SADURAN KITAB CINTAKU

SADURAN KITAB CINTAKU
30. HUJATAN


Di Jakarta Indonesia, tuan Fahri yang sudah duduk diruang tamu, nampak meneliti setiap perabotan rumah, milik ustadz Aditya yang lebih di dominasi oleh rak buku-buku agama Islam dan juga deretan piala prestasi satu keluarga itu, yang tersusun rapi di lemari kaca.


Tidak ada barang mewah lainnya yang ada di ruang tamu itu, selain sofa kulit yang berwarna hitam dengan meja sebagai pelengkap kebutuhan, untuk para tamu yang selalu mengunjungi ustadz Aditya untuk menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan kajian Al-Qur'an dan hadits.


"Maaf tuan, siapa anda dan apa gerangan kedatangan anda untuk menemui saya?" Tanya ummi Kulsum kepada tamunya ini.


"Oh maaf nyonya, perkenalkan nama saya Fahri, saya adalah ayah Anjani, mertua Daffa, mantan suami putri anda Nadia, dan saya sepupu dari istri pertama tuan Edy Subandrio Diningrat yang merupakan ayah kandung Daffa." Jelas tuan Fahri kepada Ummi Kulsum dalam memperkenalkan dirinya kepada umminya Nadia.


"Lantas apa kepentingan anda bertamu ke rumah saya tuan Fahri?" Tanya ummi Kulsum yang sedikit tidak merasa nyaman dengan tuan Fahri.


"Begini nyonya, sudah satu minggu ini Daffa tidak berada di Indonesia, kabar yang saya dengar Daffa saat ini, ia sedang mengunjungi mantan istrinya, yaitu putri anda Nadia ke Turki dan meninggalkan putri saya yang saat ini sedang hamil tua. Ia lebih memilih mendampingi putrimu dari pada putri saya. Apakah anda mengajar putri anda Nadia, untuk belajar merebut suami orang lain?" tanya tuan Fahri dengan sinis kepada ummi Kulsum yang hanya menundukkan kepalanya.


"Maaf tuan, saya belum tahu kebenarannya mengenai kabar yang anda dengar dari siapapun itu, jika itu memang benar adanya, itu diluar wewenang saya karena Nadia tidak berada di Jakarta. Satu hal yang perlu anda ketahui, bahwa siapa yang merebut siapa, anda sendiri yang sangat tahu jawabannya bukan saya." ucap Ummi Kulsum yang kelihatan tetap tenang menanggapi pertanyaan bodoh dari tuan Fahri.


"Ha..ha..ha!" rupanya anda dan suami anda sudah tertutup mata hatinya, yang menerima begitu saja pinangan ibunya Daffa, untuk menikahkan putri anda yang alim itu dengan anak seorang mantan pelacur, apakah kalian sudah menelusuri latar belakang siapa sebenarnya nyonya Laila, yang merupakan seorang mantan pelacur memiliki anak haram yang kalian jadikan ia sebagai suami untuk putri anda?" Tidakkah kalian merasa malu, jika jamaah kalian tahu, kalau kalian pernah berbesanan dengan seorang mantan pel*cur, bukankah itu akan menghancurkan reputasi kalian sebagai keluarga, yang dianggap paling sholeh oleh jamaah kalian nyonya?" Tanya tuan Fahri yang saat ini sedang menghasut nyonya Kulsum agar menjauhkan putrinya dengan Daffa.


"Anda jauh-jauh dari rumah anda datang ke sini, hanya untuk membuka aib orang lain yang juga merupakan besan kamu dan menantu kamu yang merupakan putra seorang pel*cur juga saat ini kamu menerima dia, karena putrimu yang saat ini sedang mengandung cucumu yang sebagian darahnya sudah tercampur dengan darahmu, yaitu cucu seorang pel*cur." Ucap Ummi Kulsum sarkas membungkam mulut besar tuan Fahri.


"Sia*n!" Berani juga nih perempuan mengatai ku seperti itu."Ucapnya membatin dengan mengepalkan tangannya menahan geram.


"Apakah masih ada lagi yang anda ingin sampaikan kepada saya tuan Fahri?" Tanya ummi Kulsum kepada tamunya yang menjengkelkan ini.


"Waktu saya terlalu berharga untuk berlama-lama berada di sini nyonya, lebih baik saya pamit." Ucap tuan Fahri yang merasa dirinya juga sudah dipermalukan oleh ummi Kulsum.


