SADURAN KITAB CINTAKU

SADURAN KITAB CINTAKU
77. PUNCAK KETEGANGAN


Putusan sidang perceraian antara Daffa dan Anjani berjalan dengan lancar. Daffa sangat lega bisa terbebas dari perempuan iblis itu. Ia meminta Rio untuk segera mengurus perjalanannya ke Kairo Mesir untuk menjemput kekasihnya Nadia, ibu dari putranya Hafiz. Ketika sudah berada di mobil Daffa merebahkan tubuhnya melepaskan dasinya dan mengambil ponsel menatap wajah cantik mantan istrinya tersebut.


"Sayang selangkah lagi kita akan kembali bersama. Hanya engkau yang tersisa dalam hidupku yang harus aku selamatkan bagaimanapun caranya. Bila perlu aku akan menculikmu, aku tidak peduli asalkan bisa bersamamu." Ucap Daffa sambil mengusap gambar beku yang menghiasi layar depan ponselnya.


"Bos, rupanya perceraian bos dan nona muda Nadia terjadi atas peran serta tuan Fahri, yang meminta nona Nadia menandatangani perjanjian antara dia dan Tuan Fahri, agar bisa membebaskan bos yang kala itu ditahan di Mabes polri sebelum kasus tuan dilimpahkan di kejaksaan negeri." Ungkap asisten Rio.


"Apa!" Jadi itu bukan kemauan Nadia, lalu mantan istriku dimanfaatkan olehnya demi kepentingannya?" Tanya Daffa tidak percaya.


"Iya Tuan, makanya ketika bos berdebat dengan nona Nadia usai perceraian, nona Nadia tidak bisa berkata apapun karena niatnya saat itu adalah bos bisa bebas dari penjara. Ia mengorbankan perasaannya demi bos Daffa bukan benar-benar ingin berpisah dari bos. Syarat yang diajukan olehnya saat itu adalah meminta Tuan untuk mengusut tuntas kebohongan Anjani hanya untuk membuktikan bahwa bos tidak bersalah. Dengan cara itu ia bisa meyakinkan ibunya agar ia dapat bersatu dengan bos." ungkap asisten Rio panjang lebar.


Tidak lama kemudian terdengar dering ponsel milik Rio. Rio meminta izin untuk menepikan mobilnya agar bisa menerima telepon tanpa harus menggunakan handset dikupingnya. Rupanya panggilan itu dari Rima sahabatnya Nadia.


"Assalamualaikum mas Rio!" Sapa Rima lembut.


"Waalaikumuslam Rima, apa kabar!" sapa Rio


"Mas saya sudah mengetahui keberadaan Nadia dari teman saya yang bekerja di KBRI Kairo. Saat ini Nadia sedang dipersiapkan oleh keluarganya untuk dinikahkan dengan seorang kerabat dari Tantenya Nadia." Rima membeberkan apa yang diketahuinya dari temannya yang di luar negeri.


"Apa?" Kapan itu berlangsung Rima? Tanya Rio syok mengetahui kabar duka itu.


"Sekitar dua hari lagi acara pernikahan itu berlangsung di salah satu hotel yang ada di Kairo Mesir." Kata Rima sedih.


"Apakah kamu sudah mengetahui alamat rumah Nadia?" Tanya Daffa yang sudah merebut ponsel Rio dari tangan asistennya itu.


"Saya sudah mencatatnya Tuan, nanti saya akan mengirim alamatnya melalui mas Rio." Jawab Rima.


"Siapa laki-laki yang berani merebut Nadia dariku?" Ucap Daffa yang saat ini sedang menahan amarahnya.


"Saya sudah menanyakan perihal lelaki itu, namun belum ada kejelasan namanya tapi mereka berjanji akan membantu kita Tuan." Ucap Rima.


"Kalau begitu apakah kamu mau ikut dengan kami ke Kairo Rima?"


"Maksud Tuan kita berangkat bareng ke Kairo?" Timpal Rima.


"Benar sekali, besok jadwalnya kalau kamu mau, aku dan keluargaku langsung terbang ke sana dengan jet pribadiku. Kami membutuhkanmu karena diantara kami berdua tidak bisa menggunakan bahasa Arab kecuali bahasa Inggris.


"Baik Tuan, saya harus ijin dulu ke tempat kerja saya Tuan, untuk bisa berangkat ke luar negeri." Ucap Rima.


"Persiapkan dirimu Rima, aku sangat membutuhkan bantuanmu untuk meyakinkan Nadia agar tidak menikah dengan lelaki pilihan umminya," Daffa sangat berharap banyak pada sahabat kekasihnya ini.


"Baik tuan sampai jumpa besok, saya akan mengabarkan anda lagi tentang perkembangan pernikahan Nadia." Rima mengakhiri pembicaraannya dengan Daffa.


🌷🌷🌷


Keluarga besar Daffa dan juga Rima serta asisten Rio sudah berada di dalam pesawat menuju Kairo Mesir. Baby Hafiz yang hampir berusia dua tahun ikut serta untuk menjemput bundanya. Tapi di dalam pesawat mendung kesedihan terlihat sekali diwajah Rima. Ia baru mengetahui lelaki yang akan menikahi Nadia adalah pria pujaannya yang selama ini ada dalam setiap doanya.


"Ya Allah, Nadia dari semua lelaki di dunia ini mengapa harus Farhan yang kamu pilih?" Kenapa pria impianku yang akan menikah denganmu?" Rima menghembuskan nafasnya kasar.


