
Daffa masih terus memohon pada Nadia yang mulai goyah dengan pendiriannya. Antara cinta atau bakti pada kedua orang yang sangat ia cintai.
"Nadia ingatlah di mana masa-masa indah saat kita bersama, saat dua orang asing yang dipertemukan dalam pernikahan tanpa mengenali kepribadian masing-masing. Kamu sangat sabar menghadapi sikapku yang sangat arogan, egois dan bejat. Diam-diam aku mengagumi akhlakmu, kamu tidak mendikteku atau mengadu sedikitpun perbuatanku pada mamiku, kamu yakin karena hatiku akan berpaling padamu, Nadia aku jatuh cinta pertama kali karena kesabaranmu yang membuatku luluh, karena ibadahmu membuatku takluk dan karena ragamu membuat hatiku menjadi kebal pada wanita lain.
Kecantikanmu menutupi semua pintu maksiat yang selalu aku datangi. Kamu menyihir jiwaku, jujur Nadia, aku rela menukarkan hartaku hanya ingin mendapatkanmu. Aku hanya memiliki satu jiwa untuk mencintai hatimu, selain itu diatas segalanya aku memiliki keyakinan atas Tuhanku bahwa kamu tetap milikku, jika kamu berubah pikiran, aku menunggumu di pesawat malam ini sayang, datanglah padaku, kembalilah atas nama cinta kita. Hiduplah bersamaku Nadia, kami berdua membutuhkanmu, tidakkah kau merindukan diriku saat ini wahai penyejuk hatiku?" Daffa menggenggam tangan Nadia yang sudah dihiasi hena.
"Mas Daffa aku tidak tahu harus berkata apa kecuali kuatkan doa kita, satukan batin kita, ingatlah, jika kita merengek tidak akan mendapatkan apapun, tapi jika kita mendatangi Allah yang membolak-balikan hati hambaNya, insya Allah ada keajaiban terjadi malam ini. Aku tidak bisa berjanji padamu tapi aku yakin Allah tidak akan ingkar janji pada hambaNya yang berserah diri atas ujian yang menimpanya, seperti doa nabi Ibrahim tat kala ia akan dibakar oleh raja Namrud. Saat itu malaikat Jibril meminta pada nabi Ibrahim agar nabi Ibrahim meminta tolong padanya untuk memadamkan api yang sudah menyala, tapi nabi Ibrahim menjawab aku tidak butuh kamu wahai Jibril, karena aku hanya butuh Tuhan ku Allah SWT yang akan membebaskan aku dari kobaran api ini. Itulah bentuk kepasrahan seorang hamba pada Tuhannya Allah." Ucap Nadia meyakinkan mantan suaminya ini.
Tidak lama Rima menghampiri lagi Nadia dengan hati hancur berkeping-keping.
"Nadia, mempelai pria sudah datang," ucap Rima dengan mata yang sudah sembab karena melihat lagi lelaki impiannya yang selama ini menjadi tumpuan harapan untuk hidup bersamanya.
"Mas aku harus keluar menuju tempat pernikahan." Ucap Nadia seraya mencium tangan Daffa sambil berurai air mata.
Daffa tidak kuat lagi menahan dirinya, iapun memeluk gadisnya di depan Rima sahabat Nadia. Rima melihat adegan haru itu makin tercekat. Iapun ikut menangis hingga akhirnya pintu kamar ganti itu diketuk oleh Fadhlan yang menjemput kakaknya karena penghulu sudah menunggu. Daffa langsung melepaskan Nadia untuk pergi ke tempat acara pernikahannya.
"Nadia aku tidak akan pernah putus asa untuk menunggumu datang menemuiku di pesawat." Ucap Daffa lalu keluar duluan sebelum ada yang melihat mereka berdua di ruang ganti itu kecuali Fadhlan dan Rima yang ikut terharu.
Sementara di ruang pertemuan hotel, sudah banyak para tamu undangan dan kerabat yang akan menyaksikan pernikahan megah Farhan dan Nadia. Fadhil selaku wali nikah untuk kakaknya sedang menggendong ponakannya Hafiz.
"Ini bayinya siapa Fadhil?" Tanya Farhan yang melihat Fadhil sedang menikmati momen kebersamaan dengan ponakan kesayangannya.
"Ini putranya mbak Nadia" ucap Fadhil acuh pada calon kakak iparnya ini.
"Boleh aku menggendong anakku?" Tanya Farhan yang ingin berkenalan dengan Hafiz.
Fadhil menyerahkan ponakannya pada Farhan namun Hafiz tidak ingin digendong oleh Farhan, ia malah memeluk kuat leher pamannya.
"Hei jagoan, boleh kita berkenalan?" Goda Farhan pada bayi tampan dan montok itu.
