
Penerbangan yang cukup melelahkan itu akhirnya sampai juga di bandara internasional utama Istanbul, Turki, yang terletak di Istanbul dengan kode IATA ISL, sebelumnya IST.
Dengan waktu tempuh 12 jam lebih.
Nadia yang baru mengerjapkan matanya ketika merasakan tubuhnya terasa hangat dalam pelukan seseorang. Ia yang masih mengumpulkan kembali kesadarannya, berusaha mengingat apa yang sedang terjadi sebelumnya dan mengapa ia merasa bahwa saat ini, ia sedang bersama Daffa, tapi ia kembali mengingat bahwa saat ini ia sedang menyandarkan tubuhnya pada seseorang yang tidak dikenalnya. Siapa tubuhnya saat ini yang sedang ia sandarkan tubuhnya." tanyanya dengan perasaan bingung dan takut.
Kemudian perlahan ia mengangkat wajahnya dan menatap wajah lelaki yang sedang memeluk pundaknya. Nadia merasa beruntung karena pria itu masih dalam keadaan tidur, jadi ia bisa pelan-pelan menurunkan lengan pria itu dari pundaknya tanpa membuat pria itu terbangun dari tidurnya. Nadia yang begitu lugu tertipu dengan peran pria misterius itu yang sengaja memejamkan matanya agar Nadia tidak merasa malu, jika ia ketahuan dipeluk. Setelah penumpang lain sudah hampir semuanya turun bersama Nadia, pria itu akhirnya bangkit dari duduknya dan turun dari pesawat sebagai penumpang terakhir.
Di tempat pengambilan bagasi Nadia yang masih menunggu kopernya datang, dikejutkan dengan pria yang merupakan teman duduknya sudah berada disebelahnya. Betapa gugupnya Nadia, karena sangat malu bertemu lagi dengan pria tersebut.
Pria itu pura-pura cuek seolah tidak terjadi apa-apa dengan adegan di dalam pesawat bersama Nadia. Iapun mengambil kopernya yang sudah menghampiri tempatnya berdiri, begitu juga dengan Nadia.
Keduanya berjalan keluar menuju tempat taksi yang sudah siap mengantarkan mereka ke hotel.
Nadia adalah salah satu peserta Qoriah yang mewakili Indonesia untuk mengikuti ajang lomba pembacaan Al-Qur'an sebagai satu-satunya peserta wanita. Untuk akomodasi penginapan dan transpor sudah disiapkan oleh panitia. Jadi ia hanya mempersiapkan dirinya untuk mengikuti ajang lomba tersebut.
Tidak lama mobil jemputan dari hotel, di mana Nadia menginap sudah berada di hadapannya. Iapun naik ke mobil itu ketika salah satu petugas hotel membawa papan yang bertuliskan namanya.
"Apakah anda nona Nadia dari Jakarta?" tanya petugas hotel itu kepada Nadia.
"Iya saya Nadia, apakah anda yang diutus oleh pihak hotel untuk menjemput saya?" tanya Nadia menegaskan lagi dirinya benar-benar aman dengan orang ini yang akan membawa dirinya ke hotel yang sudah direkomendasikan oleh panitia penyelenggara acara lomba tersebut.
Laki-laki itupun mengangguk, lalu membuka pintu mobil untuk Nadia.
Tidak lama mobil itu sudah melaju melewati pusat kota Istanbul Turki. Nadia menikmati suasana kota Istanbul yang kental dengan nuansa islami. Negara yang terkenal dengan mesjid biru tersebut menyimpan banyak kenangan sejarah, bagaimana kota itu pernah ditaklukkan oleh Mohammad al-Fatih beberapa abad yang lalu.
Setibanya Nadia di kamar hotelnya, ia merebahkan tubuhnya yang masih terasa lelah. Lelah hati dan raganya menyatu, menyerang jiwanya yang kembali terbayang pada wajah tampan sang suami yang jauh di dari pandangannya, namun tak pernah meninggalkan hatinya yang makin merindu dari waktu ke waktu. Cintanya tidak mungkin merubah perasaannya dalam sekejap saja. Semua telah terpatri di sanubarinya entah itu kenangan buruk maupun kenangan manis bersama sang suaminya. Ia hanya mengenang kejujuran cinta dari seorang Daffa yang begitu memujanya, tidak pernah ingin melihatnya terluka, menjaganya dari sentuhan siapapun, menyenangkannya baik lahir maupun batinnya.
"Ah mas Daffa, jika saja bukan mami menjadi penghalang kita, mungkin aku akan bertahan bersamamu sampai kapanpun juga." ucapnya yang kembali mengalirkan air matanya.
