SADURAN KITAB CINTAKU

SADURAN KITAB CINTAKU
75. TERPAKSA


Sidang perdana kasus Anjani dan tuan Fahri di gelar hari ini. Daffa hadir sebagai saksi utama dan berapa orang yang terlibat dalam kasus itu seperti oknum petugas medis yang bekerjasama dengan Anjani.


Sidang masih berlanjut karena masih mendengarkan kasus terdakwa hingga menyita waktu. Daffa yang ingin menyerahkan kesaksiannya kepada pengacaranya di tolak oleh jaksa penuntut umum, karena Daffa yang membuat laporan tuduhan pada dua tersangka sekaligus yaitu Tuan Fahri dan Anjani. Daffa juga harus mengurus perceraiannya dengan Anjani secepatnya. Banyaknya kendala yang menghalangi dirinya untuk bertemu Nadia, ibu dari putranya yang sudah sangat ia rindukan hingga saat ini. Ia harus terus bersabar dengan proses sidang perkara atas kedua orang yang telah menghancurkan hidupnya.


Di Kairo Mesir, Ummi Kulsum yang sudah menerima pinangan keluarga Farhan untuk putrinya Nadia membuat gadis ini sangat marah dan tersiksa. Apa lagi ummi Kulsum sudah sepakat dengan putusan penentuan tanggal pernikahan untuk keduanya dengan pihak keluarga Farhan.


Dikamar Nadia hanya menghabiskan waktunya untuk memohon agar Allah memberikan petunjuk untuknya agar ia bebas dari ikatan pernikahan dengan laki-laki yang tidak ia inginkan. Berkali-kali ummi Kulsum meyakinkan putrinya agar melupakan Daffa dan memulai hidup baru dengan Farhan, laki-laki pilihannya.


"Ummi, aku tidak ingin menikah dengan Farhan, aku tidak mencintainya ummi." Nadia berusaha menolak lamaran Farhan.


"Nadia, lupakan mantan suamimu, dia tidak layak untukmu, dari awal pernikahan, bukankah dia juga terpaksa bercerai denganmu karena alasan ibunya?" Mengapa kamu tidak bisa melakukan ini untuk ummi. Karena dia abimu meninggal, karena dia juga, kamu harus keguguran dan masalah keluarganya tidak pernah berhenti dengan urusan hukum, lantas kapan kamu bahagianya sayang?" Ucap ummi Kulsum yang terus mempengaruhi Nadia.


"Ummi bahagia seseorang bukan bergantung dengan banyaknya masalah, justru ujian yang datang tanpa henti itu adalah bagian dari cinta Allah pada hambaNya, ummi juga tahu itu bukan?" ucap Nadia tidak mau kalah.


"Tapi berurusan dengan nyawa seseorang itu adalah tindakan kriminal dan itu sangat fatal Nadia, orang akan mengecam putramu sebagai ayah seorang pembunuh." Ummi Kulsum mulai menyebarkan hasutannya pada putrinya.


"Ummi, tuduhan itu sama sekali tidak benar, semua bisa direkayasa atas kebenarannya tapi ada Allah yang maha menyaksikan segala sesuatu di bumi ini termasuk kecelakaan yang dialami oleh Anjani, mas Daffa sedang berusaha memulihkan nama baiknya. Nadia berkorban berpisah lagi dengannya karena desakan ummi dan tuan Fahri yang ingin melihatnya tetap dipenjara. Nadia memilih bercerai dengannya agar mas Daffa bisa mendapatkan bukti dari sumbernya langsung yaitu Anjani." Ucap Nadia sengit.


"Apapun itu alasannya Nadia, ummi tidak akan mau menerima dia lagi sebagai menantu. Cukup Nadia, lupakan dia demi ummi, orangtua satu-satunya ini yang saat ini bisa kamu andalkan, buktikan baktimu kepadaku Nadia, jika kamu tidak mau kehilangan ummi." Ancam ummi Kulsum pada putrinya.


"Terlepas dari tuduhan ummi terhadapnya, Nadia sedikitpun tidak pernah membencinya, Nadia sangat mencintai mas Daffa sampai kapanpun. Cinta tidak melihat itu semua, cinta memiliki caranya tersendiri di mana hatinya menautkan perasaannya dengan siapa orang yang akan kita cintai. Bajingan kelas dunia masih bisa dicintai oleh gadis pilihannya apa lagi Daffa yang memiliki setiap kekurangan yang justru sudah menyusup direlung hatiku tanpa terbantahkan." Ungkap Nadia dengan membayangi wajah tampan kekasihnya.


"Jika kamu tidak menikah dengan Farhan, kamu akan menemukan jasad ummi besok pagi, kamu akan hidup dengan rasa bersalah seumur hidupmu, karena kamu lebih memilih lelaki itu dari pada ibumu sendiri. Ummi tidak tahu lagi dengan cara apa ummi meyakinkanmu, lebih baik ummi menyusul abimu dari pada ummi hidup menanggung malu dan tak berguna disisa usia ummi saat ini. Jika kamu tidak mau menerima pernikahan ini jangan harap kamu akan bisa melihat ummi." Ancam ummi Kulsum lalu meninggalkan putrinya seorang diri di kamarnya.


