
Sudah seminggu Nadia bedtres di rumah sakit, seminggu itu pula keadaannya sudah mulai membaik. Dokter Risna yang pernah menangani kasus persalinan pertama Nadia, memintanya dua hari lagi baru boleh pulang sambil menunggu hasil laporan medisnya.
"Nona Nadia kandungan anda sudah cukup kuat, tapi itu bukan berarti anda boleh beraktivitas apa lagi berjalan dengan langkah cepat atau pun berlari. Hindari setress yang berlebih-lebihan dan harus mengkonsumsi makanan yang bergizi tapi kurangin yang mengandung asam dan pedas." Ucap dokter Risna menasehati pasiennya ini.
"Berarti hal lainnya boleh dong dokter?" tanya Daffa yang dimengerti oleh dokter.
"Oh untuk interaksi hubungan in*im sebaiknya ditunda dulu sampai usia kandungan menginjak tiga bulan ke depan," ucap dokter Risna mengingatkan Daffa.
Nadia hanya tersenyum sambil mengangguk, ia merasa geli melihat wajah suaminya yang merenggut kesal.
"Baik dokter terimakasih banyak atas sarannya" Daffa duduk lagi di bangku setelah dokter Risna meninggalkan kamar inap istrinya.
Ponsel Daffa kembali berdering, kali ini Rio yang menghubungi Daffa karena tuan Fahri dan Anjani baru saja meninggalkan perusahaan dan sekarang sedang menuju ke mansion tuan Edy. Daffa meminta izin istrinya untuk menerima panggilan dari asistennya di luar kamar. Nadia hanya mengangguk.
"Bos, baru saja tuan Fahri dan istri bos, nona Anjani ke perusahaan dan ketika tidak melihat anda di ruang kerja anda, mereka sekarang sedang menuju ke mansion." Ucap Rio.
"Baik saya akan pulang, kebetulan sekali ini momen yang tepat untuk membuka kebohongannya yang selama ini ia sudah menindas keluargaku dengan kebohongannya." Ucap Daffa dengan menggertakan giginya dan mengatupkan rahangnya mengeras.
"Baik bos, semoga nona Nadia segera pulih." Ucap Rio mendoakan istri bosnya ini.
"Terimakasih Rio, tolong siapkan pengacara kita untuk mengatasi masalah Anjani dengan pihak rumah sakit." Ucap Daffa lalu mengakhiri percakapannya dengan asistennya Rio dan masuk lagi ke kamar inap istrinya.
"Sayang aku mau pulang ke mansion sebentar, ada hal penting yang harus aku urus saat ini." Ucap Daffa lalu mencium lembut bibir istrinya.
"Mas Daffa aku nggak mau ditinggal, aku mau mas Daffa disini menemaniku." Ucap Nadia dengan rengekan manjanya.
"Kamu kalau sakit begini manjanya membuatku pingin melahapmu sayang, cepat sembuh dan kuat, aku tidak sabar mengunjungi anakku yang ini," Ucap Daffa sambil mengelus perut istrinya.
Keduanya berpelukan dan saling memagut bibir. Ciuman itu berlangsung lama seakan ciuman itu adalah ciuman yang terakhir. Ciuman itu terlepas ketika Daffa merasakan ada yang asin masuk dalam pagutan itu. Ternyata Nadia sedang menangis. Daffa mulai panik.
"Sayang, apakah ada yang sakit, mengapa kamu menangis?" tanya Daffa.
"Aku tidak ingin ditinggal, perasaanku sangat tidak enak, jangan tinggalkan aku sayang." Pinta Nadia sambil terisak.
"Sayang!" aku hanya pulang sebentar, mengapa kamu sangat sedih, seperti aku nggak balik lagi aja." Ucap Daffa membujuk istrinya agar tidak merajuk.
"Tapi aku nggak mau mas pulang...hiks.. hiks!" tangis Nadia makin menjadi.
"Tumben kamu sesedih ini, apakah ini bawaan hamil?" tanya Daffa yang tidak tega meninggalkan istrinya. Tapi ia juga tidak ingin berlama-lama menunda perceraiannya dengan Anjani.
"Sayang, setelah urusanku selesai, aku akan langsung balik ke sini lagi, aku janji hmm!" pelukannya makin erat pada istrinya. Mengapa aku juga ikut gelisah ya. Akh!" ini hanya perasaanku saja." Ucapnya mengusir kegelisahannya.
Ketukan pintu kamar inap VVIP terdengar kencang, Daffa menguraikan pelukannya lalu menghampiri pintu itu dan ternyata ada Rima sahabat istrinya yang datang menjenguk Nadia.
"Assalamualaikum Tuan Daffa!" Sapa Rima lembut.
"Waalaikumuslam mbak Rima, silahkan masuk, oh ya kebetulan sekali aku ingin minta tolong kepadamu, tolong tungguin Nadia sebentar karena aku ada urusan, ini sangat urgen." Ucap Daffa terlihat buru-buru.
"Sayang, ada sahabatmu yang akan menemanimu sebentar, aku hanya butuh waktu dua jam setelah itu aku akan balik lagi ke sini," ucap Daffa lalu mengecup lagi kening istrinya.
"Mbak Rima maaf aku tinggal ya, terimakasih sebelumnya." Ucap Daffa segera keluar dari kamar inap istrinya.
"Ia Tuan pergilah tidak apa-apa, biar Nadia saya yang tungguin.
Sepeninggalnya Daffa dan sahabat ini saling berpelukan untuk melepaskan kerinduan mereka.
"Selamat ya Nadia, kamu hamil lagi. Semoga babynya cepat tumbuh sehat dan kamu juga harus kuat." Ucap Rima menyemangati sahabatnya.