Niatnya yang ingin menjatuhkan keluarga ini, malah berbalik menyerangnya. Iapun masuk ke dalam mobilnya, dengan membanting pintu mobil itu dengan sangat keras sebagai luapan emosinya.


🌷🌷🌷


Keesokan harinya, pesawat komersial yang ditumpangi Daffa dan Nadia akhirnya landing di bandara internasional Soekarno-Hatta Cengkareng. Keduanya sama-sama menuju ke ruang kedatangan dengan berjalan berdampingan. Daffa sangat setia memperhatikan cara jalan Nadia yang sedikit agak lamban karena kehamilannya yang masih muda, perlu hati-hati saat beraktivitas yang berat walaupun itu hanya jalan kaki. Dalam hati Daffa, ingin rasanya ia menggendong Nadia jika Nadia mengizinkannya, tapi lagi-lagi Daffa menahan hasratnya untuk tidak melakukan sesuatu pada Nadia sebagai bentuk cintanya pada gadis ini.


"Nadia, aku yang akan mengantarmu pulang, karena ini masih jam satu pagi." ucap Daffa menawarkan dirinya untuk mengantar Nadia. Gadis cantik ini hanya mengangguk karena ia juga ingin merasa nyaman sampai pulang ke rumahnya dengan diantar oleh lelaki yang masih mencintainya ini.


Mobil Daffa sudah berada dihalaman parkir bandara karena sudah dititipkan di bandara oleh Rio asistennya. Mereka akhirnya masuk ke mobil itu dengan sudah memasukkan barang bawaan mereka di bagasi mobil. Mobil itu kembali melaju kencang menuju kediaman Nadia terlebih dahulu.


Tapi sebelum memasuki gerbang pintu masuk perumahan tempat tinggal Nadia, Daffa menghentikan mobilnya karena ia masih merindukan gadisnya. Ia merasa seakan tidak ada lagi kesempatan bersama dengan Nadia, jadi sebelum gadis ini sampai di rumahnya, Daffa ingin bicara banyak kepadanya. Ketika Daffa baru memulai bicara dengan Nadia, ada panggilan masuk dari maminya, Daffa menerima panggilan itu seraya membuka pintu mobil agar ia bisa berbicara dengan ibunya lebih leluasa tanpa merasa Nadia terganggu. Setelah beberapa saat pembicaraan mereka berakhir, Daffa kembali ke mobil ingin meneruskan pembicaraannya lagi dengan Nadia.


"Ini yang akan terjadi jika kita terus bersama, kamu bahkan tidak bisa menjawab dengan nyaman ketika menerima telepon dari mamimu." ucap Nadia.


"Aku merasa baik-baik saja, lagipula mami senang jika aku bersamamu saat ini."


"Mengapa kamu menghentikan mobilmu di sini, bukankah kamu ingin mengantarkan aku sampai tujuan?"


"Sebentar sayang, ada yang ingin aku tanyakan padamu, sebelum kita kembali berpisah." ucap Daffa yang memohon Nadia untuk mendengarkan dirinya sesaat saja.


"Baiklah apa yang ingin kamu bicarakan?" jangan terlalu lama menahanku di sini.


"Nadia, mengapa kamu terus mencari alasan untuk menolak niat tulusku hanya sekedar menyenangkan hatimu?" tanya Daffa yang saat ini menghadap ke arah Nadia.


"Karena kamu terlalu berharga untukku, jika aku mengijinkan apa yang kamu kehendaki atas diriku dengan dalih ketulusan, maka aku sedang menjerumuskan dirimu kedalam api neraka.


Karena aku juga sangat mencintaimu, tapi hanya kamu mencintai seseorang bukan berarti kamu harus mempertahankannya."


ucap Nadia sambil memainkan jari jemarinya


"Tapi, itu bukan alasan baik untuk merelakan hubungan kita, cinta yang kita bangun selama ini, tidak mungkin berakhir begitu saja dengan kata cerai sayang." Ucap Daffa masih dengan argumennya.


"Pernikahan bukanlah hal yang akan melengkapi cinta, saling berjanji untuk mencintai selama masa pernikahan, tidak menjamin cinta itu ada selamanya di hati kita. Cinta tahu kapan harus merelakannya.


Merelakannya adalah bentuk lain dari cinta.


Aku tahu betapa jujur dan tulusnya kita, saat menghabiskan waktu bersama, yang sangat penting kita berbagi momen itu tidak akan membuat kita menyesal." ucap Nadia memberikan pengertian kepada Daffa.