"Wahai Engkau pembolak balik hati, ku mohon Engkau tidak akan mengijinkan keduanya untuk menikah. Ampuni aku ya Allah jika permintaan aku ini salah. Tapi aku tidak rela jika sahabatku sendiri yang akan mengambil lelaki impian ku itu ....?" Rima tersentak saat Rio menarik jilbabnya.


"Ada apa Rima? mengapa kamu kelihatan sangat sedih? apakah aku boleh tahu apa yang menganggu pikiranmu saat ini?" Rio mencoba mencari tahu apa yang terjadi pada Rima.


"Aku baru tahu mas, ternyata lelaki yang akan menikahi Nadia adalah Farhan, lelaki yang selama ini aku inginkan agar ia akan menjadi imamku, walaupun dia tidak pernah tahu bahwa aku sangat mencintainya." Jawab Rima terbata-bata.


"Apaa?" Sebentar!" Bos apakah anda masih ingat dengan lelaki yang pernah kita temui di Istanbul Turki sekitar tiga tahun yang lalu?" Tanya Rio mengingatkan Daffa tentang lelaki yang pernah mendekati Nadia.


"Maksud kamu tim juri Nadia saat lomba pembacaan Al-Qur'an di Istanbul Turki?" Daffa memastikan dugaannya.


"Ia benar bos, lelaki itu yang akan dinikahi oleh nona muda Nadia." Jawab Rio tegas.


"Maksudnya kalian berdua sudah mengenal Farhan dan Nadia sudah pernah berjumpa dengan Farhan di Istanbul Turki?" Tanya Rima yang ikut nimbrung dalam obrolan kedua lelaki tampan yang ada dihadapannya ini.


"Sssst!" Pelankan suaramu Rima, nanti Hafiz bisa bangun." Ucap Rio yang ketakutan putra bosnya itu bangun.


"Iya, pasti dia laki-laki yang sama yang pernah jatuh cinta dengan Nadia," Timpal Daffa sedih.


"Semoga pernikahan ini gagal bos!" Rio mendoakan yang terbaik untuk keluarga bosnya itu.


Setelah membahas banyak hal tentang Nadia dan Farhan ketika berada di Istanbul Turki, mereka kemudian memilih untuk istirahat hingga pesawat jet milik Daffa tiba di bandara internasional Alexandria.


Setibanya di Kairo Mesir, Rima menghubungi sahabatnya yang kerja di KBRI di Kairo Mesir. Keduanya berjanji bertemu di hotel tempat berlangsungnya acara pernikahan Nadia dan Farhan. Baik Daffa maupun Rima sangat gelisah dengan acara pernikahan tersebut. Tak henti-hentinya kedua berdoa agar Nadia maupun Farhan berubah pikiran.


Bertempat di Safir hotel cairo, acara pernikahan akan di mulai tiga jam lagi. Acara pernikahan itu digelar di malam hari ba'da isya. Nadia tampak cantik dengan gaun pengantin warna gold yang sangat elegan yang dikenakannya saat ini. Rima yang lebih dulu menemui Nadia di ruang makeup seketika takjub dengan kecantikan sahabatnya ini. keduanya sama-sama terpekik kala bertemu saat itu.


"Teh Rima!" Pekik Nadia menahan haru.


"Nadia!" Ucap Rima tertegun melihat Nadia seperti bidadari saat ini.


"Teteh tahu dari mana aku akan menikah di sini?" Tanya Nadia bingung dengan kedatangan tiba-tiba sahabatnya itu.


"Sebentar Nadia, tunggu di sini ya, jangan ke mana-mana!" Pinta Rima lalu meninggalkan Nadia terpaku di ruang ganti sendirian.


Tidak lama Daffa masuk menemui kekasihnya itu. Nadia yang mengira itu adalah Rima sangat kaget ketika yang dilihatnya saat ini adalah mantan suaminya Daffa.


"Teh Rima dari mana...mas Daffa!" Teriak Nadia hampir menghamburkan tubuhnya dalam pelukan Daffa. Namun gadis ini sadar bahwa dia bukan lagi berstatus istri Daffa.


Daffa tidak bisa berkata apa-apa ketika melihat secara jelas wajah Nadia yang belum sempat memakai cadar. Nadia begitu gugup hendak berbalik namun lengannya ditahan oleh Daffa.


"Nadia, kamu sangat cantik sayang, bahkan aku tidak pernah melihat kecantikanmu ketika kita menikah dulu, apakah sama cantiknya seperti saat ini?" Ucap Daffa dengan bibir bergetar menahan tangisnya karena kagum sekaligus rindu.


"Mas Daffa, aku akan menikah, mengapa kamu datang begitu lama?" Tanya Nadia dengan air mata yang tercekat dikerongkongannya.


"Nadia aku merindukanmu sayang. Masih ada kesempatan untuk kita bisa kabur dari sini atau kamu bisa membatalkan pernikahan ini jika kamu bersedia. Aku mohon sayang pulanglah bersamaku. Aku datang tidak sendirian, ada putra kita Hafiz dan juga kedua orangtuaku untuk menjemputmu pulang ke tanah air kita, aku akan menikahimu lagi, ku mohon." Daffa memohon kepada mantan istrinya ini untuk meninggalkan tempat acara pernikahan itu dan lari bersamanya.