
Pernikahan ulang yang dilakukan oleh Daffa dan Nadia, membuat keduanya ingin berbulan madu di tempat yang lebih berkesan. Daffa memboyong semua keluarganya ke tanah suci Mekkah untuk melakukan umrah seperti janjinya setahun yang lalu untuk membawa keluarganya melakukan ibadah umroh lagi.
Kali ini, ia ingin melakukan ritual ibadahnya hanya semata mata untuk bersyukur atas nikmat Allah yang tidak pernah habis untuk diri dan keluarganya. Kenikmatan mendapatkan musibah berupa ujian besar maupun kecil. Terlebih lagi ujian yang membuat dirinya hampir kehilangan istri tercinta.
"Sayang kita akan umroh besok, persiapkan dirimu" Ucap Daffa ketika mereka usai menunaikan sholat tahajud.
"Benarkah sayang kita mau umroh?" tanya Nadia dengan wajah berbinar-binar. Subhanallah sayang aku akan bertemu dengan rumah Allah tempat kiblat umat Islam sedunia?" Nadia merasa seperti sedang bermimpi.
"Apakah kamu siap hmm?" Tanya Daffa sambil membelai wajah cantik istrinya.
"Sangat siap sayangkuh, ini adalah kejutan yang paling indah yang pernah aku dapatkan darimu" Nadia mengalungkan kedua tangannya ke leher suaminya.
"Ini sudah janjiku kepada Allah untuk membawa semua keluargaku umroh termasuk asistenku Rio, aku harus menghiburnya karena dia sedang patah hati karena tidak bisa memiliki sahabatmu Rima." Daffa mengecup bibir istrinya.
"Insya Allah, Rio akan mendapatkan bidadarinya jauh lebih baik dari pada teh Rima. Cinta tidak bisa dipaksakan karena iba, tapi cinta hadir karena hati yang bicara, bukan mata yang melihat untuk bisa memiliki cinta. Paras manusia bukan faktor utama untuk orang mudah jatuh cinta. Tapi hatilah yang lebih berperan untuk menjatuhkan pilihannya pada yang berhak memiliki hatinya. Seperti aku dan kamu sayang. Apapun tawaran dunia dengan segenggam kebaikan tidak akan mampu melawan ketulusan cinta yang bertahta sempurna untuk orang yang dicintainya. Aku sangat mencintaimu suamiku, setelah ini aku hanya memberikanmu air mata bahagia bukan lagi duka yang terus menggelayut dihatimu." Nadia mengucapkan setiap kata yang langsung menyentuh sanubari Daffa.
"Inilah kelebihanmu Nadia, kamu bisa menjadi apapun yang aku inginkan. Cintaku tidak akan berkurang untukmu sampai usia menua, kaulah yang memperkenalkan aku indahnya surga, sehingga kehidupanku berubah karena cintaku pada Allah.
Jika kamu tidak datang dalam hidupku mungkin aku akan berakhir di jurang neraka karena godaan dunia. Jangan lagi memilih perpisahan dalam mempertaruhkan apapun, kamu mengerti sayang?" Daffa memberi ultimatum kepada istrinya.
"Insya Allah demi nyawaku yang ada dalam genggamanNya, tidak akan ku pilih selain engkau suamiku, tolong ridhoi aku karena surgaku ada bersamamu" Ucap Nadia sungguh-sungguh.
"Sekarang sudah azan subuh, bersiaplah untuk sholat berjamaah bersamaku" Daffa merapikan lagi sajadah istrinya.
Keduanya melakukan kembali sholat berjamaah setelah sekian lama berpisah. Keduanya nampak khusu ketika ayat Alqur'an yang dibacakan oleh Daffa adalah Ar-Rahman. Nadia terpesona dengan bacaan Daffa yang fasih dengan alunan suara yang indah. Iapun menangis tatkala Daffa menyebutkan setiap ayat yang berulang di dalam surat Ar-Rahman tersebut, yang memiliki arti yang sama.
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
(QS. Ar-Rahman 55: Ayat 13)
Bacaan Daffa yang indah telah meluluhlantakan hati Nadia. Gadis ini sampai terisak karena baru kali ini ia mendengar Daffa sudah menghafal surat Ar-Rahman yang sebelumnya hanya berani membaca juz 30.