"Sejak pertama kali kita bertemu hingga saat ini, aku tidak menyesal sama sekali. Kamu berbicara soal merelakan setelah kita mencoba semua yang kita bisa. Jika masih tidak berhasil, maka kamu bisa berhenti. Di saat itulah aku akan memberikan jawabanku." ucap Daffa, lalu kembali menjalankan mobilnya ke arah kediaman Nadia.


Mobil sudah berada tepat di depan pagar rumah Nadia, gadis ini meminta Daffa untuk menemui keluarganya terlebih dahulu, supaya umminya tahu kalau ia dijaga Daffa dengan sangat baik.


Daffa menyanggupinya, lalu iapun mengikut langkah Nadia sambil membawa koper Nadia yang ada di bagasi mobilnya. Rupanya umminya sudah bangun dan baru menyelesaikan sholat tahajudnya. Karena mendengar ada yang datang, ia buru-buru menemui orang yang dia yakin itu adalah putrinya Nadia, ternyata benar dugaannya, Nadia sudah berada dibalik pintu menunggu umminya membukakan pintu untuknya.


"Assalamualaikum Ummi." ucap Nadia lalu mencium punggung tangan umminya.


"Waalaikumuslam, akhirnya kamu pulang juga sayang, bagaimana keadaanmu, kata Andini kamu sempat sakit ketika berada di Istanbul Turki?" Tanya ummi Kulsum, lalu menyuruh Nadia masuk.


"Ummi ada mas Daffa juga di sini, boleh dia masuk ummi?" tanya Nadia meminta ijin umminya.


Rupanya kehadiran Daffa tidak menguntungkan dirinya di rumah Nadia. Wajah Ummi Kulsum terkesan tidak bersahabat menatap tajam wajah mantan menantunya ini. Tanpa di pinta masuk, Daffa sudah berada di ruang tamu itu. Ia pikir keluarga ini tidak keberatan jika ia akan selalu diterima dengan baik di keluarga Nadia.


"Untuk apa kamu menemani Nadia di Istambul?" Dia masih memiliki keluarganya yang bisa menjaganya dengan baik, lagi pula kamu bukan lagi suaminya." ucap Ummi Nadia dengan nada datar.


"Maaf ummi, saya hanya ingin memastikan Nadia aman bersama saya, selagi kami berada di Istanbul. Walaupun begitu Nadia masih dalam masa Iddah, jika kami mau, kami bisa rujuk kapan saja, apa lagi saat ini Nadia...?


Belum juga Daffa menyelesaikan kata-katanya, ummi Kulsum langsung melabraknya dengan kata-kata yang sangat menyakitkan.


"Cukup, aku tidak butuh penjelasanmu, bagaimana kamu disana merawat putriku selagi ia dalam keadaan sakit. Aku dengar kamu adalah putra dari seorang pel*cur?" tanya ummi Kulsum dengan nada ketus.


Degg!" jantung Daffa rasanya mau loncat dari tempatnya berdiri.


"Iya, itu benar?" ucap Daffa dengan santun tanpa ekspresi marah sedikitpun kepada ummi Kulsum.


"Cih!" Wanita itu datang melamar putriku dengan penampilannya yang sangat berkelas, ternyata dia hanya mantan seorang pel**ur, yang ingin menikmati kekayaan ayahmu dengan hidup bergelimang an harta." ucap ummi Kulsum sambil menarik sudut bibirnya tersenyum menatap wajah Daffa.


"Ada apa ini ummi, mengapa ummi mengatakan itu pada mas Daffa?" tanya Nadia yang ingin menghentikan ucapan ibunya yang sudah menyinggung perasaan Daffa.


"Mas Daffa aku mohon kamu pulang sekang, jangan menggubris perkataan ummi tentang mami." Titah Nadia dengan wajahnya yang sudah menegang melihat umminya menghujat Daffa tanpa perasaan.


"Apakah kamu pikir ini masuk akal, menceraikan putriku, lalu menikah lagi dengan gadis yang lain, yang telah dihamili olehmu?" Dan sekarang kamu ingin lagi mendekati putriku, apa yang kamu inginkan, setelah kamu menghancurkan hidupnya dan sekarang ingin lagi mendekati putriku, dan ingin mengajaknya rujuk, karena itukah menurutmu ini tidak apa-apa?" ucap ummi Kulsum tanpa mengindahkan kata-kata putrinya.


