hermanto.
Tidak lama terdengar dering telepon rumah, tuan Indra menerima telepon itu.
"Selamat malam bos, tolong jangan terima kerja sama yang diajukan oleh tuan Hermanto dan tuan Subandrio, perusahaan lain tidak ingin bekerja sama dengan mereka karena perusahaan mereka sudah pailit."
"Baiklah terimakasih untuk informasinya."
"Maaf tuan Subandrio dan tuan Hermanto untuk saat ini saya belum bersedia kerja sama dengan kalian karena perusahaan saya juga belum mau membuka diri dengan perusahaan lain.
"Apa?" baru saja kamu menyetujuinya mengapa sekarang kamu malah ingin membatalkan perjanjian kita barusan.
"Maafkan saya, saya rasa kita tidak perlu membahas ini lebih lama, saya mohon maaf saya rasa anda tahu jalan pulang, permisi selamat malam.
"Bajingan sialan!"
"Aaaaaaaaa!" brakkk!"
Tubuh tuan Indra Kusuma jatuh darah mengalir dari kuping dan pelipisnya. Laila dan ibunya keluar dari kamar menghampiri tubuh itu namun, mereka melihat dua orang itu turun untuk menangkap mereka.
"Sayang Laila lari nak, tinggalkan rumah ini," ucap nyonya Alea ketakutan.
"Tapi mami, Laila takut.
"Jika kamu di sini kita semua akan mati terbunuh lariii Laila akkh!" teriak nyonya Alea dengan menahan sakit karena rambutnya dijambak oleh tuan Hermanto.
"Dasar ja**ng, kamu ingin di hukum sayang?" ucap tuan Hermanto sambil menggeret tubuh istri sahabatnya itu ke sofa.
Dalam sekejap bajunya nyonya Alea di tarik dengan kasar sehingga sobekan baju itu memperlihatkan tubuhnya yang mulus.
"Pegang dia Subandrio, aku ingin menikmati tubuh mulus ini, ha..ha..ha!" tawa tuan Hermanto terdengar menyeramkan.
"Jangan tuan, ku mohon lepaskan saya, jangan sakiti saya.
Tidak ada rasa iba dihati kedua iblis ini, dengan cepat dan bringas tubuh mulus itu diperkosa oleh mereka. Laila yang kembali lagi mendengar teriakan ibunya menyaksikan adegan kekerasan itu, ia menangis dengan tubuh yang basah kuyup dengan perasaannya yang gemetar, sialnya saat itu ia menyenggol guci yang ada sekitar ruang tamu itu. "Mamii!" ucap Laila sambil membekap mulutnya menahan tangis dan..
"Prakkk!" bunyi pecahan guci itu menggema dengan selesainya pemerkosaan kepada ibunya oleh tuan Hermanto.
Gadis itu berlari dalam keadaan ketakutan membelah hujan deras dengan petir menggelegar. Tubuh ibunya dibiarkan telan**ng bulat. Tuan Hermanto menelepon anak buahnya untuk mencari Laila. Karena malam itu masih suasana lebaran, jalanan ibukota kota yang lengang, para ART pada mudik hingga keluarga itu hanya tersisa sopir pribadi tuan Indra Kusuma yang terpaksa dijadikan tersangka oleh tuan Hermanto. Lelaki bodoh dan lugu itu, tidak bisa berbuat apa-apa ketika keluarganya juga diancam dan dibunuh jika dia tidak bersedia menjadi tersangka oleh tuan Hermanto dan tuan Subandrio.
"Hei kamu sini!" teriak Hermanto kepada pak Anton yang baru datang menghampiri tempat kejadian itu dengan tubuh yang tampak kaku dan gemetar karena menyaksikan kejadian malam itu yang mengerikan.
"Kamu mau kehidupanmu lebih baik dengan memiliki harta berlimpah?" tanya tuan Hermanto dengan wajah sinis.
"Maaf tuan, saya tidak mengerti maksud anda." jawab pak Anton dengan bibir gemetar.
"Kamu mau bersedia bertanggung jawab atas kematian majikanmu? tanya tuan Hermanto dengan nada intimidasi.
"Apa?" tidak, jangan tuan saya tidak mau, kalianlah yang telah membunuh tuan...?
"Diam!" atau kamu mau aku membunuhmu dan keluargamu juga?" aku tahu di mana kamu tinggal, jika dalam satu menit aku bisa perintahkan anak buahku untuk membunuh anak dan istrimu di kampung, mengerti!" bentak tuan Hermanto sengit.
Air mata pak Anton berderai tanpa henti dengan tubuhnya yang gemetar antara takut melihat mayat majikannya dan juga ketakutannya dengan ancaman kepada keluarganya oleh tuan Hermanto dan tuan Subandrio. Ia pun terpaksa menerima perjanjian itu karena orang sepertinya hanya sebagai tempat untuk dihina oleh orang-orang seperti tuan Hermanto dan tuan Subandrio Diningrat.
Laila yang ingin melarikan diri mencari pos polisi terdekat dengan bertelanjang kaki, tidak sadar saat menyebrang jalan, tubuhnya hampir ditabrak oleh mobil, saking shocknya iapun kemudian jatuh pingsan.
Sreeeeettttt!" deritan rem mobil itu berhenti mendadak karena hampir menabrak seorang.
"Hei, kamu mau membunuhku ya?" ucap mami Endah.
"Maaf nyonya sepertinya kita menabrak seseorang." ucap sopir mami Endah.
"Apaa?" coba kamu periksa Robby!" titah mami Endah kepada bodyguardnya ini.
Body guard itu pun turun melihat keadaan seseorang yang hampir mereka tabrak itu. Body guard itu memastikan apakah nafas gadis itu masih ada atau tidak, ia kemudian membopong tubuh itu membawanya ke dalam mobilnya. Laila yang tidak tahu lagi ketika tubuhnya di tolong oleh seseorang yang tidak ia kenal yang masih sedikit sadar tapi sangat lemah sampai kesadarannya pun hilang seketika.
Bersambung..
🔥 Terimakasih yang sudah membaca sampai episode 38 ini, jika kalian ingin membaca lanjutannya mohon kesabarannya dan saya juga mohon votenya. Kalau sempat tolong mampir ke judul novel pertama author ya OBAT JIWA CEO, ceritanya insya Allah juga bagus. Terimakasih yang sudah memberikan aku vote, hadiah dan like 🔥