Nadia termenung memikirkan setiap perkataan umminya, ia juga tidak tahu jalan mana yang harus ia pilih. Dua orang yang sangat berharga dalam hidupnya harus ia pertaruhkan demi kebahagiaannya.


"Ya Allah, aku tidak tahu lagi dengan cara apa aku memohon padaMu, ya Robbi berilah hamba kemudahan atas setiap ujian yang Engkau timpakan pada aku dan mas Daffa, ya Allah kami lelah menjalani ini semua, hanya dengan pertolonganMu, kami bisa dipersatukan lagi dalam ikatan pernikahan. Ya Allah jika pengorbanan kami tidak berarti disisiMu, berilah kami kekuatan untuk menerima ini sebagai bagian dari takdirMu. Aaamiin!" Nadia bermunajat pada kekasihnya Allah SWT atas ketidakberdayaannya dalam menentukan pilihan.


Seminggu kemudian, agenda persidangan kembali di gelar, Daffa yang sudah lelah menanti putusan sidang untuk kedua mahluk yang paling dibencinya saat ini belum juga menemukan hasil. Sidang ditunda lagi minggu berikutnya karena kurangnya kelengkapan dokumen bukti kasus Anjani. Jika hanya pernyataan saksi tidak bisa menguatkan kasus tersebut.


Di mansion Tuan Edy, ada hal yang sangat mencengangkan terjadi hari itu, Riri kepala pelayan yang bekerja selama dua puluh lima tahun di kediaman tuan Edy datang menghadap nyonya Laila yang saat itu sedang melakukan sholat Dhuha. Ibu dari Daffa ini tidak ingin mengikuti jalannya sidang karena ia takut menghadapi kenyataan jika Anjani dan ayahnya akan dibebaskan karena kurangnya bukti dipersidangan tersebut.


Pengacara Tuan Fahri yang sangat kuat beradu argument dengan pengacara pihak pelapor mengalami kesulitan. Kelihaian kata-kata pengacara tuan Fahri yang selalu membantah tuduhan pengacara dari pihak Daffa terhadap kliennya sehingga persidangan itu berjalan alot.


"Nyonya, apakah aku boleh berbicara empat mata dengan nyonya besar?" Tanya Riri dengan suara terdengar parau menahan tangis.


"Ada apa Riri, rupanya kamu kelihatan sangat serius ingin menyampaikan sesuatu padaku. Mendekatlah Riri, jangan terlalu jauh menjaga jarak denganku." Pinta Nyonya Laila pada kepala pelayannya yang duduk terlalu jauh dengannya.


"Nyonya sebelumnya saya minta maaf karena sudah menahan kebenaran ini sejak lama pada keluarga nyonya." Ucap Riri sangat hati-hati.


"Kebenaran apa Riri, katakan dengan jelas, jangan berbelit-belit seperti itu." Ucap Nyonya Laila merasa bingung dengan perkataan kepala pelayannya yang terlihat makin gugup.


"Nyonya sebenarnya hari itu, saya tidak sengaja merekam kejadian yang menimpa nona muda Anjani yang kala itu sedang bertengkar dengan Tuan muda Daffa. Ini nyonya rekaman video yang saya miliki pada saat itu saya sedang berada di atas balkon kamar tuan Daffa yang menyaksikan pertengkaran mereka bertiga. Tuan muda Daffa tidak bersalah." Ucapnya lalu menyerahkan ponselnya yang terdapat rekaman kejadian itu.


Nyonya Laila buru-buru melihat apa yang terjadi hari itu di dalam ponsel Riri, istri tuan Edy itu menyayangkan sikap Riri yang menyembunyikan fakta kebenaran atas kasus putranya yang sama sekali tidak melakukan percobaan pembunuhan terhadap Anjani hingga membuat wanita itu terjatuh dari tangga saat mengejar putranya. Nyonya Laila membekap mulutnya sambil menangis menyaksikan video tersebut.


"Riri mengapa baru sekarang kamu menyerahkan bukti ini, setelah sekian bulan putraku dan Nadia mengalami kesedihan yang amat mendalam bagi mereka, keduanya harus bercerai karena tidak mampu mempertahankan pernikahannya karena kasus ini hingga besanku menganggap anakku adalah seorang pembunuh yang tidak pantas mendampingi putrinya Nadia, kau tahu berapa banyak air mata dan harus menelan sakit hati hanya karena tidak bisa membuktikan bahwa Daffa tidak bersalah? apa sebenarnya yang sedang kamu inginkan dari peristiwa ini Riri? apakah selama ini kami pernah menyulitkan hidupmu? Katakan Riri!" Teriak Nyonya Laila yang sangat kecewa pada pelayannya ini.


"Maafkan saya nyonya, saya melakukan ini karena saya ingin tuan muda Daffa harus menanggung perbuatannya atas putri saya Arlini." Ucap Riri dengan penuh emosional.


"Apa yang dilakukan putraku kepada putrimu hingga kamu menghukum putraku sedemikian rupa dengan menyembunyikan kebenaran ini dari kami?" Nyonya Laila makin kalap menyerang kepala pelayannya Riri.