Subuh yang syahdu menyambut pagi dengan banyak keberkahan yang diantarkan oleh malaikat Rahmah di pagi buta itu. Usai menyampaikan salam terakhir, Nadia memeluk punggung suaminya menangis dibalik punggung itu.
"Mas Daffa aku mencintaimu karena Allah... hiks....hiks..hiks.
Mungkin sebagian orang lelah melihat pasangan ini terus terjerat berbagai masalah, namun dibalik itu semua hikmah Allah yang lebih dasyat untuk keduanya yang akan datang tanpa henti. Seperti janji Allah SWT dalam surat At-Talaq ayat 2-3.
"Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, Dia akan membuka jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rejeki dari arah yang tidak di sangka-sangkanya."
Setelah memastikan Nadia sedikit tenang, Daffa membalikkan tubuhnya menghadap istrinya. Nadia mencium punggung tangan suaminya dengan kembali terisak. Daffa mengangkat tubuh indah itu dan membawanya dalam pangkuannya, memeluk erat tubuh Nadia seperti seorang ayah yang sedang menimang buah hatinya. Nadia terbuai dalam kehangatan suaminya, karena bahagianya setimpal dengan pengorbanannya untuk mendapatkan kembali pangerannya.
Kemesraan terjalin begitu indah. Sepasang kekasih yang telah melewati berbagai ujian terjal yang harus berkali-kali jatuh tersungkur lalu bangkit lagi hingga sampai ke titik pasrah yang menyatukan batin mereka dalam naungan Illahi Robby. Tidak ada rangsangan birahi kala itu, yang ada hanyalah curahan cinta dari hati ke hati. Pelukan hangat itu adalah simbol hati mereka yang sedang berbicara dalam bahasa cinta melalui tubuh mereka untuk menyatukan kepingan cinta yang pernah berserakan atas keangkuhannya.
🌷🌷🌷
Sarapan pagi di hotel mewah, keluarga Daffa memilih tempat untuk mereka bisa berkumpul bersama. Hafiz yang melihat bundanya duduk berdua dengan ayahnya sedikit jealous. Ia pun mendorong tubuh ayahnya agar menjauhi bundanya.
"Ayah awas..sana...sana!" Hafiz meminta Daffa menjauhi bundanya. Daffa sengaja merengkuh bahu Nadia untuk menggoda putranya.
Semua yang ada disitu terkekeh melihat adegan yang mengundang tawa mereka. Nadia menggendong putranya dan memangkunya sambil menawarkan beberapa makanan yang tersedia di atas meja mereka. Nadia menyuapi putranya sedangkan Daffa menyuapi istrinya. Tuan Edy dan Nyonya Laila saling menatap dengan wajah bahagia melihat kemesraan putranya dengan menantu mereka Nadia.
"Sudah sayang, aku sudah kenyang, mas Daffa harus makan juga. Putra kita lagi minta perhatianku, tidak apakan aku bersamanya dulu, mungkin dia masih merindukanku, jadinya cemburu denganmu." Nadia memberi pengertian pada suaminya.
"Tidak apa sayang, aku yang terlalu memonopoli dirimu makanya dia tidak rela jika kita bermesraan didepannya." Ujar Daffa.
"Apa rencanamu selanjutnya Daffa?" Tanya Tuan Edy yang masih duduk dihadapan putranya.
"Oh iya ayah, aku sudah mengatakan kepada Nadia bahwa kita sekeluarga akan melakukan ibadah umroh besok, Rio juga ikut." Jawab Daffa.
"Setuju sayang, ini yang sudah lama mami impikan bisa umroh bersama." Timpal Nyonya Laila menyambut gembira dengan rencana putranya.
"Nadia, ajaklah ummi Kulsum dan adik kembarmu. Biar suasananya makin seru jika berangkat bersama-sama." Titah Tuan Edy.
"Baik ayah, terimakasih sudah mengajak ummi juga, nanti Nadia akan menghubungi ummi." Sahut Nadia bahagia.
Sarapan pagi bersama di negeri Piramida itu adalah momen kebersamaan keluarga itu yang hampir hilang karena keegoisan orang lain. Usai sarapan pagi, keluarga itu berencana untuk menyiapkan diri mereka ajar besok bisa bertolak langsung ke Jeddah untuk melakukan perjalanan umroh.