"Ummi, cukup ummi tolong jangan diteruskan!" pekik Nadia histeris menyadarkan umminya yang terus menghujat Daffa tanpa jeda.


"Begini, aku tidak sudi lagi memiliki menantu dari anak seorang pel*cur, beraninya kamu berpikir kamu pantas memiliki putriku lagi." ucap ummi Kulsum kepada tamunya yang saat ini mendengar makian darinya dengan tenang.


"Maafkan aku mas Daffa, aku ingin minta maaf atas perilakunya." ucap Nadia yang ingin meleraikan umminya yang terus memaki Daffa.


"Biarkan ummi berbicara Nadia, tidak apa-apa bagiku, karena aku sudah terbiasa dengan ancaman dan hujatan yang sama dari keluarga ayahku tentang ibuku." Ucap Daffa yang masih merasa tenang menanggapi hujatan ummi Kulsum kepada dirinya.


"Ummi, hentikan ini, jangan lakukan ini pada mas Daffa, kita tidak tahu apa yang terjadi dengan kehidupan mami Laila, tolong jangan menghukumnya, atas kesalahan ibunya yang seharusnya ia tidak pantas menerimanya." pinta Nadia yang sudah kewalahan mengatur menenangkan ibunya.


"Aku mungkin tidak bisa memberikan kehidupan yang layak untuknya, tapi aku membesarkannya dengan penuh kasih sayang, kami hanya keluarga sederhana, yang hanya mengerti mana yang halal dan mana yang haram untuk kami lakukan, apa lagi menilai dan memilih sebuah hubungan yang harus sesuai dengan moral dan reputasi yang kami junjung selama ini." Timpal ummi Kulsum yang belum puas menghujat mantan menantunya ini.


"Ummi, jangan merasa kita ini sudah hebat dalam beramal, kita belum tahu apakah kita dijamin di akhirat nanti dengan amal kita yang masih berantakan dan bahkan hisab kita mungkin akan terasa menegangkan disana dan kita tidak tahu, berapa ratus tahun kita harus melewati sirotul mustaqiem untuk bisa masuk ke surga. Dan surga maupun neraka adalah hak prerogatif Allah karena dengan rahmat-Nya kita akan ditempatkan di sana, menjadi penghuninya, jadi ku mohon jangan diteruskan lagi ucapan ummi yang akan menggugurkan pahala ummi seketika karena ummi sedang terprovokasi oleh setan saat ini." sahut Nadia mengingatkan umminya seperti sedang kesetanan menyerang Daffa.


"Diam Nadia, ummi belum selesai bicara, bagaimanapun juga, lelaki ini harus tahu bagaimana pengorbananmu selama ini untuk bisa mencapai cita-citamu.


Aku tidak bisa membiayai pendidikannya di luar negeri, ia bahkan mendapatkan beasiswa karena prestasinya dengan nilai akademik yang memuaskan. Tetapi walaupun begitu, dia masih ingin menyenangkan hatiku dengan gaji yang dimilikinya, melihat itu semua sangat menghancurkan hatiku, karena aku tahu ia terus bekerja keras, hanya ingin meringankan beban kami." ucap ummi Kulsum.


"Ummi, aku mohon hentikan ummi, mas Daffa tidak salah ummi, kasihanilah dirinya, hatinya sudah cukup menderita dengan apa yang telah terjadi, mengapa ummi terus menyiramkan lukanya dengan garam." ujar Nadia yang masih memohon kepada umminya.


"Tapi terlepas dari semua itu, aku sangat bangga dan menghargai itu, dan kamu tidak tahu betapa sakitnya kami, ketika keluargamu mencampakkannya tanpa mempertimbangkan perasaannya, karena hanya ia belum bisa memberikan kamu keturunan. Jadi kamu pikir kamu siapa, bisa menggoyahkannya seperti ini, kamu pikir kamu siapa bisa mengacaukan hidup putriku, hhmm?"


"Ummiiii!" Ummi bisa bicara denganku setelah mas Daffa pulang, sudah hampir satu minggu ini, ia selalu dalam keadaan terjaga saat menungguku di rumah sakit.


"Tolong, berhenti menemui putriku, aku harap kita tidak bertemu lagi, paham?" ucap ummi Kulsum lalu masuk ke kamarnya, meninggalkan Nadia dan Daffa yang sudah lemas tanpa bisa mengatakan apapun lagi.


"Bersambung!"