Bulir bening itu seakan tidak ingin meninggalkannya, setia menemani kesepian dan kerinduannya. Wajah Daffa yang masih terngiang dibenaknya, yang memancingnya untuk tetap mengenang setiap perlakuan Daffa atas dirinya. Tiba-tiba ia merindukan sentuhan hangat dari mantan suaminya itu. Tubuhnya seolah menuntutnya untuk merasakan lagi milik Daffa yang pernah membuatnya menjadi wanita yang berharga untuk seorang Daffa. Bagaimanapun dia adalah seorang wanita muda yang sudah merasakan lezatnya bercinta, hal itu yang terus menyiksanya. Itu adalah hal lumrah bagi orang yang pernah berumah tangga yang pernah berada di arena pertempuran dahsyat menggapai puncak kenikmatan bercinta.
Entah kerinduankah atau bisikan setan yang mulai berulah menganggu raganya. Iapun tidak ingin masuk ke dalam pintu kemaksiatan itu yang ingin menyenangkan tubuhnya dengan cara sederhana untuk mendapatkan kepuasan melalui mastu***i. Nadia pun kembali bangkit membersihkan dirinya dan menunaikan sholat subuh. Perbedaan waktu antara Jakarta dan Istambul Turki adalah empat jam lebih lama dari pada Jakarta. Doa dipanjatkan dengan penuh kekhusuan, harapannya untuk mantan suaminya lebih dikuatkan, agar Daffa tidak lagi mengingat dirinya agar lelaki tampan itu memulai lagi hidupnya yang baru. Cinta itu tetap ada, rindupun tak akan hilang, tapi kekuatan untuk memiliki kembali cintanya yang tak bisa diharapkannya, inilah perasaan galau yang ingin ia tepiskan.
🌷🌷🌷
Breakfast pagi ini di restoran hotel dengan menu khas Istambul menggoda lidah Nadia untuk menikmati beberapa diantaranya.
Ia mengambil tempat untuk dirinya diantara meja restoran yang cukup indah tertata rapi sejauh mata memandang menghadap taman yang dihiasi beraneka warna bunga tulip. Sesaat, Nadia mengagumi ciptaan karya Allah yang maha dahsyatnya. Ia yang sangat mencintai tanaman bunga masih saja terpaku menatap satu persatu setiap warna bunga tulip.
"Apakah kamu sedang menghitung tiap kuncup bunga tulip itu?" tanya pria yang saat ini sudah duduk berhadapan dengan tempat duduk milik Nadia.
Nadia yang tidak sadar bahwa teguran itu hanya pengunjung restoran yang sedang makan di dekat mejanya, hanya menjawab pertanyaan pria itu tanpa melihat si pemilik pertanyaan itu. Semenit kemudian ia yang hendak membalikkan tubuhnya yang saat ini sedang berdiri di depan dinding kaca memperhatikan bunga tulip langsung tercekat untuk menyelesaikan perkataannya.
"Aku hanya sedang mengagumi ciptaan Allah, salah satunya bunga tu..lip.. astaghfirullah!" seru Nadia yang mulai grogi melihat wajah pria yang sama yang merupakan teman duduknya di pesawat semalam.
"Waalaikumuslam!" balas Nadia tanpa mau menjawab pertanyaan pria itu tentang keadaannya.
"Oh ya, kenalkan namaku Mohammad Farhan, panggil saja aku Farhan, boleh aku tahu namamu nona?" tanya Farhan sambil menatap manik hitam Nadia, walaupun kelopak mata gadis ini sedang memperhatikan makanannya.
"Apakah dia sedang menguntitku?" mengapa dia selalu saja muncul tiba-tiba disisiku?" tanyanya membatin.
"Apakah kamu tidak punya nama nona, aku hanya ingin berkenalan denganmu?" tanya Farhan yang hanya melihat Nadia sedang mengacak-acak makanannya dengan sendok.
"Nadia Safira, panggil saja Nadia." ucap Nadia hati-hati.
Raihan adalah pria tampan yang berprofesi sebagai seorang dosen tetap di universitas ternama di Kairo Mesir, ia juga sering diundang menjadi dosen tamu dalam acara-acara seminar yang diundang oleh beberapa negara sebagai nara sumber di acara tersebut. Ia berasal dari Kairo, hanya saja memiliki darah campuran ibu Indonesia dan ayah Kairo Mesir. Ayahnya adalah pengusaha kebun kurma di daerah Mesir, yang setiap tahunnya memanen buah kurma dengan omset triliun pound Mesir, mata uang negara tersebut.