"Terimakasih teteh sudah merepotkan teteh," ucap Nadia tersenyum manis pada sahabatnya ini.
🌷🌷🌷
Rio yang sudah menunggu Daffa di tempat parkir rumah sakit segera menghampiri bosnya itu yang sudah berdiri di depan lobi rumah sakit.
"Cepat ke mansion Rio, pasti anak dan ayah itu sudah berada di sana, aku tidak mau mereka mengamuk disana, apa lagi ada putraku disana." Ucap Daffa makin gugup.
"Sebaiknya Tuan menghubungi nyonya besar, apakah mereka sudah berada di sana atau belum."Saran Rio.
"Iya benar juga katamu, lebih baik aku hubungi keluargaku." Ucap Daffa lalu menghubungi maminya.
Tidak lama ada sapaan diseberang. Nyonya Laila menanyakan putranya itu.
"Assalamualaikum mami, apakah ada tuan Fahri di mansion?" tanya Daffa.
"Apakah orang itu ingin berkunjung ke mansion mami?" tanya Nyonya Laila yang tidak mengerti pertanyaan putranya.
"Emang mami di mana sekarang?"
"Mami sedang otw ke rumah sakit dengan baby Hafiz, sebentar lagi mau sampai.
"Apakah bersama ayah?"
"Ayahmu kembali lagi ke Amerika, tadi ibu tirimu mengamuk karena adik tirimu Andre kambuh lagi penyakitnya," ucap Nyonya Laila menjelaskan keadaan genting yang dialami oleh putra kedua suaminya yang ada di Amerika.
"Astaghfirullah!" baiklah mami, tolong jaga Nadia dan jangan pulang dulu sampai Daffa balik lagi ke rumah sakit. Tolong jangan bilang pada Nadia kalau Daffa sedang memberikan pelajaran pada Anjani, gadis tidak tahu malu itu." Ucap Daffa mewanti-wanti maminya.
"Hati-hati sayang dengan wanita licik itu, jangan lengah," ucap Nyonya Laila mengingatkan putranya.
Tidak lama kemudian mobil mereka sudah berada di depan halaman mansion. Daffa meminta Rio menjemput pengacara, Rio pun menuruti permintaan bosnya lalu meninggalkan mansion itu. Tidak lupa Rio memberikan surat laporan tes DNA kepada Daffa yang masih disimpannya selama bosnya berada diluar negeri. Dan secara kebetulan mobil Anjani juga tiba di mansion itu. Wanita angkuh itu turun dari mobilnya dan menyapa suaminya.
"Hallo sayang, sudah lama kita tidak bertemu, apakah kamu tidak ingin memeluk istrimu ini?" sapa Anjani dengan suara yang mendayu-dayu manja di hadapan Daffa.
"Cih, Dasar wanita ular!" ucap Daffa membatin lalu masuk ke dalam mansion.
"Kurangajar anak itu, bukannya salim dulu denganku malah ngeloyor masuk begitu saja" ucap tuan Fahri sangat geram dengan menantunya ini.
Anak dan ayah itu mengikuti langkah Daffa. Mereka pun memasuki mansion itu. Daffa meminta para pelayannya untuk meninggalkan ia dan kedua tamunya ini.
"Silahkan duduk Tuan Fahri dan kamu Anjani, aku senang dengan kunjungan kalian ke sini dan kebetulan sekali ada hal penting yang ingin aku perlihatkan kepada kalian terutama kamu Anjani, siapkan mentalmu saat ini." Ucap Daffa dengan nada sinis.
"Apakah kamu ingin memberiku oleh-oleh dari Madrid Daffa?" tanya Anjani sembari berpindah duduk disebelah suaminya.
"Tentu saja, oleh-oleh ini, akan mengingatkan diriku padamu seumur hidupmu, kamu mau tahu itu apa?" ini lihat dan bacalah dengan kencang dan anda juga tuan Fahri, silahkan baca isi amplop itu saya harap anda tidak mengalami serangan jantung." Ucap Daffa seraya menyerahkan dua laporan tes DNA yang sudah ia persiapkan kepada keduanya.
"Daffa kamu melakukan tes DNA kepada putriku, bagaimana caranya?" dan ini tidak mungkin hasilnya seperti ini, kamu merekayasa laporan ini. Ini adalah laporan fiktif." Ucap Anjani menolak laporan tes DNA tersebut.
"Apakah kamu masih mau mangkir dari kebenaran ini Anjani? jelas-jelas itu adalah kebenaran dengan dua rumah sakit yang berbeda saat kami melakukan tes DNA pada putrimu itu. Dan bersiap-siaplah karena saat ini polisi sedang menuju ke rumah sakit untuk menangkap oknum dokter yang pernah kamu minta untuk bekerja sama denganmu membuat hasil laporan tes DNA palsu." Ucap Daffa lalu meninggalkan Anjani dan ayah mertuanya di ruang tamu.
"Mas Daffa ini tidak benar, putriku adalah anak kandungmu," teriak Anjani sambil mengejar Daffa yang menaiki anak tangga.
Tapi sial bagi Daffa, ketika Anjani hampir memegang ujung bajunya, gadis itu terpeleset dari tangga karena hak sepatunya tidak seimbang pijakannya pada anak tangga itu hingga membuat ia terjatuh terpental ke belakang.
"Akhhhh!" teriak Anjani mengagetkan Daffa dan ketika Daffa berbalik Anjani sudah meluncur jatuh dari atas tangga sampai lantai bawah.
"Anjaniiii!" Teriak Daffa dari atas tangga dan tuan Fahri yang melihat itu hanya terpaku dengan raut wajah yang pucat pasi menyaksikannya putrinya sudah bersimbah darah di lantai bawah.
"Bersambung..."