"Nggak mau" ucap Hafiz sambil menggelengkan kepalanya.
Hafiz mengenali bundanya walaupun sudah menggunakan cadarnya.
"Bunda ayo kita pulang ke ayah" ajak Hafiz pada bundanya.
Nadia makin erat memeluk putranya. Tidak lama kemudian acara pun dimulai. Daffa dan Rio meninggalkan hotel itu dan memilih kembali ke pesawat. Hanya Nyonya Laila dan Tuan Edy duduk di antara kursi para undangan. Ummi Kulsum dan Tante Mirna sibuk bercengkrama dengan calon besan mereka.
Tibalah acara pembukaan pertama yaitu pembacaan Al-Qur'an yang dibacakan oleh Fadlan. Kemudian di lanjut dengan acara sakral yaitu pembacaan ijab kabul. Hafiz yang digendong oleh Rima yang ikut duduk dekat Nadia mulai menangis. Sudah berkali-kali di diamkan oleh Rima bayi satu tahun setengah ini terus membujuk bundanya. Suasana hening dan hikmat nampak kental terasa di ruangan itu.
"Bunda kita pulang....aaaaa...hiks...hiks, ayo bunda kita pulang....bundaaa, kita pulang,... bundaaa!" Tangisan Hafizh yang menyayat hati lebih dominan di acara pernikahan tersebut membuat para tamu mulai terganggu, Farhan nampak gelisah dengan tangisan calon anak sambungnya tersebut.
Fadil sudah dua kali membaca kalimat ijab kabul tersebut, namun belum juga ditanggapi oleh Farhan. Nafas pria ini mulai sesak, berulang kali ia menelan liurnya karena tidak tahan mendengar tangis Hafiz. Nadia dan Rima tidak berhenti berdzikir agar acara pernikahan ini gagal dengan sendirinya. Hafiz makin meraung-raung memanggil bundanya. Orangtuanya Daffa juga terus bermunajat kepada Allah agar pernikahan itu dibatalkan.
Ummi Kulsum mulai gelisah karena Farhan tidak kunjung mengucapkan kalimat ijab kabul. Semua tamu saling menatap dan mulai berbisik mengapa mempelai pria seperti gagu untuk mengucapkan ijab Kabul. Ayah Farhan bangkit menghampiri putranya dan menanyakan mengapa Farhan tidak mau menyambut ucapan Fadhil. Entah mengapa lidahnya menjadi kelu sulit untuk mengucapkannya. Hingga akhirnya ia pun bangkit dan berkata lantang kepada keluarga mempelai wanita.
"Assalamualaikum para hadirin semuanya, mohon maaf saya tidak bisa meneruskan pernikahan ini. Saya tidak bisa mengambil tempat di hati calon istri saya Nadia dan juga putranya Hafiz. Saya mohon maaf Abati dan ummi karena saya tidak ingin menyakiti hati siapapun. Saya yakin Nadia tidak mencintai saya. Daripada pernikahan ini dipaksakan itu akan mengakibatkan biduk rumah tangga yang kami bina tidak akan sakinah mawadah warahmah. Untuk itu saya bebaskan kamu Nadia." Ucap Farhan dengan berbesar hati membuat Fadil bersyukur dan para tamu undangan bertepuk tangan ketika mendengar pengakuan seorang khasatria mengalah demi seorang putra dari wanita yang sangat ia cintai.
Tangis Hafiz seketika berhenti. Disitulah keajaiban Allah sedang bekerja. Para tamu undangan baru mengerti dengan adegan mengharu biru dengan peristiwa langka ini. Nadia dan Rima serta kedua orangtua Daffa bernafas lega. Mereka pun saling berpelukan. Ummi Kulsum dan Tante Mirna hanya termangu di tempatnya.
"Nadia apakah kamu mau pulang sekarang?" Tanya Rima antusias.
"Pergilah nak, kejarlah cinta sejatimu, Ummi ikhlas melepaskanmu, kembalilah ke ayah Hafiz pasti dia sedang menunggumu." Ucap ummi Kulsum yang mulai mencair keegoisannya.
"Ummi!" Panggil Nadia lirih, seakan tidak percaya dengan apa didengarnya.
"Allah telah memperlihatkan kekuasaanNya pada ummi hari ini melalui cucuku Hafiz. Maafkan ummi nak sudah menyakiti hatimu selama ini. Ummi harap kamu tidak akan membenci ummi." Ucap Ummi Kulsum bersimbah air mata.
"Terimakasih banyak ummi, semoga Allah akan mengampuni semua dosa-dosamu. Nadia sangat bangga memiliki Ummi.
Keduanya saling berpelukan. Hati Rima seketika lega. Nadia menggendong putranya Hafiz. Bayi montok itu makin tenang dalam pelukan bundanya.