Raihan juga seorang pengusaha yang meneruskan perusahaan ayahnya, dosen adalah salah satu hobi yang ditekuninya karena keinginannya untuk berbagi ilmu kepada mahasiswanya sangat kuat pada dirinya. Sebenarnya ia memiliki sifat dingin ketika tidak ada obrolan penting yang harus di dengarkannya dari lawan bicara, tapi hal ini tidak berlaku untuk Nadia, sesosok gadis yang sudah mengambil tempat di relung hatinya. Mungkin sedikit berusaha untuk mendapatkan gadis ini agar ia bisa mengisi kekosongan jiwanya yang selama ini sedang menjeratnya. Ia pernah kehilangan tunangannya ketika kecelakaan yang merenggut nyawa gadisnya itu empat tahun yang lalu, ketika sedang melakukan tour ke negara Eropa. Mobil yang ditumpangi Shafia, nama tunangannya itu, menabrak pembatas jalan karena ban mobil yang tiba-tiba kempes sehingga laju mobil itu kehilangan keseimbangan dalam kecepatan tinggi.
Ia berada di Jakarta beberapa waktu lalu, karena menghadiri pemakaman kakeknya dari pihak ibunya meninggal. Ia hanya menghadiri pemakaman dan harus ke Istambul karena ia adalah salah satu juri yang akan menilai para peserta yang sedang mengikuti ajang lomba pembacaan Al-Qur'an yang diikuti beberapa negara di dunia.
Hal itu tidak diketahui oleh Nadia bahwa lelaki yang ada dihadapannya ini adalah jurinya yang akan menilai dirinya nanti di ajang lomba tersebut, yang akan di adakan dua hari lagi. Begitu pula dengan Raihan yang tidak mengetahui Nadia adalah salah satu peserta yang akan ia nilainya nanti di acara lomba tersebut.
"Mengapa kamu tidak menghabiskan makananmu Nadia?" apakah aku menganggumu?" baiklah, kalau begitu aku akan pindah ke meja lain." ucap Farhan seraya mengangkat piringnya.
"Jangan!" tetaplah di sini, kita bisa menghabiskan sarapan kita lalu meninggalkan tempat ini." ucap Nadia mencegah Farhan yang ingin berpindah tempat duduk.
Lagi-lagi Farhan hanya menguji Nadia, apakah gadis ini diam saja ataukah akan mencegahnya jika ia pindah tempat duduk.
"Terimakasih Nadia, kalau tidak keberatan boleh kita berteman mulai hari ini?" tanya Farhan.
"Baiklah, setidaknya aku tidak merasa terlalu asing di negara asing ini." ucap Nadia begitu saja.
"Setidaknya, aku bisa mengusir sepiku dan menghapus memoriku tentang mas Daffa, aku harus membuka hatiku walaupun saat ini aku masih menjalani masa Iddah ku selama dua bulan lagi." ucap Nadia dalam hatinya, yang saat ini masih labil dengan perasaannya sendiri.
"Apakah kamu sedang berwisata di negara ini?" apakah ini traveling pertamamu?" tanya Farhan yang sudah menyelesaikan sarapannya.
"Iya saya sedang berwisata di negara yang banyak menyimpan nilai sejarah Islam di sini, apa lagi negara ini menjadi salah satu tempat kunjungan Rosulullah." ucap Nadia sedikit berbohong kepada Farhan karena ia tidak ingin lelaki ini mengetahui tujuan sebenarnya datang ke Istambul Turki.
"Mau aku temanin kamu mengunjungi tempat-tempat bersejarah di kota ini?"
"Dengan senang hati, tuan Farhan, setidaknya aku punya guide ketika melakukan kunjungan di banyak tempat di negara ini." ucap Nadia lalu tersenyum manis menatap Farhan, walaupun Farhan tidak melihat senyum itu tapi guratan di bagian bawah lingkaran matanya sudah menggambarkan bahwa saat ini Farhan mengetahui Nadia sedang tersenyum padanya, apa lagi mata indah Nadia yang mampu menyihir hati siapa saja yang menatap mata itu.
"Baiklah, jika kamu siap hari ini, kita bisa mulai traveling," ucap Farhan sangat gembira bisa mendampingi gadis yang sudah diincarnya dari pemberangkatan mereka ke Istambul Turki.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Nadia dan Farhan kembali ke kamar mereka masing-masing Setelah membuat janji untuk bertemu lagi, sekitar dua jam lagi di lobby hotel tersebut. Keduanya saling menukar nomor kontak mereka supaya memudahkan keduanya berkomunikasi. Kedua insan ini mungkin sedang mengobati luka hati mereka karena masalalu, walaupun motif permasalahan yang mereka hadapi saat ini berbeda, yang jelas mereka merasa sama-sama kehilangan kekasih hati yang meninggalkan mereka dengan caranya tersendiri. Tidak bisa menebak, apakah kedekatan keduanya, hanya obsesi semata ataukah cinta akan tumbuh diantara keduanya. Dan bagaimana nasib Daffa selanjutnya, bahagiakah ia dengan pernikahan keduanya bersama Anjani, gadis yang mengaku bahwa anak yang dikandungnya adalah anaknya Daffa?